Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 53. You lie!!!


__ADS_3

“Papamu sudah sadar! Tak inginkah kau melihatnya?” tanya Ellea, begitu ia menghampiri Gavi yang tengah berdiam diri di lorong Rumah sakit.


Sementara Merry berlalu bersama Gilang, karena mendengar sang suami sudah sadar. Namun Gavin, masih saja berdiam diri ditempatnya mematung. Ia berat untuk melangkahkan kakinya menuju ruangan sang Papa. Entah mengapa, berat sekali bagi Gavin untuk memasuki ruangan itu.


Banyak sekali keraguan yang ia rasakan saat ini. Mendengar kabar Aaron dipecat, membuat Gavin menjadi malas untuk menemui Papanya. Apakah memang semua ini hanya sandiwara? Jika iya, kenapa Ellea terkesan santai saja melihat sandiwara ini? Haruskah Gavin benar-benar mengintai Papanya?


“Kenapa diam saja? Bukankah kau ingin segera bertemu Papamu,” ucap Ellea.


“Aku malas melihatnya. Nanti saja. Lebih baik, kita ke mobil, dan temui Daniel. Ayo,” Gavin jadi sangat malas.


Ellea menahan tangan Gavin, “Tunggu! Kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi begini? Bukankah sejak tadi, kau menunggu Papamu siuman?” selidik Ellea.


“Dia sudah diuman, tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Balas Gavin.


“Jangan begini. Lihat dulu, dan temui mereka. Jika kau tak ingin, biar aku saja!” Ellea berjalan sendiri, kembali menuju ruang tempat Jordan dirawat.


“El, Ellea! Kau selalu saja!” Gavin tak ada pilihan lain, selain jadi mengikuti Ellea.


Rasanya, sangat rancu, jika hanya karena kelalaian Aaron, keluarganya harus memecat sekretaris yang sudah setia padanya selama bertahun-tahun. Padahal, semua itu belum tentu juga kesalahan Aaron. Karena hal itulah, Gavin sangat malas untuk menemui Papanya.


“Kenapa kau jadi ragu?”


“”Aku malas berdebat. Aku masih sangat kesal perihal pemecatan Aaron.” jawab Gavin.


“Harusnya kau tanyakan kejelasannya. Bukan menghindar. Justru aku penasaran, seberapa parahnya luka tembak itu. Untuk ukuran terkena luka tembak, dan telah menjalankan operasi, kukira waktu lima jam dan telah sadar itu merupakan suatu keajaiban. Biasanya, mereka koma bisa sampai 10-24 jam. Tapi Papamu, dia sungguh hebat, Gavin.” Ujar Ellea.


Gavin menahan tangan Ellea, ia menatap Ellea dengan pekat, “Apa yang kau pikirkan?”


“Maksudmu?” Ellea mengernyitkan dahinya.


“Apa yang kau pikiran tentang kejadian ini? Apa yang kau tahu?”


Ellea menatap Gavin dalam-dalam. Sepertinya, Ellea sudah tak perlu basa-basi lagi, karena semua sudah terlanjur basah. Baik atau buruknya, lambat laun Gavin pasti akan mengetahuinya. Yang terpenting saat ini, keadilan untuknya. Hanya itu yang Ellea perjuangkan.


Jika Ellea sudah berhasil membongkar semua kebusukan Jordan Alexander, tentu saja ia bisa kembali pada keluarganya, dan menebus dosanya yang telah lalu. Ia sadar, ia telah ceroboh dalam memilih jalan, hingga akhirnya terjebak bersama Gavin. Karena itulah, Ellea tak berani kembali pulang, sebelum ia benar-benar menuntaskan semuanya.

__ADS_1


”Yang aku pikirkan?”


Gavin mengangguk, ia ingin mendengar jawaban Ellea.


“Sebelumnya, maafkan aku ... ini bisa saja salah, dan bisa saja benar. Di dunia ini pun, kemungkinan hanya ada dua. Antara iya, dan tidak. Jika kau bertanya apa yang tengah aku pikirkan, tentu saja jawabannya, jika semua ini rekayasa. Kau bisa berkaca pada perusahaanmu selama ini. Apa pernah kau mendapat teror semacam ini? Apalagi, target utamanya mengenai pemilik perusahaan? Kedua, apa pernah selama sejarah Papamu memimpin perusahaan, dia pernah terluka atau dilukai? Aku hanya ingin jawaban saja dari dua pertanyanku barusan. Kumohon, kau mampu menjawabnya.” Tegas Ellea.


Gavin terdiam. Ia benar-benar memikirkan ucapan Ellea dengan matang dan seksama. Selama perjalanan karirnya dalam mengelola perusahaan, sudah delapan tahun lamanya, Gavin belum pernah mendapat teror apapun. Perusahaan selalu baik-baik saja. Kedua, selama sejarah Gavin hidup dengan Jordan Alexander, Gavin pun tak pernah melihat Jordan terluka atau dilukai.


Pertanyaan Ellea barusan, membuat Gavin terus berpikir. Pertanyaan yang singkat, namun jawabannya membuat Gavin berpikir keras dan merenungkan semuanya. Gavin kini melihat, jika Ellea bukan wanita biasa. Ellea benar-benar pintar, dan Gavin, harus berpikir keras atas pertanyaan mudah yang Ellea layangkan padanya.


“Apa jawabanmu?” Ellea bertanya kembali, karena Gavin tak jua menjawab.


“Aku tak pernah menemukan kejadian seperti ini sebelumnya. Semuanya selalu baik-baik saja, seperti yang aku inginkan.” Jawab Gavin jujur.


Ellea mengangguk. Semakin bulat saja pendapatnya mengenai Jordan. Jordan melakukan hal ini, karena ia merasa terusik dengan tingkah Ellea. Ellea tahu, Jordan hanya ingin Gavin berpihak padanya, dan menyalahkan Ellea. Ellea sudah menduga. Hanya saja, Gavin masih terlihat ragu dan belum sepenuhnya percaya pada Jordan.


Ellea tak masalah, jika Gavin membela Papanya, karena itu merupakan sebuah wujud bakti pada orang tuanya. Jika Gavin berada di posisi Jordan, Ellea dapat memakluminya, namun yang jeals ... ia akan tetap pad pendiriannya, untuk membuat Jordan hancur, tak peduli akan nasibnya dengan Gavin. Toh, pernikahan ini hanyalah sebuah status yang memperkuat Daniel.


“Semua baik-baik saja? Kali ini, berarti tak baik-baik, saja, kan? Aku bisa memecahkannya, setelah aku bertemu dengannya. Baiklah, mari kita lihat Papamu, bagaimana kondisinya. Aku penasaran, sangat penasaran.”


Gavin terdiam. Ia tak mampu membalas semua ucapan Ellea. Gavin melihat, tak ada rasa takut dalam diri Ellea, tak ada kegundahan sedikitpun jika harus melawan Papanya. Mungkinkah Ellea benar, hingga ia berani menemukan bukti yang sebenarnya?


“Papa mertua, apa kau baik-baik saja? Syukurlah, keajaiban datang. Kau begitu cepat sekali siuman, setelah melewati operasi yang panjang.” Sindir Ellea sembari melayangkan senyumannya.


Gavin mendekati sang Papa, “Apa yang tertembak? Bagian mana? Apa itu tak akan menyebabkan luka dalam? Kalian sudah memastikan itu semua?” tanya Gavin pada pengawal Jordan.


Gilang menjawab, “Operasi darurat tengah dilakukan. Tuan besar tertembak di bagian lengannya. Beruntung, peluru itu tak mengenai bagian dada Tuan besar, jadi tim Dokter bisa mengantisipasi dan menyelamatkannya dengan segera.”


Tertembak di bagian lengan? Batin Ellea.


“Apa benar itu, Pa?” tanya Gavin pada sang Papa.


“Tuan Gavin, mohon maaf ... anda tak bisa bertanya pada Tuan Jordan. Dokter memintanya untuk jangan berbicara terlebih dahulu. Jika Tuan ingin mengetahui informasi apapun, kami akan menjawab dengan sebaik mungkin, sesuai apa yang telah Dokter katakan.” Jelas Lay, menambahkan.


“Apa bagian lengan yang tertembak mengalami pendarahan? Apa tembakan itu mengenai jaringan dalam tubuh? Apa peluru sudah sepenuhnya berhasil dikeluarkan? Apa Dokter sudah mengecek dan menjamin, tak ada peluru yang tertinggal di bagian tubuh? Siapa Dokter yang bertanggung jawab atas operasi Papa mertua? Gavin Alexander, selaku anak sulung, harus bertemu dan mendengar penjelasan Dokter, agar semuanya clear, tak hanya mendengar dari kalian saja.” Tegas Ellea.

__ADS_1


Merry menatap sinis Ellea, “Kau! Kau kira semua ini bohong, ha? Setelah suamiku hampiar meregang nyawa, kau masih bisa mengira bahwa semua ini bohong? Oh Tuha, kenapa bukan dia saja yang tetembak, agar mulutnya itu tak banyak bicara dan dia merasakan sendiri!” Merry sangat emosi.


“Nona Merry, dia memang menantu kurang ajar. Dia sungguh tak pantas berada di dalam keluarga Alexander. Kenapa kalian masih mempertahankan dia?” sungut Helda.


“Kau siapa? Kau tak berhak menghina istriku! Mulutmu lebih hina daripada istriku. Diamlah, dan jangan banyak bicara.”


“Tak usah dihiraukan. AKu ingin mendengar jawaban jelas dari Dokter, agar kami bisa memahami kondisinya saat ini.” Tambah Ellea.


“Ya, aku harus bertemu Dokter. Dokter siapa yang menangani Papa kali ini?” Tanya Gavin menyetujui ucapan Ellea.


“Dokter William, hanya saja dia sekarang tengah melanjutkan operasi yang tertunda. Kalian tak akan bisa menemuinya untuk saat ini,” Lay beralasan.


“Baiklah, jika tak bisa menemui Dokter. Kalian pasti sudah mendengar penjelasan Dokter kan selepas operasi? Bagaimana kata Dokter? Apa ada jaringan dalam tubuhnya yang terluka parah? Jelaskan pad kami, agar kami bisa melakukan tindakan untuk menegaskan semuanya.” Ellea terus berbicara.


Sial, aku lupa apa yang dibicarakan Dokter Will tadi. Batin Gilang.


“Baik, aku akan menjelaskannya pada Anda Tuan Gavin,” jawab Gilang.


“Apa Papa mengalami pendarahan?” Tanya Gavin.


“Karena cepat diatasi, tidak terjadi pendarahan hebat,” balas Gilang.


“Tak ada jaringan otot yang teluka?”


“Peluru itu mengenai arteri brakialis di lengan,” jawab Gilang seingatnya.


“Arteri brakialis?” Tanya Ellea sembari mengerutkan dahinya.


“Ya, Dokter Will berkata seperti itu.”


“Apakau tak salah bicara? Papa mertuaku tak pendarahan?” Tanya Ellea lagi.


“YA, karena cepat ditangani dan dievakuasi,” balas Lay.


“Apa benar Dokter mengatakan itu pada kalian? Apa kalian yang berbohong padaku? Peluru yang mengenai Arteri Brakialis, tentu saja akan membuat seseorang mengalami pendarahan hebat, karena jaringan-jaringan otot dan kulit di lengan akan mengalami kehancuran, hingga peluru menyebabkan pendarahan hebat. Tapi kalian bilang tak pendarahan? Harusnya, Papa masih dalam keadaan tak sadar, jika pelurunya mengenai Arteri Brakialis. Kalian tak membohongi suamiku, kan?” Ellea meatap tajam mereka.

__ADS_1


Brengsek, dasar wanita sialan. Batin Lay dan juga Gilang.


Bersambung ….


__ADS_2