
Kehidupan manusia, tentu saja ada lika-liku yang menyertainya. Tuhan tak serta-merta memberikan cobaan pada setiap manusia, hanya untuk Cuma-Cuma. Namun, setiap cobaan dan lika-liku dalam hidup, tentu saja akan menguatkan mereka yang tegar menghadapinya.
Semakin banyak masalah menerpa hidup, semakin banyak juga kekuatan dan semangat yang muncul dalam diri, untuk terus berjuang menghadapinya, sampai bahagia itu datang. Hal itu dirasakan oleh Ellea, dan juga Gavin. Pertemuan mereka berdua, tak luput dari masalah dan cobaan.
Sekuat hati, Ellea berjuang, dan Gavin pun tak diam. Kehidupan mereka begitu pelik, sakit hati, kecewa, luka, dan amarah, bercampur menajdi satu. Beruntungnya, Ellea mampu mengatasi semuanya. Berbagai parasit, seperti Celine dan Eric, tak mampu menggoyahkan hati Ellea maupun Gavin, karena mereka tak mudah tergoda oleh orang-orang pengganggu seperti mereka.
Ellea hanya fokus pada tujuannya. Hingga terkuak lah sebuah rahasia besar, yang amat mencengangkannya. Ellea kaget bukan main, karena semua masalah keluarganya berawal karena kesalahan Ayahnya sendiri.
Sebenarnya, semua sudah kembali pada tempatnya masing-masing. Jordan dan Donny yang telah melakukan aksi buruk pada keluarga Ellea, kini mendekam di penjara, Hendrick sang Ayah, yang ternyata sering bermain perempuan, dan berselingkuh dengan Merry Alexander, telah mendapatkan karmanya juga.
Bukan main, setali tiga uang, karma didapatkan Hendrick. Ia mengidap penyakit mematikan atas perbuatannya dahulu. Hidup memang kejam, kembali pada peribahasa, siapa yang menabur, tentu saja ia yang akan menuai. Seperti inilah balasan yang setimpal atas perbuatan yang telah Hendrick lakukan di masa lalu.
Luka hati, memang akan sangat menyakitkan daripada luka fisik. Luka di hati, sulit sekali untuk sembuh. Berbeda dengan luka fisik, yang mampu disembuhkan dengan berbagai obat dan cara. Namun luka hati, siapa yang mampu mengobatinya? Walau ia tak terlihat, dampaknya benar-benar nyata.
Satu lagi, Merry Alexander, wanita paruh baya itu memang telah mempermainkan hati dan perasaan keluarganya sendiri, Merry menyakiti suami dan anak-anaknya. Bahkan, kenyataan bahwa Vanny adalah anak Hendrick, tentu saja membuat semua kejadian ini semakin pelik.
__ADS_1
Merry Alexander, kini tengah menjalani perawatan di sebuah Rumah sakit jiwa, karena kondisi kejiwaannya yang mulai bermasalah. Masalah besar ini, dan terbongkarnya rahasia Merry selama ini, membuat ia stress berat hingga mengalami masalah kejiwaan. Semua dibayar lunas, tanpa tersisa sedikitpun.
Orang yang menyakiti, dan disakiti, telah mendapat balasan yang setara dengan apa yang telah mereka lakukan. Kini, tinggal akhir yang harus mereka lalui. Gavin harus membawa Ellea dan keluarganya menuju gerbang kebahagiaan. Gavin melihat Ayah Ellea terkapar lemah, dan Gavin tak mungkin membiarkan hal itu terjadi semakin memburuk.
Gavin kini sering datang ke rumah Ellea, untuk membujuk dan merayu Ibunya Ellea, agar mau pindah ke rumah yang telah Gavin sediakan. Ellea menerima perbuatan baik Gavin, karena walau bagaimana pun semua ini adalah perbuatan tulus Gavin. Ellea menerima semua yang Gavin lakukan, demia kebahagiaan keluarganya.
“Ibu, maafkan aku yang lancang ini. Kau pasti tahu, aku adalah pria yang pernah merusak masa depan Ellea. Aku juga lah pria yang membuat Ibu membencinya, hingga mengusir Ellea. Tapi percayalah, semua itu terjadi karena kami tak berpikir jernih pada saat itu. Aku menyesali perbuatanku Ibu, kumohon kebesaran hatimu untuk memaafkan aku. Karena aku berjanji padamu, aku akan membahagiakan Ellea, dan tak akan membuatmu bersedih lagi.” Ucap Gavin meyakinkan Ellea.
Wina nampak sedih mendengar ucapan Gavin. Ia sadar, bahwa ini memang kecelakaan, yang terjadi antara Gavin dan juga Ellea. Hanya saja, kecelakaan itu ternyata mampu menguak semua rahasia besar, antara keluarganya dan juga keluarga Jordan, mantan kekasih Wina.
Takdir telah digariskan, dan Wina tak bisa lagi membantah keinginan Gavin untuk tetap hidup bersama Ellea. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini, Wina dan Jordan tak pernah ditakdirkan bersama, karena Jordan telah dijodohkan dengan Merry, namun kini ... anak Jordan, yaitu Gavin, dan anaknya, yaitu Ellea, mereka dipersatukan dan digariskan untuk bersama.
Wina pun menatap Gavin tanpa berkedip, mata mereka saling bertatapan. Sorot matanya persis seperti Jordan, pria yang dahulu pernah mengisi hatinya. Mungkin inilah takdir, Wina harus menyerahkan Jordan untuk orang lain, karena kini ... anaknya yang akan memiliki penerus darah daging dari Jordan.
Wina tersenyum, “Setelah aku memahami semua ini, mungkin ini memang takdir yang Tuhan gariskan. Aku tak bisa bersama Ayahmu, karena aku harus merelakan kau dengan anakku. Hidup memang unik, aku memiliki banyak kejutan dalam kehidupanku kali ini. Aku percayakan Ellea padamu, karena kau pun kini memiliki tangung jawab untuk menjaga dan melindungi darah dagingmu. Sebagaimana yang aku katakan, ini adalah takdir. Mungkin, jika dahulu aku memaksakan kehendakku, aku dan Papamu pasti akan melakukan hal yang sama, yang dilakukan oleh Ibumu dan juga suamiku. Sayangnya, aku tak gelap mata seperti mereka. Aku masih menjaga harga diriku, dan mencoba menerima semua yang Tuhan telah berikan. Mungkin inilah jawabannya, kenapa kami semua tak bisa bersatu, kenapa kami semua harus mengalami kisah cinta segi empat yang sangat rumit. Jawabannya hanya satu, yaitu kalian ... walau apa yang dilakukan suamiku dan Papamu, jelas sangat tak beradab. Semoga kau bisa menuntun Ellea dan cucuku menuju jalan yang lebih baik, dan kau tak akan pernah sedikitpun meniru apa yang dilakukan oleh Papamu, ataupun Ayah mertuamu, Nak Gavin. Apa kau mengerti penjelasanku?”
__ADS_1
Mata Gavin refleks berkaca-kaca. Ucapan Wina, mertuanya itu sangat hangat. Benar-benar hangat. Berbeda dengan ucapan Ibunya sendiri, Gavin merasa sangat tak percaya, jika Ibu Ellea akan sehebat ini. Ia bangga, karena Gavin yakin, semua kemampuan dan kepintaran Ellea, menurun dari Ibunya.
"Terima kasih, Ibu. Kau sangat luar biasa. Aku sangat bangga padamu. Terima kasih, karena kau tak sama seperti orang tuaku. Mungkin, akan ada hal yang suatu hari nanti akan aku katakan padamu, namun tak sekarang. Aku takut, jika hal itu benar adanya. Aku memang tak bermaksud menutupi hal ini, karena aku ingin semua ini jelas adanya. Sungguh, maafkan aku ..."
Ellea tersentak kaget, karena ia tahu, apa yang akan Gavin bicarakan, "Gavin, No!"
Ellea tak rela, jika Gavin mengatakan bahwa Vanny adalah anak Ayahnya. Ini bukan saat yang tepat, karena hal itu pasti menghancurkan perasaan Ibunya yang telah membaik. Namun Gavin memiliki alasan lain, mengapa ia harus mengatakan hal ini sekarang, karena Gavin melihat, jika harapan hidup Hendrick sudah tak akan lama lagi.
Sebelum terlambat, Gavin ingin Vanny menemui Hendrick, dan mengakui, bahwa Hendrick adalah Ayah Vanny yang sebenarnya. Gavin memiliki alasan kuat untuk hal ini, sayangnya Ellea merasa bahwa ini terlalu gegabah.
Tiba-Tiba, belum sempat Gavin ataupun Ellea saling berbicara, Elsie datang dari ruang belakang dengan tergesa-gesa. Elsie terlihat begitu khawatir dan ketakutan.
"Ibu, Ibu ... Kakak, please, temui Ayah sekarang. Ayah sepertinya dalam kondisi kritis. Tubuhnya mengejang, dan matanya sangat menakutkan. Ia pasti tengah merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ayo, tolong Ayah segera!" Elsie menangis, ia terus memohon.
"Astaga, apa yang terjadi?" Wina segera berdiri, ia akan berlari menuju ruangan khusus tempat Hendrick menetap selama ini.
__ADS_1
Oh Tuhan ... apa yang terjadi?
*Bersambung*