Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 43. Me and Your Papa ... is


__ADS_3

Apa maksud dari ucapan Ellea? Kenapa aku benar-benar curiga dengan apa yang ia katakan. Apa sebenarnya yang terjadi antara Papa dan Ellea? Apakah aku melupakan sesuatu? Kenapa aku tak menduga kearah sana? Mungkinkah Ellea mau menikah denganku karena sebuah tujuan? Batin Gavin sambil mengemudikan mobilnya.


Sekelumit pertanyaan muncul di kepala Gavin. Ia belum bisa memastikan apa yang terjadi. Gavin benar-benar curiga dan merasa heran, kenapa Ellea menyembunyikan hal itu? Padahal, Ellea bisa jujur dan mengatakan semuanya pada Gavin. Mungkin saja Gavin mau membantunya.


"Harusnya dia jujur padaku. Harusnya dia tak menyembunyikan apapun dariku. Aku tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ellea, dan Papaku? Apa yang terjadi diantara mereka? Kenapa aku terlambat mengetahui semuanya? Aku melupakan hal ini. Aku melupakan masa lalu Ellea, yang mungkin saja berkaitan dengan Papaku. Tapi, apa itu?"


Sepanjang jalan, Gavin hanya memikirkan tentang Ellea dan Papanya. Ia juga terus menduga dan menerka tentang apa yang sebenarnya menimpa Ellea. Gavin kini yakin, Ellea mau menikah dengannya pasti karena sesuatu.


Tak mungkin, jika Ellea pasrah begitu saja menerima tawaran Gavin untuk menikah dengannya. Pantas saja, saat pertama kali Ellea bertemu dengan kedua orang tua Gavin, ekspresi Ellea seketika berubah. Ellea seakan tertarik dengan tawaran Gavin untuk menikahinya.


"Mungkin itu alasan dia menerima tawaranku. Apa yang telah Papa lakukan pada Ellea?" Gavin terus saja berpikir.


Beberapa menit kemudian, ia telah sampai di restoran yang dituju. Gavin mencari mereka, dan bertanya pada pelayan do mana tempat reservasi Merry Alexander. Gavin pun menemukannya. Ia segera menuju tempat yang dituju.


Sesampainya di ruangan yang dituju, Gavin melihat Merry Alexander tengah tertawa bersama rekan-rekannya. Gavin juga melihat Helda, wanita yang terlihat berdebat dengan Ellea. Ellea terlihat tengah memerhatikan mertuanya berbicara pada rekannya.


Gavin menghampirinya, dan membuat semua orang kaget. Ini kali pertama Gavin datang ke acara Mamanya. Setiap Merry meminta Gavin datang dan menjemputnya, tak pernah sekalipun Gavin mau datang. Mata Merry benar-benar membulat kaget, melihat anak sulungnya tengah ada di hadapannya.


"Gavin, kenapa kau ke sini?" tanya Merry.


Ellea menatap Gavin. Aneh, karena Gavin sebelumnya bahkan tak menghubunginya.


"Ellea, kita pulang sekarang." ajak Gavin.


"Apa?" Ellea benar-benar kaget.


"Gavin, ada apa ini? Kenapa kau mengajak dia pulang? Mama tak melakukan apapun padanya. Mama justru bersikap baik pada istrimu. Kau tak perlu berlebihan, Gavin." Merry sedikit ketakutan, karena wajah Gavin terlihat marah.


"Ellea, pulang sekarang!" tegas Gavin.


"Ada apa?" Ellea sama sekali tak mengerti.


Tanpa basa-basi, Gavin mengambil tas Ellea, dan membawanya pergi. Sebelum itu, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku depannya. Ia menyimpan uang itu di meja. Gavin tipe orang yang tak suka meninggalkan jejak tanpa uang.


Gavin menyerahkan uang pada Mery, "Bayar semua Ma, untuk makan dan jamuan Ellea!"


"Eh, Gavin! Sebenarnya, ada apa ini?"


Gavin tak memedulikan ucapan Merry. Ia bergegas mengajak Ellea pergi dari restoran itu. Ellea heran, kenapa Gavin harus seperti itu. Tapi, Ellea tak butuh banyak bicara. Toh, nanti juga Gavin akan menjelaskan sendiri padanya.


Gavin mengajak Ellea masuk ke mobilnya. Gavin akan membawa Ellea ke suatu tempat. Tapi, entah di mana itu. Beberapa menit mobil melaju, Ellea masih bungkam tak bicara. Pikiran Ellea benar-benar kacau. Ia tak bisa menerka dengan jelas, apa yang terjadi.


Gavin membawa Ellea ke sebuah hotel. Hotel yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Pikiran Gavin kacau, ia takut Ellea akan bungkam, dan tak jujur padanya. Tapi, Gavin akan berusaha meyakinkan Ellea, agar ia jujur dan rak menutupi semuanya lagi.

__ADS_1


"Untuk apa kita ke sini?" tanya Ellea saat mereka sampai di lobi hotel.


"Nanti aku jelaskan." jawab Gavin.


Gavin memesan satu kamar untuk mereka berdua. Ellea melihat, ada yang tak beres dengan semua ini. Tapi, Ellea tak mau menduga ataupun mengira-ngira. Yang jelas, ia hanya bisa berdoa, jika ucapan Gavin tak akan membuatnya kaget.


Ellea dan Gavin pun naik lift untuk menuju kamar tempat Gavin memesan sebuah kamar. Ellea sempat berpikir, kenapa harus di sebuah hotel? Apa dia akan meminta jatahnya sebagai suami? Tapi, Ellea tak mungkin bisa tinggal diam jika Gavin benar melakukan hal itu.


Setelah sampai di kamar hotel, Gavin mempersilakan Ellea masuk. Mereka masuk, dan Gavin meminta Ellea untuk duduk di sofa. Sepertinya, bukan obrolan biasa. Sepertinya, Gavin akan membecarakan hal penting dan serius. Ellea duduk di sofa hotel itu, lalu menatap Gavin dengan pekat.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Ellea yang mulai penasaran.


Gavin terus memandang Ellea. Ia ingin tahu semua kebenarannya, tapi ia juga takut jika kebenaran itu membuat hatinya sakit. Ini adalah dilema terbesar dalam kehidupan Gavin. Maju untuk terus mengetahui, apa mundur agar tak menyakiti hati.


"Gavin, jawab! Ada apa?" Ellea meninggikan nada bicaranya.


Gavin menghela napas panjang. Mau tidak mau, ia harus siap mengatakannya.


"Apa yang terjadi antara kau dan Papaku?" tanya Gavin tanpa basa-basi.


Deg. Seakan dihujam jantungnya. Ellea tak menyangka, jika Gavin akan bertanya tentang hal ini. Sungguh, diluar nalar Ellea. Masa lalunya terkuak oleh Gavin dengan cepat. Ellea heran, kenapa Gavin bisa dengan cepat mengetahui hal ini. Padahal, Ellea sudah bermain cantik dan menutupinya rapat-rapat agar tak membuat Gavin curiga.


Ellea masih mematung. Ia tak mampu menjawab ucapan Gavin. Benar-benar membuatnya bingung dan dilema. Kenapa harus secepat ini Gavin mengetahuinya? Apa yang harus Ellea katakan sekarang?


"Ellea, jawab!"


"Tak perlu ada yang kau sembunyikan dariku. Dengar, aku sudah mengetahuinya. Kuharap kau tak memberikanku jawaban bohong, karena jika kau bungkam, aku akan mencari tahu sendiri." ancam Gavin.


Mau tak mau, Ellea harus jujur. Tapi, berat sekali lidahnya berucap. Ia takut, jika Gavin akan marah dan menyakitinya. Apalagi, saat ini mereka hanya berdua. Bagaimana jika Gavin nekad dan melakukan sesuatu terhadap Ellea?


"Ellea!"


"Itu bukan urusanmu! Kau tak perlu ikut campur!" Ellea memberanikan diri untuk membantah.


"Kau istriku, dan Jordan Alexander adalah Papaku! Tentu saja itu urusanku," tegas Gavin.


Ellea bingung, harus menjawab apa. Lagi-lagi, ia termakan omongannya sendiri. Gavin tahu, jika Ellea tak mungkin bisa jujur padanya. Entah apa yang Ellea sembunyikan darinya, karena Gavin belum memastikan semuanya sendiri. Ia ingin mendengar semua dari mulut Ellea.


"Jawab!" teriak Gavin sangat keras.


Ellea tak bergeming.


Tiba-tiba, Gavin melakukan cara kedua. Ellea tak mungkin bisa diam saja, jika Gavin melakukan cara ini. Gavin tiba-tiba menjatuhkan tubuh Elela di sofa. Gavin menindihnya, mungkin dengan cara seperti ini, Ellea mau jujur dan berkata padanya.

__ADS_1


"Aarrghhh, lepaskan, Gavin! Lepas!" Ellea meronta.


"Aku tak akan melepaskanmu, sampai kau jujur padaku!"


"Gavin, lepas! Aku tak ada urusan apapun dengan Papamu. Percayalah, kau salah informasi!" Ellea masih sanggup berkilah.


"Mana mungkin aku salah informasi, jika yang aku dengar adalah ucapanmu sendiri. Katakan, atau aku akan membuka semua pakaianmu, dan membuatmu mendesah sampai menangis!" Gavin benar-benar mengancam Ellea.


"Tidak, jangan lakukan hal gila itu! Sungguh, aku tak siap! Lepaskan, aarrrgghh! Aku memang menikah denganmu, tapi aku tak ingin melakukan itu! Aku takut, kau dan aku tak akan bertahan lama. Lepaskan, Gavin, lepas!" Ellea meronta-ronta, ia benar-benar ketakutan melihat Gavin yang terlihat marah.


Gavin tak mendengarkan ucapan Ellea. Ia merobek dress Ellea hingga dadanya terbuka, dan hanya terlihat penutup buah dadanya. Ellea tak menyangka, jika Gavin akan se-arogan ini padanya. Ellea takut, ia belum siap melakukan hal itu lagi, apalagi ... dengan paksaan seperti ini.


"Aaarggghh, brengsek! Lepaskan!" Ellea mencoba meraih tangannya, untuk menutup kedua buah dadanya yang terlihat oleh Gavin.


"Aku akan menghentikan semua ini, jika kau jujur dan tak menyembunyikan semuanya!" Gavin mulai terpancing.


"Jangan, b@jingan! Lepas!"


"Kenapa? Apa salah jika aku memperk0sa istriku sendiri? Hahaha, silakan saja kau sembunyikan semua ini dariku. Saat kau menjerit dan menangis, kau pasti tak akan tahan, dan akan jujur padaku."


Gavin tak memedulikan Ellea yang mulai mengeluarkan air matanya. Gavin malah bertindak lebih arogan lagi. Gavin membuka penutup dada Ellea, hingga gundukan dada itu terlihat nampak jelas di mata Gavin. Ellea benar-benar malu bukan kepalang. Ia tak siap, sungguh tak siap.


"Gavin brengsek! Lepas!"


Gavin tak mengindahkan ucapan Ellea. Ia malah mendekatkan wajahnya pada buah dada Ellea. Secepat kilat, Gavin memainkan buah dada Ellea dan menghis@pnya berkali-kali. Gavin terus membuat Ellea meringis, dan berharap Ellea akan memohon ampun padanya.


"Begini? Aku harus menciumi dadamu seperti ini? Apakah enak, sayang?"


"Aaaaah, lepas sialan! Kurang ajar sekali, kau!"


"Katakan, atau akan kubuka seluruh dress mu dan membuatmu lebih menangis lagi!"


"Mmhhh, jangan! Hentikan." Ellea menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis.


"KATAKAN!" Gavin sudah tak tahan lagi dengan mulut bungkam Ellea.


Aku takut ... aku takut hubunganmu dengan Papamu jadi tak baik. Kau tak perlu ikut campur. Biarkan aku bekerja sendiri dan menghancurkan Papamu dengan kedua tanganku. Kau tak boleh ikut menghancurkan Papamu. Dia pasti akan kecewa padamu. Itu yang aku takutkan. Inilah alasan aku tak jujur padamu. Tapi, melihatmu berlaku kasar seperti ini padaku, haruskah aku jujur dan mengatakannya? Batin Ellea yang terus berlinang air mata.


"Papamu ... adalah orang yang membuat keluargaku bangkrut, hingga aku menjadi pel@cur, dan tidur denganmu di malam itu!" Akhirnya, Ellea memutuskan untuk jujur, dan ... Gavin pun sangat tercengang.


Gavin menghentikan kegiatannya mengh1sap buah dada Ellea. Ia shock, mendengar penjelasan Ellea.


"Benarkah begitu?" tangan Gavin mendadak gemetar. Jantungnya seakan dipompa begitu cepat. Ia tak mampu mendengar kejujuran yang Ellea lontarkan.

__ADS_1


.........


*Bersambung*


__ADS_2