Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 42. What happen?


__ADS_3

Suasana hati Helda kini amat buruk. Ia sangat jengah melihat Ellea terlihat have fun bersama rekan-rekannya. Sepertinya Merry Alexander memang tak mengetahui perihal Helda dan Ellea yang bersaudara. Saat mereka tengah menikmati makan bersama, tiba-tiba Ellea meminta izin untuk pergi ke toilet..


"Mama, Aku izin ke toilet sebentar." ujar Ellea.


"Pergi saja, tak usah banyak bicara!" Merry terlihat ketus.


"Baik, Ma ... permisi sebentar ya semuanya,"


Ellea tersenyum sambil berlalu meninggalkan rekan-rekan Merry. Ia sangat gerah, benar-benar gerah. Sepertinya, di toilet Ellea bisa mendinginkan tubuhnya yang mulai memanas. Jika saja Ellea berani, mungkin saat ini juga Ellea sudah mengacak-acak rambut Helda dan memakinya.


Menyakitkan. Saat melihat wajah Helda, benar-benar membuat Ellea muak dan emosi. Sejak tadi, Ellea menahan amarahnya dengan pura-pura terlihat biasa saja. Ia membasuh mukanya di wastafel, berharap akan mendapat kesegaran dari gemericiknya air.


Tiba-tiba, saat Ellea tengah membasuh mukanya, seseorang berdiri di samping Ellea. Siapa sangka, Helda mengikutinya, dan kini Helda berada di sampingnya. Sontak saja Ellea kaget dan menatap Helda dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau bisa masuk kedalam keluarga Alexander?" tanya Helda tanpa basa-basi.


"Apa urusanmu?" Ellea menantang Helda.


"Apa yang kau lakukan, hingga kau bisa menikah dengan anak Nyonya Merry? Apa yang kau inginkan?"


"Aku menginginkan uang, uang yang banyak dari keluarga Alexander! Memangnya kenapa?"


"Jika Merry tahu, kau pasti akan ditendang olehnya! Kau tak perlu merasa hebat dihadapanku! Karena kau, tak sedikitpun terlihat bagus di mataku."


"Aku tak merasa hebat. Aku hanya berbicara fakta, jika aku memang istri dari Gavin Alexander! Di mana letak kesalahanku?" tanya Ellea.


"Kau tak pantas mendampingi putra pewaris Louvre grup! Kenapa kau terlalu percaya diri jika mereka menerimamu? Jika mereka tahu siapa kau, kau pasti akan dibuang oleh mereka!" tegas Helda.


"Bibi Helda, kenapa kau terkesan ingin sekali menghempaskan aku? Apa kau takut, aku ada diantara kalian?"


"Apa? Takut padamu? Mustahil! Mana ada aku takut padamu. Kau pikir, kau siapa, Ellea? Bicaramu terlalu tinggi! Kau terlalu banyak bicara. Dengarkan aku, jangan harap kau bisa setara dengan kami, karena kau tak pantas sedikitpun berada sejajar denganku! Urus saja keluargamu yang miskin itu!" Helda merendahkan Ellea.

__ADS_1


"Oh ya? Kita lihat saja nanti. Yang banyak bicara itu, aku ... apa kau, Bibi? Aku memang tak pantas sejajar dengan Mama mertuaku, karena dia adalah keluarga konglomerat. Tapi, untuk sejajar denganmu? Tentu saja aku layak. Kau dan aku apa bedanya? Bahkan, dulu kau berada dibawahku. Tapi, karena licik dan rakusnya kalian, kalian merebut apa yang semestinya aku miliki. Bibi Helda, apa kau tak malu bertemu denganku? Kau telah merampas harta Ayah. Kau dan Paman Donny terlalu gila pada harta. Lihatlah dirimu, kau mengenakan semua barang-barang mewah, yang seharusnya jadi milikku. Kenapa kau percaya diri sekali?"


"Ellea! Kurang ajar! Kau memang tak pernah sopan santun pada Bibimu sendiri. Beruntung keluargamu bangkrut. Jika tidak, kau pasti akan semena-mena dan seenak jidat! Dengar ya, jangan pernah menyebut bahwa kita saling mengenal. Didepan Nyonya Merry, kuharap kau tak mengenaliku, dan kita menjalani semuanya masing-masing!" pinta Helda.


"Ah, lagipula ... siapa yang ingin berkenalan dengan orang sombong sepertimu! Aku hanya berpesan padamu, Bibi ... jaga perusahaanmu, agar tak jatuh lagi ke tanganku!" pekik Ellea membuat Helda semakin emosi.


"Kurang ajar! Kau mengancamku? Ah, aku tidak takut sedikitpun! Kau kira, kau ini siapa? Hingga kau berani mengancamku seperti itu!"


"Aku istri dari Gavin Alexander. Pemilik saham dan perusahaan terbesar di Negara kita. Bukankah kau tahu? Lalu, kenapa kau tak takut padaku? Suamiku bisa saja dengan jentikan tangannya menghancurkan perusahaan kalian, yang lebih tepatnya ... perusahaan keluargaku yang kalian rebut!" Ellea benar-benar berani kali ini.


"Brengsek! Dengan mengancamku seperti ini, tak akan ada efek apapun! Kau harus tahu, aku tak takut dengan ancamanmu. Aku tahu, kau hanya membual saja! Aku tahu, keluarga Alexander tak ada yang menganggapmu sedikitpun! Kau hanya mengaku-ngaku saja. Iya kan? Nyonya Merry saja terlihat sangat membencimu! Mana bisa kau menghancurkan perusahaan milikku!" Helda membalas Ellea.


"Baiklah, jika kau tak percaya padaku. Kita lihat saja nanti, ya ... cepat atau lambat, aku pastikan padamu ... bahwa aku akan menyeret Bibi dan Paman menuju tempat yang tepat, di mana seharusnya kalian berada sejak dulu!" Ellea memicingkan matanya.


"Ellea! Kau telah mencoreng namaku dan suamiku. Lihat saja nanti, kau akan ke laporkan pada polisi!"


"Silakan saja, Bibi ... bukankah yang seharusnya aku laporkan pada polisi itu kalian? Dan juga, Jordan Alexander, yang telah menolong kalian. Iya kan?" Ellea terus memancing emosi Helda.


Ellea mengambil tas di pinggir wastafel, lalu menatap Helda sangat tajam, "Lihat saja nanti, buktikan semua ucapanku oleh kedua matamu!"


Tanpa rasa rakut, Ellea berlalu meninggalkan Helda. Amarahnya tak terkontrol, tapi Helda tak mungkin lagi membalas Ellea, karena ia telah berlalu. Helda mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar geram melihat sosok Ellea yang berani mengancamnya.


"Sialan! Berani sekali dia mengatakan hal itu padaku. Dasar anak kecil brengsek! Lihat saja nanti, akan kubuat kau memohon maaf padaku, atas semua ucapannya." Ujar Helda sendirian.


...*****...


Louvre gallery ....


Sesuai janjinya, Gavin mengajak Daniel berkeliling Louvre gallery. Daniel amat senang, karena ia diajak melihat setiap sudut Louvre gallery. Daniel melihat beberapa karya pelukis terkenal yang ia suka.


Awalnya Daniel kecewa ... karena ia tak bisa bertemu dengan Samuel. Daniel tak tahu, jika Samuel tengah cuti dan tak masuk kerja. Untungnya, Gavin dengan mudah membagi waktu untuknya, dan Daniel pun ceria kembali.

__ADS_1


"Daddy, aku ingin melukis! Kenapa setiap melihat lukisan, aku selalu ingin melukis," pinta Daniel pada Gavin.


'Karena nalurimu adalah naluri pelukis sayang ... silakan melukis di sini. Daddy akan menunggumu sampai selesai," ucap Gavin.


"Baik, Daddy. Terima kasih banyak." Daniel begitu ceria.


Gavin masih memerhatikan beberapa lukisan di sekitar gallery. Betapa mewah dan megahnya galeri seni yang Gavin dirikan selama ini. Ia patut bangga pada pencapaiannya selama ini. Kesuksesan Gavin, murni karena kerja keras dan usahanya selama ini.


Jika menatap Daniel, masa depan Gavin seakan ada di depan matanya. Daniel yang pandai melukis seperti dirinya, tentu saja alan mampu mengikuti jejak Gavin nantinya. Daniel adalah berlian bagi Gavin. Karena itulah, Gavin tak bisa melepaskan Daniel begitu saja.


Saat Gavin sedang fokus melihat-lihat beberapa lukisan, tiba-tiba Aaron datang membawa sebuah kabar penting. Entah ini kabar baik, atau kabar buruk. Yang jelas, Gavin harus mengetahui kabar ini.


"Tuan, ada yang harus saya katakan pada anda. Ini menyangkut Nona Ellea," ucap Aaron.


"Apa? Istriku kenapa? Apa Mama menyakitinya?" Gavin sudah berburuk sangka.


Aaron menggeleng, "Nyonya hanya bersikap seperti biasa. Bukan Nyonya yang berbuat masalah, tapi rekan Nyonya ..."


"Siapa? Ellea kenapa?"


"Aku melakukan apa yang kau suruh, Tuan. Aku menyimpan penyadap di tas Nona Ellea. Tiba-tiba saja, Nona muda terlibat perdebatan sengit dengan pemilik Winn Grup, yaitu Helda Geraldine. Mereka terus berdebat, hingga aku mendengar, bahwa Nona menyebut nama Tuan besar. Tuan dengarkan saja percakapan ini. Niat hati, menghindari Nyonya yang akan menyakiti Nona muda, ternyata hal yang tak terduga malah membuatku lebih kaget." jelas Aaron.


Aaron memberikan ponselnya. Rekaman itu telah dikonversikan pada ponselnya. Menggunakan earphone, Gavin mendengarkan percakapan Ellea dan juga Helda. Saat nama Papanya disebut, Gavin benar-benar curiga. Ternyata benar saja, ada yang Ellea sembunyikan darinya selama ini.


"Aaron, kau bawa Daniel pulang nanti. Aku harus menyusul Ellea sekarang. Katakan pada Daniel, aku ada rapat mendadak. Berikan juga alamat restoran di mana Ellea dan Mama berada!" Perintah Gavin tegas.


"Baik, Tuan. Laksanakan." Aaron tahu, Gavin tak bisa tinggal diam setelah mengetahui fakta ini.


*Bersambung*


Halo.... beri vote dan hadiah yuk ke karya ini ❤❤❤

__ADS_1


itu dukungan hebat untuk aku, yg sudah berkenan memberi vote dan hadiahnya, makasih banyak yah 🤗❤


__ADS_2