Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 54. Wait me, El


__ADS_3

“Ellea! Apa maksudmu? Kenapa kau banyak bicara sekali? Apa yang kau tahu tentang semua ini, ha? Diamlah, dan jangan banyak berbicara. Kau sengaja kan mencari-cari kesalahan Gilang dan Lay? Mereka hayalah asisten, mereka bukan Dokter. Kau tanya saja pada Dokter jika ingin tahu keadaan yang sebenarnya. Kau sengaja kan seperti ini? Hey, lihat Ellea! Suamiku tengah berbaring lemah seperti ini, dia adalah korban, kenapa kau terus saja mendesak dan tak percaya? Apa kau benar-benar tak punya hati nurani? Ha?” bentak Merry sangat marah.


Tanpa sadar, air mata Merry mengalir setelah ia memarahi Ellea. Merry tak menduga, jika Ellea setega itu pada Mertuanya sendiri. Merry tak rela, jika ada yang mengira semua ini hanya rekayasa. Merry benar-benar percaya pada suaminya. Tak mungkin, Jordan harus melakukan hal tak masuk akal seperti itu.


Vanny menatap Ellea dengan sinis, “Kau, wanita menyebalkan dan tak tahu diri. Jika kau di sini hanya ingin membuat kerusuhan saja, lebih baik kau pergi dan tak usah melihat keadaan Papaku. Kau sudah keterlaluan, Kakak Ipar. Bahkan, jika perlakuanmu seperti ini, kau amat sangat tak layak aku sebut Kakak Ipar. Pergilah, aku sungguh muak melihatmu!” Vanny mendelik kesal pada Ellea.


“Apa ada yang salah dengan semua ucapanku? Aku hanya ingin memastikan saja, bagaimana keadaan Papa. Kenapa kalian seakan ketakutan dan mudah tersinggung? Aku hanya bertanya, dan menginginkan kejelasan. Apa itu salah? Bagian mana dari kalimatku yang mengatakan bahwa aku tak percaya pada keajadian ini? Aku hanya mencoba berpikir realistis dengan apa yang telah sekretaris Lay, dan Manager Gilang katakan. Itu saja,” Ellea terbawa suasana.


“Kau, lebih baik diam! Jangan sok pintar dan terlalu banyak bicara. Ucapanmu sama sekali tak mendasar. Jangan merasa pintar, kau jelas hanya sok pintar. Kuliah pun tak lulus, apa yang kau tahu tentang semua ini, ha? Diamlah Ellea, mulutmu terlalu menyebalkan. Kau hanya membuat rusuh di sini.” Helda turut menambahkan.


“Ah, iya ... kau benar sekali, Bibi. Jika aku kuliah sampai selesai, aku pasti sudah menjadsi orang hebat. Bahkan, aku bisa mengejar cita-citaku, dan mencegah orang-orang yang berbuat licik pada keluargaku.” Tak ada sedikitpun raut wajah ketakutan pada diri Ellea.


“Dasar besar mulut. Mimpi saja dengan semua andai-andaimu itu.” Sindir Helda.


“Aku akan terbangun dari mimpi burukku, Bibi. Lihat saja nanti, jika aku benar-benar telah bangun.” Ellea tersenyum sinis pada mereka.


Gavin tahu, keadaannya sudah tak kondusif lagi. DI sisi lain, ia berpikir. Ucapan Ellea sebenarnya tak ada yang salah. Ellea hanya telalu menggeretak dan mneyudutkan. Padahal, Ellea hanya memancing saja. Sayangnya, mereka begitu mudah terbawa emosi dan menyalahkan Ellea.


Sudah saatnya, Gavin berbicara serius pada Ellea. Mungkin, Gavin harus lebih mengorek kehidupan Ellea. Gavin harus benar-benar bisa menjadi penengah yang adil. Gavin baru tahu, jika Ellea benar-benar pintar dalam berbicara.


Sekilas menatap Ellea, mungkin kepintaran dan kegeniusan Daniel memang turun dari Ellea. Gavin memang belum tahu seluk beluk kehidupan Ellea dahulu kala. Ia bukan tak ingin tahu, tapi ia takut tercengang mendengar penjelasan Ellea. Saat ini, Gavin akan bertanya pada Ellea sejelas-jelasnya dan serinci-rincinya.

__ADS_1


Tak mungkin Ellea bersikap sekeras ini, jika tak ada sebab musababnya. Gavin menatap Ellea, dan memegang tangan Ellea dengan lembut. Gavin harus mulai dari memahami keinginan Ellea, karena walaupun Ellea orang asing di matanya, jelas saja Ellea adalah Ibunda dari darah dagingnya sendiri, yang harus Gavin perhatikan.


“Ellea ikut aku,” ajak Gavin.


Ellea menatap Gavin, “Where’s?”


“Tolong jangan banyak bicara, dan fokus pada Papa. Aku akan kembali nanti.” Jelas Gavin, lalu menarik Ellea, mengajaknya keluar.


Ellea sudah tahu, jika Gavin memang lemah. Gavin dilema, karena yang ia hadapi adalah keluarganya. Tak mudah bagi dirinya untuk menghujat keluarganya sendiri. Walau dalam hatinya, Gavin yakin, jika Ellea tak berbohong. Ellea memang bekata apa adanya, hanya saja Gavin yang merasa jika ia mengetahui semuanya, entah akan sanggup atau tidak Gavin menyelesaikannya dengan kepala dingin.


Gavin membawa Ellea ke sebuah tempat yang tak begitu ramai. Gavin mengajak Ellea duduk, dan menatapnya dengan serius. Ellea sudah bosan, dengan Gavin yang terkesan lemah dalam mengatasi semua masalah. Ellea tak yakin, jika Gavin bisa mengerti dirinya, apalagi membantu dirinya.


“Aku sudah selesai, aku akan pulang.” Ujar Ellea.


“Apalagi?”


“Apa kau tak yakin dengan semua ucapan Gilang dan Lay?” tanya Gavin.


“Ya, aku tak yakin dengan apa yang mereka ucapkan. Penjelasan mereka benar-benar rancu dan tak mudah dimengerti.”


"Aku tak menyangka, ternyata kau begitu pintar. Kau tahu tentang medis, Ellea?" tanya Gavin penasaran.

__ADS_1


"Sejak dulu, aku sudah sering mempelajari tentang jaringan-jaringan dalam tubuh. Aku telah mempelajari anatomi, saat aku masih duduk di bangku sekolah kejuruanku. Aku juga sering meneliti berbagai objek dan praktek di sekolahku dulu. Sejak kuliah, aku mengambil jurusan kedokteran. Walau pendidikanku baru sampai semester dua, tapi sudah banyak sekali ilmu yang aku dapatkan di mata kuliahku. Jika Papamu tertembak di bagian jantung dan pembuluh darahnya, aku pun bisa mengetahui dan menganalisanya. Dulu, aku belajar mengenai kardiovaskuler juga. Ilmu kedokteran yang membahas mengenai sistem kerja jantung dan pembuluh darah dalam tubuh. Jika kalian membohongiku perihal medis, aku bisa mengetahuinya. Siapapun yang akan membohongiku, aku akan mengetahuinya. Aku telah belajar banyak megenai beberapa ilmu dalam kehidupan ini. Aku bukan wanita yang lemah, yang bisa diinjak begitu saja. Aku akan mengembalikan semua yang pernah jadi milikku dulu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Karena itu, maafkan aku Gavin, jika aku begini pada keluargamu.” Jelas Ellea.


“Jadi, ini alasannya kau tak mau menjalin hubungan serius denganku? Apa kau hanya main-main saja dengan pernikahan ini?” tanya Gavin.


“Jangan bahas pernikahan dan hubungan kita. Sejak awal pun, aku tak meminta pernikahan ini berjalan dengan serius. Aku tak memintamu memakai hati ataupun perasaanmu. Bukankah kau bilang, jika pernikahan itu bermaksud hanya untuk menguatkan Daniel saja di mata hukum?” tegas Ellea.


“Kenapa? Kenapa kau tak mencoba serius menjalani semua ini? Kenapa juga kau tak meminta bantuanku perihal masalah yang tengah kau hadapi?” tanya Gavin serius.


“Kau mau tahu alasannya?”


“Ya, tentu saja.” Gavin mengangguk mantap.


“Karena kau anak Jordan Alexander. Karena kau, anak yang ia banggakan. Semua usahanya, tak lepas untuk membahagiakanmu. Perilaku dan perbuatannya selama ini, jelas bertujuan agar kau berada di puncak tertinggi perusahaan. Jasa Papamu, pada dirimu, tentu saja sangat berarti, bukan? Sedangkan, aku adalah orang yang sangat membenci Papamu. Aku sangat muak mendengar nama Jordan Alexander. Kau boleh mencaci dan menghinaku, karena mempermainkan pernikahan. Tapi, hanya menikah denganmu lah, cara agar memudahkanku membongkar semuanya. Aku telah merelakan Daniel menjadi sebagian milikmu, karena itu memang kesalahan kita berdua. Tapi, jika aku harus serius pada pernikahan ini, maafkan aku ... aku sungguh tak bisa. Aku hanya akan tetap fokus pada tujuanku. Silakan kau hina aku,. Silakan kau pukul aku, silakan kau halangi aku untuk mengancurkan Papamu. Aku sudah tak peduli, sekalipun aku akan mati di tangan Papamu, aku rela, selama aku telah memperjuangkan keadilan untuk keluargaku. Aku bisa melepaskan Daniel dengan damai, karena aku yakin, kau akan menyayanginya, sebagaimana aku menyayangi dia. Maafkan keegoisanku, Gavin. Maafkan aku yang terlalu berambisi untuk semua ini. Silakan, lakukan apapun yang kau inginkan. Aku rela, jika kau menghalangi jalanku. Aku akan tetap berusaha.” Ellea berbicara panjang lebar, namun ia tak berani menatap Gavin.


“Aku akan melakukan ini padamu ...” Gavin menatap Ellea tanpa berkedip.


Tanpa aba-aba, Gavin membalikkan wajah Ellea agar menghadap padanya. Setelah itu, ia merangkul lengan Ellea, lalu memeluknya dengan hagat. Tak peduli apa yang akan terjadi, tak peduli ancaman apa yang akan ia dapatkan. Yang jelas, memeluk Ellea saat ini, adalah hal terbaik yang bisa Gavin lakukan.


Sekuat-kuatnya Ellea, ia tetaplah seorang wanita, yang memiliki hati dan perasaan yang lembut. Gavin memahami perasaan Ellea saat ini. Gavin tahu, Ellea amat terpukul dengan kebohongan ini. Tapi, Gavin pun tak bisa bertindak gegabah. Gavin menghadapi keluarganya, bukan orang lain.


Sebuah pelukan hangat itu, ditambah dengan usapan tangan Gavin yang lembut di rambut Ellea. Ellea kaget, karena ia tak menyangka Gavin ternyata malah memeluknya, bukan membalas kata-katanya. Entah apa yang Ellea rasakan sekarang, yang jelas ... perasaannya campur aduk dan Ellea bingung dengan tingkah Gavin saat ini.

__ADS_1


“Hanya ini yang bisa aku lakukan. Sebuah pelukan hangat yang akan membuatmu nyaman, Ellea. Aku mendengar semua keluhan dan kesakitanmu. Tapi, aku tak bisa semudah itu untuk bertindak. Kumohon, tunggu aku, sabarlah sejenak, sampai aku ... bisa menemukan cara untuk menyelesaikan semuanya, Ellea. Aku ingin, anak dan istriku bahagia. Sekalipun, istriku tak mencintaiku sedikitpun ....” Gavin memeluk Ellea, hanya ini yang bisa dilakukannya saat ini.


*Bersambung*


__ADS_2