Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 38. I want to .... you


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Pagi sekali, saat mentari belum memunculkan sinarnya, Ellea sudah terbangun. Ia segera membersihkan dirinya, dan mencoba menyiapkan beberapa menu sarapan untuk buah hatinya. Banyak sekali pembantu di rumah ini, yang tengah menyiapkan sarapan untuk Tuan dan Nyonya besar.


"Nona Muda, tak perlu membantu kami. Nona cukup duduk manis saja, dan menunggu hidangan tiba," ucap salah seorang kepala pelayan di Rumah besar ini.


"Tak apa-apa, Bi. Aku sengaja, ingin membantu kalian. Aku bukan orang kaya di rumah ini. Aku sama seperti kalian. Tak perlu merasa sungkan padaku," Ellea tersenyum ramah.


"T-tapi, Nona ... keadaannya akan berubah jika Tuan muda mengetahuinya. Kamu tak ingin dipecat karena Nona membantu kami," tandasnya.


"Dipecat? Hal aneh macam apa itu! Dia tak akan berani memecatku, hanya karena aku membantu kalian. Sudah, jika dia mengancam atau berucap aneh-aneh pada kalian, laporkan saja padaku!" Ellea tak suka jika Gavin seenaknya di rumah ini.


"B-baik, Nona," mereka tertunduk patuh.


Ellea tak suka, jika ia dianggap spesial di rumah ini. Padahal, derajat Ellea dan pembantu di rumah ini mungkin setara. Ellea sudah lama sekali tak merasakan hidup mewah. Ia sudah terbiasa dengan kesederhanaan sebagai orang biasa.


Kali ini, demi mencapai tujuannya, Ellea akan bersifat ramah dan manis budi pada kedua orang tua Gavin. Ellea ingin tahu, seluk beluk dan bukti nyata tentang apa yang telah dilakukan oleh Jordan Alexander pada keluarganya. Seperti pagi ini, diawali dengan Ellea yang mengantarkan teh dan cemilan pagi untuk kedua mertuanya.


Merry dan Jordan merasa sangat aneh, ia tak menyangka jika menantu banyak bicaranya itu akan berbuat baik seperti ini. Merry curiga, sepertinya ada yang Ellea sembunyikan darinya. Merry merasa, ada yang Ellea inginkan karena perbuatan baiknya ini.


"Selamat pagi, Mama dan Papa mertua ... silakan diminum, teh nya." ujar Ellea sopan.


Merry mengernyitkan dahinya, "Kau akan meracuni kami? Kau pikir, aku mau meminum teh yang kau bawa? Tak ada jaminan jika teh ini tak kau campuri apa-apa."


"Mama," Jordan merasa ada yang aneh.


"Tidak, Mama. Aku hanya membawakan teh ini dari dapur keluarga kita. Aku ingin berbakti pada kalian, selaku keluarga baruku. Maafkan perlakuanku kemarin-kemarin, Mama. Aku bersalah, karena telah bersikap tak sopan padamu," Ellea menundukkan kepalanya.


"Bukankah ini aneh? Wanita pembangkang sepertimu, mau menurut dan patuh padaku?" selidik Merry.

__ADS_1


"Mama, maafkan aku. Aku telah berpikir, aku tak mungkin keras kepala jika tinggal di sini. Karena aku dan Gavin, sudah memutuskan untuk tinggal di rumah ini saja. Aku ingin berbakti pada Mama, dan Papa ... kumohon, terima perbuatan baikku. Aku bersumpah, Mama ... teh ini tak aku campuri apapun. Aku murni hanya membawakannya untuk kalian berdua, percayalah padaku ..." Ellea tetap bersikap lembut dan tenang.


"Tak mungkin! Mana bisa aku percaya pada wanita pembangkang sepertimu!"


"Baiklah, kalau Mama tak percaya, biar aku yamg meminum teh ini." Ellea terus meyakinkan kedua orang tua Gavin.


Tiba-tiba saja, saat Ellea akan mengambil teh tersebut, Gavin datang dan mengagetkan mereka. Gavin datang bersama Daniel, Gavin tak suka, jika Ellea diperlakukan seperti itu oleh kedua orang tuanya. .


"Jangan diminum, Ellea! Biar aku yang meminumnya untuk membuktikan pada mereka!" Tegas Gavin..


Ellea sangat kaget, karena melihat Gavin tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Ellea tak ingin Gavin menolongnya, karena hal ini murni Ellea lakukan, agar Ellea bisa mendapatkan hati orang tua Gavin. Agar orang tua Gavin percaya padanya, bahwa Ellea tengah berbaik hati pada mereka.


"Gavin!" cegah Jordan Alexander, karena Jordan sedikit curiga dengan kebaikan yang dilakukan oleh Ellea.


"Istriku tak mungkin melakukan hal itu pada kalian. Jika dia bilang bahwa dia akan patuh pada kalian, maka seharusnya kalian percaya, jangan malah menuduh istriku yang tidak-tidak. Aku percaya pada istriku, bahwa dia tak akan mungkin melukai kalian!" Tegas Gavin.


Tanpa basa-basi, Gavin meminum teh yang dibawa oleh Ellea. Ia ingin membuktikan pada kedua orang tuanya, bahwa Ellea tak mungkin melakukan hal gila seperti itu. Melihat Gavin yang dengan tegasnya membela Ellea, membuat Ellea merasa sedikit bersalah pads Gavin.


Teh dalam gelas itu, diteguk habis oleh Gavin. Ia tak merasakan apa-apa, bahkan setelah beberapa menit. Hal itu membuktikan, bahwa minuman yang Ellea bawa, murni tak ada campuran apapun. Gavin memang ingin melindungi Ellea, ia ingin, orang tuanya dan juga Ellea tak terus-menerus mengalami perdebatan.


"Lihat, kan? Aku baik-baik saja. Aku tak kenapa-napa. Ellea tak melakukan apapun pada kalian. Mama, Papa ... terimalah kebaikan Ellea mulai dari sekarang. Mungkin, dia ingin berdamai dan hidup dengan nyaman di rumah ini. Anggaplah Ellea sebagai anak kalian juga, karena mulai dari sekarang, dia dan Daniel, adalah bagian dari hidupku. Kumohon, jangan lagi sakiti hatinya, saat ia mulai luluh pada kalian," ucap Gavin sambil memegang tangan Ellea.


Sungguh, Ellea merasa tak nyaman dengan pembelaan yang Gavin lakukan. Ia pun jadi merasa bersalah atas semua ini.


"Ellea, duduklah! Jangan pernah lagi kau membantu asisten di rumah ini. Kau adalah istriku, kau tak pantas melayani kedua orang tuaku. Aku tak ingin melihat lagi kau membawakan minum untuk Mama dan Papa. Aku sudah membayar mahal kepala pelayan di rumah ini. Apa pekerjaan mereka, jika yang membawakan teh saja harus dirimu!" ucapan Gavin sedikit meninggi.


"Maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Mama, Papa mertua, maafkan aku." Ellea hanya bisa menunduk.


"Mommy, tak perlu meminta maaf! Mommy tak salah sedikitpun. Mommy berniat baik pada GrandMa dan GrandPa, tapi mereka malah menuduh Mommy yang tidak-tidak! Jangan lagi menyiapkan apapun untuk GrandMa, Mommy ... bukankah uang Daddy dan GrandPa sangat banyak? Daddy pasti mampu membayar puluhan pelayan untuk melayaninya. Mommy jangan seperti orang susah di rumah ini. Kita sudah jadi orang kaya sekarang, Mom. Aku bangga, memiliki Daddy seperti Daddy-ku. Dia memiliki segalanya, yang bisa membuat siapapun tunduk pada Daddy. Bahkan, orang tuanya sekalipun," Daniel menatap tajam pada Merry dan Jordan.

__ADS_1


"Daniel, jangan berbicara seperti itu," Ellea semakin tak nyaman.


Dasar bocah kecil mulut cabai! Pedasmu itu sudah level dewa! Kau benar-benar membuatmu emosi. Lihat saja nanti, siapa kira aku takut pada Gavin. Jika Gavin tak ada di rumah ini, habislah kalian berdua! Batin Merry yang merasa kesal mendengar ucapan Daniel.


"Sudah, kita sarapan saja. Jangan banyak bicara yang tak penting, apalagi tak menghasilkan uang!" Jordan mulai mengeluarkan suaranya.


Uang, uang, uang saja yang ada di kepalanya. Jika semua ini bukan gara-gara kau, aku tak akan mau berakting lemah lembut seperti ini. Batin Ellea.


Setelah perdebatan itu terjadi, mereka semua pun sarapan pagi bersama. Walaupun masih ada dendam di hati Merry, namun ia menyimpannya agar tak membuat Gavin curiga. Terlintas dipikiran Merry, untuk membawa Ellea dan Daniel ke suatu tempat. Tiba-tiba saja, Merry ingin membuat Ellea tersiksa hidup bersama keluarga ini.


"Siang ini, aku ada jadwal arisan bersama dengan istri-istri dari pengusaha lain. Gavin, bolehkah aku mengajak istrimu, agar dia juga bisa bergaul dan tahu kehidupan glamour para istri pebisnis? Mama tak ingin, istrimu hanya berdiam diri saja di rumah. Bagaimana kalau dia Mama ajak untuk mengikuti arisan tersebut?" rayu Merry pada Gavin.


"Tidak! Biarkan Ellea tak tahu apa-apa. Aku tak ingin Mama mencemari pikiran Ellea," tukas Gavin.


"Tak apa-apa, suamiku. Aku justru senang, jika Mama mengajakku untuk ikut bersama dengan teman-temannya. Apakah banyak yang hadir di sana, Mama mertua?" tanya Ellea.


"Tentu saja banyak. Ada istri dari First grup, Winn grup, Kendy grup, dan banyak lagi istri-istri pengusaha yang akan hadir di acara bulanan ini. Gavin, istrimu pun menginginkannya. Tak apa kan jika dia ikut? Bukankah kau ingin hubungan Mama dan istrimu membaik? Mama ingin memperbaikinya sekarang." rayu Merry.


Ellea tercengang ketika mendengar penjelasan Merry.


Astaga, Winn Grup? Bukankah itu perusahaan Om Donny? Bukankah dia si rakus yang merebut semua saham Ayah? Oh, rupanya mendekatkan diri pada kedua orang tua Gavin, benar-benar memudahkan langkahku. Aku bisa dengan mudahnya, bertemu si tikus rakus itu! Sungguh, aku menantikan hal-hal seperti ini. Aku penasaran, bagaimana reaksi istri Om Donny ... Bibi Helda pasti akan tercengang dan kaget, jika melihat kehadiranku, selaku istri dari Gavin Alexander. Batin Ellea merasa puas.


"Ellea, kau tak perlu mengikuti acara tak penting seperti itu!" cegah Gavin.


Ellea berbisik di telinga Gavin, "Jangan berdebat di depan kedua orang tuamu. Kita selesaikan di kamar. Kumohon, izinkan aku pergi."


"Sial, untuk apa di kamar. Kau ingin aku habisi?" Gavin berbisik.


"Aku akan menciummu, asalkan kau mengizinkan aku untuk menghadiri acara bulanan tersebut!"

__ADS_1


Oh, Tuhan ... wanita ini, memang tak pernah menyerah. Selalu saja, dia bisa membuatku tertantang karena ucapannya. Batin Gavin yang tercengang mendengar bisikan Ellea, bahwa Ellea akan menciumnya.


*Bersambung*


__ADS_2