Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 89. Can you?


__ADS_3

Kabar tertangkapnya Jordan telah tersiar di berbagai media. Hal itu membuat Ellea kaget dan tak percaya. Aaron telah memberitahukan Ellea, bahwa beberapa menit yang laku, Gilang dan Lay pun digiring ke polisi, walau keadaan mereka masih belum membaik.


Ellea menjauhkan kabar buruk ini dari Merry. Sepertinya, Ibunda Gavin tengah stres berat. Merry sering mengamuk sendiri dan menyakiti dirinya. Dokter sampai memborgol kedua tangan Merry dan juga kedua kakinya.


Ellea harus menemui Gavin secepatnya. Ia khawatir, jika Jordan dibawa ke kantor polisi, Gavin juga akan ikut terlibat. Karena Ellea tahu, jika saat ini Gavin tengah mendatangi Jordan di apartemennya. Aaron segera memberitahukan Ellea, bahwa mereka secepatnya harus menemukan Gavin.


"Kita ke apartemen sekarang, Nona. Tuan muda sendirian di sana." ucap Aaron.


"Apa yang terjadi pada Gavin, Aaron?"


"Dia kaget karena ada yang melaporkan Tuan Jordan. Padahal, dia sendiri baru membuat laporan, dan belum menyerahkan pada pihak kepolisian. Tuan Gavin sangat heran, siapa yang melaporkan Tuan besar, kita harus menemuinya, Nona," ucap Aaron.


"Tapi, Mama mertuaku?"


"Bukankah tadi ada Nyonya Helda?" Aaron celingukan.


"Iya, Bibi Helda memang tadi sempat aku lihat. Namun sekarang? Ke mana perginya?"


"Nona, tak apa-apa. Biar Nyonya ditangani Dokter. Tuan Gavin sekarang pasti sangat terluka. Kau harus segera mengobati luka hatinya."


"Aku akan menemui anakku terlebih dahulu, aku akan mengajaknya. Aku tak ingin Gavin berbuat yang aneh-aneh. Seburuk apapun perlakuan Jordan, aku yakin ..., tak akan pernah ada anak yang rela, orang tuanya digiring ke kantor polisi." tegas Ellea.


Aaron menyetujui keinginan Ellea. Ellea pun berlari dengan cepat untuk ke ruangan tempat Vanny dirawat. Ellea harus mengajak Daniel,karena Ellea tahu, saat ini Gavin tengah terpuruk. Dan saat kita terpuruk, hanya keluarga lah yang mampu menyembuhkan semuanya.


Daniel tengah asyik bermain dengan Samuel. Ellea segera menemui Daniel, dan memintanya untuk ikut pergi dengannya. Samuel heran, kenapa tiba-tiba Ellea dan Aaron terlihat cemas. Hari ini Samuel tak bisa melacak apapun, karena ia tengah bersama Daniel.


"Pak Sam, aku harus membawa Daniel ke suatu tempat. Aku akan pergi bersama Aaron. Jika kau bersedia, bisakah kau menunggu Vanny? Sebentar lagi Dokter akan memeriksanya, dan kuharap kau mau menemaninya." pinta Ellea.


"Ya, aku akan menemaninya." jawab Samuel mengangguk mantap.


"Hey, Kakak ipar! Kenapa dia yang harus menemaniku? Apa keluargaku sudah kekurangan uang untuk menyewa pengawal, ha?" Vanny sewot.


"Bukan masalah kekurangan uang atau tidak, Vanny. Tapi, kepercayaan itu mahal harganya. Sepercaya apapun kau pada Papamu sendiri, nyatanya dia juga mencelakaimu, kan?"


"Dia juga belum tentu bisa aku percaya!" pekik Vanny.


"Dia dapat dipercaya. Bahkan, Kakakmu saja memercayainya. Dia hanya akan menunggumu, Vanny," kata Ellea.

__ADS_1


Vanny mendelik kesal. Ia emosi, karena Ellea kini begitu keras kepala. Vanny dalam proses pemulihan, ia tak bisa melakukan apapun. Mau tak mau, Vanny harus ditemani Samuel. Di saat-saat seperti ini, keluarga Alexander pun bak hilang ditelan bumi. Tak ada satupun kerabat maupun saudara yang menolong mereka.


"Tenang saja, Nona. Aku hanya akan menjagamu dari sini. Aku juga akan menjaga jarak darimu. Kau tak perlu khawatir, Nona," Samuel tersenyum lembut.


"Pencitraan!" Vanny mendelik lagi kearah Samuel.


"Vanny, no! Tak boleh seperti itu," ujar Ellea.


"Ah, sudahlah! Kau pergi saja." Vanny tak mau panjang lebar lagi.


"Aunty Kakak tua, kau itu kenapa selalu marah-marah? Kau tak takut apa, jika kau cepat tua?" sindir Daniel.


"Jangan ikut campur, monster kecil!"


"Ah, sudah, kita tak punya banyak waktu. Niel, ayo, kita berangkat dulu sekarang." Ellea menuntun Daniel.


Wajah Vanny ditekuk lagi, ia tak bisa mengeluh atas ucapan Ellea.


Kini Ellea telah berlalu, hanya tersisa Samuel yang tengah duduk di sofa. Vanny menatap tajam pada Samuel, karena ia kesal, pria tua itu terkesan sok kenal dan sok baik dihadapannya.


"Jangan menatapku, kita harus jaga jarak, kau tak boleh dekat dekat denganku! Jangan pencitraan, cukup diam di situ dan jangan lakukan apapun." tegas Vanny.


...........


Sesampainya di apartemen Jordan, Aaron segera masuk berlari. Gavin pasti butuh dukungan dan dorongan saat ini. Ellea sebenarnya bingung, siapa yang melaporkan Jordan? Kenapa pula polisi dengan mudahnya menangkap Jordan?


Bukankah sulit sekali membuat polisi bertindak? Bukankah banyak sekali polisi yang bekerja sama dengannya? Jika kini polisi menangkap Jordan, ini berarti, bukan orang sembarangan yang melaporkannya. Orang itu pasti berpengaruh, dan memiliki kekuatan.


Gavin sedang tersungkur di bawah ranjang besar apartemen itu. Wajahnya memerah, seakan menahan tangisan sekaligus amarah. Anak mana yang tega? Ikatan batin itu memang nyata, hingga tak mudah bagi Gavin untuk menerima hal ini dengan mudah.


"Daddy!" Daniel berlari ketika melihat Gavin tengah duduk lemas.


Gavin kaget, ia menoleh suara tersebut, "Daniel, my boy!"


Gavin mengusap wajahnya, menghilangkan sebisa mungkin kesedihan yang menimpanya. Ia tak boleh terlihat lemah dihadapan anaknya. Gavin tersenyum, karena tak sangka jika Daniel dan Ellea akan datang menemuinya.


"Kau tak apa-apa? Kau pasti terluka," Ellea mengusap pundak Gavin.

__ADS_1


Gavin membenarkan posisinya, Ellea membantu Gavin untuk bangun dan duduk di ranjang. Gavin merasa malu, karena ia terlihat lemah dihadapan anak dan istrinya.


"Maaf, merepotkan kalian,"


"Jangan berkata begitu. Aku memahami perasaanmu, aku tahu semua ini tak mudah bagimu. Maaf, aku dan Daniel datang terlambat." ucap Ellea.


"Terima kasih telah datang, dan peduli padaku. Aku hanya tak bisa membayangkan, jika hal itu menimpaku, apa yang akan aku lakukan? Papa seperti itu karena Mama mengecewakan dan menyakiti hatinya. Jika kau seperti itu, apa yang akan aku lakukan, Ellea? Aku pun pasti hancur berkeping-keping. Dan entah apa yang akan aku lakukan. Mungkin saja, aku pun akan gelap mata, dan melakukan semua seperti apa yang Papa lakukan."


Ellea terdiam. Kata-Kata itu menyiratkan, bahwa Gavin pun tak ingin kehilangan dirinya dan juga Daniel. Walau pernikahan ini bukan timbul karena cinta, namun lama-kelamaan juga ternyata membuat Ellea merasa hangat dan nyaman berada di sisi Gavin.


"Kau berkata begitu, seakan kau takut kehilanganku, iya? Jika kau memang takut kehilanganku, kau bisa percaya padaku, jika aku takkan pernah meninggalkanmu, dan mengecewakanmu. Gavin, kau memang pria yang sabar. Aku berterima kasih, karena kau telah bersabar selama ini, walau kau tahu sendiri, bagaimana perlakuanku padamu. Maafkan aku, yang mengabaikanmu. Mulai saat ini, aku akan membuka lembaran baru, untuk kehidupan keluarga kita yang sesungguhnya." Ellea memegang tangan Gavin.


"K-kau, serius, Ellea?" Gavin tak percaya, jika ia akan mendengar ucapan itu dari wanita yang selama ini menghiasi hari-harinya.


Ellea mengangguk, "Aku serius. Aku tak boleh menyia-nyiakan pria yang telah Tuhan kirimkan untukku. Maafkan aku yang terlalu egois. Aku berjanji, aku akan selalu ada disisimu, dan aku akan membantumu, menyelesaikan semua masalah besar yang kau hadapi. Kita selesaikan semua ini bersama-sama. Untuk itu, kumohon genggam tanganku, dan jangan pernah lepaskan,"


Gavin mengangguk, ia sangat terharu mendengar ucapan Ellea yang sangat manis. Ellea kini telah sadar, semua kejadian ini, semua masalah ini, semua keterkaitan antara dirinya dan Gavin, tentu saja harus mereka hadapi bersama.


Saat suasana romantis itu tengah berlangsung, si pria kecil menggemaskan ternyata tengah cemberut penuh dengan kekesalan. Tiba-Tiba saja, Daniel melepaskan genggaman tangan Ellea pada tangan Gavin. Sontak saja Gavin dan Ellea kaget, lalu mereka menatap Daniel bersamaan.


"Oh my God, why Baby? Ada apa?" Ellea sedikit kaget.


"Mommy dan Daddy tak boleh berpegangan tangan! Apalagi, Mommy bilang tak akan pernah melepaskan tangan Daddy!" Daniel kesal.


"Memangnya kenapa Mommy dan Daddy tak boleh berpegangan tangan?" tanya Gavin.


"Karena jika kalian berpegangan tangan, tak akan ada yang memegang tanganku! Aku pun ingin kalian memegang tanganku. Aku sedih, jika aku tak diperhatikan!" Daniel tengah cemburu saat ini.


Tiba-tiba, Aaron angkat bicara, "Ada Uncle yang akan memegang tanganmu, Boy! Kau tak perlu takut."


"No, no, no! Aku ingin Mommy dan Daddy!" Daniel menggelengkan wajahnya pada Aaron.


"Ah, sayang, tentu saja kau yang utama. Tanpa diminta, Momny dan Daddy akan selalu memegang tanganmu." Ellea mengecup kening Daniel.


Gavin yang melihat itu, dalam sekejap langsung mendaratkan ciumannya juga di kening Ellea, dan itu tentu saja membuat Ellea kaget. Aaron merasa sangat cemburu, melihat kedekatan keluarga tersebut.


"Ya Tuhan, ini adegan 21+, apalah nasibku yang masih berusia tujuh belas tahun!" Aaron menutupi wajahnya berkali-kali.

__ADS_1


"Shut up! You're so crazy, Aaron!"


Mereka semua tertawa bahagia ....


__ADS_2