
“Siapa yang bisa kuandalkan untuk membuat semuanya berjalan lancar? Haruskah aku berkata pada Gavin? Aku tahu, Gavin pun sebenarnya pasti telah mengetahui tentang Ayahnya. Hanya saja, dia pura-pura tak tahu, agar Gavin tak terlibat dan tak terbawa-bawa,” Ellea berbicara sendiri.
Ella sadar. Jika Gavin pun kini sayang akan jabatan tingginya. Jika Gavin membantunya, otomatis jabatan dan semua harta Gavin akan lenyap begitu saja. Apalagi, menjatuhkan Jordan, ternyata tak semudah yang Ellea bayangkan.
Lagi-Lagi, Ellea tahu, jika ternyata Jordan telah memiliki banyak kaki tangan dan penegak hukum yang berpihak padanya. Sulit rasanya menemukan orang yang bisa mengadili Jordan dengan baik. Tapi, orang di muka bumi ini sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya. Dari sekian banyak orang yang berada di samping Jordan, pasti ada saja yang tak menyukainya dan ingin menghancurkannya.
“Mungkin, aku harus bisa menemukan orang yang memang ingin menghancurkan Jordan dan begitu membencinya. Kurasa jika aku bisa bekerja sama dengan orang yang satu tujuan denganku, maka aku akan mudah menghancurkan Papa Gavin.” Ucap Ellea berbicara sendiri.
Tanpa Ellea sadari, tenyata Gavin tengah berada dibelakangnya. Gvain mendnegar ucapan Ellea. Gavin bisa memahami, jika Ellea benar-benar begitu membenci Papa Gavin. Apa daya Gavin, dua-duanya adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Gavin mencoba untuk mencari jalan keluar untuk menuntaskan semuanya, Hanya saja, usaha Gavin memang terkesan sangat lambat dan menunjukkan progres yang kurang baik.
Langkah kaki Gavin begitu pelan, ia sengaja mengagetkan Ellea dari belakang agar Ellea tak sadar, bahwa sebenarnya Gavin tengah menguping ucapannya sendiri. Sebenanrya, ada hal yang Gavin tahu, yang ia sembunyikan dari Ellea akhir-akhir ini. Jika saja Gavin melakukannya dari awal, mungkin semuanya akan terasa mudah.
“Dor!” Gavin mengagetkan Ellea.
Ellea berbalik, “Astaga Gavin! Kenapa kau tak bilang jika masuk ke kamarku?”
“Aku sengaja, ingin mengagetkanmu, Ellea.” Gavin terkekeh.
“Kau tak sopan masuk ke kamar orang lain tanpa mengetuk pintu.” Tegas Ellea.
“Mengetuk pintu kamar milik istri sendiri, tak ada salahnya kan?” Gavin terkekeh.
“Status kita kan berbeda, bukan seperti pasangan suami istri pada umumnya.” Jawab Ellea.
“Lalu, aku harus bagaimana agar istriku menganggap bahwa aku ini adalah suami sungguhannya?” Gavin memancing Ellea.
__ADS_1
Hmm, kurasa kau tak akan bisa menjadi suami sungguhan bagiku. Karena kau pun tak yakin dengan hubungan kita. Apalagi, mengetahui bahwa sebenarnya kau juga tahu perilaku Papamu, kau memang menutupinya. Batin Ellea.
"Kenapa diam?" tanya Gavin lagi.
"T-tidak apa-apa. Kau belum mendapat predikat suami, dan menjadi suami sungguhan bagiku. Kau harus buktikan padaku, jika kau memang benar-benar layak untuk mendampingiku, dan berada di sampingku!" tegas Ellea.
Gavin terdiam. Ia menyeringai. Gavin mulai tahu, ke mana arah pembicaraannya akan berlanjut. Ini adalah langkah terakhir untuk memberikan jackpot pada Ellea, dan membungkam mulut Ella, Gavi menatap Ellea begitu tajam, namun masih ada senyuman manis yang menghiasi wajahnya pada Ella. Tiba-tiba, Gavin memegang tangan Ellea, hingga membuat Ellea kaget, dan tak menegrrti apa maksud Gavin.
“A-apa maksudmu?” Ellea menatap tangannya yang dipegang Gavin.
“Duduklah, aku ingin berbicara serius padamu.” Gavin menarik tangan Ellea, dan membawa Ellea menuju sofa di kamarnya.
Ellea tetap fokus menghadap Gavin. Ia sedikit bingung dengan perlakukan Gavin kali ini. Ada yang aneh, yang Ellea rasakan kali ini. Ia masih tak paham, apa yang Gavin inginkan, sehingga Ellea malah terdiam terpaku karena perlakuan Gavin saat ini.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Ellea gugup.
“Ya, mana kutahu! Kau pikirkan saja sendiri, kenapa harus bertanya padaku?” Ellea mengangkat bahunya.
“Baiklah, aku akan memikirkannya, lima menit dari sekarang! Setelah aku tahu jawabnya, tentu saja aku akan langsung katakan padamu!” ucap Gavin.
“Ahh, terserah kau saja lah.” Balas Ellea.
Gavin menatap Ellea untuk yang kedua kalinya, tatapan ini lebih tajam dari tatapan yang pertama. Gavin sebenarnya sudah gatal dengan apa yang ia ingin katakan. Ia hanya mencoba menjebak Ellea untuk masuk pada perangkapnya. Saat Gavin tengah menemukan momen yang pas, dia pun mencoba untuk melakukan semuanya.
“Aku tahu, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menjadi suami yang layak untuk berada di sampingmu! Hal ini, terlepas dari harta dan kekayaanku. Karena aku yakin, bukan harta yang kau inginkan.” Jawab Gavin.
__ADS_1
“Lalu apa?” tanya Ellea.
“Mungkin aku kurang sigap untuk menangani semua ini. Tapi percayalah, karena aku memiliki alasan untuk hal ini. Kau bisa memercayai aku, dan mempertimbangkan, apakah aku layak untuk menjadi suami idamanmu?”
“Maksudmu?” Ellea tak mengerti.
“Ya, aku juga tahu baru-baru ini, setelah aku menyadari, ada sesuatu hal yang aku lupakan, dan ternyata mengganjal dalam kehidupan kita selama ini.”
“Apa sih? Kau tak jelas sekali!” Ellea mulai bosan bertanya.
“Sebenarnya, aku bukan berusaha melindungi Papaku, Ellea. Aku hanya tak tahu, jika pekerjaan Papa itu ilegal. Dulu aku belum memahami, apa maksudnya semua perlakuan Papa. Karena itulah, aku diam saja dan seakan mengikuti alur yang telah dia buat. Aku tak tahu, jika keluargamu juga menjadi korban keserakahan Papaku. Maafkan aku yang mengetahui semua ini begitu terlambat. Ellea, aku tahu, hatimu sudah begitu bulat untuk menghancurkannya. Aku juga sadar, karena aku adalah anak Jordan, kau jadi tak bisa mengatakan semua ini padaku, bukan?”
Ellea kaget. Gavin tahu darimana semua itu? Apa sejak tadi Gavin mendengarkan Ellea yang berbicara sendiri? Tak mungkin, karena jika Gavin mengupingnya, Gavin pasti akan sangat emosi, dan bukan terlihat diam saja seperti sekarang ini.
“K-kenapa kau berbicara seperti itu, ha? Apa yang kau tahu?” Ellea melotot kaget.
“Tak banyak yang aku tahu, hanya saja sekarang ini aku ingin mencoba menjadi suami yang layak untuk istrinya. Maafkan aku, yang sangat lambat. Aku tahu, aku memang belum berpikir sangat matang untuk masalah ini. Aku kira, masalah ini akan reda dengan sendirinya. Hanya saja aku sedikit kecewa, ketika orang yang kupercaya, ternyata tak memercayaiku juga. Padahal sejak kita bertemu kembali, pandanganku tak lepas darimu.” Ujar Gavin jujur.
“K-kecewa? Kecewa apa? Apa maksudmu? Sejak tadi kau selalu berbuat teka-teki saja. Aku tak mengerti, dan aku sendiri tak tahu, apa maksud dari semua ucapanmu.” Ujar Ellea sedikit kesal.
“Kenapa kau dan Aaron harus bekerja sama dibelakangku? Apa kau benar-benar tak bisa memercayaiku, Ellea? Bukan berarti karena aku anak Jordan Alexander, aku akan memilihnya dan memihak padanya. Aku juga memiliki otak dan pikiran. Aku tak akan semudah itu memutuskan. Aku kecewa, karena kalian seakan menusukku dari belakang. Aku pun tak diam, Ellea. Aku tengah bertindak dalam diam. Kau terlalu tergesa, dan tak percaya padaku. Aku marah, tapi aku tak bisa meluapkan marahku. Berarti, mulai saat ini, haruskah aku melakukannya secara terang-terangan agar kau percaya padaku? Bahwa aku pun sebenarnya telah berbuat sesuatu?” Gavin benar-benar meluapkan kekesalannya.
“K-Kau, tahu dari mana semua ini?” Ellea sangat kaget.
“Maaf, semenjak kepergian Aaron, aku menyadap ponselmu. Aku mencari tahu, apa yang akan kau lakukan. Aku kira, karena Aaron tak ada, aku akan kehilangan berita tentangmu. Ternyata, kau lebih percaya pada Aaron daripada percaya padaku. Apa aku benar-benar harus secara terang-terangan menunjukkan semua itu padamu? Apa kau tak akan tercengang, jika tahu apa yang telah aku lakukan pada Papaku sendiri?”
__ADS_1
“G-Gavin, d-dengarkan aku. Maafkan aku, b-bukan seperti itu maksudku,” Ellea tak akan menyangka, jika Gavin akan semarah ini.
*Bersambung*