
“Kau tak menyayangi anakmu, ha? Kenapa kau acuh sekali pada Vanny?” Merry berteriak lagi karena tak mendapat jawaban dari Jordan.
Jordan membenarkan posisi duduk menyandarnya, “Apa Vanny memang anakku? Kenapa aku harus mengkhawatirkan anak yang bukan darah dagingku sendiri?”
DEG. Ucapan Jordan benar-benar membuat dunia seakan runtuh. Jantung Merry seketika jadi sesak mendengar Jordan berkata seperti itu. Tak pernah Merry sangka, jika kata-kata yang ia takutkan selama ini, akan keluar juga dari mulut suami sah nya itu.
“A-apa maksudmu, P-Papa?” tubuh Merry bergetar, ia sangat shock mendengar ucapan Jordan yang sangat mengagetkan itu.
Jordan kemudian membuka selimutnya, lalu ia beranjak dari ranjangnya. Jordan berdiri, dan berjalan mendekati Merry. Ini adalah kekesalan Jordan yang selama ini tertahan. Jordan tak pernah bisa mengungkapkan kemarahannya dengan berbicara panjang lebar, tapi ia selalu menggunakan fisik dan pikirannya.
Baru kali ini, Jordan berani buka mulut dan bicara tentang hal sensitif ini pada Merry. Selama tujuh belas tahun usia Vanny, Jordan tak pernah sedikitpun membahas hal yang sensitif pada Merry. Semua kejadian ini Jordan tutup rapat-rapat walau sebenarnya ia sudah tahu. Jordan hanya akan membalas semuanya melalui perbuatannya, bukan perkataannya.
“Kau kaget mendengar aku berbicara seperti itu?” tanya Jordan menatap Merry tiada berkedip.
“Tentu saja! Apa maksudmu berkata seperti itu, ha? Kau tak punya perasaan! Bisa-bisnya kau mengatakan bahwa Vanny bukanlah anakmu! Kau biadab, Jordan!” Merry benar-benar marah.
Jordan menyunggingkan senyumnya, dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya Merry masih keras kepala dan membentaknya. Jordan bukan tipe orang yang banyak bicara, karena ia selalu membuktikan pembicaraannya dengan perbuatan. Kali ini berbeda, karena Jordan tak bisa melakukan apapun, karena semua sudah terjadi.
“Kau ingin aku membebrkan semuanya?” tanya Jordan pada Merry.
__ADS_1
Wajah Merry mulai pucat pasi. Wanita paruh baya itu gemetar ketakutan, ketika Jordan mengatakan bahwa apa dia harus membeberkan semuanya? Itu berarti, ada yang Jordan ketahui tentang semua ini, begitu? Padahal, Merry sudah mengubur kisah kelam itu matang-matang. Ucapan Jordan, seakan membangunkan mayat yang telah tenang didalam kubur.
Jordan sengaja mengungkit masalah ini, karena semua berawal dari Merry yang terus menyalahkannya. Jordan tak ingin disalahkan, Jordan bukanlah penyebab semua ini terjadi. Menurut Jordan, dirinya hanyalah melakukan timbal balik, pada setiap kejadian yang telah menimpanya. Prinsip hidupnya, jika baik, maka ia akan mampu lebih baik. Namun, jika buruk, maka Jordan akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi.
“Kenapa kau diam? Jika kau banyak bicara terus seperti ini, kurasa aku harus membungkam mulutmu dengan kenyataan ini. Kuharap kau mau menyimak dan mendengarkannya. Aku mempunyai kejutan besar untukmu.”Jordan tersenyum kecut pada Merry.
Merry semakin berkeringat dingin. Dia sudah tak bisa berkonsentrasi lagi. Merry hanya bisa menarik kesimpulan, jika Jordan sebenarnya telah mengetahui semua tentang dirinya, Vanny, dan ....
FLASHBACK TUJUH BELAS TAHUN YANG LALU ....
Rumah tangga seorang Jordan Alexander, semakin sempurna, karena kehadiran calon bayi yang hadir di rahim sang istri, Merry Alexander. Setelah Gavin Alexander, anak sulung mereka berusia sepuluh tahun, akhirnya Merry Alexander hamil lagi. Betapa bahagianya Jordan saat ini, karena ia akan memiliki dua anak, dan juga adik yang akan menemani Gavin, anak sulungnya.
“terima kasih, Papa. Kau memang suami siaga yang sangat baik. Aku bahagia memilikimu.” Jawab Merry.
“Jaga calon adik Gavin ya, Ma. Papa sangat menantikan kehadirannya. Gavin sudah besar sekarang, dan dia sudah asyik dengan teman-temannya. Papa sudah merindukan seorang bayi yang mungil dan lucu. Pokoknya, apapun yang Mama inginkan, pasti akan Papa kabulkan. Sekalipun Mama ingin aku untuk membeli kapal pesiar, aku akan membelikannya untukmu!”
Merry tersenyum, ia terbuai dengan ucapan Jordan Alexander. Suaminya itu benar-benar percaya dengan kehamilan ini. Jordan sangat menantikan anak keduanya. Padahal, Merry memiliki rahasia besar dibalik semua ini. Merry sengaja menutup semuanya rapat-rapat, karena ia tak ingin mengecewakan Jordan.
Kebahagiaan itu terus berlanjut sampai lahirlah Vanny ke dunia. Jordan menjadi suami yang paling bahagia di dunia ini, karena ia memiliki anak perempuan. Kebahagiaannya kini tengah sempurna, karena ia dikaruniai dua anak yang sangat tampan dan cantik. Jordan sangat menyayangi Vanny, karena Vanny adalah seorang anak perempuan.
__ADS_1
Waktu berlalu hingga usia Vanny menginjak sembilan tahun. Sebuah insiden besar terjadi. Seperti biasa, Vanny tengah sekolah dan selalu ditemani oleh Merry, Ibundanya. Entah mengapa, Merry tak ingin Vanny diantar jemp[ut oeh asisten pribadinya, Merry lebih suka ia sendiri yang turun tangan menjemput dan mengantar Vanny.
Jika jam pulang tiba, Merry akan meminta supir untuk menjemputnya lagi. Jordan tak memberikan Merry mobil sendiri, karena Jordan takut, anak dan istrinya kenapa-napa. Suatu hari, Jordan memiliki kejutan untuk sang istri, ia sendiri yang akan menjemput Vanny dan Merry ke sekolah, bukan sang supir yang selalu menjemput mereka.
Jordan baru pulang dari luar kota, dan Merry tak mengetahuinya jika Jordan telah berada di rumah. Waktu jam pulang sekolah masih lama, tapi Jordan memilih untuk berangkat sekarang ke sekolah. Jordan pun berinisiatif untuk menjemputnya, dan memberi kejutan pada anak dan istrinya itu. Merry tak tahu, jika ternyata yang menjemput ternyata suaminya.
Tanpa diduga dan tanpa disadari oleh Merry, ternyata orang dari masa lalunya itu ada di sekolah ini. Dialah Hendrick Patrice, pria yang selama ini menemani hari-hari sepinya sejak dulu. Merry dan Hendrick dulunya adalah sepasang kekasih, mereka saling mencintai. Namun, karena sebuah perjodohan, Merry dan Hendrick terpaksa putus, karena orang tua Merry lebih memilih pria yang mereka pilihkan untuk anaknya.
Hingga Merry menikah dengan Jordan, pernikahan itu memang tanpa didasari oleh cinta, karena mereka sama-sama memiliki tambatan hati. Namun lama-kelamaan, Jordan menerima semua itu dan pasrah dengan takdir Tuhan.
Sampai akhirnya pernikahan mereka sudah berlangsung selama belasan tahun, Jordan menerima bahwa Merry memang untuknya. Seperti saat ini, cinta Jordan begitu tercipta untuk Merry dan Vanny. Jordan sengaja diam-diam ke sekolah dan menjemput mereka.
Ternyata, Hendrick juga datang ke sekolah ini. Hendrick ingin menemui Merry. Padahal, Merry sudah menolak, namun Hendrick tetap memaksa. Akhirnya, mereka bertemu di sebelah aula lama sekolah itu. Merry sengaja bertemu dengan Hendrick di tempat sepi itu, agar tak ada orang yang melihat, dan memergoki mereka.
“Ada apa sih? Sudah kubilang, jangan sering menemuiku, bukankah sudah kubilang kita akhiri saja semua ini, ha?”
“Aku merindukanmu, Merry. Aku juga rindu pada anakku. Sudah lama aku tak melihatnya. Kau tak pernah mengizinkan aku bertemu lama dengan anakku, paahal ... dia juga adalah darah dagingku.” Ucap Hendrick terus merayu Merry.
Deg. Merry merasa aneh saat Hendrick mengatakan hal itu.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*