
Beberapa saat sebelum kejadian ....
Dasar perempuan tua bodoh! Bisa-Bisanya kau percaya pada kita! Ah, aku puas sekali rasanya! Ellea, lihatlah ..., kesombongan dan keangkuhanmu itu tiada artinya. Ibumu kini menajdi kacungku. Dia tak berdaya dihadapanku. Sebenarnya, aku pun penasaran, bagaimana reaksimu jika mengetahui Ibumu bekerja padaku! Hanya saja, saat ini timingnya tak tepat. Gavin si brengsek itu pasti sedang mengincar suamiku, yang menyebabkan kita harus melarikan diri dari negara ini. Ucap Helda dalam hati.
Sembari berlutut, Wina menitikkan air matanya tiada henti. Hatinya benar-benar sakit diperlakukan seperti ini oleh adik iparnya sendiri. Namun Wina rela melakukan semuanya, karena ia berharap bahwa Helda dan Donny akan memberitahukan di mana keberadaan Ellea.
Wina mengangkat wajahnya, “Di mana alamat Ellea sekarang, Nyonya dan Tuan?”
“Hahahaha, dasar wanita tua bodoh! Masih saja dia berharap akan keberadaan anaknya yang tak akan lagi menganggapnya. Aku tak tahu, aku tak tahu di mana anak gila itu!” Tegas Helda membuat Wina benar-benar kecewa, karena lagi-lagi mereka membohonginya.
Ya Tuhan, dua makhluk ini sangat menyakiti hatiku. Hatiku benar-benar sakit. Kumohon, berikan petunjukmu, dan berikan mereka sedikit pelajaran, agar mereka tak berbuat seperti ini lagi. Ya Tuhan, hamba memohon, semoga anakku selalu sehat, dan bahagia. Semoga ia bisa memaafkan kesalahanku, Tuhan ... ucap Wina, berdoa dalam hati.
Beberapa saat lagi mereka akan pergi, dan tentu saja akan meninggalkan semuanya. Helda dan Donny akan terbebas dari semua yang membebaninya selama ini. Namun, Donny tak menyadari jika kini rumahnya telah dikepung. Saat Wina tengah berlutut, dan Donny tersenyum licik, tiba-tiba ada yang mengagetkannya
Seakan keajaiban datang untuk Wina, Tuan mendengarkan doanya, dan berharap ia terbebas dari kekejaman ini. Rumah ini telah dikepung, sudah banyak anggota polisi dan intel yang akan menghadapi keluarga Winn. Pintu utama didobrak, dan banyak polisi yang telah berada didepan rumah Donny.
"Runah ini telah dikepung. Diam di tempat, dan angkat tangan kalian semua! Jangan ada yang bergerak, atau peluru akan mengenai kalian!" suara bariton itu mengagetkan mereka yang ada di rumah tersebut.
Segerombolan polisi itu menggerebek rumah Donny. Mereka sudah tahu tentang rencana Donny. Donny dan Helda pun kaget setengah mati, karena saat mereka akan berangkat, polisi malah datang dan mengacaukan semuanya.
"ANGKAT TANGAN!" Seseorang tengah berjalan mendekati Donny. Suara itu sangat Donny kenal, dan mereka sontak melihat ke pintu utama.
Para polisi memberikan jalan untuk pria tersebut. Ialah Gavin, ialah pria yang selama ini akan membuat Donny dan Helda habis di tangannya. Gavin berjalan dengan memegang pistol legal yang dia miliki selama ini.
"T-Tuan, G-Gavin!" Donny kaget bukan main.
"Jangan coba-coba lari dariku, brengsek! Kau akan merasakan apa yang Papaku rasakan juga!" Gavin terus berjalan mendekati mereka.
Wajah Donny dan Helda amat pucat. Mereka pasrah, sudah tak bisa melarikan diri lagi. Jika bergerak sedikitpun, maka tamatlah riwayat mereka. Semua ini kacau, rencananya berantakan. Donny tak pernah mengira, secepat ini mereka akan melakukan investigasi padanya.
Ellea pun masuk, mengikuti Gavin dari belakang. Betapa kagetnya Ellea melihat Ibunya tengah berlutut sambil mengangkat kedua tangannya. Ellea kaget dan shock, seketika itu pula, ia berlari dan berteriak,
"IBU ...., Ibu ..., hentikan! Bangunlah! Kau tak pantas berlutut pada mereka!"
__ADS_1
Sontak saja Wina menoleh ke belakang, "A-anakku, E-Ellea ..., Anakku ..." air mata itu tak bisa terbendung lagi, benar-benar menegangkan sekaligus mengharukan.
"Jangan bergerak!" Polisi meminta semua diam dan jangan bergerak.
Ellea terpaksa diam di tempat. Padahal, ia sangat ingin memeluk dan merangkul Ibunya. Wina terpaksa menahan rasa bahagianya, karena suara polisi begitu menakutkan.
"Tangkap mereka, dan geledah rumah ini! Sekarang juga!" Suara itu begitu menakutkan, hingga mereka mulai bertindak sesuai perintah.
Donny dan Helda dibawa polisi, anak-anak mereka pun dibawa. Rumah mereka digeledah dan beberapa anggota polisi lainnya melakukan investigasi. Gavin mendekati Ellea yang masih shock diam terpaku, Gavin harus menyelesaikan beberapa urusan, dan ia berharap, jika Ellea mampu menyelesaikan urusan keluarganya.
"Ellea, kau bisa bersama Ibumu, kan? Ada hal yang harus aku selesaikan. Kau jaga dia, dan akan ada supir yang menjemput kalian. Setelah urusanku di kantor polisi selesai, aku akan segera datang untukmu. Bagaimana?" Gavin memegang wajah lembut Ellea.
Ellea mengangguk. Ia mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Gavin. Gavin pun menuntun Ellea menuju sang Ibu yang masih menunduk ketakutan. Ellea gemetar, tubuhnya sangat gugup dan lemas karena ia melangkah mendekati Ibunya.
"Kau tak apa?" tanya Gavin pada Wina.
Wina bangun, dan menatap Gavin juga Ellea. Air matanya jatuh, hatinya berdebar kencang ketika pertama kalinya lagi menatap Ellea, anak sulung yang selama ini ia rindukan.
Tanpa basa-basi, Ellea memeluk Ibunya yang tengah terduduk lemas. Hatinya membuncah penuh kebahagiaan. Tak pernah Ellea duga, ternyata Ibunya tak membencinya. Wanita paruh baya itu bahkan memeluk Ellea dengan sangat erat.
Gavin melihat keharuan ini. Ia bahagia, karena Ellea tengah kembali pada keluarganya. Ketakutannya berkurang, karena keluarga Ellea tak seperti yang dirinya bayangkan. Gavin melihat, Ellea menangis tiada henti, begitu memeluk sang Ibunda yang selama ini sangat ia rindukan.
"Ellea, kau jaga Ibumu. Sebentar lagi, supir akan menjemputmu. Pulanglah ke rumah bersama Ibumu, dan aku akan menjemputmu saat masalah ini telah selesai. Kau harus tetap di sampingnya," ujar Gavin.
Ellea mengangguk, "Baik, kau hati-hati."
Wina menatap Gavin, "T-terima kasih banyak, Nak."
Gavin mengusap pundak Ellea, lalu ia berlalu meninggalkan Ellea dan juga Wina. Gavin harus menyelesaikan semua masalah Donny dan Helda. Agar tak hanya Jordan saja yang menanggung semua hukuman, karena jelas Donny Winn pun terlibat dalam kasus pelik ini.
Selepas kepergian Gavin, Ellea menciumi tangan dan wajah orang tuanya. Wajah wanita paruh baya yang kini telah keriput dan menua, wajah yang dulu tak sempat Ellea lihat lagi. Semua kerinduan dan kesedihan itu terbayar sudah.
"Ibu, maafkan aku. Maafkan aku yang durhaka padamu, aku menyesal. Aku menyesal," Ellea menangis, ia sangat merasa bersalah.
__ADS_1
Wina menggeleng, ia tak terima Ellea mengatakan semua itu. Walau ini memang bermula dari kesalahan Ellea. Setidaknya, dahulu Wina seharusnya tak mengusirnya begitu saja, karena hal itu pun bukan keinginan Ellea.
Sang supir suruhan Gavin telah berada di depan pintu utama rumah besar ini. Ellea pun merangkul Ibunya, mengajaknya untuk segera masuk kedalam mobil. Banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak Wina.
Bagaimana Ellea bertahan hidup? Apakah ia kesulitan? Apakah hidupnya penuh masalah? Apakah Ellea baik-baik saja? Siapa pria yang menemaninya barusan? Bagaimana nasib kandungan Ellea saat dulu Wina mengusirnya? Semua itu muncul dalam benak Wina.
Menyesal pun tak ada artinya. Emosi memang tak akan menyelesaikan masalah. Beruntungnya, Ellea datang disaat yang tepat. Padahal, selama ini Wina selalu menanti kehadirannya. Hanya saja, Ellea takut dan belum siap untuk menemui keluarganya. Apalagi, jika mereka tahu, bahwa Ellea telah menikah dengan Gavin, pria yang telah menghamilinya.
Didalam mobil, Ellea mengusap air mata Wina yang terus mengalir tiada henti. Ellea ingin Wina tenang, Ellea ingin sang Ibunda tak terus-menerus mengingat kisah kelam mereka. Kini, yang Ellea harapkan hanya satu, yaitu kesembuhan Ayahanda, Hendrick Patrice.
"Ibu, maafkan aku. Maafkan aku yang tak pernah pulang. Sejujurnya, aku ingin pulang, aku ingin menemui kalian, aku sangat-sangat menyayangi kalian. Tapi aku takut, aku takut akan kemarahanmu, Ibu. Maafkan aku," Ellea menunduk sedih.
"Aku hanya emosi, aku tak pernah benar-benar membencimu. Maafkan aku, maafkan aku anakku. Aku bersyukur, kau baik-baik saja, kau semakin cantik, semakin anggun, dan aku bahagia melihatnya. Terima kasih, Tuhan ... Kau telah mengabulkan doaku," Wina menutup wajahnya, tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi terus mengalir membasahi pipinya.
Ellea mencoba menenangkan Ibunya, agar Wina Patric tak terus terpuruk dengan keadaan ini. Ellea ingin, sang Ibu melupakan kejadian kelam masa lalu mereka. Memang, Wina tak secara gamblang menerangkan masa lalu mereka, ia hanya mengutarakannya lewat tangisan. Tangisan sejuta makna, yang membuat Ellea semakin merasa bersalah.
Keadaan mulai membaik, saat mereka tak saling menangis. Ellea mulai rileks, ia tetap memegang tangan Ibunya. Genggaman tangan itu, tak pernah Ellea lepaskan. Bahkan, Ellea menciuminya terus sejak tadi. Saat suasana hening, Wina Patrice mulai membuka pembicaraan lagi.
"Ellea, siapakah dia? Siapakah pria baik hati yang menolongku? Apakah dia yang melaporkan Donny pada polisi? Aku harus berterima kasih padanya." jawab Wina.
Haruskah aku jawab jujur siapa dia? Kau pasti sangat marah, jika tahu bahwa dialah lelaki yang dulu menghamiliku, Ibu. Aku takut, aku harus bagaimana? Batin Ellea.
"Siapa dia, Ellea?" tanya Wina lagi.
Ellea menatap Wina dengan gugup, "D-dia ..., d-dia, dia adalah ... s-suamiku, Bu. A-Ayah dari anak yang dulu aku kandung." Ellea menunduk lesu, mau tidak mau ia harus jujur. Walau Ellea tak tahu bagaimana respon Ibunya, namun semua ini harus diungkapkan dengan kejujuran.
"B-benarkah, Ellea?" Wina seakan-akan tak percaya dengan apa yang dijelaskan Ellea.
Apakah anak yang dulu kau kandung baik-baik saja Ellea? Batin Wina yang masih tak siap untuk menanyakan kabar anak yang dulu Ellea kandung.
Haruskah aku berdamai dengan keadaan ini?
*Bersambung*
__ADS_1