
"Sudahi drama ini, dan jangan pura-pura sakit lagi. Aku tahu semua rencanamu. Jangan mengira aku bodoh! Aku tahu, tapi aku diam, karena aku masih menghargai kau sebagai orang tuaku. Kali ini kesabaranku telah habis. Papa, kau tak bisa lagi bersembunyi dibalik topeng hebatmu selama ini! Ikut aku, dan kita buktikan semuanya!" Gavin membuat Jordan sangat tercengang.
"Apa maksudmu?" Jordan sangat-sangat tak mengerti dengan apa yang Gavin ucapkan.
Jordan yang baru saja sadar dari tidurnya benar-benar kaget, karena Gavin menyentaknya dan memaksanya untuk bangun. Jordan teringat akan dramanya, ia pura-pura terlihat kesakitan agar Gavin dan semua orang percaya.
"Gavin, tenanglah! Ada apa? Kau kan tahu, Papa masih dalam proses pemulihan. Kau tak boleh seperti ini pada Papa." Jordan terlihat tenang dan tak memakai emosinya.
"Hentikan! Aku sudah sangat muak! Kau tak perlu berpura-pura lagi, Papa. Aku sudah tahu sejak awal, bahwa kau tak kenapa-napa. Jangan terus membuat drama seperti ini, aku sudah lelah menghadapimu. Bangunlah, dan lihat perlakuan anak buahmu sekarang!" sentak Gavin.
Merry bangun dan menatap Gavin dengan penuh kekecewaan. Sungguh menyesakkan, melihat perlakuan sang anak yang tak sopan pada suaminya. Merry begitu percaya pada insiden ini, sehingga ia merasa bahwa Gavin keterlaluan.
"GAVIN! Aku tak pernah mengajarimu untuk bersifat tak sopan seperti itu! Kau sangat lancang sekali! Minta maaf pada Papamu sekarang juga, Gavin!" Merry bangun dari tidurnya, lalu ia berdiri menghadap Gavin.
Ellea yang melihat kerumitan ini, mulai tak nyaman dan tak tenang. Ellea takut terjadi sesuatu antara Gavin dan kedua orang tuanya. Gavin sudah terlanjur emosi, dan Gavin tak bisa lagi menahan amarahnya.
Merry tak tahu, jika Gavin marah besar seperti ini karena Vanny diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh orang-orang Papanya sendiri. Tak mungkin Gavin marah besar seperti ini tanpa sebab, karena Gavin sendiri yakin, jika perbuatan biadab Gilang dan Lay, tak lepas dari izin seorang Jordan.
"Mama, apa kau tahu alasan Gavin marah besar seperti ini? Kalian terlalu nyenyak beristirahat, sehingga tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Mama mertua, maafkan aku harus mengatakan ini. Tapi, lihatlah Vanny. Anakmu diperlakukan tak pantas oleh sekretaris Papa mertua. Sudah berkali-kali Vanny dijamah oleh Gilang dan Lay. Kau bisa lihat beberapa bukti yang aku bawa. Apa kau tahu tentang semua ini, Mama mertua? Lihatlah anakmu sekarang! Dia benar-benar terluka!" Ellea turut berbicara, agar Merry paham.
Wajah Merry berubah pucat pasi. Ia kaget mendengar ucapan Ellea yang mengatakan bahwa Vanny diperlakukan tidak layak oleh Gilang dan Lay. Merry menatap Jordan dengan emosi, seakan mengisyaratkan agar Jordan harus bertanggung jawab atas semua ini.
"Kurang ajar!" Merry berlari keluar dari kamarnya.
Ellea mengikuti Merry dari belakang, biar Jordan menjadi urusan Gavin. Jika Gavin sudah turun tangan, maka biarkan Gavin bekerja sesuai dengan caranya. Ellea hanya akan berada di belakang Gavin, karena Gavin memintanya.
__ADS_1
Jordan menatap tajam pada Gavin. Jordan emosi, karena Gavin kini mulai ikut campur pada urusannya. Merasa tak nyaman, Jordan tetap pada pendiriannya. Ia terlihat sakit dan mengaduh lagi. Masih ada kesempatan untuk dirinya terus bersandiwara.
"Apa kau tak lelah bersandiwara? Kau tak lelah, Papa?"
"Aku tak bersandiwara! Apa maksudmu mengataiku seperti itu! Kau memang anak yang tak tahu diri!" pekik Jordan.
"Apa aku harus sama seperti sifatmu agar aku disebut anak yang penurut dan tahu diri? Aku justru ingin memperbaiki kehidupanku, agar aku bisa terbebas dari pengaruh burukmu!" balas Gavin.
"Aku tak melakukan apapun! Kau jangan memfitnahku, Gavin!"
"Aku tak memfitnahmu, Papa. Aku hanya mengatakan kejujuran." jawab Gavin.
"Apa yang kau inginkan?" tiba-tiba Jordan menatap Gavin dengan tajam.
"Aku ingin, jika kau kembali pada jalan yang benar, Kau terlalu serakah, Papa." jawab Gavin menyunggingkan senyumnya.
"Tak perlu kursi roda, kau bisa berjalan sendiri, Papa! Jangan buang-buang waktu untuk hal yang rumit, kau membuat dirimu terlihat bodoh dihadapanku! Aku tahu, kau baik-baik saja. Sudahilah kepura-puraanmu itu, Papa. Dan juga, kau hanya bertanya apa yang terjadi pada dua asistenmu? Apa kau tak sedikitpun mengkhawatirkan Vanny anakmu, Papa? Kenapa yang kau tanyakan hanya asistenmu saja?"
"Diamlah Gavin! Tak perlu banyak bicara." Jordan sedikit emosi pada Gavin.
"Jalan saja sendiri, tak perlu memakai kursi rodamu! Lagipula, siapa yang kini percaya jika kau tertembak? Kau memang layak disebut seorang aktor, Papa. Kau sangat pintar dalam berakting. Sekadar informasi untukmu. Aku telah membuat dada Lay terluka, dan menembak kaki Gilang. Beruntung aku tak sampai melukai jantung atau kepala mereka! Aku masih ingin melihat mereka hidup. Aku tak rela, jika anak buah Papa harus meninggal begitu saja, sebelum sampai aku puas balas dendam pada mereka!"
"Gavin Alexander! Berani-beraninya kau!"
Gavin sengaja memancing emosi Jordan, agar Jordan menunjukkan dirinya yang baik-baik saja. Selama ini Gavin memercayai Jordan yang berpura-pura, karena Gavin ingin tahu, sejauh mana Papanya akan berulah.
__ADS_1
Ini adalah saat yang tepat bagi Gavin untuk mulai menjalankan misinya membantu Ellea. Walau Gavin tahu sejarah balas dendam ini bermula dari mana, tapi tetap saja kesalahan ada pada Jordan, karena Jordan telah melakukan aksi yang begitu kriminal.
"Papa, ikutlah denganku ke kamar Vanny, jika kau memang peduli padanya!" sentak Gavin begitu keras.
"Sudah kubilang, bawakan kursi roda untukku, agar aku bisa ke sana!"
"Kau memang keras kepala, Papa. Sudah kubilang untuk tidak berpura-pura. Berjalanlah, Papa, kau sehat! Kau baik-baik saja! Kau bisa berjalan, bukan? Bahkan, tak ada bagian tubuhmu yang terluka sedikitpun!"
Gavin memaksa Jordan untuk bangun. Gavin sengaja menarik tubuh sang Papa, agar Jordan marah. Jordan menepis tangan Gavin berkali-kali, karena Gavin terus memaksanya. Jordan terus saja bersikeras, ia tak mungkin mempermalukan dirinya sendiri dengan drama yang telah dia buat.
Gavin menarik bahu Jordan, hingga tangannya refleks menarik beberapa helai rambut Jordan. Beberapa rambut itu rapuh, karena Gavin menariknya. Memang itu tujuan Gavin mengelabui Jordan. Gavin ingin mengambil beberapa helai rambut Jordan, untuk dijadikan sampel test DNA antara Jordan dan Vanny.
"Kurang ajar, kau! Apa yang kau lakukan padaku!?" Jordan kesakitan karena Gavin menarik rambutnya.
"Aku sengaja menarik beberapa helai rambutmu, Papa!"
"Apa maumu, anak tak tahu diri!" Jordan emosi, karena Gavin benar-benar mempermainkannya.
"Aku mau rambutmu, Papa. Aku penasaran, kenapa kau begitu tak peduli pada adikku sendiri. Sepertinya, aku harus membuktikan beberapa helai rambut ini untuk melakukan test DNA, antara diriku, dan adikku, Vanny! Apa kau keberatan, Papa?" Gavin menyunggingkan senyumnya.
"Sial! Berani-beraninya kau melakukan itu. Diam dan jangan pergi! Kau harus tetap diam, dan bertanggung jawab untuk hal yang telah kau lakukan pada kedua sekretarisku!" Jordan marah pada Gavin.
"Papa, kejar aku, dan hentikan aku. Bukankah tubuhmu itu sehat dan baik-baik saja, Papa? Come on! Kejar aku, Papa! Rambut ini akan menjadi bukti, alasan kenapa kau tak peduli pada Vanny! Tunggu di rumah Papa, aku akan membuktikan semuanya!" Gavin mengedipkan matanya, dan berlalu meninggalkan Jordan.
Gavin sangat diluar batas kali ini. Jordan mengepal tangannya. Jordan sangat marah, tapi ia tak bisa bertindak karena drama yang telah ia buat. Sebenarnya, Ia juga harus mengetahui nasib anak buahnya sekarang. Apakah mereka baik-baik saja? Apa penyebab Gavin mengetahui perlakuan buruk sekretarisnya?
__ADS_1
"Gavin Alexander! Kenapa kau ikut campur urusanku!? Padahal, selama ini aku memberikan semuanya untukmu. Kerja kerasku, dan usahaku, hanya kuberikan padamu. Tapi kenapa? Kau malah menusukku dari belakang. Kenapa kau malah sama saja seperti si berengsek Ellea? Apa kau benar-benar ingin kehilangan semuanya, Gavin?" Jordan berbicara sendiri, ia sangat marah pada Gavin.
*Bersambung*