
1 jam sebelum kejadian di rumah Ellea ....,
Restoran tempat Gavin dan Dr Will bertemu ....
Selepas makan malam bersama, Gavin mulai menatap serius pada Dr Will. Rasanya, Dr Will ingin segera mengakhiri pertemuan ini, sebelum Gavin mulai curiga padanya. Walau Dr Will sedikit lega, ternyata Gavin memercayainya, dan tak banyak bicara lagi.
“Apakah kita sudah selesai, Tuan Gavin?” tanya Dr Will berharap Gavin akan mengakhiri pembicaraan ini.
“Sudah selesai. Tapi, aku punya sedikit bingkisan untukmu. Bingkisannya ada di mobilku. Apa kau mau menerimanya? Jika iya, ikutlah bersamaku kedalam mobil, karena tadi aku tak sempat membawanya, karena bingkisan itu sedikit berat. Nanti, langsung Anda pindahkan saja ke mobil milik Anda, bagaimana?” pinta Gavin santai.
“Ah, padahal tak usah repot-repot Tuan. Papa Anda sudah begitu baik pada saya, terima kasih banyak sebelumnya.” Ujar Dr Will.
“Ini hanya sebagai rasa terima kasihku pada Anda, karena telah meluangkan waktu untuk bertemu denganku. Bagaimana kalau kita segera menuju ke mobil? Waktu pun sudah semakin malam, aku harus segera pulang.” Ujar Gavin mempercepat waktu.
“Ah, terima kasih banyak Tuan Gavin. Baik, mari ...” Dr Will antusias.
Bagus, sangat bagus. Mari ke mobilku, dan aku akan tunjukan bingkisanku untukmu. Ini adalah hadiah terakhirku untukmu, Dr Will. Ucap Gavin dalam hati.
Gavin meminta Dr Will untuk masuk ke dalam mobilnya. Dr Will merasa aneh, kenapa Gavin harus meminta dirinya masuk ke mobil. Tapi, mau tak mau, Dr Will akhirnya masuk kedalam mobil Gavin. Mungkin, Gavin ingin berbicara padanya sebentar didalam mobil.
“Bingkisan apa yang akan kau berikan padaku, Tuan Gavin?” Dr Will sangat antusias.
“Tunggu sebentar, sampai aku mempersiapkannya.”
Dr Wil sedikit heran dengan perilaku yang di tunjukkan oleh Gavin. Gavin membuka Dashbooard miliknya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dasboardnya. Tak disangka, di dasboard mobilnya itu terdapat sebuah pistol dengan peluru yang sudah terisi didalamnya.
__ADS_1
Gavin menodongkan pistolnya ke hadapan Dr Will yang duduk dibelakang kemudi. Betapa kagetnya Dr Will, karena bingkisan yang Gavin maksud adalah sebuah pistol yang dihadapkan tepat di keningnya. Dr Will sangat cemas dan ketakutan, karena Gavin benar-benar menodongkan pistolnya tanpa getir.
“K-Kau, a-apa maksudmu, T-Tuan Gavin?” Dr Will ketakutan, ia bercucuran keringat.
“Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya bermaksud memberimu bingkisan ini, sebagai ucapan terima kasihku, karena kau telah menjelaskan semuanya perihal Papaku. Hanya saja, mewakili istriku, aku ingin kejujuran darimu, sebagai Dokter yang mengemban amanah untuk mengatakan diagnosa pasien secara jujur, bukan dengan kebohongan karena suap yang begitu besar. Apa kau tak takut, jika ikut masuk penjara bersama Papaku?” ancam Gavin pada Dr Will.
“Astaga, Tuan Gavin. Aku sudah menjelaskannya padamu secara jujur, u-untuk apalagi aku harus menjelaskan padamu?” Dr Will memejamkan matanya, karena takut melihat pistol yang menodong kepalanya.
“Memangnya semudah itu aku percaya padamu? Aku hanya ingin kau tahu saja, se-lugas apa kau dalam menjelaskan perihal kebohongan Papaku? Apa kau mengira, bahwa aku percaya pada penjelasanmu? Oh, tentu saja tidak, Dr Will. Aku sudah katakan padamu, sumpah Dokter itu bukan main-main kan? Apa kau mempermainkan jabatanmu sekarang?” Gavin benar-benar membuat Dr Will mati kutu.
“T-tidak, Tuan. Aku tak mempermainkan jabatanku. Aku sudah jujur padamu, dan aku tak berbohong sedikitpun.” Dr Will masih saja bersikeras dengan pendiriannya.
“Pistolku berisi peluru tajam. Jika proyektil ini aku tekan sedikit saja, maka peluru ini akan menghantam kepalamu dengan kecepatan tinggi. Darahmu akan bercucuran karena saking cepatnya peluru ini masuk pada kepalamu. Sembilan puluh persen luka di otak akibat penetrasi peluru, pasti akan berujung pada kematian. Sisanya, sebanyak 1 dari 10 orang korban dapat hidup dengan cacat permanen di beberapa bagian tubuh. Apa kau menginginkan hal itu terjadi pada dirimu, Dr Will?” Gavin tak memberinya kesempatan untuk bernapas.
Keringat Dr Will sudah bercucuran. Ia tak mampu menatap Gavin. Dr Will benar-benar takut dengan ancaman yang Gavin layangkan padanya. Kali ini, Gavin akan bermain secara cantik, pada siapapun. Ia tak akan gegabah seperti Ellea. Gavin sudah katakan berulang kali pada Ellea, bahwa melawan Papanya tak bisa dilakukan semudah keinginannya.
“T-Tuan Gavin, kumohon, letakkan pistol i-ini. J-jangan kau todongkan padaku. Ada anak dan istri yang harus aku nafkahi, a-aku belum siap untuk mati. Kumohon, T-Tuan.” Dr Will ketakutan, ia terus memohon.
“Baiklah, semua tergantung pada jawabanmu. Jika kau berkata jujur, akan kusimpan lagi pistol ini. Namun, jika kau tetap bersikeras pada pendirianmu, maka aku akan menelepon keluargamu, dan berkata pada mereka, jika aku menemukan mayat yang telah tertembak di sebuah jalanan. Kau ingin aku mengabari keluargamu seperti itu?” Gavin tersenyum puas, seakan ia telah mendapatkan jackpot karena telah berhasil mengancam Dr Will.
“B-baik, T-Tuan. Baik, a-aku akan jujur padamu. T-tapi, sebelum itu ..., kumohon, agar kau tak menyebut namaku, jika semuanya terbongkar. Aku masih ingin bertahan hidup dan bahagia bersama keluargaku.” Dr Will akhirnya luluh.
“Bagus. Kau memberi jalanku, maka aku juga akan memberi jalan terbaik untukmu.”
Gavin menurunkan pistolnya karena DR Will mulai bisa diajak kompromi dengannya. Dengan seksama, Gavin mendengarkan ucapan Dr Will, dan diam-diam merekamnya dengan ponsel miliknya. Ia akan menyamarkan suara Dr Will dan menyembunyikan identitas orang-orang yang telah membeberkan bukti besar ini.
__ADS_1
...........
Tanpa basa-basi, seakan telah mendapat kuncinya, Gavin bergegas meninggalkan restoran itu, ia berniat untuk kembali ke rumahnya dan menemui Ellea. Gavin menendang Dr Will keluar dari mobilnya dengan sekuat tenaganya. Ia tak peduli lagi, dengan Dokter gadungan itu. Dokter yang menghalalkan segala cara yang haram demi uang yang melimpah.
Sesampainya di rumah besar, Gavin melihat ada dua mobil yang memasuki pelataran parkir rumah besarnya. Ia melihat pelat mobil itu, dan Gavin tahu, jika itu adalah mobil manager Gilang, dan satu lagi entah mobil siapa. Gavin pun segera mengambil tindakan. Ia segera masuk kedalam gerbang utama rumahnya.
Jika manager Gilang ada di rumah ini, itu tandanya ada sesuatu yang tak beres, yang terjadi didalam rumahnya. Sebelum mereka melakukan apa yang mereka inginkan, Gavin pun harus mencegah hal itu terjadi. Dalam pikirannya, kekacauan apa yang mereka lakukan lagi? Tak mungkin manager Gilang datang tanpa sebab.
Gavin keluar dari mobilnya, begitu melihat gerombolan manager Gilang yang akan memasuki kawasan rumahnya, “Ada apa ini? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa orang asing masuk kedalam rumahku? Siapa yang mengizinkanmu melakukan hal ini?” suara Gavin terdengar menggelegar.
Gilang berbalik, ia kaget mendengar suara Gavin yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
Brengsek, kenapa harus ada dia, disaat aku akan melancarkan tugasku, selalu saja dia menghambat semuanya. Apa dia memang memata-mataiku? Tapi, bukankah dia begitu percaya pada perkataan Dr Will? Ucap Gilang dalam hati.
“Selamat malam, Tuan. Kami tak ada apa-apa. Hanya saja, kami harus memastikan, jika Aaron malam ini juga harus keluar dari rumah besar. Semua ini, atas perintah Nyonya besar. Kami harus memastikan, jika dia benar-benar pergi.” Jawab Gilang dengan tegas. Ia harus meyakinkan Gavin.
“Apa? Apa benar Mamaku memerintahkan kalian seperti itu? Dia tengah bersenang-senang di hotel bersama teman-temannya. Tak mungkin, jika dia menyuruh Aaron pergi dari rumah ini. Pasti ada hal lain, yang kau sembunyikan dariku. Aku tak peduli, itu apa. Yang aku inginkan sekarang, kau tak bisa membawa orang asing masuk kedalam rumah ini. Aku akan menembaki mereka satu-satu, jika berani masuk dan melangkah ke rumahku. Sekarang, jika kau ingin selamat, berbaliklah, dan segera kembali kedalam mobil. Tak ada yang bisa membantahku di rumah ini, sekalipun kau adalah orang kepercayaan Papaku. Kau pergi, maka kau aman. Tapi, jika tidak ...,” Gavin mengeluarkan pistol dari dalam saku celananya.
Gavin mengangkatkan pistol keatas langit. Tanpa basa-basi, Gavin tak getir menembakkan pistol tersebut, dan ...
Dorrrrrrr ...,
Sebuah peluru tajam menembus langit-langit yang gelap. Sontak saja semua kaget dan menutup telinga masing-masing. Gavin tak main-main, walau ia tak tahu apa yang terjadi, tapi Gavin sadar, jika semua ini pasti ada hubungannya dengan Ellea.
Ellea, istriku ..., aku akan berpura-pura bodoh, demi melindungimu. Sudah kukatakan, harusnya kau berpura-pura diam saja, jangan gegabah. Jika kau gegabah, maka hasilnya akan seperti ini. Kau, seharusnya mengikuti caraku, Ellea. Ucap Gavin dalam hati.
__ADS_1
*Bersambung*