Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 84. Reach my hand


__ADS_3

"Aku sudah mencari tahu keberadaan Tuan Jordan, dia tak ada di rumah besar. Dia ada di salah satu apartemen pribadi miliknya. Aku akan segera mengirimkan alamat lengkapnya, agar kau bisa ke sana."


Gavin membuka isi pesannya. Setelah membacanya, Gavin segera memasukkan ponsel ke sakunya. Ia harus fokus kali ini, Gavin akan berterus terang pada Merry dan Ellea sekaligus. Seharusnya, Vanny pun mengetahui kabar ini, hanya saja ... saat ini Vanny masih dalam masa penyembuhan, dan Gavin tak mau ambil resiko.


"Mama, Ellea, mungkin kalian sudah tahu, kenapa aku meminta kalian untuk berada di sini. Ada hal penting yang harus aku jelaskan pada kalian, sejelas-jelasnya." ucap Gavin.


"Apalagi yang ingin kau jelaskan? Apa?" Merry terlihat sewot.


"Perihal kau, Papa, dan keluarga Ellea." jawab Gavin tanpa basa-basi.


DEG. Wajah Merry pucat seketika, ia takut karena Gavin mulai mengungkit hal tersebut.


"Katakanlah, aku harus tahu semua yang terjadi." jawab Ellea.


Ellea pribadi, masih belum mengetahui, jika Ayahnya dan Merry berperilaku sejauh itu. Yang Elela tahu, jika mereka memang saling mencintai, dan kerap berselingkuh.


"Mama, aku telah melakukan tes DNA, untuk mengetahui, apakah Vanny memang darah daging Papa, atau bukan! Sebenarnya, aku tak perlu susah payah melakukan tes DNA. Aku bisa saja langsung bertanya padamu, karena kuyakin, kau pasti tahu, anak siapa Vanny sebenarnya. Tapi, bukan hal yang mudah untuk bertanya padamu mengenai semua ini, bukan begitu? Seperti pepatah, mana ada maling ngaku? begitu? Nah, karena aku telah mendapatkan hasilnya. Aku mohon dengan sangat padamu, ikuti semua alur yang telah aku rancang. Dan kau Ellea, kuharap kau siap mendengar semua ini." ucap Gavin.


Ellea sedikit kaget, kenapa Gavin berbicara seperti itu? Memangnya, kenapa harus siap?


"Gavin! Cukup! Tak perlu dibahas. Aku tak ingin mendengarnya. Aku lebih baik pergi saja!" Merry hendak pergi, tapi dengan sigap, Ellea menahannya.


"Mama mertua, diamlah di sini. Kau tak bisa pergi seenaknya, apalagi melepaskan tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggunganmu!" tegas Ellea.


"Mama, kau tak bisa pergi begitu saja. Aku akan sangat marah jika kau beranjak dari tempat ini!" Ucap Gavin dengan nada tinggi.


Merry pun terdiam. Ia hanya bisa diam membisu, karena Merry yakin, Gavin pasti akan membahas masa lalunya. Masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam, masa lalu yang seharusnya tak diungkit lagi, kenapa seakan jadi boomerang dan akan menghancurkan Merry dalam sekejap?

__ADS_1


"Ellea, maafkan aku harus mengatakan ini padamu. Ellea, sejujurnya, Vanny bukanlah anak kandung Papaku. Pantas saja, perlakuannya pada Vanny seperti itu. Dan sebenarnya, ada kemungkinan besar, jika ..."


"Gavin, cukup!" Merry tak ingin mendengar lagi.


"Jika apa, Gavin? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ..., Mama mertua, dan ..." Ellea menatap Merry, seakan mampu menebak apa yang ada dalam pikiran Gavin saat ini.


Gavin mengangguk, "Mamaku dan Ayahmu ..., telah menyakiti hati Papa. Dengan membohonginya, perihal Vanny. Padahal, Vannya adalah anak Ayahmu, tapi ..., Mama berkata pada Papa, bahwa Vanny adalah anaknya. Itulah awal mula Papaku menghancurkan keluargamu, Ellea. Sakit hatinya tak terbendung lagi, dia benar-benar terluka, Ellea. Sebagai perwakilan Papaku, aku memohon maaf padamu yang sebesar-besarnya, karena dia telah gelap mata, dan tak menggunakan akal sehatnya, sehingga membuat keluargamu hancur." Gavin sangat-sangat menyesal.


"Aarrrgghhh, cukup, Gavin, cukup!" Merry mengacak-acak rambutnya, ia sangat hancur, dirinya kacau saat ini.


Jiwa Merry terkoyak-koyak. Ia tak bisa berpikir jernih, hatinya serasa dihujam ribuan belati. Kenyataan pahit ini ternyata mulai terbongkar. Satu persatu, mulai membukakan jalannya. Merry berteriak, ia menyiksa dirinya, dan mulai tak bisa mengontrol dirinya.


"Astaga, Mama, hentikan! Cukup! Jangan menyakiti dirimu, Ma," Ellea menahan Merry yang tengah menyiksa dirinya.


"Aku akan segera memanggil suster," kebetulan ini di ruang private rumah sakit, dan jika terjadi apa-apa, Gavin hanya tinggal memerintahkan suster agar segera membawa Merry.


"Jangan pergi!" tahan Gavin.


"K-kenapa? Tapi Mamamu?"


"Biarkan dia, masih ada hal yang belum aku bicarakan padamu. Duduklah dulu, kuharap kau tetap tenang dan jangan terpancing emosi." pinta Gavin.


Ellea mengangguk, ia menarik napas berkali-kali. Sesak dadanya mendengar penjelasan awal Gavin. Namun, karena Merry memberikan reaksi berlebihan, Ellea jadi melupakan rasa sesak di dadanya dan lebih fokus pada Merry.


"Apa yang kau bicarakan itu benar? Sampai sejauh itukah perselingkuhan Ayahku dan Mamamu?"


Gavin mengangguk, "Ya, maafkan aku karena kejujuran ini. Aku tak bisa menutupinya lagi. Jika kau tak percaya, lihat hasil tes DNA ini. Jika kau masih meragukannya, kota datangi Ayahmu, dan lakukan tes DNA lagi." ujar Gavin.

__ADS_1


Ellea menggelengkan kepalanya, ia sudah tak perlu lagi mencari bukti apapun. Melihat hasil tes DNA Vanny dan Jordan yang tak cocok saja, membuat Ellea sudah yakin, bahwa memang Vanny adalah anak Ayahnya.


Air matanya berkaca-kaca. Ellea menahan agar bulir itu tak jatuh dan membasahi pipinya. Ia harus tegar, ia harus kuat menghadapi semua cobaan yang menerpanya. Ia pernah menyalahkan Jordan sampai sedemikian rupa, tapi nyatanya ... akar permasalahan ini bermula, karena Ayahnya sendiri.


Gavin melihat Ellea menahan air matanya saat melihat tes DNA tersebut. Gavin segera beranjak dan duduk disamping Ellea. Gavin tahu perasaan Ellea saat ini. Hancur, terluka, itu sudah pasti. Gavin meyakinkan dirinya, sebisa mungkin ia harus mampu melindungi Ellea, dan menghapuskan air matanya.


"Jangan menangis, kau wanita yang kuat, kau wanita yang hebat. Kau sudah tahu kan semua ini? Kuharap kau tetap menerimanya dengan tegar. Apa kau sudah siap untuk menemui keluargamu? Jika kau sudah siap, aku akan menemanimu." Ucap Gavin menenangkan.


Ellea mengangguk, air matanya jatuh juga tak tertahankan. Ada perasaan bersalah dalam dirinya, karena terlalu menghakimi Jordan selama ini. Ellea juga malu pada Gavin, karena terlalu berambisi untuk menghancurkan Papanya. Padahal ... kenyataannya, semua kejahatan ini berawal karena ulah Ayahnya sendiri.


"Maaf ..., maafkan aku Gavin. Aku sadar, aku mengerti. Maaf karena terus-menerus memaksakan kehendakku untuk menghancurkan Papamu. Jika aku tahu dari dulu bahwa semua akar permasalahannya karena Ayahku, aku akan diam dan menyadari semuanya. Aku tak menyangka, sungguh tak sangka, Gavin. Maafkan aku ..." Ellea menunduk lesu, ia sangat hancur, ia menangis tersedu-sedu karena menyadari semuanya.


Gavin refleks meraih tubuh Ellea, dan melekatkannya pada dada bidang miliknya. Gavin memeluk Ellea yang tengah menangis. Setidaknya, pelukan hangat itu mampu menenangkan Ellea. Walau keadaannya masih kacau seperti ini.


Ellea tak menolak Gavin yang memeluknya. Merasakan detak jantung pria hebat ini, membuatnya sangat nyaman dan tenang. Ellea bisa menumpahkan segala kesedihannya dalam pelukan Gavin. Pelukan itu ..., sangat-sangat penuh makna.


"Jangan menangis. Kau tak pantas menangis, mana Ellea-ku yang tegar dan kuat? Tersenyumlah, kau jelek jika menangis seperti ini. Sudah, jangan ditangisi. Aku akan menyelesaikan semua masalah ini. Kau percaya kan padaku? Aku pasti menempatkan semua pada tempatnya." jawab Gavin sambil mengusap lembut kepala Ellea.


Ellea mengusap air matanya, ia menatap wajah Gavin dengan sendu, "Aku akan menarik semua laporan tentang Papamu. Aku akan menganggap semua ini selesai. Aku telah menerima kehancuran keluargaku. Aku sadar, aku tak boleh egois. Maaf, maafkan aku,"


"Tidak, kita teruskan saja. Perbuatan Papa tetaplah perbuatan kriminal yang harus diproses secara hukum. Ini tak adil bagi keluargamu, jika Papaku tetap berkeliaran tanpa mendapat hukum yang pantas untuknya. Aku akan menyelesaikan semua ini. Tapi sebelum itu, aku ingin bertemu keluargamu." pinta Gavin.


Deg. Ellea sebenarnya takut bertemu dengan keluarganya. Semua kehancuran ini, tak lepas dari keluarga Alexander. Bahkan, Ellea sendiri hamil diluar nikah karena anak sulung keluarga Alexander. Bagaimana jika nanti Ibunya tahu?


Ellea terdiam, tapi ia masih menatap Gavin.


"Jangan takut. Jika kau ingin menyelesaikan semuanya, mari kita selesaikan semua. Aku akan melindungimu, jika keluargamu tetap membencimu. Aku yang akan bertanggung jawab atas itu semua. Kau hanya cukup berada di belakangku, pegang tanganku erat, dan jangan pernah lepaskan. Aku mencintaimu tanpa alasan, karena itulah, jangan pernah berniat untuk melepaskan genggaman tangan kita."

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2