
Akhirnya sampai juga di rumah suamiku, rumah minimalis sederhana dua lantai berjejer dengan beberapa rumah yang serupa lainnya, tapi bagiku rumah seperti ini sudah lebih dari kata bagus. Rumah ini terletak di perumahan yang tak jauh letaknya dengan rumah mertuaku.
Ketika aku turun dari mobil, ku amati sebentar rumah yang kedepannya akan menjadi tempat tinggalku bersama suamiku itu. Sementara suamiku, mas Dipta, dia sedang menurunkan beberapa barang dari bagasi mobil.Ada beberapa orang di luar rumah yang mengamati kedatangan kami, kurasa mereka adalah para tetanggaku.
" Selamat sore pak Dipta, sudah mulai pindah ke sini?" Sapa salah satu bapak tetangga yang letaknya paling dekat dengan rumah kita, dia menghentikan aktifitasnya mencuci mobil karena ingin menyapa kita.
" Selamat sore juga pak Ardi. Iya pak, mulai malam ini kita sudah tinggal di sini" jawab mas Dipta, dia memurunkan koper terakhir dari bagasi.
" Ini istrinya ya?" Tanya pak Ardi sambil berjalan mendekati kita.
" Ah iya, kenalkan pak, istri saya Kania" jawab mas Dipta. Aku tersenyum pada pak Ardi sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
" Ada yang perlu di bantu gak nih?" Tanyanya setelah usai menjabat tanganku sambil melirik beberapa barang yang berada di samping mobil.
" Tak perlu pak, biar kami saja. Ini gak banyak kok" jawab mas Dipta dengan senyum. Pak Ardi menganggukkan kepalanya dengan tersenyum juga.
" Kalo begitu kami masuk dulu ya pak" pamit mas Dipta sambil menyeret dua koper di tangan kanan dan kirinya. Aku sendiri juga menyeret koperku sendiri mengikuti mas Dipta setelah menganggukan kepala pada pak Ardi bermaksud pamit.
" Ya sudah, pengantin baru emang pengennya berduaan mulu.." seloroh pak Ardi bermaksud bercanda dan di sambut tawa mas Dipta. Aku hanya menanggapi dengan tersenyum. Huh, seandainya memang begitu pak. Batinku miris.
Setelah mas Dipta membuka pintu dan kami masuk, aku mengamati seluruh ruangan dalam rumah itu. Di lantai ini ada ruang tamu, ruang makan yang menyambung dengan dapur dan 2 kamar tidur.
__ADS_1
" Aku memakai kamar yang itu, kamu bisa memakai kamar yang sebelahnya atau yang atas" ujar mas Dipta menunjuk kamar yang dekat dengan ruang tamu, kamar yang lebih besar dari kamar yang satunya. Dia kembali ke mode datarnya. Ya begitulah mas Dipta kalo cuma ada kita berdua, datar dan terkesan irit bicara.
" Aku kamar yang di atas saja mas" putusku sambil menyeret koper ke lantai atas.
Ruangan di lantai atas ini cukup nyaman, ada sebuah sofa panjang dan televisi di depan kamar yang bakal jadi kamarku. Ku buka pintu kamar, dan memindai sebentar. Kamar yang lebih besar dari kamar kostku sebelumnya dan kamarku yang ada di kampung.
Sebuah kasur dengan dipan terlihat cukup nyaman. Sebuah lemari yang tak terlalu besar, dan sebuah meja lengkap dengan kaca yang menempel di dinding. Tak ada meja belajar, yah belajar bisa di mana saja. Kenapa meja belajar, karena aku sendiri masih kuliah. Ku buka pintu kamar mandi untuk melihatnya, tak ada bak mandi, di sana hanya ada kran shower yang menggantung dan sebuah kloset duduk. Kamar mandi itu bahkan lebih bagus dari kamar mandi yang ada di kostku.
Aku kembali melangkah ke samping dipan, di sana ada sebuah jendela yang kemudian ku buka lebar2 untuk mengusir rasa sumpek di dada juga untuk mengganti udara di dalam kamar meski di dalam kamar ada sebuah ac. Aku lebih memilih angin alami seperti ini, mungkin karena terlahir di kampung menjadikanku tak betah lama-lama di ruangan ber ac.
Aku mendaratkan bokongku di pinggir kasur sambil menikmati angin semilir perkotaan yang tak terasa sama sekali hawa sejuknya itu.
Ayahku wafat di saat aku kelas 1 SMK meninggalkan 2 anak dan 1 istri. Perekonomian keluarga terguncang dan sempat morat marit mengingat ayah yang tulang punggung keluarga. Karena tak ingin terpuruk begitu dalam, akhirnya ibu bangkit membuka jasa laundry di rumah dengan sisa uang peninggalan ayah di tambah mengajukan pinjaman di bank.
Aku sendiri yang sedikit punya ketrampilan di bidang patiseri mengingat jurusan di sekolahku, sering membantu di rumah bibiku yang mengelola jasa katering. Meski upahnya tak banyak membantu, namun setidaknya uang saku dan ongkos ke sekolah aku tak lagi meminta pada ibu.
Lulus sekolah aku tak langsung melanjutkan pendidikanku. Aku mengadu nasib ke ibukota berbekal ijazah SMK bersama seorang anak tetangga yang lebih dulu bekerja di sana. Dengan pegalamanku di katering, dan memang jurusan sekolahku di tata boga, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran yang menyajikan menu-menu itali. Aku menjadi juru masak di sana, meski sebelumnya aku harus menjalani training terlebih dulu.
Berbekal uang gajiku selama setahun di restoran itu, aku akhirnya mendaftar di sebuah universitas swasta yang biayanya masih bisa terjangkau sesuai kemampuanku. Dan kabar baiknya lagi, setelah aku konsultasi dengan pihak manajemen resto, aku masih bisa bekerja di restoran itu meski hanya bisa shift sore saja kecuali weekend yang memang kuliahku libur.
Namun realita tak sesuai dengan ekspektasiku. Ku kira setelah itu, semua akan berjalan dengan lancar dan tak ada hambatan. Setelah berjibaku dengan kuliah dan bekerja selama satu setengah tahun seperti tak ada lelahnya, aku mendapat kabar dari rumah bahwa ibu sakit. Raga tua beliau seperti tak sanggup lagi menahan beban hidup.
__ADS_1
Aku menangis mendengar penuturan adikku, bahwa sebenarnya ibu sudah sakit selama satu tahun belakangan ini. Namun karena beliau ingin aku fokus mengejar cita2, beliau melarang adikku untuk memberitahuku. Semakin trenyuh lah hatiku, hari itu juga aku berangkat pulang kampung dengan kereta malam. Pagi, begitu aku sampai, aku langsung menuju rumah sakit tempat ibuku di rawat.
Di sana kulihat ibuku terbaring lemah dengan selang infus yang terhubung ke tangan kurusnya. Mataku berkaca-kaca tak kuasa menahan dadaku yang begitu sesak melihat raga ibuku yang semakin kurus dari terakhir kali kulihat. Beliau tersenyum melihatku yang berjalan pelan menghampirinya.
" Baru sampai nduk?" Tanyanya, aku langsung memeluk tubuh ringkihnya dan tangisku pecah tak lagi mampu ku tahan.
" Ssh..ssh...sudah sudah, ibu ndak papa. Bentar lagi juga sembuh kalo di pake istirahat" ibu menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku. Betapa mirisnya, seharusnya diriku yang menghibur beliau tapi beliau begitu tabah dan malah menghibur diriku. Buru-buru ku usap air mataku, dan mencoba tersenyum.
" Ibu...ibu yang tenang ya, tak perlu berpikir macam-macam. Ibu harus sembuh!" Ujarku setelah menguatkan hatiku. Ibu menjawab dengan senyuman dan mengelus kepalaku.
Di ruangan yang terdiri dari beberapa pasien itu, adik dan bibiku terlihat ikut menitikkan air mata melihat adegan aku dan ibu yang saling menghibur.
" Kanker usus mbak...dan harus di operasi. Mungkin biaya operasi bisa kita gadaikan atau jual rumah. Tapi biaya pengobatan setelah operasi, uang dari mana mbak?" Adikku mengadu padaku dengan berurai air mata. Saat ini kita berada di taman dekat ruang rawat ibukku. Bibi sedang menunggu ibuku.
Otakku langsung ngeblank, dadaku terasa sesak. Padahal kita sedang di luar ruangan, akan tetapi udara seakan tak cukup untuk ku hirup. Pandanganku hilang fokus, dan pendengaranku seakan tuli sejenak hingga panggilan demi panggilan dari adikku mengembalikan kesadaranku.
" Mbak...mbak Nia, apa yang akan kita lakukan? Mbak Nia..." adikku menangis tergugu, aku memeluknya dengan air mata yang telah menganak sungai.
" Dek, sudah dek...jangan menangis! Soal biaya biar mbak yg pikirkan. Adek hanya harus menemani ibuk dan sekolah yang rajin ya" jawabku menghibur adikku. Dia baru kelas 3 SMP, dan sudah mempunyai pikiran yang seperti orang dewasa.
" Mbak Nia punya uang?" Tanyanya lagi, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Padahal aku sendiri bingung, uang dari mana.
__ADS_1