Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 80. Really hurt!


__ADS_3

“Ada apa sih? Sudah kubilang, jangan sering menemuiku, bukankah sudah kubilang kita akhiri saja semua ini, ha?”


“Jangan berkata begitu, Merry. Bukankah dulu kita sudah pernah berjanji, bahwa kau dan aku akan selalu mencintai, tak peduli bahwa kita sama-sama memiliki pasangan,” rayu Hendrick.


“Tapi aku merasa bersalah pada suamiku! Dia kurang baik apa padaku? Dia sangat menyayangiku, dia tak pernah menyakiti hatiku, dia juga menyayangi Vanny! Aku tak tega jika harus terus-menerus melukai hatinya. Dia juga tak marah, saat kau menikahi kekasihnya. Dia memang kecewa, tapi tak berlarut-larut, karena dia percaya pada takdir Tuhan, bahwa mungkin inilah jalan terbaik. Cukup sudah, aku tak tega terus menyakiti hati Jordan!” Merry menunduk lesu.


“Aku merindukanmu, Merry. Aku juga rindu pada anakku. Sudah lama aku tak melihatnya. Kau tak pernah mengizinkan aku bertemu lama dengan anakku, padahal ... dia juga adalah darah dagingku. Soal Jordan, biarkan saja dia. Dia adalah pria yang lemah, dia tak akan berani macam-macam pada kita. Toh, dia juga pria yang bodoh. Sudah berapa kali kita membohonginya? Tapi buktinya, dia tak pernah tahu kan? Dia tak pernah melihat kita. Dia bisa dengan mudahnya dibohongi. Sudahlah, kau tenang saja. Lagipula, kau bilang dia sedang pergi ke luar kota, kan? Ayo, kita nikmati hari ini bersama. Aku sangat merindukan Vanny, dia anakku, bukan anak Jordan! Kau tak boleh membatasi aku untuk bertemu dengannya.” Ucap Hendrick terus merayu Merry.


Deg. Merry merasa aneh saat Hendrick mengatakan hal itu. Biasanya, Merry tak pernah setakut ini saat Hendrick mengucapkan kata-kata itu. Tapi kali ini, rasanya seperti sedang diintai oleh seseorang. Merry merasa jika ada yang tengah mengintip mereka. Merry melihat sekitar, tapi ia tak melihat apapun. Merry takut ada yang akan melaporkan hal ini pada suaminya.


Selang beberapa detik saat Merry dan Hendrick berbicara bersama, tiba-tiba ada yang menelepon Merry. Ternyata, itu adalah Jordan suaminya. Merry meminta Hendrick untuk diam dan menutup mulut, karena ia harus mengangkat panggilan Jordan. Jika tidak diangkat, Jordan bisa curiga, dan Merry tak akan tenang.


“Halo, Papa, ada apa, Pa?” sapa Merry seolah-olah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


“Mama, kau di mana? Apakah masih di sekolah?” tanya Jordan yang terdengar di speaker ponsel milik Merry.


“Iya masih di sekolah. Kenapa? Apa Papa akan pulang sekarang, Pa?” tanya Merry mulai khawatir.


“Iya, Papa akan pulang sekarang. Tapi, Papa ingin Pak Tino menjemput Papa di bandara. Mama bisa pulang naik taksi kan? Apa tidak apa-apa?”


“Ah, kebetulan sekali, Pa ... hari ini, Vanny ada kunjungan ke rumah temannya. Mungkin, kita akan pulang terlambat. Apa tidak apa-apa? Mama dan Vanny bisa naik taksi, kok.” Ucap Merry.


“Baiklah Ma, hati-hati ya. Sampai bertemu di rumah.” Jordan mematikan panggilannya.


Ternyata dan ternyata ..., sebenarnya Jordan mengetahui semuanya. Sebenarnya, saat Merry dan Hendrick tengah berbicara dipinggir aula, Jordan pun ada di sana dan mendengar obrolan mereka. Jordan sampai di sekolah, lalu mencari-cari Merry. Tak disangka, saat ia menemukan Merry, ternyata Merry tengah bersama seorang pria, yang sangat Jordan kenal.


Jordan bersembunyi dibalik pohon besar yang dekat dengan aula, ia masih bisa mendengarkan obrolan Merry namun ia tetap aman. Saat Jordan mendengar ucapan yang Merry dan Hendrick bicarakan, seketika itu pula jantungnya remuk. Seakan dihujam oleh ribuan belati, karena mendengar pembicaraan bahwa Vanny bukanlah anak kandungnya.

__ADS_1


Informasi yang sangat mencengangkan dan menyakitkan. Jordan memutuskan untuk pergi dan membiarkan Merry bersama Hendrick. Jordan harus menenangkan hatinya. Jika marah dan mencaci Merry di rumah, itu takkan mungkin. Jordan memikirkan Gavin, anaknya. Jordan masuk kedalam mobil, lalu pura-pura menelepon Merry dan mengatakan agar Merry pulang naik taksi saja.


“Kau telah sangat mengecewakan aku, Merry. Hal ini sangat fatal, sehingga aku pun tak bisa memaafkanmu. Hatiku hancur berkeping-keping, Merry. Aku rapuh, sangat rapuh. Jiwaku terasa mati. Kau begitu tega membohongiku selama ini. Aku sudah memaafkan Hendrick tentang dia yang menikahi Wina secara paksa. Aku juga memaklumi amarahnya karena aku menikahimu, Merry. Tapi, tak pernah kusangka, kalian berbuat seperti ini dibelakangku. Aku tak akan bisa mentoleransi lagi hal ini, karena ini sudah sangat diluar batas. Vanny? Yang aku bangga-banggakan, yang sangat aku cintai, ternyata? Ternyata ..., dia adalah anak Hendrick, bukan anakku Merry? Aaarrgghhhh, sakit sekali hatiku! Mungkinkah semua ini terjadi karena aku terlalu baik pada setiap orang? Apakah aku harus menajdi jahat agar orang tak akan semena-mena padaku?” Jordan mengepalkan tangannya dan meninjukannya pada setir mobil miliknya.”


FLASHBACK OFF ....


Begitulah awal mula Jordan tahu bahwa Merry telah berkali-kali selingkuh dengan Hendrick. Yang paling mengecewakan adalah, Merry berbohong jika Vanny adalah anaknya. Bukti kuat mengatakan, jika Henrick adalah Ayah dari Vanny. Jadi, selama ini? Jordan telah dibohongi habis-habisan oleh Merry.


Semenjak kejadian itu, tak ada yang berubah dengan rumah tangga Merry dan Jordan. Hanya diam-diam, Jordan mengatur rencana untuk menjadi orang jahat yang sesungguhnya. Ibaratkan Joker, yang menjalani kehidupan tragis dan menjalankan misi balas dendamnya. Bisa dikatakan, bahwa orang jahat, adalah orang yang terlahir, dari orang baik yang tersakiti. Seperti itulah pengambaran kisah masa lalu Jordan.


Kejam, sangat kejam. Memang inilah akhirnya. Dendam dan kekecewaan yang Jordan rasakan, harus terbalaskan dengan menghancurkan Hendrick dari belakang. Tak ada yang berubah dengan keluaranya, karena Jordan tak ingin Gavin merasa hancur jika kehilangan Ibunya. Karena Jordan yakin, jika Gavin adalah anaknya.


“Apa kau ingat dengan semua itu, istriku? Aku sudah menyimpan dendam ini selama bertahun-tahun lamanya. Tahukah kau bagaimana rasanya hatiku saat itu, Merry? Hatiku sudah tak berbentuk lagi, jika bukan karena Gavin, anakku. Gavin yang membuat aku kuat, karena aku yakin, Gavin adalah darah dagingku, Gavin adalah permataku yang berharga. Aku mencoba melupakan keskaitan hatiku, karena Gavin. Hatiku terluka, aku hancur, aku menangis. Aku mengorbankan semua, tapi hanya kebohongan yang aku dapatkan. Dan ini, benar-benar fatal, Merry. Aku tak bisa memaafkan kalian, aku tak bisa terlihat biasa-biasa lagi. Maka inilah, akhir dari sebuah awal yang menyesakkan. Aku tak menyakiti kalian secara langsung, tapi aku melakukannya dibelakang kalian. Aku puas, Merry! Aku sangat puas! Keluarganya terluka, dia sakit-sakitan, dan anaknya pun menjadi korban dari semua ini. Aku tak peduli disalahkan dan disebut dalang dari semua ini. Yang jelas, dalam pikiranku saat ini adalah ... aku puas, karena dendamku telah mendarat sempurna!” Ucap Jordan membuat Merry kaget dan tak sanggup berkata-kata lagi.

__ADS_1


“P-Papa ..., m-maafkan a-aku ...” Merry lemas, tubuhnya lunglai, namun ia berharap bisa bersujud di kaki Jordan, karena ia menyadari kesalahannya.


*Bersambung*


__ADS_2