
“Kau yakin, tak ingin menemui Ayahmu sekarang?” Gavin mencoba membujuk Ellea.
Ellea menangis, ia menutup wajahnya, tak bisa menahan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Gavin menarik tubuh Ellea, dan memeluknya dengan dekapan yang hangat. Gavin menempelkan wajah Ellea pada dada bidangnya.
Gavin tahu, kesedihan yang Ellea rasakan saat ini. Karena itulah, sebisa mungkin Gavin harus bisa menjadi sandaran bagi Ellea. Membuat Ellea tetap hangat dan nyaman di dalam dekapannya.
'Kau bisa menemuinya jika kau ingin." ucap Gavin.
Ellea menggeleng, "A-aku belum siap menemuinya. Aku tak sanggup, aku takut tak bisa menatapnya."
"Baiklah, jika kau siap bertemu dengannya, katakan padaku. Secepatnya kita harus menemuinya, aku akan meminta maaf padanya secara langsung."
Ellea mengangguk. Dalam hatinya, Ellea ingin menemui Ayahnya bersama dengan sang Ibu. Ellea kuat jika ada Ibunya. Namun saat ini, ia sangat-sangat rapuh. Ellea masih shock dan kaget melihat kondisi Ayahnya saat ini.
Ellea dan Gavin kembali ke ruangan depan rumah kecil itu. Ellea belum sanggup menampakkan diri dihadapan sang Papa. Ia hanya bisa melihatnya dari jauh. Ellea memutuskan untuk duduk bersama Elsie, sang adik.
Gavin belum berbicara sepatah kata apapun. Ia masih tak mengerti, kenapa Ayah Ellea bisa menderita sakit parah seperti itu? Apa jelas ini karma untuk Hendrick? Separah itukah kondisinya? Tak adakah niatan untuk keluarga Ellea menyembuhkan Ayahnya?
"Elsie, Ibu kapan pulang?"
"Tak tentu, Kak. Terkadang Ibu bisa saja pulang besok pagi. Aku sebenarnya tak rela, jika Ibu bekerja di tempat Aunty Helda. Karena apa? Karena Ibu selalu mendapat perlakuan tak baik olehnya. Hanya saja, Aunty selalu berkata, bahwa ia akan mempertemukan Ibu dengan Kakak, jadi Ibu bertahan. Sebenarnya, Ibu sangat ingin sekali bertemu dengan Kakak. Ibu menyesal pernah mengusir Kakak. Ibu rapuh tanpamu, Kak Ell," Elsie terlihat sedih.
"B-benarkah itu, Sie? Sungguh?" mata Ellea mulai berkaca-kaca.
Elsie mengangguk, “Ya, Kakak.”
__ADS_1
Ellea semakin larut dalam kesedihan. Ia teringat pada sang Ibu, yang selama ini ia rindukan. Ia memeluk Elsie dengan hangat, dan menumpahkan semua kerinduan yang selama ini terpendam. Gavin memberikan kesempatan bagi Ellea untuk melepas semua kerinduan dengan keluarganya.
Tiba-Tiba, ponsel Gavin berdering, Gavin segera mengangkat panggilan tersebut. Gavin meminta izin pada Ellea untuk keluar sebentar, karena ia harus mengangkat panggilan tersebut. Ellea pun mengangguk, memberi kesempatan bagi Gavin untuk mengangkat panggilannya.
Aaron yang memanggilnya. Sepertinya, Aaron tahu sesuatu, dan mendapatkan informasi terbaru. Gavin mengangkat panggilan itu sambil memelankan suaranya, karena ia tak ingin ada yang mendengar.
“Halo, ada apa?” tanya Gavin di ponselnya.
“Tuan, aku tahu siapa yang telah melaporkan Tuan Jordan. Ada dua pihak, yang memang melaporkannya.” Suara Aaron terdengar di ponsel Gavin.
“Siapa?”
“Tuan Donny Winn, dia adalah adik dari Ayahanda Nona Ellea. Dia diam-diam menyerahkan semua bukti-bukti kejahatan Tuan Jordan pada Einstein grup secara lengkap dan menyeluruh. Ingatkah Anda, siapa pemilik Einstein Grup? Dia adalah Eric Michael. Tentu saja Donny Winn sengaja membuat hal seperti itu, agar dirinya seakan-akan tak terlibat dalam kasus tersebut. Dia memang licik, padahal ...., dulu pun, keberhasilan Tuan Jordan merebut perusahaan milik keluarga Nona Ellea, ada banyak bantuan dan hasutan dari Donny Winn. Tapi sekarang, dia seakan melempar batu sembunyi tangan. Dia sengaja mengirimkan semua bukti kejahatan Tuan Jordan pada Eric Michael, karena inilah yang ditunggu-tunggu Eric Michael, yaitu ..., kehancuran Anda, dan juga perusahaan besar Anda Tuan.” Jelas Aaron dalam panggilan tersebut.
Gavin emosl, tangannya mengepal kuat. Benar dugaannya selama ini, ternyata Donny Winn, adik Hendrick sendiri, yang melaporkan Papanya. Gavin tak akan tinggal diam. Donny pun harus merasakan hukuman atas perbuatannya, karena Donny juga merasakan manisya dari kejahatan tersebut.
“Apa kau sudah mengumpulkan semua bukti-bukti tenang keterlibatan Donny Winn dalam perbuatan itu?” tanya Gavin.
“Sudah, Tuan. Bukti kejahatannya mudah tercium, karena banyak tanda tangannya dan juga beberapa proposal yang ia buat. Aku juga sudah menemukan beberapa bukti foto dan semua rekaman. Terkait berkas yang aku dan Nona Ellea kumpulkan saat itu, juga sudah ada. Apa yang harus kita lakukan?” Aaron memang selalu sigap, ia bisa diandalkan, tanpa Gavin harus memberi perintah padanya.
“Kau memang hebat. Aku brsyukur memiliki sekretaris sepertimu. Baiklah Aaron, jika semua bukti telah terkumpul, bisakah kau hubungi polisi dan serahkan semua bukti? Bisakah kita lakukan penangkapan darurat sekarang juga?” tanya Gavin.
“Sepertinya bisa, Tuan. Karena sidang pengadilan kasus Tuan Jordan akan digelar sebentar lagi, tentu saja mereka harus mengumpulkan banyak bukti dan keterlibatan siapapun, untuk menunjang proses jalannya pengadilan.” Jelas Aaron.
“Hubungi polisi, untuk menggeledah kediaman Donny Winn, beritahu mereka untuk segera menangkap Donny Win, karena aku tahu, dalam waktu dekat ini dia pasti akan melarikan diri ke luar negeri. Sebelum semua terlambat, mari kita lakukan, Aaron!” Perintah Gavin.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Dalam waktu satu jam aku akan melakukan semuanya. Apa kau akan ikut? Bagaimana keluarga Nona Ellea?” tanya Aaron.
“Aku akan pergi ke rumah Donny Winn sekarang, tapi bukan untuk kasus Papaku, melainkan kasus Ibunya Ellea. Keluarga brengsek itu juga ternyata telah memperalat Ibu mertuaku!” tegas Gavin.
“Baik, Tuan. Kalau begitu, aku akan memersiapkan semuanya. Sampai bertemu di TKP nanti,” balas Aaron.
“Ya, kututup teleponnya.”
Percakapan itupun diakhiri, karena baik Gavin maupun Aaron, harus bertindak cepat. Mereka tak boleh lengah, karena Gavin yakin, jika Donny Winn pasti akan pergi ke luar negeri. Sebelum mereka pergi, Gavin harus mencegah kepergian mereka, agar semuanya benar-benar mendapat pembalasan yang tepat.
Gavin masuk kembali kedalam rumah Ellea. Ia melihat Ellea sudah mulai sedikit tenang, dan terlihat tak menangis lagi. Gavin duduk disampingnya, dan membisikkan sesuatu pada Ellea. Gavin akan mengabulkan keinginan Ellea untuk bertemu sang Ibu.
"Bukankah Ibumu sedang bekerja? Bagaimana jika kita menjemputnya?" ujar Gavin.
"M-maksudmu?" Ellea heran.
"Ya, kita susul dia, dan ajak pulang. Bukankah kau ingin segera bertemu dengannya?"
"I-iya, tapi bukankah itu sangat memakan waktu?" Ellea merasa tak enak.
"Tak apa. Demi istriku, aku harus melakukan semuanya. Demi kebahagiaanmu, akan aku lakukan apapun, Ellea. Ayo, Ibumu pasti bahagia melihatmu lagi."
"T-terima kasih, Gavin," mata Ellea berkaca-kaca lagi.
Maafkan aku, Ellea. Aku memang ada maksud lain selain menemui Ibumu. Aku harus menjebloskan Paman dan Bibimu ke penjara. Mereka juga pasti telah menyiksa Ibumu, Ellea. Mereka bukan manusia, mereka adalah iblis. Aku harus membawa Iblis ke tempat yang tepat.
__ADS_1
*Bersambung*