Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 51. Clever!


__ADS_3

Mendengar penjelasan Ellea, membuatku merasa, sepertinya Papa memang merencanakan sesuatu. Tapi, mungkinkah Papa sekejam itu? Aku juga merasa tak yakin, jika ada sesuatu dibalik semua ini. Bukan aku terlalu lengah atau bodoh, hanya saja aku tak pernah menaruh curiga sedikitpun pada keluargaku. Aku tak pernah menyangka sesuatu yang tak beres dalam keluargaku.


Aku memercayai Papaku, bahwa dia tak mungkin terlibat semua itu. Papa tertembak, aku pun percaya. Justru, aku muak dengan siapa yang melakukan semua itu. Tapi, kini perasaan dan kepercayaanku pada keluargaku berkurang, semua karena kehadiran Ellea, si wanita keras kepala yang kini telah menjadi bagian dari hidupku.


Aku sempat berpikir, mungkinkah kedatangan Ellea dalam kehidupanku, adalah sebuah rencana Tuhan untuk membongkar semuanya? Mungkinkah Tuhan memintaku untuk membantu Ellea dan mengungkapkan semua kebenarannya? Apakah Papa memang memiliki banyak rahasia? Apakah Ellea salah orang? Tapi, Ellea sepertinya sangat dendam pada orang tuaku. Harus bagaimana aku sekarang?


Sepanjang perjalanan, Gavin hanya berpikir dan dia tak fokus sama sekali. Di satu sisi, Gavin sangat menyayangi Papanya, karena selama hidupnya, Papanya selalu berjuang untuk terus membuat dirinya berada di posisi puncak. Gavin sangat senang, memiliki sosok Ayah yang hebat dan pekerja keras.


Mencoba untuk melihat kejadian yang menimpa Ellea, jika iya ... itu berarti, Jordan memang tak sebaik yang Gavin kira. Gavin hanya berharap, sebisa mungkin ia menemukan jalan keluarnya. Secepat mungkin, Gavin ingin masalah apapun selesai, dan tak ada yang tersakiti lagi nantinya.


Sesampainya di Rumah sakit, ternyata Daniel terlelap. Gavin mencoba memindahkan Daniel ke kursi belakang, Ellea merapikan bantal dan kasur kecil agar Daniel nyaman terlelap di dalam mobil. Setelah Daniel terlelap, Gavin menelepon Aaron, agar Aaron cepat datang menuju halaman depan Rumah sakit.


Sebelum memasuki ruangan tempat Jordan dirawat, Gavin harus mendengarkan dahulu penjelasan Aaron. Ia tak sempat bertanya mengenai penyebab terjadinya tembakan itu, karena Gavin terlalu fokus mencari Daniel yang diculik.


Tak lama, Aaron datang dan berlari dengan sangat cepat. Aaron harus memberikan beberapa informasi penting pada Gavin. Ellea dan juga Gavin menunggu di depan mobil, sebelum Gavin memutuskan untuk masuk kedalam mobil.


"Bos, maafkan aku yang terlalu lama. Kenapa kau tak segera masuk saja?" tanya Aaron.


"Aku ingin tahu, kronologi kejadian penembakan itu. Apa tersangkanya sudah ditemukan?" tanya Gavin.


"Tak ada jejak, Bos. Semua tertata rapi. Sepertinya, dia adalah penembak jitu yang menembak dari gedung lain, sehingga tak mudah untuk terlihat di beberapa sisi. Dia juga terlihat cekatan, tak ada satupun bukti yang tertinggal." ucap Aaron.


"Polisi sudah menanganinya?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Polisi sudah stay di perusahaan sejak tadi. Mereka menginterogasi dan mencari bukti di sekitar perusahaan. Secepatnya, polisi akan menemukan bukti-buktinya, Bos."


Ellea berdecak kesal, ternyata Gavin tak menaruh curiga pada Papanya. Ellea sudah tak peduli akan hubungannya dengan Gavin. Sekalipun jika Gavin akan mengambil Daniel, Ellea tak peduli. Yang jelas, ia akan melakukan cara terbaik, untuk membuat semua kembali pada porsinya masing-masing.


"Sejak tadi, kau hanya memikirkan tentang pelakunya saja. Kenapa kau tak bertanya, untuk apa Papamu datang ke perusahaan? Apakah dia memang setiap hari ke sana? Apakah dia memang selalu datang ke kantor? Jika iya, berarti memang pelaku menargetkan Papamu. Tapi, jika Papamu jarang datang ke kantor, dan sekalinya dia datang malah menimbulkan masalah besar, apa kau tak menyadarinya? Bahwa kebetulan dan kejadian itu seakan datang bersamaan?” Ellea benar-benar menyudutkan Gavin.


Biarkan aku menuduh Jordan dengan mulutku sendiri. Aku tak yakin, jika semua ini ulah Eric. Aku menduga, Eric hanya dijadikan kambing hitam saja, agar Gavin semakin membenci Eric. Batin Ellea.


Padahal, Ellea tahu, jika sebenarnya Jordan Alexander sengaja membuat drama memuakkan ini, agar dirinya terlihat seperti korban. Ellea tak ingin lagi bersikap manis dan berbaik budi, ia sudah tak menyanggupi, jika dirinya terus diinjak dan dipermainkan oleh Jordan dan pamannya.


Kesialan ini, membuat Ellea hancur ... keluarganya berantakan, dan ia tak bisa bersama dengan keluarganya lagi. Sungguh hal yang menyedihkan. Sungguh kehidupan pelik yang mengerikan. Ketamakan seseorang membuat keluarga Ellea hancur berkeping-keping. Kali ini, saat ini juga ... ia tak akan diam lagi.


Sudah waktunya Ellea bertindak. Sudah waktunya juga, ia mempertaruhkan hidup dan matinya. Kini, ian akan melawan, walaupun resikonya Ellea akan kalah ataupun mati ditangan Jordan. Ellea tak peduli, yang ia pedulikan hanyalah ... kebahagiaan keluarganya, dan juga Daniel.


Gavin tercengang mendengar ucapan Ellea, diam-diam Ellea begitu pintar dan cekatan. Gavin yakin, ia memang memang menaruh curiga pada Jordan. Gavin tak bisa menyalahkan Ellea, karena dendamnya selama ini pada Papanya begitu mendalam.


“Sudah kuduga. Jika dia hanya sesekali datang ke perusahaan. Dengan begitu, aku bisa menarik kesimpulan, jika ini adalah acara yang dia buat. Bisa kebetulan begitu ya? Saat dia datang ke perusahaan, saat itu juga masalah datang. Hal itu terjadi, saat dia tahu, bahwa aku mulai memberanikan diri untuk mengatakan keadilan bagi keluargaku. Ah, ini sangat menarik. Baiklah, aku harus melihat seberapa parah kondisi Papa mertuaku. Aku akan segera menengoknya sekarang,” ucap Ellea yang terlihat antusias.


Ada perasaan yang mengganjal pada diri Gavin. Seakan Ellea terus saja menyalahkan Papanya. Padahal bukti itu belum jelas ada. Naluri seorang anak pada Papanya, Gavin merasa tak rela, jika Ellea terus menjelek-jelekan Jordan.


Gavin bukan membela Papanya, tapi Ellea harus menunggu dulu bukti yang sesungguhnya. Tak bisa semudah itu untuk menuduh Jordan bersalah, dan menjadi dalang dari semua ini. Gavin adalah anaknya, wajar saja jika ia membela sang Papa dalam keadaan seperti ini.


“Ellea, kau jangan terus menuduh Papaku. Kita belum tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Kuharap, kau bisa sedikit bersabar, dan menunggu kejadian yang sebenarnya. Aku bukan berpihak pada Papaku, tapi kumohon ... jangan buang-buang tenagamu. Aku pasti akan membantumu untuk menuntaskan ini semua.” Gavin memohon pada Ellea.

__ADS_1


“Aku mengerti, seorang anak yang berbakti pada orang tuanya! Apalagi, anak itu telah mendapat kebahagiaan dan kesuksesan sampai berada di puncak kejayaan seperti ini. Aku bisa mengerti, jika kau begitu memujanya.” Ellea berjalan masuk kedalam Rumah sakit. Ia tak memedulikan Gavin yang terlihat emosi padanya.


“Aaron, aku tak bisa menghentikannya. Aku harus segera menyusulnya, sebelum dia membuat masalah besar. Aku tak ingin dia terluka, Aaron. Jaga anakku, jangan biarkan ada orang yang menyentuhnya. Kumohon, tunggu Daniel sampai ia terbangun.” Gavin meninggalkan Aaron, lalu ia berlari mengejar Ellea.


Ellea berjalan menuju ruang rawat VVIP, karena Jordan pasti dirawat di kelas VVIP. Ia sudah menduganya, jika Jordan akan menjalani sesi operasi. Tapi, Ellea tak yakin, jika operasi itu memang benar terjadi. Ellea mampu menduga, semua adalah acting belaka, yang dilakukan oleh orang profesional, seperti Jordan Alexander.


Sesampainya di ruang tunggu, Ellea sudah bisa melihat Merry dan Vanny tengah harap-harap cemas menanti. Merry dan Vanny ditunggu oleh Gilang dan Lay, sebagai orang kepercayaan Jordan. Ellea berhenti, dan menunggu Gavin. Setelah Gavin sampai, Ellea berjalan maju, dan menyapa Ibu dan juga adiknya. Rekan-rekan Merry pun, ada di sana. Termasuk Bibi Helda, si mulut berbisa yang membocorkan pembicaraan Ellea pada suaminya.


“Mama, bagaimana keadaaan Papa?” Gavin masih terlihat percaya pada semua ini.


“Papamu masih di ruang operasi, kita harus mendoakan yang terbaik untuknya.” Merry terus saja menangis.


“Aku menyayangkan sekretarismu yang tak becus mengaja perusahaan! Sesuai keputusan bersama, Gilang dan Lay juga sepakat, bahwa sekretarismu, Aaron Christ, harus dipecat! Mulai besok, jangan pekerjakan dia lagi. Dia harus mundur. Sekretaris Gilang telah memberikan kau sekretaris yang baru, yang lebih kompeten dan pintar dalam mengatur semuanya!” ucap Merry paa Gavin.


“Apa? Tak mungkin! Kalian tak bisa seenaknya memecat Aaron. Ini bukan salahnya, dia tak terlibat apapun. Dia hanya lengah, tak bisa mengantisipasi kejadian ini.” Gavin mencoba membela Aaron.


“Dia hanya lengah katamu? Dia ceroboh, membiarkan Papamu ditembak oleh orang biadab. Kau kata itu hanya? Aaron sudah melakukan kesalahan besar! Mama ingin, dia dipecat tanpa hormat! Tak ada pembelaan darimu, dan Mama benar-benar menyesalkan kinerja Aaron yang lalai.” Merry bersikeras.


“Mama, jangan seenaknya!” Gavin sangat tak terima.


Ella menghela napas, ia sudah tahu, kenapa Aaron dipecat. Sepertinya, mereka ketakutan jika Aaron akan mendapatkan bukti dengan cepat. Karena itulah, mereka memecat Aaron. Pintar sekali rupanya mereka ini. Batin Ellea yang sangat kesal melihat keadaa dihadapannya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2