
Aku takut ... aku takut hubunganmu dengan Papamu jadi tak baik. Kau tak perlu ikut campur. Biarkan aku bekerja sendiri dan menghancurkan Papamu dengan kedua tanganku. Kau tak boleh ikut menghancurkan Papamu. Dia pasti akan kecewa padamu. Itu yang aku takutkan. Inilah alasan aku tak jujur padamu. Tapi, melihatmu berlaku kasar seperti ini padaku, haruskah aku jujur dan mengatakannya? Batin Ellea yang terus berlinang air mata.
"Katakan, Ellea! Kau benar-benar ingin aku sentuh dengan kasar. Iya?" Gavin terus mengancam.
Ellea menggeleng sambil terisak. Gavin memang menakutkan, jika ia sedang marah seperti ini. Bukan tak mungkin Ellea akan mengatakannya, tapi Ellea bingung, harus bagaimana. Ada hal yang ia takutkan, jika Gavin tahu tentang semua ini.
Haruskah aku benar-benar mengatakannya? Batin Ellea.
"Ellea!" Gavin memeras buah dada Ellea dengan keras, hingga Ellea melenguh kesakitan. "Aaaa, cukup, hentikan!"
Ellea menghela napas panjang, mungkin ia tak bisa menutupi apapun dari Gavin. Kini, sudah waktunya Gavin tahu, dan ... entah apa yang akan ia lakukan, jika mengetahui semua ini.
"Mmmmh, c-cukup! P-Papamu ... adalah orang yang membuat keluargaku bangkrut, hingga aku menjadi pel@cur, dan tidur denganmu di malam itu!" Akhirnya, Ellea memutuskan untuk jujur, dan ... Gavin pun sangat tercengang.
Gavin menghentikan kegiatannya pada buah dada Ellea. Ia shock, mendengar penjelasan Ellea. Gavin menatap Ellea tanpa berkedip. Ia masih tak bisa menangkap dengan jelas, apa yang Ellea bicarakan.
"Benarkah begitu?" tangan Gavin mendadak gemetar. Jantungnya seakan dipompa begitu cepat. Ia tak mampu mendengar kejujuran yang Ellea lontarkan.
Ellea mengangguk cepat. Air mata masih membasahi pipinya. Gavin membangunkan Ellea dan menyandarkannya di sofa. Gavin membuka jas miliknya, ia menutupi badan Ellea yang setengah tel@njang. Gavin mulai mencerna setiap ucapan Ellea. Tak mungkin, Ellea berbohong. Gavin percaya pada Ellea, tapi Gavin, juga sangsi, apakah Papanya memang orang seperti itu?
"Apa yang dia lakukan pada keluargamu, Ellea? Kau tak perlu menutupinya padaku. Aku sungguh tak mengetahui hal ini. Kau bisa katakan padaku sebagai suamimu, bukan sebagai anak Papaku." Gavin mencoba menenangkan ketakutan Ellea.
Sebenarnya, Gavin tak bermaksud menyakiti Ellea. Gavin hanya mengancam Ellea saja. Tapi, nyatanya ia terbawa emosi juga. Gavin kelepasan melakukan hal gila itu. Ia tak sangka, tangannya mampu merobek dress Ellea dan mencumbu Ellea dengan ganasnya.
"Ellea, katakan padaku. Apa yang terjadi padamu? Jelaskan sejelas-jelasnya, agar aku bisa menentukan sikap atas semuanya." Gavin meyakinkan Ellea.
Haruskah Ellea ceritakan tentang kehidupannya yang dulu? Haruskah Gavin mengetahuinya sekarang? Andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya Ellea pergi meninggalkan semua luka yang ada. Andai kejadian itu tak pernah terjadi, mungkin Ellea sudah menjadi wanita karir yang cerdas dan disegani oleh semua orang.
.........
__ADS_1
Flashback 8 tahun lalu ....
Masa ini, adalah masa-masa kesulitan seorang Hendrick Patrice, ia adalah pemilik Perusahaan Patrice grup. Perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dan perhotelan ini, terancam gulung tikar, karena beberapa saham dan investasi mereka ditarik tiba-tiba.
Niat hari menjalankan kerja sama dengan pemilik Louvre gallery, nyatanya Hendrick ditipu besar-besaran. Penandatanganan berkas dengan pemilik Louvre grup, ternyata bukan tanda tangan kerja bersama, melainkan tandangan akuisisi perusahaan secara permanen.
Saat perebutan kekuasaan itu terjadi, Ellea masih duduk di bangku kuliah. Hari di mana hancurnya Patrice grup, adalah hari di mana Ellea melihat Ayahnya bertekuk lutut pada Jordan dan Donny, sang adik. Betapa menyakitkannya ketika hari itu berlangsung. Ellea melihat Ayahnya tak memiliki kuasa, karena semua hartanya telah jatuh ke tangan Donny.
"Tuan, kumohon Tuan. Anakku masih kuliah, anakku juga masih kecil.Jangan biarkan hal ini terjadi. Apa salahku? Perusahaan yang telah aku rintis sejak dulu, kenapa harus kalian ambil? Jika kalian meminta bagian, aku pasti akan memberikannya. Kumohon, jangan lakukan hal ini. Ini sangat tidak manusiawi. Aku benar-benar percaya padamu, tapi kenapa kau tega seperti ini padaku?" Hendrick terus memohon memelas.
"Karena kau bodoh! Karena kau dengan mudahnya percaya padaku. Padahal, aku dan Donny sudah merencanakan semua ini. Kau ingin menuntut kami? Tuntut saja kami, tak akan ada yang percaya padamu, karena bukti nyata ini mengatakan, bahwa kau akan pensiun dan menyerahkan semua perusahaanmu pada adikmu! Kukira kai tak mudah dibodohi seperti ini Nyatanya ... terima kasih, atas perusahaanmu!" Jordan tertawa puas.
Hendrick hanya bisa menunduk lesu, ketika semuanya raib diambil oleh adiknya sendiri. Ellea melihat kejadian nahas itu, dan ia menangis di ujung pintu ruang kerja Ayahnya. Niat hati ingin mengajak Ayahnya makan siang bersama, Ellea malah mendapati kesakitan yang tiada tara, karena ulah Pamannya.
Ellea berlari meninggalkan ruangan itu. Ia tak sanggup untuk terus mendengarkan ucapan bengis Jordan dan Donny. Ellea meminta tolong pada polisi, namun polisi tak mendengarkan keluhan Ellea, karena Ellea dianggap menyebarkan berita bohong. Karena hak akuisis Patrice grup ke Winn grup sudah melalui jalur dan prosedur yang sah.
Padahal, Hendrick ditipu. Ayah Ellea benar-venar kena tipu daya Jordan dan Donny. Ellea tak bisa berniat apa-apa guna membantu Ayahnya. Ia hanya bisa menangis dan pulang ke rumahnya. Kejadian menyedihkan muncul lagi, saat keluarganya dan juga adik-adiknya diusir dari rumah besar mereka.
"Kau tak berhak lagi menginjakkan kaki di rumah ini. Semua tanah dan bangunannya sudah berpindah tangan. Cepat pergi, atau harus dengan kekerasan aku lakukan pada kalian?" ancam beberapa preman.
Ellea terus memberontak, namun ia tak cukup kuat untuk mengalahkan beberapa preman yang mengusir keluarganya. Benar-benar monster yang mengerikan. Ellea tak akan melupakan kekejaman Jordan dan Donny, yang telah menghancurkan keluarganya.
Karena kehancuran inilah, Ellea tinggal di rumah kecil dengan hutang yang menumpuk untuk membayar utang piutang Ayahnya. Hidup yang menyiksa, hidup yang menyakitkan. Jika tak melihat keluarganya, ingin rasanya Ellea membunuh dirinya. Ditengah kesibukan kuliahnya, ia terpaksa berhenti kuliah, dan membantu adik-adiknya untuk tetap bersekolah.
Hingga terjadilah kejadian kotor itu. Niat hati ingin menjadi wanita malam, Ellea malah tak sengaja tidur dengan Gavin. Walau memang Gavin pun memberi uang padanya, sebagai imbalan atas tubuhnya. Siapa sangka, Ellea malah hamil, dan orang tuanya mengusirnya. Padahal, niat Ellea baik dan benar-benar ingin membantu kedua orang tuanya.
Ia berjanji, jika kesempatan itu datang, Ellea akan menghancurkan Jordan dengan kedua tangannya.Inilah saatnya, ini saat yang tepat untuk membalaskan dendam yang selama ini ia pendam di hatinya. Tapi, jika melihat Gavin, rasanya Ellea berat untuk membalaskan dendam itu.
Flashback Off ....
__ADS_1
..........
Gavin mendengarkan dengan seksama apa yang Ellea ucapkan. Ia sendiri tak menyangka, jika hal itu akan terjadi. Dalang dibalik semua kejahatan itu jelas adalah Papanya sendiri. Ellea masih menitikkan air matanya. Namun, seorang Gavin pun tak mungkin dengan mudahnya menghancurkan Papanya sendiri, yang telah membuatnya berada di tempat setinggi ini.
"Selaku keluarga, aku meminta maaf padamu, Ellea. Aku baru tahu, jika Papaku melakukan hal gila itu pada keluargamu. Aku bingung, di satu sisi, dia juga lah orang yang membuatku berada di atas puncak kejayaan. Dia orang yang berjasa untukku, di satu sisi, dia bak penjahat yang menghancurkan harmonisnya sebuah keluarga, dan itu ... adalah keluargamu. Yang kini, menjadi keluargaku sendiri, yaitu kau ... tapi, jika semua itu tak terjadi, mungkin takdir akan berbeda lagi. Kau dan aku tak akan dipertemukan, kau dan aku tak mungkin bisa memiliki Daniel. Mungkin, ini memang remcana Tuhan. Tapi Ellea, atas nama Papaku, aku sangat memohon maaf padamu. aku merasa bersalah, karena menyakiti hatimu." Gavinmerasa kebingungan.
"Aku sudah tahu, kau pasti hanya meminta maaf," jawab Ellea.
"Aku akan mengembalikan semua pada tempatnya,"
"Aku tak ingin kekayaanku kembali. Aku hanya ingin Papamu merasakan penderitaan yang dulu keluargaku rasakan. Dan aku ingin, dia mendapat balasan dari semua perbuatannya. Aku ... sangat ingin menghancurkannya, karena aku ... sangat muak pada, Papamu!" Ellea tak bisa basa-basi lagi.
Gavin tak mungkin, mau menjatuhkan Papanya sendiri. Secara realistis saja, mana ada anak yang mau orang tuanya terkena masalah lalu memenjarakannya? Gavin berpikir, ia harus mempunyai cara lain untuk mengembalikan semuanya pada posisi yang seharusnya. Ia harus menjaga hati Ellea, agar tak tersakiti nantinya.
"Ellea, kau tak perlu dendam pada Papaku. Aku akan mengembalikan semua aset dan kejayaan keluargamu. Kau akan kembali hidup tenang, dan bahagia bersama mereka. Ellea, jangan gegabah, Papaku orang yang kuat, dia tak akan dengan mudahnya jatuh, sekalipun kau menghancurkannya. Jangankan kepercayaannya, polisi dan petinggi negara pun, ada yang bekerja sama dengannya. Dengarkan aku, alih-alih kau ingin keadilan dan memenjarakannya, bagaimana jika tuduhan malah berbalik untukmu? Kau harus hati-hati, Ellea. Papaku bukan orang yang mudah. Aku begini, bukan karena aku membela Papaku, tapi karena aku mengkhawatirkan kau, Ellea. Jangan bertindak ceroboh, kumohon ... ikuti saja aku, aku akan mengembalikan semuanya. Aku berjanji padamu," Gavin meyakinkan Ellea.
"Aku sudah tak ingin semua itu kembali. Sekarang, aku hanya ingin si musang licik Jordan Alexander itu, menderita, dan merasakan apa yang dulu keluargaku rasakan. Aku hanya ingin, membalaskan dendamku, karena aku ... akan puas, jika melihatnya tersiksa!" wajah Ellea tiba-tiba berubah sangar.
"Kau tak akan bisa, Ellea, kau tak akan bisa. Kumohon, jangan gegabah, kau menyakiti dirimu sendiri dengan seperti itu." Gavin terus memohon.
"Rupanya, kau menyayangi Papamu. Jika seperti itu, lebih baik aku hancurkan saja kalian semua. Bukankah itu pilihan yang bagus? Kita lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan pada keluargamu!"
Ellea beranjak dari duduknya, ia mengancingkan jas Gavin yang menempel ditubuhnya. Ellea akan keluar dari kamar hotel itu, karena Ellea sudah cukup mendengar penjelasan Gavin.
Tiba-tiba, saat Ellea beranjak pergi meninggalkan Gavin, Gavin memeluknya dari belakang. Ellea kaget, karena Gavin jadi melow seperti ini. Hal yang tak ingin Ellea lakukan, adalah melakukan hal romantis seperti ini bersama Gavin. Ellea takut dirinya terbuai, akan sentuhan yang Gavin berikan.
"Lepas! Aku harus pergi!"
"Tunggu, jangan gegabah ... aku akan memikirkan semua yang terbaik untukmu, dan juga Daniel. Kau jangan mengira aku melindungi Papaku. Jujur, aku tak melindunginya, aku justru melindungi kau, Ellea. Kumohon, dengarkan aku. Jangan ceroboh, kita pikirkan jalan keluar masalah ini. Aku memihak padamu, tapi aku tak bisa bertindak semudah itu untuk menghancurkan Papaku sendiri. Jika dia hancur, namaku juga akan hancur. Jika orang lain tahu, perusahaanlu akan mati juga. Dan aku tak ingin itu terjadi. Aku juga harus memikirkan masa depan Daniel, anakku. Ellea, ikuti caraku ... tenang dan jangan memutuskan semuanya sendiri. Aku sudah mengenal Papaku seumur hidupku, dan kuharap ... kau mau mendengarka nucapanku, karena aku ... tak ingin kau terluka. Karena aku juga, berharap padamu ... bahwa suatu saat nanti, kita bisa bersama membangun rumah tangga yang nyata dan seutuhnya. Kini, aku mulai jatuh padamu Dan hatiku, ingin memilikimu, Ellea ... So please, jaga dirimu, untukku. Perlahan, tapi pasti. Aku yang akan bekerja keras menuntaskan semuanya. Percayalah padaku ... demi kita, demi kebahagiaan kita, Ell ..." Gavin menciumi pundak Ellea, ia merasakan hangat, dan berharap, hati Ellea akan luluh dengan semua ucapannya.
__ADS_1
*Bersambung*