Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 69. Something


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Jordan dibawa ke kamarnya untuk tetap menjalani rawat jalan dan perawatan pasca operasi. Padahal Ellea sudah menduga, jika semua itu hanya rekayasa. Tak mungkin jika Jordan benar-benar terluka.


Selepas Jordan dibawa ke kamar, Vanny dan kedua orang kepercayaan Lay baru tiba. Ellea melihat mata Vanny yang bengkak. Ada sedikit perasaan aneh pada diri Ellea ketika menatap wajah Vanny.


Wajahnya begitu murung dan terlihat penuh beban. Vanny juga sepertinya telah menangis. Hal itu membuat Ellea jadi curiga. Sepertinya, ada yang tak beres antara Vanny dan kedua sekretaris Jordan.


Tanpa basa-basi, Vanny masuk ke kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pun. Hal itu semakin meyakinkan Ellea, jika terjadi sesuatu pada Vanny. Ellea berniat untuk menanyakannya pada Vanny, setelah semua keadaan kembali seperti semula.


"Mommy, si Kakak tua itu kenapa?" tanya Daniel polos.


"Ssshhtt, Daniel, kau tak boleh seperti itu. Aunty-mu sepertinya sedang ada masalah. Mommy harus memastikan apa masalahnya." jelas Ellea.


"Biasanya Kakak tua itu terlihat menyebalkan, Mommy. Aku jadi tak semangat jika dia seperti itu!"


"Kau lagi! Selalu saja mencari-cari masalah. Diamlah, Auntymu sepertinya sedang sedih." ucap Ellea.


"Baiklah Mommy. Aku tak akan menjahili Kakak tua. Aku akan menjahili sekretaris baru Daddy saja!" Daniel beranjak ke luar halaman rumah mewah ini, untuk menemui Alex, sekretaris baru Gavin, yang dulu ternyata adalah orang suruhan Jordan.


"Daniel! Tunggu! Ke mana kau? Hey, anak kecil!" Ellea meneriaki Daniel, namun Daniel tak mendengar.


Gavin kemudian mendekati Ellea yang berteriak-teriak, "Kenapa? Apa yang Daniel inginkan?"


Gavin masih sedikit sensitif pada Ellea. Ia tak begitu banyak bicara pada Ellea, karena kekesalan kemarin. Ellea masa bodoh dengan Gavin, karena Ellea juga punya alasan tersendiri kenapa ia tak mau mengatakan semuanya pada Gavin.


"Kau tanyakan saja pada anaknya!" Ellea malah balik dingin.


"Oh." Gavin berlalu meninggalkan Ellea.


Gavin dan Ellea bak anak kecil, mereka berdua kini terlibat perang dingin yang tak kunjung henti. Gavin marah pada Ellea, karena kecerobohan Ellea dan tak jujur padanya. Ellea juga begitu keras kepala, tak ingin meminta maaf pada Gavin.

__ADS_1


Gavin berjalan menuju halaman rumahnya untuk melihat Daniel. Benar saja, Daniel telah mengerjai Alex dengan berbagai cara. Alex yang sedang mencuci mobil menggunakan selang, diputar sekencangnya oleh Daniel. Sehingga air dalam selang luber ke mana-mana, dan mengenai tubuh Alex.


Daniel tertawa terbahak-bahak, karena baju Alex semua basah. Wajah Alex juga terkena cipratan air dari selang yang membludak. Ada alasan dibalik nakalnya seorang Daniel. Ia sengaja melakukan hal itu pada Alex, karena menurut Daniel, keberadaan Alex di sini hanya untuk membuat masalah saja.


Saat melihat Alex kesulitan karena semua tubuhnya basah, Gavin segera menghentikan perbuatan Daniel. Gavin tak suka, jika Daniel berperilaku jahil seperti itu. Gavin mematikan puteran keran agar air tak terus-menerus membasahi Alex.


Daniel hanya tertawa saja melihat Alex tersiksa. Gavin merangkul Daniel segera, dan membawanya kehadapan Alex agar Daniel meminta maaf atas perbuatannya.


Alex pura-pura tersenyum dan berkata tidak apa-apa, karena tak mungkin juga Alex marah pada Daniel, apalagi ada Gavin dihadapannya. Alex hanya bisa menggerutu dalam hatinya, saking kesal pada Daniel.


Awas saja anak kecil! Kau sengaja kan membesarkan volume air seperti itu? Lihat saja nanti, kau akan dapat balasannya! Batin Alex.


"Alex benar kau tak apa-apa? Maafkan Daniel, ya. Anakku memang terkadang isengnya keterlaluan. Kuharap, kau tak marah padanya." ujar Gavin.


"Tak apa-apa, Tuan. Namanya juga anak kecil. Saya bisa memakluminya. Apalagi, Tuan Daniel juga sangat aktif seperti ini." jawab Alex pura-pura.


"Niel, jangan kau ulangi lagi seperti ini, ya. Untung sekretaris Alex tak kesal padamu." ujar Gavin.


Daniel! Stop it! Kau keterlaluan. Tak boleh begitu, Nak. Ayo, kita pergi. Alex, silakan lanjutkan pekerjaanmu. Sekali lagi, maafkan anakku, ya." ucap Gavin.


"Ya, Tuan. Tak apa-apa." Alex pura-pura tersenyum.


Dalam hatinya dongkol sekali, Alex benar-benar kesal. Melihat Daniel, rasanya ingin sekali ia membalas perbuatannya. Alex di sini hanya untuk memata-matai Gavin, bukan untuk dikerjai seperti ini oleh anak kecil seperti Daniel.


Gavin membawa Daniel ke taman belakang rumah besarnya. Gavin tak suka, jika Daniel bersikap seperti itu. Gavin berniat, akan menasehati Daniel, agar kejadian yang sama takkan terulang lagi.


Gavin mengajak Daniel duduk si taman bermain. Daniel pun menuruti permintaan Gavin. Daniel sudah tahu, dirinya pasti diceramahi oleh Gavin. Daniel tak akan melawan, karena memang pada kenyataannya hal itu dilakukan olehnya. Daniel yang telah duduk, hanya bisa menatap Gavin yang tengah menatapnya juga.


"Niel, apa kau tahu, sekretaris Alex itu lebih tua darimu? Apa kau tahu, bagaimana cara kita menghormati orang yang lebih tua dari kita?" tanya Gavin pada Daniel.

__ADS_1


Daniel mengangguk,


"Lalu, bagaimana caramu menghormati orang yang lebih tua dari kita, Nak? Kenapa kau bersikap seperti itu padanya?"


"Kita harus sopan dan menghormati orang yang lebih tua dari kita. Kita juga harus berbuat baik pada mereka. Kita tak boleh bersikap seenaknya pada mereka." jawab Daniel.


"Lalu, apa yang kau perbuat tadi pada Sekretaris Alex? Apa itu perbuatan baik?" tanya Gavin lagi.


Daniel menggeleng,


"Apa yang kau perbuat tadi?"


"Membuat Uncle Alex kebasahan, Daddy." jawab Daniel.


"Itu perbuatan tak baik, itu tak sopan, Niel. Kenapa kau malah melakukannya? Padahal, dia tak mengganggumu, dia juga tak membencimu. Kenapa kau harus berbuat seperti itu?" Gavin terus memberi pelajaran berharga pada Daniel.


Daniel sejujurnya ingin berbicara pada Gavin tentang siapa Alex sebenarnya. Tapi, ada perasaan takut yang tersirat pada diri Daniel. Daniel takut, Gavin tak percaya padanya, karena itulah Daniel tetap menyembunyikan apa yang ada dalam pikirannya.


"Maafkan aku, Daddy." hanya itu yang bisa Daniel ucapkan.


"Apa kau membenci sekretaris Alex, Daniel? Daddy rasa, kau tak pernah usil seperti ini sebelumnya. Kau juga sering berdebat dengan Aunty Vanny, tapi kau tak pernah berbuat seenaknya padanya. Tapi kenapa pada Sekretaris Alex, kau begitu berani? Daddy heran, baru kali ini kau membuat masalah, Nak." ucap Gavin.


"Daddy, aku punya alasan untuk ini! Tapi, aku sangat tak yakin, jika Daddy akan mendengarku dan percaya padaku! Aku ingin mengatakannya sejak kemarin, tapi aku selalu menahannya!" Daniel kesal, karena Gavin terus saja menyalahkannya.


"Apa maksudmu? Apa yang ingin kau katakan? Katakan saja, Nak. Jangan menutupinya. Tak mungkin jika Daddy tak mendengarkanmu!" Gavin menatap Daniel yang mulai kesal.


"Sekretaris Alex bukanlah orang baik-baik. Dia adalah orang jahat! Sekretaris Alex, adalah ..., supir yang dulu menculikku, dan membawaku ke rumah Uncle Eric. Kau harusnya sadar, Daddy! Kau harus cepat bertindak! Semua ini membahayakan. Tak mungkin dia di sini, jika tak ada maksud lain! Kau jangan diam saja, Daddy! Kau harus bisa bergerak cepat. Aku kesal padamu, karena kau selalu diam saja!" Daniel kesal pada Gavin, ia berlari meninggalkan Gavin sendirian.


Ucapan terakhir Daniel, membuat Gavin bertanya-tanya, benarkah itu? Banyak sekali hal yang belum Gavin ketahui. Dan ucapan Daniel kali ini, benar-benar mencengangkan baginya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2