Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 82. Over!


__ADS_3

Vanny terdiam berpikir, "Apa semua ini ada hubungannya dengan Om yang dulu sering bersama Mama?"


Ellea kaget, "Om, Om apa maksudmu?"


Vanny terdiam. Jika mendengar ucapan Ellea, seakan membuka pintu hatinya pada kejadian beberapa tahun silam. Saat dirinya masih berusia sembilan tahun, saat itu pula, ada perubahan drastis dari Papanya terhadap Vanny.


Sebelum itu, Jordan begitu sangat mencintai dan menyayangi Vanny. Setelah Vanny naik ke kelas tiga, Jordan berubah. Jordan tak lagi seperti biasanya. Jordan terus saja membangga-banggakan Gavin. Hanya Gavin yang selalu Jordan sayangi.


Memang Jordan tak pernah memarahi atau membenci Vanny, Jordan terlihat biasa saja. Vanny pun tak berpikir negatif, karena ia sadar, Kakaknya adalah anak laki-laki, yang akan memimpin dan melanjutkan perusahaan sang Papa.


"Aku pernah merasa, jika Papa pilih kasih. Tapi, aku mencoba untuk tetap berpikir positif, karena Kakak memang anak laki-laki, yang tentu saja nantinya akan menjadi pimpinan perusahaan. Aku tak mengeluh karena Papa terkesan acuh padaku, yang terpenting aku bahagia menjadi bagian dari keluarga ini."


Ellea mengangguk, "Aku memahami hal itu, karena selama aku tinggal di rumahmu pun, Papamu jarang sekali bicara padamu dan dia terlihat acuh."


"Karena itulah, mungkin ada alasan dibalik semua itu yang tak aku ketahui. Dan lagi, karena aku mendengar rahasia Papa yang berbohong atas insiden penembakan itu, aku jadi sasarannya. Aku pernah mendatangi Papa, agar Papa membuat Lay jera, agar tak lagi menggangguku. Tapi apa? Dia seperti sengaja membiarkan Lay melakukan hal itu padaku. Sudah tiga kali aku mendapat perlakuan menjijikkan dari mereka. Aku ingin berontak, aku mengadu pada Papa, tapi dia malah membela sekretarisnya. Dari situlah, hatiku pertama kali sangat sakit, dan aku membenci Papaku sendiri karena ucapannya." jelas Vanny.


"Apa? Tiga kali? Apa saja yang telah mereka lakukan padamu, Vanny? Kapan hal itu terjadi? Aku sungguh tak tahu akan hal ini. Kakakmu pun sepertinya belum mengetahui akan hal ini," Ellea kaget.


"Saat aku tak sengaja menguping, tiba-tiba aku pergi karena aku sendiri pun kaget. Keesokan harinya, Lay masuk ke kamar hotelku, Mama tak ada saat itu. Tahukah kau, apa yang dia lakukan padaku? Dia menciumku dengan sangat brutal. Dia terus mengancamku agar aku tutup mulut. Padahal, tanpa diperlakukan apapun, aku tak akan membocorkannya, karena dia Papaku, aku tak ingin nama Papaku hancur karena perbuatannya sendiri. Tapi, kenapa? Kenapa dia begitu jahatnya dan tak percaya padaku. Sakit sekali hatiku ...," mata Vanny berkaca-kaca, hatinya teriris jika mengingat hal tersebut.


"Benar-benar bajingan! Mereka tak punya otak! Sebelum sempat ketahuan Kakakmu, bukankah aku sudah katakan padamu, ceritakan semuanya. Kenapa kau tak mendengarku, Vanny? Untungnya, Kakakmu bertindak cepat, dan dia tak lengah sedikitpun."


Vanny menunduk. Ia merasa takut, ia tak sanggup untuk jujur, karena takut jika Gavin akan marah besar seperti ini. Vanny kini berada dalam posisi dilema, yang juga sangat membingungkan. Satu sisi, ia takut dengan ancaman sekretaris Papanya. Tapi, ia juga ingin terlepas daro kejahatan itu.

__ADS_1


"Vanny, maafkan aku, jika aku mengungkit hal yang telah lalu. Tadi kau bilang, Om yang dulu bersama Mama? Om apa maksudmu?"


"Terkadang, aku berpikir, aku adalah korban dari semua ini. Sepertinya, Papa kesal pada Mama saat itu, hingga aku yang jadi korban kemarahan Papa. Walau marahnya Papa, tak pernah berteriak ataupun memukul, ia hanya diam dan acuh seperti yang sering dilakukannya."


"Apa maksudmu, Mamamu berselingkuh?" tanya Ellea penasaran.


"Jika aku mengingat setelah dewasa seperti sekarang ini, sepertinya memang dulu Mama berselingkuh. Tapi, dulu Mama sering mengatakannya padaku, jika itu teman Mama. Teman dekat Mama, Mama juga bilang, jika Papa juga mengenalnya. Dulu, aku masih kecil, aku percaya saja pada semua ucapan Mama. Padahal, mungkin pria itu adalah pria selingkuhan Mama, yang membuat Papa jadi dingin seperti itu."


Ternyata, Vanny juga tahu, jika Mamanya berselingkuh dengan Ayahku. Ya Tuhan, Ayah telah menghancurkan keharmonisan sebuah keluarga. Kenapa juga Ayahku harus berselingkuh dengan Mama Gavin? Benar, benar saja. Wajar jika Jordan memang muak dan membenci keluargaku. Ayah telah menoreh luka mendalam pada hati Jordan. Semua ini berawal karenamu, Ayah. Aku tak menyangka, jika dahulu kelakuanmu seperti itu. Tapi, jika kau berselingkuh dengan Merry, apakah ada kemungkinan baru terjadi? Kemungkinan jika Vanny adalah anak Ayahku. Astaga! K-kenapa pikiran**ku malah jadi seperti ini? T-tapi, itu bisa saja terjadi, 'kan? Batin Ellea dalam hati, Ellea merasa bahwa feeling dirinya tak salah.


"Pantas saja, Kakakmu bersikeras. Ada satu hal yang tengah dia selesaikan saat ini. Vanny, saranku, kau tak boleh memikirkan apa yang tak seharusnya kau pikirkan. Kau harus tetap tenang, Vanny. Kau harus kuat, kau harus yakin. Jangan takut, ada aku dan Kakakmu yang akan menyelesaikan semua ini. Jangan takut pada Papamu ataupun orang-orang dibelakang Papamu. Jika kau mendapat ancaman lagi, kumohon segera kabari aku, jangan tutup mulut, karena masalahnya akan lebih pelik jika kau menyembunyikan semuanya."


Vanny mengangguk. Berbicara pada Ellea, membuatnya sedikit tenang. Ia sempat berpikir negatif pada Ellea, namun nyatanya Ellea begitu hangat dan membuat Vanny merasa tak takut lagi.


"Maaf merepotkan," keluh Vanny setelah ia menghabiskan suapan pertamanya.


"Jangan sungkan, aku tak merasa direpotkan. Aku justru senang melakukannya." jawab Ellea.


Aku seperti memiliki sosok Kakak wanita yang begitu menyayangiku. Sepanjang hidupku, aku belum pernah merasakan kehangatan seperti ini. Aku tak pernah mendapat perlakuan hangat seperti ini dari Kak Gavin. Ellea berbeda sekali dengan Kakakku, terima kasih, Kakak Ellea ..., batin Vanny sambil menatap Ellea yang terus menyuapinya.


...........


Rumah besar Jordan Alexander ....

__ADS_1


Kenyataan ini benar-benar membuat Merry tercengang. Selama bertahun-tahun ini, dirinya hidup dengan tenang dan nyaman. Ternyata, dibalik ketenangan itu, Jordan juga bermain belakang dan membuat banyak tragedi.


"Papa, aku menyesal. Aku menyesali perbuatanku. Aku tak pernah mengira, jika dia terus mengejarku seperti itu. Jangan sakiti Vanny, dia tak salah apa-apa, Papa. Maafkan aku. Semua ini karena kesalahanku. Sungguh ..." Merry terus bersimpuh dihadapan Jordan.


Semua kata maaf itu terasa percuma, karena dendam yang Jordan alami lebih besar daripada hanya sekadar kata maaf. Jordan telah membulatkan tekadnya untuk melakukan hal ini, sekalipun dia akan menjadi tersangka dan dalang utama.


"Kata maaf itu tak ada gunanya lagi. Semua sudah terlambat, dan aku sudah menutup pintu maaf itu untukmu! Aku hanya kecewa, karena anakku kini sudah tak mempercayaiku lagi. Gavin yang aku banggakan, istri yang aku cintai, kenapa harus berhubungan keluarga Patrice? Dulu, kau yang selingkuh dengan Hendrick Patrice dan bermain-main dibelakangku, bahkan, kau melahirkan anak Patrice yang pernah sangat aku cintai. Kini, anakku juga harus menikah dengan keturunan keluarga Patrice. Kenapa hidupku selalu dihantui oleh marga Patrice itu? Sungguh, hal ini sangat memuakkan bagiku." Jordan menatap tajam pada Merry, istrinya.


"Ini semua salahku, Papa. Ini semua karena perbuatanku. Ini karma untukku, karena itulah keluarga kita selalu dihantui oleh mereka. Maaf, aku harus melakukan apa agar kau memaafkanku?" Merry menangis tiada henti.


"Tak ada yang perlu kau lakukan. Aku pun tak akan melakukan apa-apa. Gavin dan Ellea telah mengusut tuntas semuanya. Gavin sedang menyusun strategi untuk melaporkanku. Aku tak akan melawan lagi, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Perbuatanku memang kriminal. Tapi, aku tak pernah mencoreng nama baikku, untuk sebuah noda yang bernama perselingkuhan. Apalagi, sampai hamil benih dari perselingkuhan itu, dan ... hidup seakan tanpa dosa, di sampingku!"


"Papa, cukup! Maafkan aku, maaf! Sungguh, jangan katakan kata-kata menyakitkan itu. Maaaaaaf, maaaaf atas semua luka yang telah aku berikan padamu."


"Sebelum mereka melakukan penyidikan padaku, ada satu hal yang aku inginkan darimu." ucap Jordan.


"Apa itu, Pa? Apa? Katakan padaku. Aku akan melakukan semuanya asal kau memaafkanku. Dan Gavin, aku akan melarangnya untuk melaporkanmu! Kita harus menyelesaikan semua ini dengan baik-baik." Merry benar-benar pasrah.


"Aku ingin kita bercerai, sebelum kejaksaan menyeretku dan menghakimiku. Agar aku tak mempunyai beban dan keberatan lagi. Aku telah menyiapkan surat cerai untukmu sejak belasan tahun lalu. Tapi, aku menyimpannya, sampai nanti aku sanggup mengatakannya. Kini, aku telah sanggup untuk bercerai denganmu. Kumohon, tanda tangani surat perceraian itu, dan kuanggap, kita semua selesai!" tandas Jordan membuat Merry semakin shock tak percaya.


"Papa! Aku tak akan bercerai denganmu, sampai kapanpun! Aku akan menebus semua dosa-dosaku padamu. Tapi, bukan dengan perceraian! Kumohon kau mengerti itu!" Merry menangis sambil menjerit, karena ia kaget mendengar ucapan perceraian yang dilontarkan Jordan Alexander.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2