
"Jangan sok akrab! Kumohon kau keluar dan jangan ganggu aku!" teriak Vanny.
"Apa ada yang mengancam mu, Vanny? Kau takut? Jangan takut! Aku tahu, bahwa kau takut untuk jujur. Tak usah takut, katakan saja. Semua ini demi kebaikanmu, Vanny. Aku yakin, ada hal yang kau sembunyikan dariku dan Kakakmu. Iya kan? Aku tak akan memaksamu untuk jujur. Tapi, aku hanya ingin memberitahumu, kalau kau takut, sampai kapanpun masalah tak akan selesai. Jika kau ingin bercerita dan menenangkan hatimu, kau bisa memanggilku. Sekuat tenagaku, aku akan melindungimu, dan menjagamu." jelas Ellea.
"Omong kosong!" Vanny tak ingin lagi mendengar Ellea berucap.
"Baiklah, mungkin kau belum siap mengatakan padaku. Hanya satu, yang kupinta darimu, jangan takut untuk melawan, dan jangan diam jika itu menyiksamu!" Ellea beranjak dari duduknya, ia akan pergi meninggalkan kamar Vanny.
Ucapan Ellea benar-benar menusuk di hati Vanny. Tak ada yang salah dengan semua ucapannya. Vanny hanya terlalu takut untuk membuka mulut. Karena itulah ia lebih memilih untuk memaki Ellea. Karena menurutnya, semua bermuka dari Ellea.
Jika saja Ellea tak masuk ke keluarga Alexander, mungkin Vannya tak akan mrngalami hal gila seperti ini. Dan lagi, Vanny juga pasti akan hidup tenang tanpa gangguan dari Gilang dan Lay. Vanny hanya melihat percakapan bohong mereka, kenapa balasannya harus seperti ini?
Padahal, walau Vanny mengetahui hal itu, Vanny tak akan mengatakannya pada siapapun. Vanny akan tetap berada di kubu Papanya. Vanny tak berniat membocorkannya. Tapi Gilang dan Lay tak percaya, mereka malah menakut-nakuti Vanny seperti itu.
Kini, Ellea memberinya angin segar, agar Vanny mau membuka mulutnya. Ellea meminta Vanny untuk tidak takut. Bahkan, Ellea berkata, bahwa dia dan Kakaknya akan melindungi Vanny. Sayangnya, Vanny belum memiliki keberanian untuk mengatakannya.
Vanny masih belum bisa memercayai Ellea sepenuhnya. Ditambah lagi, peringatan dari Lay dan Gilang yang tidak main-main, membuatnya semakin takut untuk membuka mulut. Entah sampai kapan Vanny akan diam seperti ini, yang jelas ia lebih takut pada Papanya ketimbang Gavin.
Tapi, melihat Ellea pergi menutup pintu kamarnya, membuat Vanny sedikit menyesal, karena kesempatan untuk mengadu akan semakin sempit. Vanny mengurung diri di kamarnya. Melihat punggung Ellea yang berlalu. Tapi, saat akan menutup pintu, Ellea berbalik lagi, dan mengatakan sesuatu padanya,
"Vanny, aku sudah membawakanmu makan siang. Makanlah, dan jangan lupa istirahat. Jika kau butuh aku, panggil saja aku." ujar Ellea dengan senyum manisnya, lalu ia pergi meninggalkan Vanny sendirian.
Wanita itu ... benarkah dia bisa aku percaya? Bukankah kehadirannya hanya untuk merampas kekayaan keluarga kami? Tapi, kenapa ucapannya begitu hangat dan sangat meyakinkan? Aku tak melihat ada sisi negatif daei wajahnya. Bahkan, dia terlihat tulus berbicara padaku. Seakan dia ingin merangkulku. Mungkinkan dia memang wanita baik-baik? Haruskah aku percaya pada ucapannya? Pada Kakakku sendiri pun, aku tak pernah percaya, bagaimana bosa aku percaya pada orang lain? Tapi, dia sangat merangkulku. Kata-katanya membuatku nyaman. Aku merasa dia memang tahu apa yang aku alami. Karena itulah, dia bertanya padaku. Apa aku salah telah mengabaikan kebaikannya? Batin Vanny yang kini merasa dilema karena telah memarahi Ellea.
Kondisi di rumah besar ini kian kondusif, semua bekerja dan kembali pada porsinya masing-masing. Ellea lelah, ia akan beristirahat, karena semalaman Ellea kurang tidur.
Saat berada di dekat kamarnya, Ellea melihat Daniel yang tengah terlelap dan di nina-bobokan oleh Gavin. Pemandangan yang indah, benar-benar indah. Ellea merasa bahwa Gavin benar-benar tulus menyayangi Daniel.
__ADS_1
Hatinya selalu terenyuh ketika Gavin berbuat hangat layaknya seorang Papa pada anaknya. Andai saja semua ini baik-baik saja, mungkin Ellea akan menerima Gavin dengan baik. Sayangnya, keluarga ini adalah musuh terbesar keluarganya, Ellea tak bisa semudah itu menerimanya.
Banyak hal yang Ellea pertimbangkan pada Gavin. Ellea takut, jika hatinya sudah jatuh pada Gavin, kedua orang tuanya berniat menjatuhkan Gavin, ataupun melepaskan Gavin dari dirinya. Karena itulah, Ellea lebih memilih untuk tidak menggunakan hati dan perasaannya pada Gavin, karena menimang beberapa hal itu.
Suara Ellea terdengar oleh Gavin. Selepas Daniel benar-benar terlelap, Gavin beranjak keluar dari kamar , dan mengetuk pintu kamar Ellea. Kebetulan, pintunya tak dikunci. Gavin bisa segera masuk, sebelum Ellea menghalanginya.
"A-ada apa? Kenapa kau main masuk saja ke kamarku?" Ellea sedikit kaget.
"Aku ingin berbicara padamu, Ellea," pinta Gavin.
"Tentang apa?"
Gavin tak membalas ucapan Ellea. Ia lalu duduk di sofa kamar Ellea, dan meminta Ellea untuk duduk juga di sofa bersamanya. Ini hal penting, dan Gavin ingin tahu semuanya mulai saat ini. Jika masalahnya sudah mulai serius, maka Gavin sepertinya akan mengumumkan genderang perang pada Papanya.
"Apa sih? Bukannya kau marah padaku?"
Ellea terpaksa duduk. Gavin si pemaksa ini memang sangat menyebalkan jika ada maunya. Gavin tak akan berhenti berbicara, sampai keinginannya terlaksana. Ellea pasrah, karena jika tak dituruti, mungkin saja pria dihadapannya ini akan 'ngambek' lagi.
"Apa?" tanya Ellea.
Gavin menghela napas panjang, "Apa yang dikatakan Daniel tentang Alex itu benar?"
Wajah Ellea berubah menjadi serius, ternyata Daniel telah mengatakannya pada Gavin.
"Menurutmu?" Ellea bertanya balik.
"Maksudmu?" Gavin tak mengerti.
__ADS_1
"Menurutmu, ucapan Daniel benar atau tidak? Jika dia berbohong, untuk dasar apa?" tantang Ellea.
"Aku memang percaya pada ucapannya, hanya saja aku belum menemukan bukti konkret tentang hal itu. Aku masih belum melihat ulah Alex dengan kedua mataku. Karena sampai saat ini, dia terlihat baik-baik saja." jelas Gavin.
"Apa untuk meyakinkanmu, kau harus melihat dulu semua dengan mata kepalamu? Sebelum terlambat, kau harusnya percaya saja, karena anak kecil itu tak mungkin berbohong. Alex memang suruhan Papamu. Mama mu tak tahu apa-apa Gavin. Dia hanya diperintahkan oleh Gilang dan Lay." ujar Ellea.
"Ya, aku akan memancing Alex nanti. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di kamar Vanny? Apa terjadi sesuatu? Kau telah berbaikan dengannya?" tanya Gavin.
Rupanya, dia juga mengetahui jika aku masuk kedalam kamar Vanny. Baiklah Gavin, kau harus tahu, jika adikmu sepertinya dalam bahaya. Batin Ellea.
"Untuk soal adikmu, aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku sendiri pun tak tahu apa-apa. Tapi kurasa ini belum terlambat untuk mengecek kamera di dashboard milik mobil adikmu. Mana tahu kau bisa lihat apa yang terjadi pada Vanny tadi pagi?" Ellea tetap mencurigai Gilang dan Lay melakukan sesuatu pada Vanny.
"Dashboard mobil Vanny?" Gavin mengernyitkan dahinya.
Ellea mengangguk, "Ya, dashboard mobil adikmu. Aku hanya baru menduganya saja. Tapi, siapa tahu memang ada sesuatu hal yang penting di sana."
Gavin mengangguk, ia mengerti sekarang. Gavin tahu apa yang harus ia lakukan. Ucapan Ellea selalu membuatnya harus berpikir keras. Ellea memang selalu memikirkan kejadian-kejadian yang tak Gavin pikirkan sebelumnya.
"Ellea, kau ikut aku!" ajak Gavin.
"Kemana?"
"Ke mana saja. Kebetulan mobilku sedang dicuci, dan aku bisa meminjam mobil Vanny. Aku ingin melihat apa yang terjadi di dashcam adikku!" Gavin memegang tangan Ellea, mengajaknya untuk segera pergi.
"Baiklah, aku pun penasaran!"
Bagus, kau mendengarkan aku, Gavin. Terima kasih. Batin Ellea.
__ADS_1
*Bersambung*