Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 72. You?


__ADS_3

Tok, tok, tok ...


Gavin mengetuk pintu kamar Vanny, ia berniat untuk meminjam mobilnya. Tak lama, Vanny keluar dengan tatapan anehnya. Kenapa harus ada Gavin dan Ellea di kamarnya? Vanny bingung, ia takut jika Ellea mengadu pada Gavin. Padahal, biasanya Gavin selalu cuek pada Vanny.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Vanny ketus.


"Aku pinjam kunci mobilmu. Mobilku sedang dicuci oleh Alex," ujar Gavin tanpa basa-basi.


"Kau hanya punya mobil satu? Miskin sekali!" Vanny tetap saja menyebalkan.


"Mobilku ada di bengkel! Ada juga yang di kantor. Cepatlah, aku pinjam mobilmu sekarang."


"Aku yakin ada yang tak beres!" Vanny tetap ketus.


Gavin mengeluarkan ponselnya, "Kau butuh berapa? Aku transfer sekarang. Berikan kunci mobilmu!"


"Sepuluh juta!" Vanny bernegosiasi.


Gavin mengetik sesuatu di ponselnya, "Sudah, sudah kukirim! Mana, kunci mobilnya?" Gavin menagih.


"Wait! Aku harus memastikan kebenarannya dulu." Vanny masuk kedalam kamarnya.


Ellea menohok kaget. Meminjam kunci mobil saja harganya sepuluh juta. Benar-benar mencengangkan. Lagipula, kenapa Gavin main beri saja uang sebanyak itu?


"Daebak! Meminjam kunci mobil saja sepuluh juta! Aku heran dengan kehidupan aneh kalian," Ellea menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau harus tahu. Dia itu matre!" pekik Gavin.


"Sshhtt, jangan seperti itu! Dia itu adikmu!"


Tak lama, Vanny keluar lagi dari kamarnya setelah ia memastikan bahwa uang telah masuk ke rekening pribadinya. Vanny pun memberikan kunci mobilnya pada Gavin. Gavin secepat kilat mengambil kunci mobil Vanny, namun Vanny mengangkat kunci mobilnya, sehingga Gavin tak berhasil mengambil kunci tersebut.


"Kau mempermainkan aku?" Gavin kesal.


"Jangan terlalu lama! Jangan menyebalkan!" perintah Vanny.


Gavin merebut kunci mobil Vanny, "Berisik! Aku juga tahu! Kau tak boleh banyak bicara! Oh ya, jika nanti Daniel bangun, kau temani dia! Jika kau tak menemani dia, maka rekeningmu akan kublokir! Ellea, ayo kita pergi!" ajak Gavin.


"Ah, iya. Baiklah."


Vanny kesal, "Apa-apaan kau ini! Sembarangan saja menyuruh dan mengancam orang lain. Dasar Kakak kurang ajar!

__ADS_1


Gavin tak mengindahkan ucapan Vanny. Ia berlalu begitu saja. Yang terpenting, karena Gavin telah memegang kunci mobil Vanny. Sesampainya di halaman parkir, Gavin melihat situasi dan kondisi sekitar.


Gavin harus menghindar dari Gilang dan Lay, karena bisa saja mereka curiga jika Gavin naik mobil Vanny. Hanya ada Alex yang masih mengelap mobil miliknya. Gavin pun mendekati Alex, agar Alex tak curiga.


" Lex aku pergi dulu. Aku ada urusan. Aku harus mengantar Ellea pergi. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan naik mobil Vanny, karena mobilku sepertinya sedang dibersihkan," ujar Gavin tak ingin membuat Alex curiga.


"Ah, begitu ya. Maafkan saya, Tuan, mobilnya belum selesai di bersihkan," ucap Alex menunduk.


"Tak apa-apa, Lex. Bersihkan saja. Lagipula, aku tak akan lama. Jadi, memakai mobil Vanny pun tak masalah." jawab Gavin.


"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya."


"Ya, Lex."


Gavin dan Ellea segera masuk kedalam mobil Vanny. Gavin dengan cepat mengemudikan mobilnya keluar dari rumah besarnya. Gavin harus segera mengambil barang bukti di dashcam milik Vanny. Saat telah berada jauh dari kawasan rumahnya, Gavin mengambil sesuatu yang kecil dibalik dashboard kamera mobil Vanny.


"Ada memorinya?" tanya Ellea.


"Ada. Kau simpan ini. Kita buktikan sekarang," ucap Gavin.


"Kita ke mana sekarang?" tanya Ellea.


"Ke sebuah tempat yang tak akan kau ketahui. Tapi, kau pasti akan bertemu dengan orang-orang yang kau kenal." jelas Gavin.


"Salah satunya," jawab Gavin.


"Kita lihat isi dari dalam dashcam ini, dan tunjukkan pada mereka!"


Ellea pun terdiam. Ia berpikir, siapa pula orang yang ia kenal selain Aaron. Ingin rasanya Ellea balas dendam pada Aaron, karena telah membocorkan semuanya pada Gavin.


"Aku akan marah besar pada Aaron!" tegas Ellea.


"Kenapa? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau harus marah besar pada Aaron?"


"Dia bermulut ember! Kenapa juga dia harus membocorkan semuanya padamu! Sangat menyebalkan."


"Kau juga, katanya cerdas, tapi tak bisa berpikir panjang! Mana mungkin si Aaron tak lapor padaku! Memangnya, dia akan bisa dipercaya begitu saja? Harusnya kau sadar, kau baru berapa lama mengenalnya? Kau dan aku, lebih lama siapa mengenal Aaron?"


"Ah, tahu lah! Kau sangat menyebalkan. Kau dan Aaron sama saja!"


"Apa kau tahu? Siapa yang menolongmu saat kau masuk ruang rahasia Papaku? Apa kau tahu, jika aku tak ada saat itu, kau pasti akan tertangkap basah oleh Gilang dan Lay! Aku yang mencegat Lay dan Gilang agar tak segera masuk kedalam rumah! Harusnya kau sadar, aku berjuang untukmu, Ellea! Aku melakukannya untukmu. Kau malah mempercayakan semuanya pada Aaron! Kau itu ceroboh, Ellea."

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Kau malah semakin berisik dan malah membanggakan diri sendiri! Jika kau hanya bisa seperti itu, lebih baik kau diam dan tutup mulutmu! Aku tak ingin mendengarnya lagi. Aku sudah tahu!" Ellea kesal.


"Dasar wanita! Jika sudah kalah, bukannya mengalah, tapi malah menambah masalah." celetuk Gavin.


"Berisik! Kau akan pergi ke mana? Kita harus melihat isi dashcam ini! Bukannya malah banyak bicara seperti ini." ujar Ellea.


"Ya, ya. Ini juga sedang diperjalanan, kan? Sabar istriku, sabar. Kenapa kau bawel sekali, sih?" rayu Gavin.


"Istri, istri! Geli sangat aku mendengarnya!"


"Lalu, aku harus menyebutmu apa? Mommy? Momny Niel? Mommy cantik?" Gavin terus menggoda Ellea.


"Shut up! Aku merinding mendengarnya!" Ellea bergidik ngeri.


"Ah, Ellea. Rasanya, aku ingin semua ini segera berakhir, agar kau bisa menerimaku, dan mencintaiku. Aku jadi ikut merinding mendengar kau berkata merinding. Bagaimana jika kita nanti merinding bersama lagi." Gavin mulai kacau.


"Gavin Alexander! Shut Up! Rasanya, aku ingin menutup mulutmu dengan lakban, agar kau fokus menyetir saja! Mana, mana ..., ada lakban tidak di mobil adikmu ini!" Ellea mencari ke sana ke mari.


"Kau sangat pemarah, benar-benar pemarah! Baik, baik. Aku akan diam dan menutup mulutku."


Ellea membuka tasnya, lalu mengambil headset yang ia simpan rapi di tas nya. Ellea begitu bodoh, bukannya sejak tadi, saat Gavin masih banyak bicara, ia memakai penutup kuping agar tak mendengar ocehan Gavin.


"Padahal aku membawa headset ini. Kenapa tak aku pakai sejak tadi! Aku memang pelupa." Ellea berbicara sendiri.


"Kau ini sangat menggemaskan, Ellea. Kau pantas disebut sebagai Hot Mommy!" Gavin terkekeh lagi.


"BERISIK!"


Padahal Ellea sudah memakai penutup telinga, tapi tetap saja godaan Gavin masih bisa ia dengar. Ellea memutar musik dengan volume sangat keras, agar tak bisa lagi mendengar ocehan Gavin yang tak masuk akal.


Gavin pun berhenti menggoda Ellea, karena sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Gavin akan membawa Ellea ke markas persembunyian anak buah Gavin, yang selalu memantau keluarga besar Alexander dari kejauhan.


Akhirnya, beberapa saat kemudian, Gavin telah sampai di sebuah rumah lama yang tak terawat. Gavin memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah itu. Setelah di rasa aman, Gavin mengajak Ellea untuk masuk kedalam rumah itu.


Setibanya di dalam rumah itu ..., Ellea lebih dari sekadar kaget. Ia sangat-sangat kaget, karena melihat sosok orang yang sangat ia kenal, ada di rumah ini bersama Aaron.


"S-Samuel? K-kau?"


Kenapa Samuel di sini?


*Bersambung*

__ADS_1


Lanjutannya aku ketik sekarang ya, semoga selesai malam ini 🥰😘🥳


__ADS_2