
Ruang Private Jordan Alexander ....
Sebuah pesan masuk membuatnya tercengang. Ia melihat, sebuah pesan yang dikirmkan oleh Donny dari Winn Grup. Pesan yang samsa sekali tak pernah Jordan sangka. Ia sedikit terusik dengan isi pesan itu. Rupanya, Donny mengirm pesan pada Jordan, memberitahukan Jordan bahwa Ellea sebenarnya sudah tahu, siapa dirinya.
Ellea selama ini tahu, jika Jordan dan Donny adalah dalang dari hancurnya keluarga Patrice. Jordan mulai berpikir jauh, agar sesuatu yang buruk tak menimpanya. Ia takut, jika lambat laun Gavin akan mengetahuinya, dan justru malah membantu Ellea.
Jordan segera memanggil dua orang kepercayaannya. Ia harus mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sebelum terlambat, dan sebelum Gavin mengetahuinya. Jordan memang tak bermaksud menyakiti Ellea selama Ellea menurut dan tak bertingkah. Mengetahui bahwa ternyata Elleaakan melakukan sesuatu, membuat Jordan harus segera mengantisipasinya.
“Kira-kira, sejak kapan dia tahu tentang itu?” tanya Jordan pada anak buahnya.
“Karena kita tak mengantisipasi hal ini, sepertinya Nona Ellea sudah mengetahuinya sejak lama. Pertemuannya dengan Anda, yang ternyata adalah Ayahanda dari Tuan Gavin, kemungkinan besar peluang itu muncul. Nona Ellea berniat membalaskan ras sakit hatinya pada Anda,” ujar Kevin, sang asisten kepercayaan Jordan.
“Jadi, ada kemungkinan jika dia akan balas dendam padaku dengan menggunakan Gavin sebagai alatnya?” terka Jordan.
Kevin mengangguk. Ia sudah menduga, jika masuknya Ellea ke keluaraga Alexander, hanyalah untuk membalaskan dendamnya pada jordan. Mungkin Ellea belum tahu, siapa Jordan sebenarnya dan sifat bunglonnya, yang dapat berubah-ubah.
“Apa yang harus kita lakukan, Lay?” tanya Jordan pada Lay, satu-satunya orang terpintar dalam mengelola semuanya.
Lay mendekat kearah Jordan. Seperti biasa, Lay membisikkan sesuatu pada Jordan dengan semua rencananya. Jordan mengangguk-angguk dan mengerti dengan semua yang direncanakan oleh Lay. Setelah rencana matang, Kevin mulai meminta agar eksekusi segera dilakukan.
Semua sudah tertata rapi, jika terjadi ancaman atau hambatan seperti ini, Lay akan bertindak cepat. Jordan sudah tahu apa yang akan dia lakukan agar kondisi dan posisinya aman.
...........
Louvre gallery ....
Suasana perusahaan nampak tenang dan nyaman. Daniel telah menyelesaikan sebuah lukisannya. Ia bisa melukis dengan imajinasinya tanpa sebuah gambar utama. Daniel merasa begitu bahagia, karena ini adalah pertama kalinya, Daniel melukis sebuah lukisan yang bertema tentang keluarga.
Daniel melukis potret Ayah yang tengah menggendong anaknya. Di sampingnya, ada wanita yang tengah menyapu lantai. Lukisan dengan skema yang menggambarkan kehangatan keluarga. Sang Ibu yang tengah mengerjakan sebuah pekerjaan rumahnya, dan Ayah yang tengah bercengkrama dengan anaknya.
Daniel memimpikan hal itu. Daniel memang menginginkan sebuah keluarga yang harmonis dan hangat seperti yang ia lukis. Sayangnya, sampai saat ini pun Daniel tahu, jika Ellea Dan Gavin, tak seperti orang tua yang hangat dan romantis.
Walau saat ini Daniel tinggal bersama Ellea dan Gavin, namun tetap saja rasanya kosong dan hampa. Daniel tetap merasa, bahwa kehangatan Mommy dan Daddynya, tak pernah ada untuknya. Ellea kini lebih sering emosi, dan marah pada Daniel juga Gavin.
"Apa yang kau lukis, anak tampan?" tanya Aaron.
"Aku melukis the warmth of a family, Uncle ..."
"Apakah keluargamu hangat seperti lukisan yang kau buat?"
__ADS_1
Daniel menggeleng.
"Why, tuan muda? Apa ada masalah?" Aaron mencoba mengertikan hati Daniel.
"Mommy dan Daddy, tak sehangat lukisan ini, Uncle ... aku sedih, karena Mommy sepertinya terpaksa tinggal bersama Daddy,"
"Semua butuh proses dan waktu, Tuan muda. Sabar saja, mungkin sebentar lagi, Mommy dan Daddy akan saling menghangatkan satu sama lain," ucap Aaron.
"Semoga saja Uncle, aku berharap yang terbaik." Daniel merapikan lukisannya lagi.
Tiba-tiba, ponsel Aaron berdering, ia pun segera membuka ponselnya. Ia melihat, pengawal Jordan, yang menghubunginya. Aaron pun segeraa mengangkatnya.
"Halo, ada apa?" tanya Aaron.
"Tuan besar akan tiba di Louvre Gallery, sekitar lima belas menit lagi. Ada rapat mendadak dengan dewan direksi. Mohon kau siapkan dan atur semuanya sekarang. Ada hal penting yang harus disampaikan oleh Tuan saat ini juga. Segera persiapkan, demi keamanan dan kenyamanan perusahaan." tegasnya.
"Apa? Kenapa harus mendadak seperti ini? Kenapa tak menghubungiku dari awal?" Aaron sedikit aneh.
"Kubilang, mendadak, ya tentu saja isinya pun mendadak! Cepat kau atur semuanya," perintah Kevin dibalik ponsel Aaron.
"Baiklah, aku siapkan sekarang."
Aaron merasa aneh, ia tak mengerti, apa yang terjadi dan kenapa pula Gavin tak menghubunginya? Kenapa harus tiba-tiba rapat mendadak seperti ini? Aaron mencoba menghubungi nomor ponsel Gavin, tapi nyatanya ponsel Gavin tak aktif.
"Daniel, Uncle ada pekerjaan dulu sebentar. Apa kau tak apa menunggu di sini sampai Uncle atau Daddy-mu kembali?" tanya Aaron lembut.
"Baik, Uncle, aku akan mencoba melukis di kanvas besar itu. Aku akan menunggu Daddy,"
"Anak pintar. Aku pergi sebentar ya, jika aku lama, akan kusuruh salah satu karyawan untuk menemanimu,"
"Oke Uncle,"
Aaron meninggalkan Daniel. Ia sedikit kaget dengan kunjungan mendadak Jordan hari ini. Aaron pun membuka ponselnya dan segera menghubungi beberapa karyawan untuk menyiapkan rapat dadakan ini. Sambil terus menghubungi Gavin, tapi masih saja nomornya tidak aktif.
Dua orang pria menggunakan baju staff Louvre gallery mulai memasuki kawasan melukis, dan melihat Daniel sedang asyik dengan lukisannya. Pria itu berjalan dengan lembut menuju Daniel. Daniel sadar, bahwa mereka datang di saat yang tepat.
"Halo, Daniel, sudah selesaikah menulisnya?" tanyanya.
"Lukisanku sudah selesai dari tadi. Ini hanya lukisan kedua, yang aku kerjakan karena aku menunggu Uncle Aaron. Apa kalian sengaja datang untuk menemaniku?" tanya Daniel, teringat pada pesan Aaron, jika Aaron lama, berarti akan ada orang yang menjaga Daniel.
__ADS_1
"Benar, Tuan muda. Kami diminta untuk menemani anda," seru salah seorang dari mereka.
"Uncle, apa Uncle Aaron akan lama?"
"Ya, dia lama. Jangan ditunggu, nanti juga dia kembali. Selagi menunggu sekretaris Aaron, bagaimana kalau kita berkeliling menuju halaman perusahaan? Pasti akan sangat menyenangkan." ajak pria itu.
"Apa tak apa-apa, jika aku meninggalkan ruangan ini, Uncle?" tanya Daniel.
"Tak apa-apa, Tuan Daniel. Apa kau suka pemandangan? Melihat pemandangan menyejukkan di halaman depan Louvre gallert." rayunya.
"Sepertinya mengasyikkan Uncle. Baiklah, selama menunggu, aku ingin bermain!" seru Daniel.
"Baik, ayo anak pintar!"
Daniel dan kedua orang itu berjalan menuju halaman belakang. Mereka tak melewati pintu utama, dengan alasan penuh sesak banyak orang. Sesampainya di luar halaman, lagi-lagi, dua orang pria itu merayu Daniel.
"Daniel, Tuan Daniel ... adakah seseorang yang ingin Anda temui sekarang ini?"
Daniel berpikir, "Siapa ya?"
"Siapa saja. Kau bisa katakan pada kami, kau sedang merindukan siapa begitu,"
"Sebenarnya, aku merindukan Uncle Samuel ... aku ingin bertemy dengannya. Sayangnya, Uncle tak bekerja hari ini." keluh Daniel.
"Apa kau ingin bertemu dengan Uncle Samuel sekarang?" tanya pengawal itu.
"Ya, tentu saja aku ingin bertemu jika aku bisa,"
"Tentu saja bisa. Naiklah ke mobil sekarang, maka kita ... akan mengantarkan kau menuju Tuan Samuel." rayu kedua orang itu.
"Benarkah? Tapi, bagaimana kalau Uncle Aaron melarangku untuk pergi?"
"Uncle Aaronmu telah memercayakan kau pada kami, bukan? Dia tak akan mungkin melarang. Ayo, kita ke mobil sekarang ... karena Uncle Samuel sudah menunggumu di sebuah tempat," ujar orang itu.
"Begitu ya? Baiklah, aku akan menemui Uncle Sam. Tapi, janji ya Uncle , jangan lama-lama. Aku takut Daddy pulang dan memarahiku jika aku menemui Uncle Sam." jawab Daniel polos.
"Baik, tak akan lama-lama. Ayo, kita ke belakang. Mobilnya ada di sana. Tenang saja, kita hanya sebentar. Mari, Tuan muda ..."
"Oke Uncle, yeay! Aku akan bertemu dengan Uncle Sam sebentar lagi Horreeeee!" Daniel begitu semangat.
__ADS_1
Mereka membawa Daniel menuju mobil yang berada di belakang perusahaan. Sebenarnya, ada apa ini?
*Bersambung*