
Satu persatu koper miliknya, akhirnya dibuka. Ellea enggan membereskan beberapa pakaiannya pada lemari Gavin, karena merasa takut tak akan lama tinggal di rumah mewah ini. Karena hari ini ia akan pergi bersama Merry, Ellea mencoba memakai pakaian yang tak pernah ia pakai sebelumnya.
Sebuah dress yang elegant dan cantik, ia kenakan untuk pertemuan kali ini. Dress yang dibilang tak akan membuat Merry malu, karena ini adalah dress mahal Ellea yang tersisa, sebelum dirinya benar-benar bangkrut.
Gavin menatap kesal pada Ellea. Wanita itu sepertinya tak pernah merasakan apapun, saat setelah berciuman dengan Gavin. Gavin dan Daniel pun kini telah rapi, karena sesuai janjinya, Gavin akan membawa Daniel ke kantornya.
"Kau mau ke mana? Mau kondangan?" tanya Gavin yang terlihat aneh melihat penampilan Ellea saat ini.
"Memangnya memakai dress harus ke kondangan saja?"
"Berlebihan!" Pekik Gavin.
"Kenapa kau repot sekali?"
"Dihadapanku kau tak pernah memakai pakaian sebagus itu! Tapi keluar rumah saja, kau selalu tampil cantik dan memesona! Apa kau ingin bagian tubuhmu dilihat oleh orang lain?" Gavin benar-benar cemburu kali ini.
Ellea kaget, ia mengernyitkan dahinya. Heran, sangat heran ... entah apa yang terjadi pada Gavin, sehingga ia cemburu seperti itu. Padahal, Gavin tak pernah seperti itu padanya selama ini. Gavin cuek dan tak pernah menyinggung apapun tentang Ellea.
"Kau aneh! Benar-benar aneh. Jadi, kau ingin aku keluar dengan Mamamu, hanya menggunakan kemeja dan jeans saja?"
"Itu lebih baik, karena bagian tubuhmu tertutup!"
"Mamamu bilang padaku, agar aku memakai pakaian yang tak memalukan! Jangan berisik, kau tak akan tahu model fashion wanita!"
"Sembarangan saja, kau tak tahu siapa aku?"
Ellea menghela napas panjangnya, "Ya, ya, ya ... aku tahu, Gavin Alexander yang terhormat. Sudah, kau tak perlu marah-marah begitu. Aku berjanji, aku tak akan membuat namamu malu. Aku akan menjaga nama baikmu, Okay ... kau tak perlu khawatir," Ellea menepuk-nepuk pundak Gavin.
Tiba-tiba, Daniel membuka suaranya, "Mommy, sepertinya Daddy cemburu ... karena aku akan bertemu dengan Uncle Bos Samuel di kantor. Daddy juga cemburu jika Mommy merindukan Uncle Samuel,"
"Daniel, apa yang kau bicarakan? Daddy tak pernah mengatakan hal seperti itu!" Gavin terlihat gugup.
__ADS_1
"What the? Ya Tuhan, terlalu rumit hidup ini. Aku sampai lupa, jika aku memiliki Samuel. Aku harus membalas budi Samuel selama ini. Daniel, kau akan bertemu dengannya, sayang? Sampaikan salam Mommy pada Uncle Samuel, ya ... katakan padanya, Mommy akan menghubunginya nanti." ujar Ellea.
Mendengar Ellea berucap seperti itu, membuat Gavin ingin meledak rasanya. Berani-beraninya Ellea mengatakan bahw ia memliki Samuel. Ellea sengaja mengatakannya, karena ia ingin melihat reaksi Gavin. Elle tertawa di dalam hatinya. Ia sukses membuat Gavin marah.
Terserah, terserah ... anak dan Ibu sama saja. Kalian terus saja membuatku marah. Kalian kira, aku ini tak genius apa? Silakan saja berkhayal sesuka hati kalian tentang Samuel. Toh, dia tak akan ada di kantor seminggu ini. Ucap Gavin dalam hati.
"Ah, kau jangan menyuruh anakku menyampaikan pesanmu pada dia. Sudah, kau temui Mama sekarang, bukahkah sebentar lagi kalian akan berangkat?"
"Ya, ya ... aku akan berangkat sebentar lagi."
Ellea menenteng tas nya, ia akan segera menemui Merry agar bisa berangkat secepatnya menuju arisan bulanan tersebut. Namun, saat Ellea akan meninggalkan kamar, Gavin menahannya lagi.
"Tunggu,"
Ellea berbalik, "Ada apa?"
Gavin mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia membuka dompet itu, dan mengeluarkan dua kartu sakti, juka beberapa lembar uang.
"Gunakan kartu ini, jika kau ingin membeli sesuatu. Ini juga beberapa uang untukmu, agar nanti kau mudah jika harus mengeluarkan uang." Jelas Gavin.
"Tak apa, ambil saja. Aku suamimu, aku wajib memberikannya padamu. Ambil lah, kau tak perlu ragu." Gavin terus memaksa.
Ellea pun dengan sungkan mengambil kartu kredit dan uang yang Gavin berikan. Ellea hanya akan menyimpan uang itu, karena Ellea tak berani, jika harus memakai uang itu. Selepas persiapan, baik Ellea ataupun Gavin, mulai pergi dengan mobil masing-masing. Jika Gavin dengan Daniel pergi ke Louvre Gallery, Ellea dan Merry akan pergi ke sebuah restoran mewah.
Waktu pun berlalu, Merry dan Ellea sudah berada di satu mobil yang sama. Masih nampak jelas tatapan tak suka yang Merry perlihatkan pada Ellea. Niat hati ingin mencaci maki penampilan Ellea, nyatanya fashion yang Ellea kenakan begitu cantik dan sempurna.
"Kau ingat, ya! Aku masih belum menganggapmu sebagai menantuku. Di mata rekan-rekanku, kau hanyalah orang yang tiada artinya. Kuharap, jangan sampai membuatku malu dengan sikap norak dan kampunganmu itu!" Pekik Merry, ia begitu berani mengata-ngatai Ellea jika sedang tak bersama Gavin.
"Baik, Mama, aku mengerti ..." Ellea sudah berjanji, ia tak akan melawan mertunya.
"Kau sebenarnya tak ada pantas-pantasnya untuk mengikuti acaraku, hanya saja aku kasihan padamu! Agar kau tahu dunia istri-istri pengusaha. Kau pasti akan tercengang, karena dulu kau belum pernah merasakan kemewahan ini, kan ..." Merry lupa, ia refleks mengatakan itu.
__ADS_1
"Maksud Mama? Mama tahu apa tentang kehidupan masa laluku? Apa aku pernah menceritakan kehidupan masa laluku pada Mama?" Ellea mendapat jackpot untuk membuat Merry mati kutu.
Astaga, aku lupa. Aku lupa, kalau dia tak tahu, bahwa aku mengetahui semua kehidupan masa lalunya. Batin Merry.
"Ah, i-itu ... Aku tahu, dari Gavin." Jawab Merry terbata-bata.
"Tahu dari Gavin, Ma? Memangnya dia cerita apa pada Mama? Aku tak pernah sedikitpun menceritakan tentangku padanya. Aku sudah berjanji akan menutup rapat-rapat kisah kelam masa laluku. Aku penasaran, kenapa Mama sepertinya mengetahui kisahku?" Ellea sengaja.
Mati sudah, Merry tak bisa berkata-kata lagi. Ia terlalu refleks bicara, sehingga tak mengerem mulutnya. Entah apa yang harus Merry katakan pada Ellea. Merry takut, lama-lama Ellea akan curiga, jika ia dan suaminya terlibat akan bangkrutnya keluarga mereka.
"Ah, apa mungkin selama ini Gavin memata-mataiku ya, Ma? Orang kaya kan biasanya seperti itu. Selalu memata-matai orang lain dari jauh. Apa mungkin sejak dulu Gavin memang sudah mencintaiku ya, Ma? Jadi dia tahu tentang hidupku, dan sekarang pun dia memaksa untuk menikahiku. Ah, mimpi apa aku ini, rasanya seperti Cinderella yang dinikahi oleh pangeran tampan seperti Gavin." Ellea sengaja mengalihkan pembicaraan saat wajah Merry mulai pucat.
Dasar bodoh. Ternyata, dia begitu bodoh sampai dengan mudahnya berkata seperti itu. Kukira, dia akan menyudutkanku, ternyata dia malah bertingkah bodoh seperti itu. Syukurlah, aku tak perlu bingung mencari alasan. Batin Merry.
"Ah, ya ya ya ... terserah apapun katamu!"
Begitu saja sudah pucat. Ini baru permulaan Mama mertua. Lidahmu terpeleset juga, kan? Aku berharap, nanti akan banyak lagi kata-kata yang terpeleset dari mulutmu. Aku harus berpura-pura bodoh seperti ini, agar aku mudah untuk memancingnya lagi, dan lagi ... Gavin, maafkan aku. Kedua orang tuamu memang sudah keterlaluan. Aku tak bisa membiarkan mereka. Maafkan aku, jika aku seperti ini. Batin Ellea.
"Aku hanya penasaran, apa saja yang Gavin lakukan dulu saat memata-mataiku. Apa dia memata-matai sejak keluargaku bangkrut? Apa dia tahu ya, siapa dalang dibalik semua itu? Apa mungkin harus aku tanyakan pada Gavin, Ma?" Ellea merasa puas.
"JANGAN! Jangan asal berkata pada anakku. Dia tak tahu apa-apa. Dia tak terlibat apapun!" Merry khawatir lagi.
"Lalu siapa yang terlibat Ma? Mama tahu? Ingin rasanya aku balas dendam dan turut menghancurkan mereka juga!"
Brengsek! Lancang sekali mulutmu berbicara. Batin Merry.
"Aku tak tahu. Aku tak peduli pada keluargamu. Sudah diam, jangan banyak bicara. Aku pusing mendengarkan ocehanmu terus!" Merry memalingkan wajahnya.
"Ah, baiklah Ma ... padahal aku begitu antusias untuk mencari tahu."
"Ssstt, jangan bicara!"
__ADS_1
Ini baru permulaan, ingat ... ini baru permulaan ya! Nanti, akan lebih membuatmu tercengang, wahai Merry Alexander ....
*Bersambung*