
"Kenapa Samuel bisa ada di sini?"
"Duduklah dulu, akan kuberi tahu jawabannya nanti." ucap Gavin.
Samuel menatap Ellea penuh dengan kerinduan. Pria itu memang mengintai Ellea sejak ia diminta Gavin untuk bekerja sama dengannya. Ada banyak hal yang Samuel ketahui mengenai Ellea dan keluarganya. Hanya saja, Ellea tak tahu, jika Samuel telah mengetahui Ellea sejak dulu.
Itulah alasan Samuel menolong Ellea yang tengah hamil dan membantunya bekerja di sebuah toko bunga. Padahal, toko bunga itu hanyalah toko penyamaran Samuel. Samuel adalah seorang hacker hebat yang bekerja di Louvre gallery.
Samuel menutup diri menjadi hacker, karena sejak dulu ia hanya diminta untuk menjalani pekerjaan negatif saja. Karena itulah, ia berusaha bekerja dengan baik dan melamar di Louvre gallery.
Ternyata, kemampuan Samuel diketahui oleh Gavin. Dan Gavin, kini tengah membutuhkan seseorang yang bisa ia ajak kerja sama untuk mengusut tuntas kejahatan yang dilakukan sang Papa.
Bersama Aaron dan dua orang lainnya, Gavin telah membentuk sebuah tim khusus untuk memantau semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Papanya. Gavin pun tahu bahwa Papanya melakukan kejahatan ini karena untuk membalaskan dendamnya. Semua ini Gavin ketahui dari Samuel yang tengah meretas data-data lama milik Jordan.
"Ellea, apa kabar? Aku rindu padamu dan juga Daniel." Samuel tersenyum senang.
"Sejak kapan kau bekerja sama dengan Gavin, Pak?"
"Sejak Daniel datang ke perusahaan, dan ingin bertemu denganku. Kala itu, aku diminta pulang oleh Pak Gavin. Akhirnya, aku ketahuan. Karena ada sebuah data hack yang tertinggal di meja kerjaku. Sejak saat itulah, aku diminta beliau untuk menyelesaikan misi ini."
Ellea menatap Gavin sangat pekat. Jadi, selama ini Gavin diam, padahal sebenarnya Gavin telah bertindak di belakang Ellea? Ellea menatap Gavin. Ternyata telah banyak yang ia lakukan di belakang Ellea. Ellea merasa canggung menatap Gavin. Ia jadi malu sendiri.
"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Pada Samuel saja, kau memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Tapi padaku, selalu saja menyebut nama. Gavin, Gavin, Gavin! Padahal, jabatanku dan Samuel sangatlah berbeda jauh, bak langit dan bumi!" Gavin terus saja menggerutu.
Ellea hanya bisa terdiam, begitu Gavin terus berkoar membela diri. Menyebalkan, memang Gavin sangat menyebalkan saat ini. Gavin merasa besar kepala, karena seakan ia memang menjadi pahlawan saat ini.
__ADS_1
"Terserah kalian sajalah! Aku hanya ingin segera melihat isi dalam dashboard kamera ini! Ini, tolong kalian lihat hasilnya. Aku begitu penasaran, apa yang telah terjadi didalamnya." ucap Ellea.
"Oh, baiklah Ellea. Kemarikan padaku, aku akan membuka isinya." ucap Samuel.
Gavin menatap Ellea, "Apa yang membuatmu curiga?"
"Saat perjalanan pulang dari Rumah sakit, bukankah adikmu bersama Gilang dan Lay dalam satu mobil? Sesampainya di rumah, wajah adikmu benar-benar kacau! Kau Kakaknya, tapi kenapa kau bisa kecolongan seperti itu, ha? Aaron, cepatlah bantu Pak Samuel menemukan data di dashcam itu!" pinta Ellea cepat.
"Ya, aku juga penasaran. Aku ingin tahu, apa yang mereka lakukan." tegas Gavin.
Samuel dan Aaron segera memasukan sebuah alat pada komputernya. Mereka membuka beberapa file dalam dashcam tersebut. Mereka sengaja membuka file dari urutan paling baru. Terlihat rekaman saat Vanny berada satu mobil dengan Gilang dan Lay.
Mereka semua menyimak video itu dengan teliti. Mulai terlihat saat Gilang pindah ke belakang kemudi. Gavin mulai kaget, karena melihat Gilang berani-beraninya pindah ke belakang, ke tempat adiknya duduk.
"Tenang, kau harus tenang. Tunggulah dulu. Kita lihat apa yang mereka lakukan." Ellea menangkan Gavin.
Setelah itu, muncul adegan tubuh Vanny yang dimainkan oleh Gilang. Mulai dari menciumnya, bahkan memegang area sensitifnya. Vanny terus meringis kesakitan, namun Gilang tanpa ampun terus saja mendekati dan mempermainkan Vanny.
Wajah Gavin merah padam. Ia benar-benar marah dan muak melihat video tersebut. Tangannya mengepal kuat, Gavin tak bisa menahan amarahnya kali ini. Adik wanitanya yang sejak kecil ia lindungi, malah dipermainkan seperti itu.
"Bajingan! Brengsek! Berani-beraninya mereka! Akan kuhabisi mereka saat ini juga." tangan itu refleks menonjok dinding di sebelah Gavin.
Ellea yang melihat adegan rekaman itu merasa muak dan jijik melihat perlakuan Gilang pada Vanny. Jantung Ellea bergemuruh, karena ia seakan merasakan apa yang Vanny rasakan saat itu. Ellea wanita, ia bisa merasakan bagaimana sakit hatinya diperlakukan brutal seperti itu.
"Sabar, sabar dulu. Kita bawa bukti ini pada mereka, agar mereka bisa menjelaskannya." ujar Ellea.
__ADS_1
"Ah, perset@n dengan kata SABAR. Aku tak butuh rasa sabar, akan kuhabisi mereka dengan kedua tanganku. Ellea ayo kita pergi! Aku harus segera menghabisi mereka!" Gavin meninggalkan ruangan itu, ia tak peduli pada Aaron dan Samuel yang berada di dalam.
"Nona, Anda harus segera ikut dengan Tuan Gavin!" pinta Aaron.
"Tunggu dulu sebentar. Dia terlalu gegabah. Masukkan rekaman itu pada ponselku, agar aku punya bukti kuat untuk mereka. Gavin terlalu emosi, hingga dia lupa, pada bukti ini." ujar Ellea sembari menyerahkan ponselnya pada Samuel.
"Baik, Ellea. Tunggu sebentar, ini tak akan memakan waktu lama."
Samuel segera memindahkan data tersebut ke ponsel Ellea. Setelah selesai, Ellea membawa ponselnya dan juga memory dashcam yang Gavin lupakan. Gavin sepertinya benar-benar marah dan emosinya tak bisa terkontrol lagi. Ellea khawatir, jika Gavin akan benar-benar emosi pada Gilang dan Lay.
Ellea takut, jika Gavin akan nekad dan membunuh mereka. Itu yang sangat ingin Ellea hindari saat ini. Ellea berlari keluar dan menyusul Gavin yang sudah berada di dalam mobil. Tanpa basa-basi, Ellea segera naik kedalam mobil, dan mencoba menenangkan Gavin.
"Tenanglah, amarah tak akan menyelesaikan masalah. Kau juga harus hati-hati dalam mengemudikan mobil. Kita juga harus memperhatikan keselamatan kita," imbuh Ellea, berharap Gavin akan luluh padanya.
"Aku tak peduli! Dua bajingan itu harus segera mati ditanganku! Aku benar-benar tak bisa memberikan toleransi lagi. Hal ini sudah sangat diluar batas. Aku akan menghabisi mereka dengan kedua tanganku! Lihat saja nanti, aku benar-benar muak dan akan membunuh mereka!" Tegas Gavin dengan sangat marah.
"Kau tak bisa mengedepankan amarah seperti ini. Setidaknya, gunakan akal sehatmu, agar kau juga tak rugi dan tak terkena hukuman." jelas Ellea.
"Ellea, apa kau bisa lihat? Bagaimana mereka dengan gila menghancurkan adikku? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kenapa mereka berani sekali, ha? Tentu saja aku sangat marah! Dia adikku, dia darah dagingku. Kenapa dia harus mengalami hal menjijikan seperti itu, ha? Ellea, dengarkan aku! Ada tiga wanita dalam hidupku yang patut aku lindungi. Yaitu, kau, adikku, dan juga Ibukku! Kalian adalah wanita yang ada dalam hatiku! Jika salah satu saja dari kalian ada yang menyakiti ..., maka aku, tak akan tinggal diam. Aku akan maju lebih dulu untuk menghadapi mereka!"
Gavin mengemudikan mobilnya dengan cepat. Gavin tak peduli beberapa mobil yang ada di depannya. Ellea kaget, baru kali ini ia melihat Gavin sangat marah dan menakutkan. Gavin memang bisa jadi malaikat dalam sekejap Tapi Gavin juga, bisa jadi monster jika dirinya dipermainkan.
Ya Tuhan ..., beginilah sifat asli Gavin? Dia menakutkan. Amarahnya benar-benar luar biasa. Ternyata, jika dia bertindak seperti ini, membuatku sangat takut. Aku pernah salah menilainya. Kukira, dia cuek dan tak peduli. Tapi nyatanya, sekalinya ia marah, aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tuhan, jangan biarkan Gavin gelap mata. Kumohon, sadarkan dia ... buat dia menyelesaikan semua ini dengan kepala dingin, Tuhan. Aku sangat memohon untuk hal ini. Batin Ellea yang mulai cemas.
*Bersambung*
__ADS_1