
Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Gavin telah membuat janji dengan Dr. Will perihal pertemuan pribadinya. Ia sudah bersiap, dan akan mengajak Ellea untuk pergi bersama dengannya. Untungnya, Dr. Will bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu Gavin malam ini.
Gavin berjanji, setelah ia mendengar penjelasan Dr. Will, Gavin bisa memutuskan akan memihak pada siapa. Tak mungkin jika seorang Dokter akan berbohong mengenai diagnosa seorang pasien. Bukankah Dokter pernah bersumpah sebelum ia menjalankan profesinya sebagai Dokter?
Gavin keluar dari kamarnya, dan ia berjalan menuju pintu kamar Ellea dan Daniel. Gavin mengetuk pintu, dan berharap jika Ellea akan selesai dan segera berangkat menuju pertemuan yang dijanjikan. Gavin mengetuk pintu berulang kali, tak lama kemudian, Daniel membuka pintu kamarnya.
“Hello, Daddy ..., kau sudah siap?” tanya Daniel.
“Ya, aku sudah siap. Bagaimana dengan Mommy-mu?”
Gavin melihat-lihat kedalam.
“Mommy sakit perut, Daddy. Mommy bilang, dia akan beristirahat saja.” Jawab Daniel.
“Apa?” Gavin sedikit kaget.
“Masuklah, Daddy, Mommy tak ikut bersama Daddy, katanya.” Ucap Daniel.
Gavin pun masuk kedalam dan memastikan apa yang terjadi pada Ellea. Gavin melihat Ellea tengah berbaring di ranjangnya dan terlihat meringis kesakitan. Gavin pun mendekati Ellea, memastikan apa yang tengah terjadi pad Ibu dari anaknya itu.
“Ellea, kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?” Gavin terlihat cemas.
“Auwh, maaf Gavin ..., sepertinya aku tak bisa menemanimu pergi ke Dr Will. Kondisiku benar-benar tak memungkinkan untuk aku pergi ke sana,” jelas Ellea.
“Kenapa? Kau sakit apa? Ayo, kita ke Rumah sakit sekarang,” ajak Gavin.
“Tak perlu, Gavin. Ini hanya sakit biasa saat aku menstruasi. Hal ini sudah sering terjadi. Tak perlu khawatir, esok pun akan kembali membaik. Hanya saja, aku sepertinya tak bisa ikut denganmu. Aku ingin istirahat saja, Gavin. Tak apa kan, jika kau pergi sendiri?” tanya Ellea.
“Ah, sakit itu rupanya. Baiklah, aku akan pergi sendiri saja. Jika kau sakit, beristirahatlah. Aku akan menyuruh Aaron menjaga Daniel, sampai ia terlelap. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada pembantu di rumah ini,” saran Gavin.
“Baik, terima kasih atas pengertianmu.” Hanya itu yang Ellea ucapkan.
__ADS_1
Gavin mendekati Ellea, ia mengusap rambut Ellea, dan tersenyum padanya, “Jika kau butuh bantuanku, secepatnya hubungi aku, ya. Aku takut kau kenapa-napa, Ellea.” Ucap Gavin.
:B-baik, terima kasih,” Ellea kaget, Gavin membelai rambutnya, membuat suasana hati Ellea jadi sedikit tak nyaman.
Gavin pun mencium Daniel, ia memeluk putra kesayangannya itu, lalu segera pergi meninggalkan ruang kamar Ellea. Gavin pun telah berpesan pada Aaron, agar menjaga dan menidurkan Daniel di kamarnya, karena Ellea tengah sakit. Aaron menurut, karena ia memang akan menginap di rumah ini untuk satu malam terakhir.
Aaron pun mengajak Daniel ke kamar Gavin. Gavin tak melihat ada yang mencurigakan pada diri Ellea. Gavin percaya pada kata-kata Ellea, karena itulah ia memutuskan untuk pergi sendiri saja. Gavin dan Dr Will akan bertemu di sebuah restoran mewah dekat Rumah sakit.
Perjalanan tak memakan waktu banyak, karena jalanan di Ibu kota ini terlampau lenggang. Mungkin karena sudah malam juga, jadi suasana terlihat nyaman dan tak sebising siang hari. Gavin telah sampai di Rumah sakit. Gavin melihat, ternyata Dr Will sudah ada di meja restoran dan tengah menunggunya.
Gavin pun melambaikan tangannya pada Dr Will, beliau pun menyambut Gavin dengan senyuman lagi. Gavin segera mendekat, karena ia sendiri pun sudah tak sabar, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Papanya.
“Selamat malam, Dokter. Terima kasih, Anda telah meluangkan waktu Anda untuk berbincang dengan saya,” sapa Gavin saat ia duduk dihadapan Dr Will.
“Tentu saja, sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa bertemu dengan Anda, Tuan Gavin. Maafkan saya, tadi tak bisa menemui Anda, karena jadwal saya benar-benar sibuk,” jelas Dr Will.
“Sebelum memulai perbincangan ini, mari kita memesan makanan dahulu. Silakan Anda pesan apa yang Anda inginkan.” Ucap Gavin.
“Baik, terima kasih atas tawarannya.” Dr Wil melihat daftar menu yang disodorkan Gavin.
“Dokter, apa kau benar mengoperasi luka di tubuh Ayahku? Tolong jelaskan bagian apa dan mengenai apa peluru itu? Apakah benar-benar berbahaya dan mematikan? Bagaimana kau mengatasi hal ini?” tanya Gavin.
Dr Will terseyum memerhatikan Gavin. Seakan ia sudah tahu, maksud dan tujuan Gavin berada di tempat ini sekarang. Memang, Gavin tak mungkin juga semudah itu menuduh Jordan melakukan semuanya. Walau bagaimanapu, Jordan adalah Papanya. Ia akan benar-bernar bertindak setlah ia tahu, kejadian yang sebenarnya.
“Begini, Tuan Gavin, sebagai Dokter pribadi, saya telah memeriksa ... Diagnosis dari luka tembak tetap perlu melalui anamnesis untuk kepentingan hukum dan medikolegal, pemeriksaan fisik untuk menilai jenis senjata dan jarak tembakan, serta pemeriksaan penunjang, terutama pemeriksaan darah untuk persiapan transfusi, dan pencitraan untuk penilaian tingkat keparahan luka. Kami telah melakukan semuanya, sesuai dengan prosedur yang berlaku.” Jelas Dr Will
“Apa benar pelurunya mengenai jaringan tubuh arteri brakialis? Istriku bilang, Papaku pasti pendarahan jika mengenai bagian itu. Apa benar itu, Dok?” tanya Gavin lagi.
“Tentu saja benar. Peluru itu merupakan luka tembak jarak jauh. Jadi, tembakannya sangat keras dan cepat. Luka tembak pada dasarnya bisa menyebabkan kerusakan jaringan sekitar berupa perdarahan atau infeksi. Hal itu terjadi pada Tuan Jordan. Namun, saya sudah mengantisipasi semuanya. Saya telah melakukan transfusi darah dan mengatsai pendarahannya.”
Gilang dan Lay bilang, jika Papa tak pendarahan, karena telah cepat diatasi,” ujar Gavin.
__ADS_1
“Sebenarnya, setiap luka tembak yang mengenai jaringan tubuh, akan meyebabkan infeksi dan pendarahan. Karena jaringan tubuh hancur karena peluru yang teramat dalam. Saya memang sempat mengatakan tak terjadi pendarahan pada Manager Gilang, karena saya khawatir jika Nyonya Merry akan shock berat. Semua ini karena saya, saya yang mengatakan itu. Bukan maksud apa-apa, saya yakin bisa mengatasi luka tembak pada Tuan Jordan. Karena itulah, saya berkata suatu hal yang tidak merepotkan dan mengkhawatirkan keluarga Anda. Mohon maaf sebelumnya jika hal ini membuat Tuan Gavin dan istri jadi bertanya-tanya. So far, sekarang keadaan Tuan Gavin telah membaik. Itu saja yang terpenting, anda tak perlu membahas mengenai apa yang tak seharusnya anda khawatirkan Tuan Gavin.” Dr Wil terus tersenyum pada Gavin.
Ucapan Dr Will membuat Gavin paham. Ia jadi bingung lagi, karena penjelasan Dr Will sangat meyakinkan. Gavin jadi merasa tak enak karena telah menyangka yang tidak-tidak pada Dr Will. Selepas pembicaraan penting itu, Gavin mengajak Dr Will untuk makan malam bersama, agar pembicaraan mereka tak berangsur tegang.
.........
RS VIP tempat Jordan dirawat.
Merry dan Vanny telah menginap di sebuah hotel samping Rumah sakit. Mereka tak mungkin menunggu Jordan semalaman. Merry sengaja tak pulang ke rumahnya, karena khawatir terjadi sesuatu pada Jordan di malam hari. Gilang dan Lay senantiasa menjaga dan berada di samping Jordan.
Tiba-tiba, Lay mendapat sebuah panggilan. Wajahnya berubah jadi serius. Gilang dan Jordan seketika menatap Lay yang tengah serius berbicara dalam telepon tersebut. Jordan rupanya terlihat baik-baik saja dan bisa mengatamati Lay dengan baik. Selepas panggilan itu selesai, Lay segera mendekati Jordan dan Gilang.
“Ada apa?” tanya Gilang serius.
Jordan menatap Lay serius.
“Tuan Gavin hanya sendiri bertemu dengan Dr Will. Ini gawat,” ucap Lay.
“Gawat? Kenapa harus gawat? Itu pertanda bagus, karena wanita sialan itu tak akan menyanggah dan banyak bicara lagi. Intinya, dia tak akan membuat Dr Will pusing.” Jawab Gilang.
Jordan masih enggan bicara. Ia tetap memerhatikan pembicaraan Lay. Jordan masih belum paham, ke mana arah tujuan pembicaraan Aaron mengatakan gawat.
“Karena dengan dia tak pergi bersama Tuan Gavin, itu berarti dia berada di rumah, kan? Sedangkan di rumah kita saat ini, tak ada satupun penjaga. Tak ada aku, ataupun kau, Gilang. Bagaimana..., jika? Wanita gila itu mencari sesuatu di rumah besar? Security dan keamanan di rumah tak ada yang bisa diandalkan. Mereka pasti telah diancam oleh Tuan Gavin, untuk memberi tahu apapun perintah yang mencurigakan dari kita.” Ujar Lay, mengkhawatirkan keadaan berkas-berkas penting di rumahnya.
“I-tu berarti? Wanita gila itu sengaja? Apa jangan-jangan, dia tengah membongkar gudang penyimpanan? Astaga, kenapa kita bisa kecolongan seperti ini?” Gilang mulai sadar.
Tanpa basa-basi, Jordan beranjak dari tidurnya, dan membuat Gilang juga Lay kaget bukan main,
“Lay, segera perintahkah orang-orang kita datang ke rumahku. Suruh mereka untuk menyelinap dan memastikanwanita gila itu sedang apa. Sebelum terlambat, sebelum si gila itu mendapatkan apa yang ia inginkan! Gilang, kau pergi ke rumahku! Dan pastikan tak ada satupun berkas-berkasku yang hilang!” Jordan benar-benar khawatir.
“B-baik, Tuan.” Sahut Gilang dan juga Lay bersamaan.
__ADS_1
Jordan mulai khawatir. Ia rupanya kecolongan kali ini.
*Bersambung*