Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 49. So sorry, Eric.


__ADS_3

“Dasar brengsek! Kenapa kau menculik anakku, hah! Berani-beraninya kau menyentuh dia, dasar bajingan!” Gavin terus memaki Eric.


“Daddy ... Uncle Eric tak jahat, dia tak menculikku. Aku yang datang ke sini menemui Uncle Eric. Juga, Uncle Eric tak akan mungkin menyakiti aku dan Mommy, karena ... Uncle Eric sangat-sangat menyayangi Mommy. Aku bisa tahu, karena beberapa foto yang Uncle perlihatkan padaku. Terlihat sekali, bahwa Uncle, begitu menyayangi Mommy ...” Daniel melihat album foto lama yang tergeletak di meja.


Astaga, apa yang Daniel katakan? Dia membuat suasana semakin keruh saja. Batin Ellea yang kebingungan melihat kondisi ini. Ellea menghembuskan napasnya berkali-kali, masalahnya semakin rumit saja, karena kini ... Eric pasti ikut campur juga.


Gavin shock, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Daniel. Bisa-bisanya Daniel membela Eric. Bisa-bisanya Daniel mengatakan hal yang sangat tak Gavin sukai. Gavin datang ke sini untuk membela Daniel, mengambilnya kembali, karena Gavin takut Daniel kenapa-napa.


Menyedihkan, ternyata Daniel mampu berbicara dan membela Eric dengan lantang. Seakan sia-sia perjuangan Gavin, padahal Gavin sudah sangat mengkhawatirkannya. Gavin memang tak pernah berpikir panjang, ia selalu mengedepankan emosinya dalam menyelesaikan masalah.


Nyatanya, hal itu tak berlaku bagi Ellea dan Daniel. Sekacau-kacaunya hati dan perasaan Ellea saat tahu Daniel diculik, tapi Ellea tak serta merta menyalahlan siapapun dan mengamuk seperti Gavin. Sifat Gavin sangat tak dewasa, membuat Ellea semakin kesal melihat cara pandangnya dalam menyelesaikan sebuah masalah.


Inilah alasan kuat yang dimiliki Ellea. Ellea tak ingin Gavin mengetahui kisah pelik keluarganya dengan Jordan. Ellea hanya ingin dirinya sendiri yang menyelesaikan berbagai masalah apapun. Karena jika ada campur tangan orang lain, semuanya akan jadi rumit dan memusingkan.


"Aku begini karena aku harus melindungimu, Daniel. Aku tak tahu, apa yang akan terjadi padamu, jika kau tak berada dalam pandanganku. Mungkin, dia memang baik padamu ... tapi, apa dia setulus dan semurni hatiku menyayangimu? Apa kau tahu, apa yang ada dalam hatinya? Kau tak bisa menyamaratakan orang. Bagimu, dia baik, karena dia bersikap lemah lembut padamu. Tapi, bagiku ... ada ketakutan tersendiri ketika anakku bersama orang lain yang dia anggap baik. Justru karena kebaikannya itulah, aku merasa harus khawatir dan curiga. Aku Daddymu, ada ikatan batin yang kau seharusnya tahu. Aku tak akan membuatnya seperti itu, joka aku tahu, semua ini." ujar Gavin sedikit membela dirinya.


"Tapi, Daddy ... harusnya kau dengarkan dulu penjelasanku. Justru, aku berada di sini, aku bisa dibilang aman. Aku aman dari orang-orang yang akan berbuat jahat padaku. Memang, kata mereka ... aku adalah anak yang pandai dan genius. Aku adalah anak yang pintar melukiam Kepintaranku melebihi orang dewasa pada umumnya. Itu adalah suatu kelebihan yang aku miliki, Daddy. Yang mungkin saja kemampuan ku itu turun dari Daddy. Tapi, apakah Daddy tadi berpikir? Dua orang itu, aku rasa mereka sangat jahat. Mereka yang membawaku kemari, mereka yang meminta aku bertemu dengan Uncle Eric. Padahal, aku ingin bertemu dengan Uncle Samuel. Kenapa harus Uncle Eric? Tapi aku beruntung, mereka membawaku ke sini. Jika saja mereka ..." ucapan Daniel terpotong.

__ADS_1


Ellea menatap Daniel dengan nanar, Ellea tahu, apa yang akan Daniel bicarakan. Ellea menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat agar Daniel terus saja berbicara, dan jangan takut pada kemarahan Gavin. Daniel pun mengerti, ia melanjutkan ucapannya ....


"Jika saja mereka membawaku ke tempat yang tak aku ketahui di mana, mungkinkah aku bisa selamat? Aku memang cerdas dan genius, tapi itu hanya dalam skill melukisku. Aku tak bisa menyelamatkan diriku sendiri jika berhadapan dengan dua orang dewasa yang akan mencoba mencelakaiku. Kemampuanku bukan menghajar dan baku hantam, Daddy. Aku tak bisa melawan mereka. Karena itulah, Daddy seharusnya beruntung, karena mereka membawaku ke tempat Uncle Eric, Daddy. Percayalah, dia tak seburuk yang Daddy pikirkan. Jangan marah, maafkan aku, Daddy ..." Daniel tak ingin Gavin salah paham, permintaan maafnya benar-benar terkesan tulus.


Gavin terenyuh mendengar penjelasan Daniel. Mungkin benar, Gavin terlanjur emosi karena ia secara pribadi ada dendam tersendiri pada Eric. Sehingga apapun yang berhubungan dengan Eric, Gavin akan marah dan muak.


Tanpa basa-basi lagi, Gavin segera memeluk Daniel. Ia merasa bersalah, karena seakan menghakimi Daniel dan menyalahkannya. Gavin kalut, ia tak mampu berpikir jernih dan tenang. Masalahnya bukan hanya Daniel, tapi keadaan Papanya pun, membuat Gavin memiliki banyak pikiran.


Setelah memeluknya, Gavin memangku Daniel. Sorot mata tajam Gavin, menatap Eric tanpa berkedip. Tak ada sedikitpun gurat ketakutan ataupun merasa bersalah pada diri Gavin. Ia belum bosa memastikan semuanya, karena itulah ... sukar bagi Gavin untuk meminta maaf pada Eric.


"Terima kasih, anakku baik-baik saja. Tapi, aku tak bisa meminta maaf padamu sekarang. Aku harus memastikan semuanya sampai benar-benar tertangkap pelaku yang berusaha mencelakai anakku. Ini bikan keangkuhan, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin, mencari tahu yang sejelas-jelasnya." Ucap Gavin, sambil membawa Daniel keluar dari rumah mewah itu.


Para pengawalnya akan mengejar Gavin, namun Eric menahannya. Ia masih harus berpikir panjang, tentang apa yang dialami oleh Gavin. Eric meminta pengawalnya untuk diam, dan membiarkan Gavin serta Daniel berlalu.


Eric tak mampu berkata-kata. Hatinya benar-benar sakit, melihat Gavin memperlakukan dirinya dengan semena-mena. Namun, Eric juga menyadari ... jika Gavin tak mungkin semarah itu, jika tidak ada sabah-musababnya.


Kemarahan Gavin, membuat Eric berpikir, apa yang sebenarnya terjadi? Ia bahkan belum melakukan apapun. Keinginan Cellyn untuk menghancurkan pernikahan mereka saja, belum Eric tepati sama sekali. Karena Eric tak suka, jika harus main belakang.

__ADS_1


Eric lebih suka mengumpulkan informasi secara langsung, dan mematikan pihak lawan hingga skak mat. Keinginan Cellyn, masih Eric abaikan hingga saat ini. Walau Eric sebenarnya masih sangat mencintai Ellea, meskipun Ellea telah memiliki seorang anak, hal itu tak merubah hatinya, pada Ellea.


"Eric, maafkan Gavin. Dia tak tahu apa sebabnya semua ini terjadi Dia terlalu mengedepankan emosinya. Sungguh, maafkan kesalahannya. Kumohon kau mengerti. Dan sebagai gantinya, aku bersungguh-sungguh, meminta maaf padamu, atas nama Gavin." Ellea menatap Eric dengan pekat.


Ellea belum meninggalkan kediaman Eric. Selepas mengucapkan perwakilan maafnya, ternyata Ellea pun penasaran dengan album foto lama milik Eric, yang Daniel katakan. Ella berjalan lebih dekat menuju meja, ia mengambil album foto lama tersebut. Ditatapnya, diperhatikannya foto itu dalam-dalam ...


Foto mengenang masa-masa indah mereka bersama. Potret bahagia Eric dan dirinya, yang tengah merajut cinta sejak lama. Semua itu hancur seketika, ketika keluarga Gavin memporak-porandakan keluarga Ellea. Hancur sudah, harapan Ellea untuk Eric. Hancur sudah, semua kisah yang pernah terjalin indah.


Eric berlari menuju meja tersebut. Ia tak ingin, jika Ellea melihat surat-surat cintanya selama ini. Semenjak kepergian Ellea, Eric hanya bisa menuangkan kesedihan dan kerinduan pada album foto tersebut. Pengawal Eric mencoba menahannya, namun Eric bersikeras ingin mendekati Ellea.


"Jangan dilihat, itu sangat memalukan. Betapa memalukannya, kelakuanku dahulu," Eric mencoba mengambil foto lamanya.


Ellea tak bergeming, ia malah merapatkan album foto lama itu dengan kedua tangannya. Ia mampu melihat keseriusan Eric dalam foto-foto itu. Sayangnya, semua itu harus landas seketika, ketika keluarga Ellea, habis ditangan Jordan.


"Kumohon, jangan melihatnya lagi," keluh Eric.


Ellea menatap album foto itu, seraya berkata, "Ternyata kau mencintaku sebegitu dalamnya ... maafkan aku, Eric. Maafkan aku, semua terjadi bukan keinginanku. Semua karena ulahnya, hingga aku ... mencampakkanmu, dan meninggalkanmu begitu saja."

__ADS_1


Kali ini, Ellea benar-benar larut dalam rasa bersalahnya, karena telah meninggalkan Eric, yang ternyata sangat-sangat mencintai dirinya.


*Bersambung*


__ADS_2