Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 50. I'm confused


__ADS_3

Apa yang sedang dia lakukan bersama Eric? Kenapa lama sekali dia kembali? Ellea ... jangan membuatku marah. Aku ... aku tak bisa marah pada anakku sendiri. Tapi, aku tak menjamin ... jika aku juga tak bisa marah padamu. Aku, selalu mudah tersulut emosi padamu. Apalagi, jika itu menyangkut laki-laki yang aku benci, dan ... pernah ada di hatimu. Batin Gavin yang tengah menunggu kedatangan Ellea didalam mobil.


Daniel terlihat tak banyak bicara. Ia tahu, jika Gavin tengah marah padanya. Gavin tak bisa membela dirinya sendiri, karena ia pun amat bingung dengan keadaan yang tengah terjadi padanya saat ini. Daniel ingin menjelaskan pada Gavin, perihal pria yang membawanya ke tempat Eric, tapi daniel sendiri tak yakin, jika ia bisa menjerlaskannya pada Gavin. Daniel tak tahu, siapa mereka.


Namun, Daniel memiliki ingatan yang kuat. Ia bisa mengingat wajah dua pria itu. Mungkin saja, Daniel bisa mengetahui orang-orang itu, jika Gavin memberi tahunya beberapa foto mengenai kemungkinan besar tentang dua orang pria yang menculik Daniel. Namun, Daniel ingin meyakinkan Gavin, jika Eric bukanlah dalang semua ini. Sayangnya, Gavin sudah berburuk sangka pada eric. Kecil kemungkinan bagi Daniel, untuk meyakinkan Eric.


“Daddy ... apa kau marah padaku?” tanya Daniel.


Gavin menoleh kearah Daniel yang duduk di samping kemudinya, “Tidak. Apa Daddy telihat marah padamu, sayang?”


“Wajah Daddy terlihat begitu kesal dan penuh amarah. Maafkan aku, Daddy ...” Daniel merasa, jika meminta maaf adalah jalan terbaik.


“Stop, Baby ... kau tak salah, kau tak perlu meminta maaf pada Daddy. Sungguh, ini bukan salahmu, dan Daddy juga tak marah padamu. Maafkan Daddy, jika wajah Daddy terlihat kesal dan marah. Sungguh, Daddy tak bermaksud marah seperti ini,” Gavin mencoba menjelaskan.


“Apa Daddy marah pada Uncle Eric? Apa Daddy masih menyangka, bahwa dialah yang menculikku?” tanya Daniel perlahan.


“Daddy tak yakin, tapi Daddy juga menaruh curiga padanya. Kau tak perlu memikirkan hal ini, sayang. Daddy akan mengusut tuntas semua ini, setelah Daddy menemui sekretaris Aaron dan Grandpa mu,” ucap Gavin sambil mengusap-usap rambut Daniel.


“Grandpa? Kenapa harus Grandpa?” tanya Daniel.


“Daddy tak tahu pasti mengenai hal ini. Menurut sekretaris Aaron, ada yang menembak Grandpa di perusahaan. Daddy curiga, apakah sebenarnya targetnya adalah dirimu? Tapi, karena ada Grandpa, jadi mereka menembak Grandpa. Tapi, Daddy tak sepenuhnya percaya pada hal ini, sebelum Daddy tahu, dan melihat dengan kedua mata Daddy. Ini memusingkan, Niel ... aku lelah dengan pikiranku, sepanjang jalan, aku terus berpikir, hingga aku memutuskan, kau adalah yang utama. Aku tak peduli dengan Papaku sendiri, karena aku pun merasa curiga, jika semua ini permainannya. Hanya, kecurigaan ini, tak sepenuhnya mendasar, karena aku belum menemukan satu pun titik terang. Untuk itu, kita perlu ke Rumah sakit sekarang, untuk memastikan semuanya,” ucap Gavin.


“Kalau begitu, tunggu apalagi ... kita berangkat Daddy,”Daniel seakan terbawa suasana.


“Berangkat bagaimana? Mommymu?” ucap Gavin menoleh ke gerbang utama rumah Eric.


“Oh iya, Mommy sedang apa ya? Lama sekali? Apa Mommy sedang mengenang masa lalu dengan Uncle Eric?” ucap Daniel polos.


Mendengar ucapan Daniel tentang Ellea dan Eric, seakan membakar perasaan Gavin lagi. Ia kesal pada Ellea, karena Ellea terus saja seperti sengaja membuatnya marah. Ingin rasanya Gavin menyusul Ellea kedalam, tapi itu sangat tak mungkin, karena Gavin sudah tak ingin bertemu dengan Eric.


“Mommy-mu sedang berpacaran lagi!” jawab Gavin ingin puas.


“Daddy cemburu, ya?”


“No!”

__ADS_1


“Daddy, jangan biarkan Uncle Eric mengambil Mommy. Sepertinya memang benar, Uncle Eric begitu mencintai Mommy! Tahukah Daddy, saat dia memerlihatkan album foto lama miliknya, Mommy dan Uncle itu sangat dekat, bahkan mereka berpelukan juga. Tapi aku, belum pernah sekalipun melihat foto Mommy dan Daddy bersama. Kenapa bisa begitu, Daddy? Apa Daddy tak mencintai Mommy?” tanya Daniel.


“Kau yang harus menanyakannya pada Mommy-mu, dia yang tak mencintaiku, dia yang mengabaikanku, bukan Daddy.” Jelas Gavin.


“Oh, jadi Mommy yang mencampakkan Daddy. Jahat sekali Mommy, padahal Daddy itu sangat tampan, ya ... walaupun ketampanannya masih kalah denganku. Setidaknya, Daddy memiliki wajah yang good looking, kenapa juga Mommy harus acuh pada Daddy?” Daniel terus saja banyak bicara.


“Tak tahulah, aku tak mengerti Niel. Jangan tanyakan lagi padaku, hanya Mommy-mu yang bisa menjawab.” Balas Gavin sambil menatap dashboard mobilnya.


“Baiklah, Daddy ... aku akan menunggu sampai Mommy tiba,” jawab Daniel.


“U-untuk apa?” Gavin seketika mulai tersadar.


“Ya untuk menanyakan semuanya pada Mommy lah Daddy, untuk apalagi ...”ucap Daniel santai.


“T-tak perlu, Niel.” Gavin gelagapan.


“Tak apa, aku harus menanyakan semua pada Mommy,” ucap Daniel bersikukuh.


Tiba-tiba, tanpa Gavin dan Daniel sadari, Ellea sudah membuka pintu mobil belakang. Seketika Ellea mendengar, Daniel yang berkata menanyakan pada Mommy. Ellea pun penasaran, apa yang akan ditanyakan Daniel padanya.


“Begini Mommy ... ada yang ingin aku tanyakan pada Mommy. Kenapa Mommy tak mencintai Daddy? Apa kurangnya Daddy, Mommy? Bukankah ia tampan seperti aku? Bukankah dia juga pandai melukis seperti aku?” tanya Daniel polos.


Ellea benar-benar kaget. Kenapa pula Daniel harus menanyakan hal seperti itu padanya? Jelas-jelas Ellea tak mungkin bisa menjawab, karena selain itu pertanyaan sulit, orang yang sedang dibicarakannya pun ada dihadapan Ellea.


“Niel, apa maksudmu? Jangan bertanya hal aneh seperti itu pada Mommymu,” wajah Gavin refleks memerah.


“Bukankah tadi Daddy menyuruhku untuk bertanya pada Mommy karena Daddy tak tahu jawabannya?” balas Daniel.


“Apa? K-kapan? Daddy tak menyuruhmu untuk bertanya seperti itu. Kau jangan mengada-ada, Niel.” Gavin benar-benar malu.


“Tadi Daddy bilang begini padaku ... ‘Kau yang harus menanyakannya pada Mommy-mu, dia yang tak mencintaiku, dia yang mengabaikanku, bukan Daddy. Berarti Daddy menyuruhku untuk bertanya pada Mommy, kenapa Mommy tak mencintai Daddy? Begitu, kan?” Daniel benar-benara memperjelas semuanya.


“Niel, stop it!” Gavin sungguh tak sangka, jika Daniel akan menjelaskannya sedetail itu.


Ellea berdehem, karena sepertinya ia tahu, jika semua ini berawal karena Gavin. Ingin rasanya Ellea membalas semua ucapan Daniel, agar Gavin mendengar dan malu karena sudah membicarakannya. Ellea pun menatap kaca depan mobil, ia membenarkan posisi rambutnya, sambil sesekali tersenyum amat manis. Gavin melihat hal itu, namun saat Ellea sadar jika Gavin melihatnya, Gavin segera memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Daniel, ulangi pertanyaanmu, dan Mommy akan menjawab semuanya!” tegas Ellea sambil menatap Gavin dengan sentimen.


“Baiklah Mommy ... aku akan mengulang pertanyaanku. Kenapa Mommy tak mencintai Daddy? Apa kurangnya Daddy, Mommy? Bukankah ia tampan seperti aku? Bukankah dia juga pandai melukis seperti aku? Kenapa Mommy mencampakkan Daddy?” Daniel mengulang ucapannya.


“Begini ya ... Mommy tak suka dengan pria arogan yang menyelesaikan masalah dengan emosi. Mommy tak suka dengan pria yang mudah memukul orang lain. Mommy juga tak suka pria yang selalu ikut campur tanpa alasan yang jelas. Mommy sunggu tak suka, orang yang selalu marah-marah dan menyalahkan orang lain, tanpa berkaca ahulu dirinya itu seperti apa. Mungkin itu bisa jadi gambaran untukmu, Niel,” sindir Ellea sambil menatap Gavin dengan tatapan tajam.


“Oh begitu ya Mommy. Daddy, apakah kau mendengarnya? Itulah alasan Mommy. Apa Daddy mengerti sekarang kenapa Mommy tak mencintai Daddy?” tanya Daniel pad Gavin.


Sungguh, sudah seperti udang rebus saja wajah Gavin sekarang ini. Ia benar-benar malu, dan tak tahu harus menajwab apa, atas pembicaraan konyol itu. Ingin rasanya Gavin membekap mulut Daniel agar tak berbicara lagi. Gavin sudah kalah bicara oleh Ellea. Ia tak bisa membalas lagi ucapan Ellea ataupun Daniel. Gavin berharap, seseorang akan menolongnya dan membantunya.


Benar saja, dewi fortuna menyelamatkannya. Baru saja Gavin memohon, ternyata seseorang meneleponnya. Ponselya berdering, Gavin pun meraih ponsel yang berada di saku celananya. Dilihatnya, ternyata Aaron memanggilnya. Gavin pun menatap Daniel dan Ellea,


“Maaf, Aaron menelepon,” ucap Gavin gugup.


“Baiklah, Daddy ...” hanya Daniel yang menjawab.


Gavin menempelkan ponsel ke telinganya, “Ada apa, Aaron?”


“Bos, kau di mana? Bagaimana Daniel? Apakah sudah ditemukan?” tanyanya.


“Sudah, kau tak perlu khawatir. Kini aku telah bersamanya, Aaron!” balas Gavin.


“Syukurlah, aku lega mendengarnya. Begini, aku sekarang sedang berada di Rumah sakit, Tuan. Tuan Jordan baru saja selesai di operasi, dan Nyonya ingin bertemu dengan Anda. Anda harus cepat, karena Nyonya terus saja marah dan mengamuk. Ini memalukan, Bos. Rekannya pun ada di sini. Aku tak bisa menghentikannya.” Tegas Aaron.


Operasi? Batin Gavin seakan yakin tak yakin dengan tindakan yang dilakukan pada Jordan.


“Baiklah, Aaron. Aku akan segera ke Rumah sakit sekarang juga.” Gavin menutup ponselnya.


Gavin berbalik ke kemudi belakang, ia berkata pada Ellea, “Aku akan mengantar kalian pulang. Aku harus ke Rumah sakit, untuk melihat kondisi Papaku. Pakai sabuk pengaman, kita berangkat sekarang.” Ucap Gavin pada Ellea dan Daniel.


“Tak perlu pulang ke rumah. Aku akan ikut denganmu. Aku harus memastikan, apa benar Papamu itu tertembak?” ucapan Ellea seakan menusuk.


Gavin hanya menatap Ellea, ia bingung harus menjawab apa.


“Baiklah, jika itu maumu. Kita berangkat sekarang.” Gavin tak ada pilihan lain.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2