Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 52. I dont care


__ADS_3

Emosi Gavin kian memuncak, karena pegawai kepercayaannya harus dipecat. Sungguh, ia tak terima dengan perbuatan sang Mama. Dengan wajah penuh amarah, Gavin menarik tangan Merry. Gavin membawanya ke tempat yang agak sepi, karena ia ingin berbicara empat mata dengan Merry.


Merry sudah tahu, persoalan mengenai insiden tertembaknya Papa Gavin. Merry marah, ia benar-benar kecewa dengan kejadian ini. Hingga ia diberi tahu oleh Gilang dan Lay, jika semua ini terjadi karena keteledoran Aaron.


Gilang mengatakan, Aaron lalai dalam menjaga keamanan di perusahaan. Sehingga mengatakan bahwa Aaron tak layak lagi menjadi pimpinan tinggi di Louvre gallery. Gilang dan Lay meminta pada Merry, agar Merry memecat Aaron, karena Aaron sudah tidak kompeten lagi.


Gavin membawa Merry ke lorong Rumah sakit yang terlihat sepi. Ia benar-benar tak bisa menerima keputusan Merry yang seenaknya ingin memecat Aaron. Gavin tak terima, walau hal ini terkesan mudah bagi Merry, tapi Gavin tak mungkin membiarkan semua terjadi.


"Mama, kenapa Aaron yang dipecat? Kinerjanya sangat baik. Dia tak usah dipecat! Aku tak ingin, mengganti sekretarisku, titik." Gavin bersikeras.


"Ini sudah keputusan mutlak dari semua pihak. Mama mendengar, dewan direksi rapat mengenai penembakan Papamu. Sekretarismu adalah orang yang paling tinggi jabatannya di kantormu. Setidaknya, dia harus bisa mengantisipasi semuanya. Tapi nyatanya, dia malah bertindak ceroboh, dan Papamu, mengalami kejadian pahit ini!" Tegas Merry.


"Apa semua ini keputusan Mama? Apa Mama mengatakan bahwa Aaron dipecat? Atas dasar apa Mama memecat Aaron, ha? Mama kenapa berlaku seenaknya pada pekerjaku? Mama tak tahu apa-apa. Mama lebih baik diam, dan jangan ikut campur!" Gavin marah besar.


"Mama mendapat kabar, bahwa dia seperti sengaja membiarkan semua ini terjadi! Sudahlah, kau terlalu lalai menjadi seorang CEO. Kau tak tahu, jika sekretarismu ternyata diam-diam menaruh dendam pada Papamu, sehingga dia membiarkan Papamu terluka dan ditembak oleh orang tak dikenal! Mama sudah muak melihat Aaron. Cukup, jangan membuat drama lagi. Dia sudah tak bisa bekerja dengan baik!" Merry bersikeras.


"Mama tak bisa menyalahkan semua ini pada Aaron! Masih banyak penanggung jawab lain di perusahaan. Bukan hanya Aaron saja! Harusnya Mama tahu, dia sudah bekerja selama delapan tahun denganku. Aaron sangat setia dan profesional. Aku tak bisa membiarkan Mama memutuskan semua itu sendiri!" Bentak Gavin pada Merry.


"Ini sudah mutlak. Aku sudah meminta Gilang, untuk membuat surat pemberhentian Aaron secara legal. Kau tak perlu banyak bicara, Gavin ... Mama sudah berdiskusi dengan Gilang, perihal Sekretarismu yang baru, yang lebih kompeten dan lebih profesional dibandingkan sekretaris lamamu. Kau tak perlu pusing memikirkannya, karena sekretaris barumu, adalah orang yang bisa diandalkan, dan dapat dipercaya." jelas Merry.

__ADS_1


Gavin curiga pada Gilang, kenapa Gilang harus menyuruh Merry untuk memecat Aaron. Sedangkan jika dilihat dari kinerja dan kualitas, Aaron jelas lebih baik dari siapapun. Gavin mulai menaruh rasa curiga dan penasaran pada Gilang. Tak mungkin Gilang berani mengambil keputusan, sementara Papanya belum juga sadar dari operasi.


"Tak mungkin Gilang berani mengambil keputusan, sementara Papa masih belum sadar. Apa semua ini akal-akalan Papa? Apa sebenarnya Papa tak kenapa-napa? Dan Papa memerintahkan agar Aaron segera dipecat?" Gavin berburuk sangka.


"Gavin! Kurang ajar! Tutup mulutmu!" Merry tak menyangka, jika Gavin akan menuduh Papanya sendiri.


.............


Suasana di ruang tunggu masih begitu mencengangkan. Satu-persatu dari mereka mulai meninggalkan kawasan Rumah sakit, karena tak ada kejelasan kanar mengenai sadarnya Jordan Alexander. Hanya tinggal tersisa Helda, Vanny, adik Gavin, dan Ellea yang tengah menunggu di sana.


Lagi-lagi, perdebatan dan perbincangan antara Helda dan Ellea, takkan terhentikan. Ditambah lagi, adik Gavin, yang tak menyukai Ellea. Mereka terlihat menatap Ellea dengan sinis, karena sesungguhnya ... keberadaan Ellea, adalah suatu ancaman bagi mereka, terutama Hilda dan Donny.


Vanny menambahkan, "Tak apa-apa, Aunty. Di rumah pun, tak ada yang menanggap keberadaannya. Kak Gavin hanya merasa bersalah saja. Padahal, pintu rumah terbuka begitu lebar, jika dia ingin pergi."


Ellea tersenyum kecut mendengar ejekan yang keluar dari mulut Helda dan Vanny. Sebelum membalas ucapan mereka, Ellea berjalan maju tiga langkah, untuk mengimbangi posisi dengan mereka, agar tak terlalu jauh dengannya.


"Bibi Helda yang terhormat, dan adik ipar yang kucintai ... aku memang sadar diri, jika aku tak layak bersanding dengan keluarga kaya seperti keluarga Alexander. Aku sadar, diriku siapa, dan keluarga Alexander siapa. Tapi, jika Gavin Alexander mencintaiku, aku bisa apa? Selain menerimanya, dan hidup bersamanya. Kurasa, Tuhan juga adil ... Tuhan mempertemukan aku kembali, dengan orang-orang yang memiliki kepentingan bersamaku. Aku beruntung, bisa berdiri disini, karena dengan berdiri di sini, aku menyelamatkan keluargaku!" Ellea mulai berbicara lantang.


"Ellea, kau harusnya berkaca! Kau tak akan bisa masuk kedalam keluarga Alexander. Aku dengar, kau memiliki anak hasil dari skandalmu bersama Tuan Gavin, kan? Kau jangan terlalu berharap dia akan bisa mencintaimu. Kau hanya tinggal serahkan saja, anak Tuan Gavin, dan menghilang selama-lamanya dari keluarga Alexander! Apa kau setuju, Vanny?" Helda mencari pembelaan.

__ADS_1


"Aku sudah malas mendengar Mama dan dia bertengkar terus. Aku lelah, setiap hari dia selalu saja berbicara dan melawan kami. Padahal, dia siapa? Dia tak pantas untuk mencaci keluarga kami. Dia ibarat sampah, yang tak tahu arti sampah sebenarnya. Entah apa maunya, aku dan Mama pun sudah sangat heran, wanita ini terlalu keras kepala. Sayangnya, Kakakku terlalu bodoh, kenapa tak membuangnya saja? Apa kau tak punya malu, Kakak Ipar?" Vanny mulai berani.


"Ah, anak kecil ini rupanya sudah mulai berani berbicara. Aku tak peduli apa yang kalian katakan padaku. Aku tak peduli, kau mengataiku sampah dan sebagainya. Yang jelas, mulutmu lebih sampah, dan lebih tak berguna! Kau tak tahu apa-apa, adik. Kau lebih baik diam saja. Aku akan pergi dari rumah itu, saat waktunya telah tepat. Kau tak perlu susah payah mengusirku, aku akan pergi dengan kesadaranku, jika semua telah kembali pada tempatnya!" Ellea menyunggingkan bibirnya.


Ellea benar-benar tak getir sedikitpun oleh cacian dan makian yang dilontarkan Helda juga Vanny. Ia tak peduli, karena tujuannya bukan untuk membalas perkataan basi mereka. Tujuan Ellea masuk ke keluarga Akexander, hanya untuk ... membalaskan rasa sakit hatinya selama ini.


Adapun Gavin, sosok suami SAH-nya, yang tak mengetahui apapun tentang semua ini, masih mengira bahwa Papanya adalah sosok yang baik. Ellea juga tak peduli, jika Gavin memuja Papanya. Ia hanya akan meminta keadilan, walau sulit baginya, tapi ... ia akan berusaha, untuk mencari keadilan bagi keluarganya.


Kini, mendengar kenyataan jika Aaron dipecat, membuat Ellea semakin kaget. Seolah ginjal perusahaan satu persatu tengah dicabut. Aaron adalah tangga untuk Ellea mencari bukti. Jika Aaron keluar, bagaimana Ellea bisa meminta tolong padanya?


Gavin? Ellea tak bisa meminta bantuan Gavin. Gavin tak mungkin, akan percaya dengan semua ucapannya. Gavin pasti lebih memilih Papanya karena ... bagi Gavin, jelas sekali, bahwa Jordan Alexander sangat berjasa, untuk masa depan dan jabatan Gavin.


Tiba-tiba ...


Gilang mengangetkan semuanya, "Panggil Nyonya dan Tuan Gavin sekarang! Tuan besar memberikan gerakan, dia mulai sadar! Ayo, segera panggil mereka. Akhirnya, Tuan besar telah sadar. Terima kasih, Tuhan ..."


Gilang berbicara amat keras, dalam hati, Ellea mengumpatnya, "Actingmu kurang bagus. Kau tak nisa menghayati peranmu sebagai orang yang kaget. Padahal, aku tahu ... sejak tadi, Jordan hanya berbaring saja. Dia tak kenapa-napa."


Ellea mengangkat bahunya, ia bergegas mencari Gavin, untuk ikut masuk kedalam ruangan.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2