Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 94. Lovely family


__ADS_3

Apa saja yang terjadi padamu selama tujuh tahun terakhir ini? Aku sangat mengkhawatirkanmu, anakku. Aku sungguh merasa bersalah karena telah marah dan tak berpikir panjang padamu. Syukurlah, ternyata kau tak membenciku, ternya kau bisa hidup dengan baik. Ellea, aku tak akan lagi menyakiti hatimu. Ucap Wina dalam hati.


Sesampainya di rumah, Ellea tak henti-hentinya memegang tangan sang Ibu. Wanita paruh baya yang kini sudah renta ini, hanya bisa menangis bahagia, karena anak sulungnya ternyata tak seperti yang ia pikirkan.


"Ibu, mana Ellie? Di mana dia?"


Ellea bingung dengan Ellie, karena adik pertamanya tak pernah ia luhat sejak tadi. Ellea khawatir, pada Ellie yang entah di mana keberadaannya.


"Maafkan Ibu, yang tak bisa menjaga adikmu, Ellea ..." Wina menunduk.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Dia pergi dari rumah. Ellie malu memiliki Ayah seperti Ayahmu, dia tak tahan, dengan cibiran teman-temannya. Ia kabur, dan ingin mencarimu, Ellea." Wina menangis lagi.


Ellea kaget mendengar ucapan Ibunya. Tak pernah Ellea sangka, Ellie akan seperti itu, dan meninggalkannya keluarganya. Padahal, Ellea belum pernah menemukan keadaan Ellie sejak lama.


"Kenapa? Kenapa dia harus seperti itu? Ya Tuhan Ellie, kau meninggalkan orang tua yang tengah membutuhkan bantuanmu," Ellea menyesalkan kejadian itu.


"Aku sudah pernah mengingatkan dia, agar dia tak pergi meninggalkan rumah ini, tapi dia seperti malu dan jijik melihat keluarga kita. Ibu tak tega, membuatnya malu. Dia lebih memilih tinggal bersama teman-temannya, Ellea." Wina menangis lagi.


"Sudah berapa lama dua meninggalkan rumah?"


"Hampir lima bulan, dan itu terjadi saat semakin parahnya penyakit Ayahmu. Dia malu, temannya selalu mengolok-olok dia. Dia berontak, Ellea. Dia lebih memilih hidup bebas, dan tak mau menganggap kita sebagai keluarganya lagi. Beruntungnya aku memiliki Elsie, dia rela putus sekolah, demi menjaga Ayahmu. Jika aku pikirkan ini dengan matang, mungkin ini karma untukku. Dulu, aku mengusirmu, dan kini ..., anakku sendiri yang pergi dan tak mengakuiku sebagai Ibunya. Semua ini memang karma untukku. Maafkan aku, Ellea. Maafkan aku, Ibumu ini memang tak pantas dipanggil Ibu. Aku menyesal, telah membuangmu ..." penyesalan itu kian mendalam dirasakan oleh Wina.


Ellea hanyut dalam ucapan Ibunya. Ia bisa merasakan, betapa penyesalan itu memang telah dilalui sang Ibu. Sebenarnya, dahulu pun bukan keinginan Ellea untuk tidur bersama Gavin. Hanya saja, Ellea tak tahu harus berbuat apa.


Ia memang bersalah, tapi semua itu juga ia lakukan demi keluarganya, demi melunasi utang keluarganya yang telah menumpuk. Takdir ternyata mempertemukan Ellea dengan Gavin, yang notabene, Gavin adalah anak dari orang yang telah menghancurkan kehidupan Ellea.


Jika Ibunda Ellea tahu apa yang telah dilewati anaknya, akankah ia masih marah dan membenci Ellea? Akankah rasa bersalah dan penyesalan itu kian membuncah? Ellea, mungkin dia wanita yang tegar dan kuat. Dia mampu melewati semua cobaan yang datang padanya.


"Ibu ..., aku dan Gavin akan segera mencari tahu keberadaan Ellie. Aku pasti bisa menemukannya, Ibu. Percayalah padaku, aku akan membuat keluarga kita utuh kembali. Jangan bersedih terus, aku tak ingin terus melihat air mata yang keluar dari pelupuk matamu. Kumohon, jangan menangis Ibu ..." Ellea amat terluka, melihat Ibunya seperti itu.


Wina menatap Ellea begitu dalam. Rasa bersalah dan penyesalannya itu, tak akan bisa ia selesaikan hanya dengan kata maaf. Ia memang kecewa pada Ellea, karena ia tengah hamil di luar nikah. Hanya saja, dulu Wina terlalu mengedepankan emosinya. Wina tak berpikir panjang, jika ketiadaan Ellea di keluarga ini, mampu membuat keluarga ini semakin kosong dan hampa.


"Semua karena Ibu, Ellea. So sorry, I'm so sorry. Aku sangat menyesal atas semua emosi dan amarahku. Jika dulu aku tak menggunakan amarah ini, mungkin kau akan baik-baik saja, Ellea." Ujar Wina.

__ADS_1


"Ibu, semua ini telah digariskan. Semua memang konsekuensi yang harus aku jalani. Aku tak marah, aku tak membencimu sedikitpun. Justru dari hal ini aku belajar, jika aku telah mengecewakan hati seorang Ibu yang telah melahirkanku. Aku berpikir, aku berniat untuk tidak menyakiti hati anakku juga. Semua ini harus aku jalani dengan lapang dada, dan meminta pertolonganNya. Darimu aku belajar, bahwa aku tak boleh menyakiti hati Ibu, karena hal itu benar-benar membuatku tak nyaman. Maafkan aku, Ibu ..." Ellea menunduk, ia malu pada Ibunya sendiri.


Tanpa basa-basi, Wina segera memeluk Ellea, dan menangis tiada henti. Ucapan Ellea sangat menyayat hatinya. Wina sadar, jika tangisan tak akan pernah menyelesaikan masalah. Hanya saja, luka dan penyesalan itu benar-benar nyata.


"Ibu, mengenai Ayah ...," ucapan Ellea tertahan.


Wina menatap Ellea penuh rasa sakit dan luka. Jika berbicara mengenai Hendrick, hatinya seperti ditusuk-tusuk ribuan belati. Wina sudah tahu perbuatan yang Hendrick lakukan dibelakangnya, termasuk perbuatan hina dan biadab yang Hendrick lakukan sejak dulu. Perbuatan hina itu berakibat dirinya terkena penyakit mematikan seperti sekarang ini.


Wina sudah pasrah, ia tak sanggup lagi untuk murka dan memperlihatkan amarahnya. Ia meyakini, bahwa semua penyakit yang suaminya alami saat ini, jelas karena perbuatan biadabnya dahulu. Bagaimana Hendrick bermain dibelakangnya, dan mengkhianatinya.


Semua terbayar sudah, dengan penyakit menahun dan mematikan yang Hendrick alami. Hukum alam memang adil, karena karma akan dibayar tunai jika saatnya telah tiba.


"Kau ingin bertemu Ayahmu?"


Ellea mengangguk.


"Kau sanggup bertemu dengannya?"


"Aku sudah melihatnya." Jawab Ellea.


"Tadi, sebelum aku menemuimu, aku datang ke rumah dulu, Bu. Aku kira, kau ada di rumah, karena Elsie bilang Ayah ada di belakang, maka aku ..., melihatnya lebih dulu." Ellea jujur.


"Maafkan Ibu yang tak bisa menjaga Ayah, Ellea." Wina menunduk.


"Itu bukan kesalahan Ibu, itu jelas hasil akhir yang Ayah tanam selama ini."


Wina kaget, kenapa tiba-tiba Ellea berkata seperti itu. Apakah Ellea sudah tahu yabg sebenarnya mengenai Ayahnya? Wina menatap Ellea, wajahnya seakan bertanya-tanya kenapa Ellea bisa berkata seperti itu tentang Ayahnya sendiri.


"K-kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Ceritanya sangat panjang, Bu. Ellea tak mungkin menjelaskannya sekarang. Ella benar-benar mendapat pelajaran hidup selama ini. Jika keadaan sudah tenang, Ell akan menceritakannya pada Ibu,"


"Kau mau menemui Ayah lagi?" tanya Wina.


"Nanti saja, aku menunggu Gavin datang. Aku akan menemui Ayah bersamanya." balas Ellea.

__ADS_1


"Kau bahagia bersama suamimu?"


"Aku bahagia bersama anakku, bukan suamiku. Perjalanan hidupku begitu pelik, Ibu ... saat aku melewati semuanya, rasanya aku ingin memelukmu, dan bersandar di bahumu. Beruntungnya, pria itu yang bisa menggantikanmu, Ibu. Dia yang memelukku, dan juga memberikan bahunya untuk sandaranku ..." Ellea menatap langit-langit rumahnya.


Wina memegang pundak Ellea. Hatinya sakit, sangat sakit. Jika bisa mengulang masa lalu, rasanya Wina tak ingin mengusir Ellea. Emosi kala itu benar-benar membuatnya gelap mata.


"Maafkan Ibu ..." lagi-lagi, hanya kata maaf yang bisa Wina lontarkan.


Saat Ellea tengah bercengkrama dengan Wina, tiba-tiba suara dari luar mengagetkan mereka berdua.


"Mommy ... Mommy ... where are you, Mom?" Daniel berlari dari kejauhan, ia sangat merindukan Ellea.


Sontak saja Wina amat kaget, mendengar suara anak kecil yang mendekat ke rumahnya. Anak kecil yang tampan, yang langsung menghambur pada Ellea begitu ia memasuki rumah tersebut. Pintu rumah Wina terbuka lebar, sehingga Daniel bisa masuk tanpa mengetuk pintu.


Gavin datang. Gavin datang bersama Daniel. Gavin sengaja membawa Daniel ke rumah ini, karena Gavin tak akan membuang keluarga ini. Banyak hal yang harus Gavin luruskan dengan keluarga Ellea, termasuk statusnya, dan juga Daniel ...


"Daniel!" Mata Ellea berkaca-kaca.


Wina tak berkedip menatap Daniel yang memeluk Ellea. Wina yakin, anak yang memeluk Ellea, adalah janin dalam kandungan yang dulu Wina usir.


"E-Ellea, i-inikah anakmu? Inikah cucuku yang dulu aku usir saat dia masih berada dalam kandunganmu?" Wina tak kuasa menahan air mata yang jatuh, sangat menyakitkan.


Ellea yang tengah memeluk Daniel, menatap Ibunya sambil mengangguk, "Ya, Ibu. Dia adalah anakku, cucumu yang pintar dan tampan."


"Ya Tuhan ... terima kasih. Kau telah menjaga dia selama ini ..." Wina menangis.


Gavin yang masih berada di depan pintu, tersenyum simpul melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka.


"Akhirnya, aku bisa menuntaskan semuanya satu-persatu. Tak lama lagi, aku dan kau akan bahagia selamanya, Ellea ..."


........


Teman-Teman, baca karya temanku juga ya, novelnya lagi ikut event berbagi cinta di NT ini.. Dijamin, pas bacanya kek berasa lagi 'naik roller coaster, memicu kesabaran 😁 Novelnya bagus banget, kuy kepoin yaaaak ...


__ADS_1


__ADS_2