Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 86. Impossible!


__ADS_3

Walau perasaannya tak enak, Ellea tetap merelakan kepergian Gavin. Ellea berjalan menuju ruangan tempat Vanny dirawat. Tak Ellea sangka, di dalam sana sudah ada pria yang sangat-sangat dirindukannya selama ini.


Samuel, Ya ... dialah Samuel. Samuel tengah berada di sana bersama Daniel. Mereka saling berpelukan, dan terlihat saling melepas kerinduan. Ellea tak sangka, jika Samuel telah berada di tempat ini. Pasti Gavin yang meminta Samuel untuk datang, hal itu tentu saja membuat Daniel sangat bahagia.


"Mommy, where have you been? Come here! Uncle Boss ada di sini, Mommy. Kau harus segera bertemu dengannya," seru Daniel penuh semangat.


"Ya Tuhan, Pak Sam," Ellea bergegas masuk kedalam ruang rawat Vanny.


Samuel tersenyum menatap Ellea. Ia memang diminta Gavin untuk menemani Daniel, sementara pekerjaannya di tempat tersembunyi ada yang meng-handle. Samuel beruntung, Gavin menariknya untuk menjadi orang kepercayaannya, karena dengan seperti ini, Samuel bisa dengan mudah bertemu dengan Ellea.


"Ellea, apa kabar?" sapa Samuel yang tengah memangku Daniel.


"Baik, Pak, baik. Aku sangat terkejut, melihatmu di sini." mata Ellea refleks berkaca-kaca.


"Aku selama ini mengamati kalian dari jauh. Aku tak kehilangan kalian, karena aku selalu memantau Daniel dan juga dirimu." Samuel tersenyum.


"Ya, ya ... aku sudah tahu. Ternyata selama ini pekerjaan aslimu bukan tukang bunga saja, 'kan?"


"Ya, aku melakukan penyamaran dengan semua itu. Tapi, berkat kalian, toko bungaku jadi maju. Kau dan Daniel sangat luar biasa, Ellea." ucap Samuel.


"Lantas, apa toko bunganya sampai saat ini masih ada?"


"Masih, ada dua orang yang mengelolanya." jawab Samuel.


"Uncle Bos, aku rindu toko bunga itu! Bisakah aku datang lagi ke sana?" seru Daniel.


"Tentu saja bisa. Tapi, Daniel harus izin dulu pada Daddy Gavin, ya? Karena sekarang ada Daddy, jadi Daniel kalau mau apa-apa harus minta izin dulu. Oke?" Samuel memegang tangan Daniel.


Daniel mengangguk, "Ya, Uncle Boss. Aku mengerti. Jika dengan Uncle Bos, tentu saja Daddy pasti akan menyetujuinya."


"Daniel, kenapa kau malah duduk di pangkuan Uncle Samuel, duduklah di sofa, kamu ini berat, lho." ujar Ellea.


"Tak apa, Ellea. Aku pun sangat merindukan anak pintar ini. Sudah lama sekali, kita tak bercengkerama bersama," ucap Samuel.


Ellea hanya tersenyum membalas ucapan Samuel. Fokusnya pun kembali pada Vanny, yang terlihat memerhatikan kedekatan Samuel dan Daniel. Ellea hampir lupa, apa mereka telah berkenalan atau belum.


"Ah, iya ... Vanny, apa kau sudah berkenalan dengan Pak Samuel?" tanya Ellea.


Vanny menggeleng, "Dia masuk lalu hanya tersenyum saja. Dan dia langsung memeluk Daniel, tak sedikitpun menyapaku."


"Ah, ya Tuhan ... Pak Sam, ini Vanny, adiknya Gavin. Kukira kalian sudah saling kenal, aku hampir lupa mengenalkan kalian." ujar Ellea.


"Ah, iya maaf. Saya Samuel, orang kepercayaan Pak Gavin," Samuel ingin menyalami Vanny.


Vanny tak bereaksi, bahkan ia tak membalas tangan Samuel yang ingin bersalaman dengannya, "Itu sudah telat! Bukannya sejak tadi," Vanny terlihat kesal.

__ADS_1


"Maaf, karena saya terlalu fokus pada Daniel." jawab Samuel.


"Ah, sudah ... tak apa, Vanny. Pak Samuel ini orangnya memang pemalu, jadi dia tak banyak bicara."


"Ah, terserahlah." jawab Vanny malas.


"Vanny, sudah minum vitamin yang diresepkan Dokter?" Ellea mengalihkan pembicaraan.


"Ya, sudah,"


"Bagus. Kalau begitu, kau segera beristirahat saja. Aku akan menemui Mamamu, dia kelelahan, sehingga perlu perawatan intensif juga." Ellea memberi tahu Vanny.


"A-apa? Mama? Apa yang terjadi pada Mama?" Vanny kaget, karena ia tak menyangka jika Merry juga harus mendapatkan perawatan intensif.


"Dia mungkin hanya kelelahan, jadi tubuhnya drop. Kau tak perlu khawatir, Vanny, aku akan menjaga Mama-mu." ucap Ellea meyakinkan Vanny.


"Aku ingin bertemu Mama," Vanny merengek.


"Ya, tenang saja. Aku akan membawamu bertemu dengan Mamamu, jika keadaannya telah membaik." ucap Ellea meyakinkan Vanny.


Seketika itu pula, Ellea menatap Samuel, jika Samuel tengah di sini, seharusnya Samuel mau menunggu Vanny bersama Daniel. Karena Ellea tengah sibuk, apalagi Merry kini terbaring juga di rumah sakit.


"Pak Samuel, bisakah kau menunggu Vanny sebentar? Aku harus melihat kondisi Mama mertuaku," ucap Ellea.


"Ah, apa-apaan ini! Tak perlu. Untuk apa dia menemaniku, lagipula aku bisa sendiri di sini," ucap Vanny keberatan.


"Eh, sembarangan saja," Vanny kesal.


"Kakak Aunty, jangan galak-galak pada Uncle Bos," ujar Daniel.


"Ah, terserah kalian lah!"


"Hanya sebentar, Vanny, aku hanya akan melihat kondisi Mama,"


"Ya." jawab Vanny ketus.


Ellea berlalu meninggalkan Daniel, Vanny dan Samuel. Jika ada Samuel, Ellea sedikit lega, karena Samuel dapat dipercaya, dan Daniel pasti nyaman bersamanya.


...*****...


Apartemen Hills ....


Gavin telah sampai di alamat yang dikirimkan oleh Aaron. Jordan memang menenangkan diri di sini. Semenjak menceraikan Merry, walau belum ada kesepakatan diantara mereka, Jordan ingin sendirian dan tak berhubungan dengan mereka lagi.


Hanya satu-satunya harapan Jordan, yaitu Gavin. Gavin murni darah dagingnya yang selama ini hidup bersamanya. Ada hal yang ingin Jordan katakan pada Gavin, dan hal itu bersifat penting sekali. Gavin tak paham, apa yang diinginkan Papanya, karena hidup Jordan selalu bergelut dengan penuh rahasia.

__ADS_1


"Izinkan aku masuk! Aku diperintahkan ke sini." ucap Gavin pada pengawal baru yang berada di depan pintu apartemen Jordan.


"Sebentar, Tuan." Pengawal itu memberikan kode pada rekannya.


Gavin diminta untuk mengangkat tangannya. Gavin diperiksa, dan diraba beberapa sakunya. Mungkin pengawal itu takut Gavin membawa senjata api dan barang berbahaya lainnya.


"Dasar gila! Untuk apa aku membawa pistol ke ruangan Papaku! Aku meninggalkan pistol di mobilku. Jika tak percaya, lihat saja sana." ujar Gavin tanpa takut.


Para pengawal itu mengangguk, "Silakan masuk, Tuan."


Gavin menepis tangan mereka, lalu ia masuk kedalam apartemen mewah tersebut. Saat Gavin masuk kedalam, ia melihat sekeliling ruangan. Gavin pernah menginap di sini selama beberapa kali. Ini adalah tempat kedua ternyaman setelah rumahnya.


Gavin melihat, Jordan tengah duduk di meja kerjanya. Gavin pun berjalan mendekati sang Papa yang terlihat sedang sibuk membaca berkas-berkas penting. Entah berkas apa itu, yang jelas sepertinya sesuatu yang sangat penting.


"Ada apa? Papa ingin mengatakan hal penting apa padaku?" tegas Gavin.


Jordan menghela napas, "Rupanya kau menepati janjimu untuk datang. Terima kasih, Nak."


"Aku tak ingin basa-basi. Cepatlah katakan, apa yang ingin kau katakan, Papa." pinta Gavin.


Jordan menatap Gavin, anak semata wayangnya itu kini telah tumbuh besar, dengan keberhasilan yang luar biasa. Semua ini karena usaha Jordan dalam membesarkannya. Tak disangka, sang Mama menoreh luka pada dirinya, hingga keluarga ini, tak bisa diselamatkan.


"Gavin, anakku ... putraku, kebanggaanku. Aku bahagia memilikimu. Kau anakku yang murni, hanya kau milikku di dunia ini." ucapan Jordan sangat aneh.


"Ya, semua itu benar. Tapi kumohon, dahulukan perkataan yang penting, Papa. Aku ingin kau bicara, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan!"


"Aku telah mengajukan gugatan cerai pada Mamamu." ucap Jordan tiba-tiba.


"Apa? Tapi kenapa? Kau tak harus seperti itu, itu masa lalu, Papa!" Gavin kaget.


"Tak usah mengaturku. Itu sudah keputusan mutlak, karena aku telah menahannya selama ini. Dan itu bukanlah hal yang penting. Inilah hal penting, yang harus kau baca, dan kuharap kau mau mengikutinya, karena semua ini, bergantung pada perusahaan dan aset-aset yang akan jatuh pada tanganmu!"


Gavin mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan apa yang Jordan katakan. Pasti ada sesuatu yang tak beres dengan semua ucapannya. Gavin pun mengambil berkas yang berada di tangan Jordan. Kemudian ia membacanya.


"Ini surat gugatan cerai? Perceraianmu dengan Mama?" tanya Gavin.


"Baca lebih teliti, disitu tertera namamu, kan?"


Deg. Gavin sangat kaget, kenapa yang tertera di surat cerai ini adalah namanya, dan ..., Ellea?


Apa maksudnya ini?


"Apa maksudmu, ha?" Gavin mulai naik darah.


"Aku akan menyerahkan diriku ke polisi. Aku juga akan menyerahkan semua aset dan hartaku padamu. Aku akan memberikan semuanya untukmu, karena hanya kau lah penerusku! Tapi, kumohon, berpisah lah dengan dia. Aku tak rela, jika kau hidup dengan keturunan Patrice yang sangat-sangat membuatku terluka. Aku akan berhenti, asal kau menuruti apa yang aku katakan. Aku akan menyerahkan semuanya padamu, tapi kumohon dengarkan permintaanku. Aku tak bisa melihatmu dengan mereka, hatiku sakit jika melihatmu dengannya!"

__ADS_1


"TIDAK! TIDAK AKAN PERNAH TERJADI!" Gavin menyobek surat gugatan perceraian itu dihadapan Jordan Alexander.


*Bersambung*


__ADS_2