
Tangan Ellea mengepal keras. Ia benar-benar tak menyangka, Jordan Alexander masih saja bergelut dengan kejahatannya. Ternyata, orang yang di segani di Ibu kota ini, telah membuat kecurangan yang merugikan semua pihak.
berkali-kali, Ellea menghela napas panjangnya. Ia hanya berharap, jika keadilan akan ada untuknya. Mengingat semua luka dan kesakitan yang ia alami, terjadi karena keserakahan yang dilakukan oleh pria tua ini. Setelah Ellea selesai merekam dengan ponselnya, ia bergegas ke dapur untuk mengambil minuman dingin.
Ellea melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan jika tak ada orang yang melihatnya. Ia ingin jejaknya aman dan tak diketahui oleh siapapun. Terutama Gavin, Ellea juga tak ingin jika Gavin tahu tentang semua ini. Ellea yakin, Gavin tak terlibat dengan pekerjaan ilegal Papanya ini.
Sangat disayangkan, jika kekayaan dan harta keluarga Alexander, ternyata didapatkan dari pekerjaan ilegal yang merebut saham perusahaan milik orang lain. Di dapur, Ellea merenung sendiri. Mungkin, jika dulu perusahaan Ayahnya tak dihancurkan oleh Papa Gavin, mungkin saja kehidupan Ellea tak akan sekacau ini.
"Aah, lega sekali rasanya. Di rumah ini banyak AC, pendingin ruangan dan sebagainya. Tapi, aku selalu saja merasa panas dan kegerahan. Memang, rumah yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang tak halal, tak akan nyaman untuk ditinggali," batin Ellea.
Satu botol soft drink ia teguk sampai habis. Ellea benar-benar kehausan. Ia tak bisa tidur, apalagi harus satu ranjang bersama Gavin si pemaksa. Hanya minuman lah yang mampu menyegarkan tubuhnya. Ellea mengambil dua botol soft drink untuk ia minum di kamarnya jika nanti ia kehausan lagi. Tiba-tiba, saat Ellea tengah meneguk habis botol soft drink, botol kecil itu ada yang mengambilnya Ellea benar-benar kaget, katena lampu dapur memang telah dimatikan.
"Astaga, siapa kau!"
Ternyata, dialah Gavin ... Gavin mencari Ellea yang menghilang dari kamarnya. Gavin langsung menyalakan lampu dapur, agar Ellea tahu, siapa sosok dihadapannya ini.
"Oh Tuhan! Kukira penjahat! Kau mengagetkan aku saja! Untuk apa kau mengikutiku?" tanya Ellea.
"Jangan terlalu banyak minum soda, itu tak baik untuk tubuhmu. Ayo, istirahat. Kau pasti lelah," ajak Gavin.
"Kau duluan saja! Aku gerah, aku haus." jawab Ellea.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini." Gavin menatap Ellea.
"Jangan menungguku, aku masih lama. Sudah, kembali ke kamar sekarang!" perintah Ellea.
"Tak mau! Aku akan menunggu istriku,"
"Haish, jangan ucapkan kata-kata itu. Sangat menggelikan!" Ellea bergidik.
"Apa? Bagaimana? Istriku? Begitu? Apa yang kau katakan, istriku? Ayo, tidurlah bersama suamimu! Aku sangat menunggumu, istriku," Gavin sengaja membuat Ellea kesal.
"Aarrgghhh, cukup. Kau memang menyebalkan! Geli sekali aku mendengarnya. Sudah, hentikan. Aku harus menutup kupingku jika bersamamu!" Ellea berlalu meninggalkan Gavin, ia berniat kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Apa istriku? Kau ingin yang geli-geli? Aku bisa membuatmu kegelian untuk waktu yang lama. Apa kau menginginkannya?" Gavin terus saja merayu Ellea.
"Aargghh, tutup mulutmu atau kau tidur di luar saja!" Ellea terus menutup kupingnya.
"Ini rumahku, mana bisa kau membuat aturan di dalam rumahku sendiri?"
"Ah, terserahlah! Dasar pria mesum," umpat Ellea berlari meninggalkan Gavin seorang diri.
"Istriku ... sepertinya kau pantas diibaratkan dengan merpati, jinak tapi sulit kudapatkan. Aku akan menunggu waktunya, hingga kau akan jinak dan bertekuk lutut dihadapanku, untuk keindahan surga dunia itu lagi," Gavin terkekeh sambil mengikuti Ellea dari belakang.
Malam ini, dengan terpaksa Ellea tidur bersama Gavin. Ellea benar-benar tak bisa tidur. Ia tak menginginkan hal ini terjadi, karena bersama Gavin, akan membuatnya sungguh-sungguh tak nyaman. Gavin terlihat sengaja terus-menerus mendekatkan dirinya pada Ellea. Berkali-kali Ellea mengusir Gavin, agar tak terus menatap dan mendekatinya.
"Bisa tidak, jika kau tidur dan tak menggangguku?" Ellea kesal.
"Aku tak bisa tidur, melihat fakta bahwa kini aku telah memiliki seorang istri." Gavin terus menatap Ellea tanpa berkedip.
"Kau! Jangan banyak bicara, cukup tutup matamu dan segera bermimpi!" tegas Ellea.
"Ellea?"
"Bagaimana jika Daniel tidur di pinggir, dan kau berada di tengah?" bujuk Gavin.
"Astaga! Apa maksudmu! Aku lebih baik tidur di sofa saja, jika kau terus berbicara yang tidak-tidak," Ellea membalikkan tubuhnya membelakangi Daniel dan juga Gavin.
Saking lelahnya, Daniel telah tidur sejak tadi. Ia sudah nyenyak dan tak bisa diganggu lagi. Bagi Gavin, ini kesempatan besar untuknya. Untuk bisa merayu Ellea, dan bermesraan dengan wanita yang kini telah SAH menjadi istrinya itu. Sayangnya, Ellea tak menganggap serius pernikahan ini, ia melakukan semua ini karena Daniel, yang membutuhkan sosok Daddy di dalam kehidupannya.
"Kalau kau akan tidur di sofa, aku juga. Aku akan menemanimu, Ellea. Apa kau ingin bermain di sofa?" otak Gavin sudah tercemar.
"Aarrghh, diam, kau! Sudah cukup, Gavin. Jika kau berbicara lagi, aku akan mencari hotel saja, dan menginap di sana!"
"Aku akan ikut denganmu. Jadi, kau ingin kita bermain di hotel, Ellea?"
"GAVIN ALEXANDER, TUTUP MULUTMU! Sudah kubilang, tak ada hal seperti itu pada pernikahan kita. Bukankah kita menikah hanya untuk Daniel? Agar Daniel mendapatkan status dan hak yang jelas sebagai anak kandungmu, ha?" Ellea sedikit meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Ya, memang benar. Tapi, bersamamu dalam kamar seperti ini, membuatku tertarik untuk terus menatapmu, Ellea. Tahukah kau, tubuh dan penampilanmu saat ini sungguh menggoda. Kau tak seperti wanita beranak satu. Kau seperti gadis, benar-benar terlihat seperti gadis, Ellea,"
Ya Tuhan, sudah kuduga, pernikahan ini memang akan membawaku pada hal-hal m3sum seperti ini. Aku tak tahan jika terus seperti ini bersamanya. Aku tak mungkin, melakukan hal itu lagi dengannya. Tapi, bagaimana jika dia terus mendesak dan memaksa? Aku memang telah sah menjadi istrinya, tapi ... ini hanya untuk mengakui Daniel sebagai anaknya, tak lebih dari itu. Kenapa rasanya hatiku sudah mati untuk pria ini? Batin Ellea.
"Dasar pembual!" Ellea berkilah.
"Kau masih ragu dan tak siap, Ellea. Aku bisa merasakan dari gelagat dan cara bicaramu. Tak apa, aku akan berusaha, untuk membuat kau jatuh cinta padaku, bahkan ... sampai kau tergila-gila padaku!" Gavin terkekeh.
"Sekarang pun aku hampir gila, karena hidup denganmu!" Ellea masih membalas ucapan Gavin, walau ia membelakanginya.
"Karena aku terlalu tampan, ya? Kau gugup dan tak siap dekat denganku? Apa kau merasa bahwa menikah denganku adalah seperti mimpi? Ini bukan mimpi, Ellea. Ini sungguhan, aku sah menjadi suamimu. Harusnya, kau sadar, bahwa seorang istri itu tak boleh membantah pada suami, dan harusnya ... seorang istri tak boleh menolak keinginan suami. Tahukah kau, jika menolak keinginan suami itu dosa? Kau berdosa padaku, Ellea. Kau terus saja melawan dan membantahku. Jika aku memaksamu sekalipun, aku tak akan berdosa, kan?" Gavin berbicara panjang lebar.
Nyatanya, Ellea tak merespon sedikitpun ucapan Gavin. Gavin merasa heran, karena Ellea hanya diam saja. Mungkin saja Ellea mati kutu, dan tak bisaenjawab semua ucapannya. Gavin merasa menang, karena Ellea kalah bicara dengannya.
"Kau diam saja? Kau merasa kalah, ya?" Gavin terus mengajak Ellea berdebat.
Masih saja tak ada jawaban dari Ellea.
"Hey, kau! Kau bisa dengar aku, tidak? Jangan pura-pura tidur. Akui saja kekalahanmu, kau tak bisa berkata-kata lagi, kan?"
Ellea tak bergeming,
"Ellea! Jawab aku!"
Tiba-tiba, terdengar suara dengkuran dari mulut Ellea. Ternyata, Ellea sudah terlelap. Ucapan Gavin yang mengomel, menjadi pengantar tidur bagi Ellea. Dengkuran demi dengkuran, membuat Gavin kaget, ternyata Ellea benar-benar telah terlelap.
"Sial! Dia tertidur rupanya! Oh Tuhan, wanita secantik dia, ternyata jika tidur, mendengkurnya keras sekali seperti ini. Apa semua wanita tidurnya selalu mendengkur?" Gavin menatap ke langit-langit kamarnya.
*Bersambung*
Teman-teman, bantu dukungan untuk karya ini, ya ... jika yang masih memiliki VOTE, vote yuk karya ini...
jangan lupa like dan hadiahnya juga...
__ADS_1
Oh iya, yang belum follow aku, follow yuk, klik profil aku, lalu klik ikuti yaaa 🥰🥰🥰
makasih banyak teman-teman 🤗🤗🤗