Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Berpura-pura juga butuh tenaga


__ADS_3

Rasa panas menjalar di kedua mataku, aku mengerjap demi mengusir air mata yg akan menggenang. Dengan suara bergetar aku mencoba bertanya apa alasannya.


"Kenapa?" Tanyaku. Ku rasa apabila aku melihat matanya, hatiku akan sakit dan tak kuasa menahan air mata. Maka ku putuskan untuk tak menatapnya.


"Kita hanya terpaksa menjalani ini semua Nia. Tak ada hati diantara kita. Ku rasa lebih baik kita tak perlu ikut campur urusan pribadi. Mari kita melanjutkan hidup masing2 meski kita suami istri." Jawab mas Dipta, dia duduk di depanku, bahkan sedang menatapku. Namun aku malah tak berani mengangkat wajahku. Air mataku benar2 sudah di pelupuk mata. Aku buru2 berpaling untuk menghapusnya.


"Apa mas Dipta punya kekasih?" Tanyaku lirih. Mas Dipta tak menjawab, berganti dengan ******* panjang napasnya. Ya...tak perlu di jawab mas, aku bahkan sudah tahu tanpa kamu menjawabnya.


Sore itu kami jadi pindah. Tak ada percakapan selama perjalanan kami menuju rumah baru. Pandanganku terus menatap keluar melalui kaca jendela. Banyak sekali yg ku pikirkan. Tentang mas Dipta tentunya.


Kenapa dia mau saja di jodohkan denganku saat dia sendiri punya kekasih? Kenapa tak menolak saja? Apa mama Ratna tak menyukai gadis itu? Lalu apa yg di sukai mama Ratna dariku? Siapa sebenarnya gadis itu? Seperti apa orangnya?


Banyak sekali pertanyaan namun tak mampu ku utarakan.


Dan di sinilah sekarang aku berada, di rumah baru kita. Rumah yg katanya adalah tempat kita menemukan kebahagiaan namun sekarang aku menyangsikan kata2 itu.


Aku keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah ketika hari sudah gelap. Suasana di lantai bawah begitu sepi. Ku lihat pintu kamar yg di pakai mas Dipta tertutup.


Tujuanku adalah ke dapur, untuk mengisi perut malam ini, aku hanya tinggal memanasi lauk yg tadi di bawakan oleh mama Ratna. Nanti selesai makan aku berencana keluar, ku lihat tadi selama perjalanan ke sini, di luar komplek perumahan ada mini market yg biasa buka sampai malam.

__ADS_1


Selesai memanasi lauk dan sayur aku menghampiri pintu kamar mas Dipta. Ku ketuk perlahan, namun tak ada reaksi dari dalam kamar.


"Mas..mas Dipta. Mau makan sekarang atau nanti? Itu sayurnya udah aku panasi." Panggilku dengan kencang. Takutnya tak terdengar sampai ke dalam kalo cuma pelan. Tak ada jawaban, aku pun tak berani asal masuk ke dalam kamarnya. Maka aku putuskan untuk makan duluan saja. Sampai aku selesai makan dan beberes piring kotorpun, kamar mas Dipta belum juga terbuka.


Pintu kembali ku ketuk.


"Mas, mas Dipta di dalem? Aku mau keluar bentar ke mini market depan, mas Dipta mau nitip apa?" Kembali suaraku ku kencangkan sambil sesekali menggedor pintu. Namun tetap sama, tak ada jawaban. Heran, kemana sih dia. Tidur apa pingsan? Kalo pergi, sepertinya tak mungkin, mengingat mobil masih ada di garasi.


Ya sudah, mungkin dia tertidur. Biarkan sajalah dia istirahat. Aku kemudian keluar, mengunci pintu dari luar dan pergi berjalan kaki. Beberapa kali sempat berpapasan dengan para tetangga, setiap itu pula mereka menyapa dan memanggilku sebagai bu Dipta. Rupanya kedatanganku ke komplek perumahan mereka sudah menyebar ke seluruh penghuni perumahan. Kabar dari mulut ke mulut kemudian berlanjut ke watsap grup memang tak di ragukan lagi kecepatan beritanya.


Sekembalinya aku dari mini market, ku lihat kembali kamar mas Dipta yg belum terbuka. Makanan di meja makan pun sama sekali belum di sentuhnya. Aku jadi khawatir, apa mungkin mas Dipta di dalam kamar pingsan? Jatuh di kamar mandi mungkin, tergelincir karena lantai licin. Aku gedor lagi pintu kamarnya sambil meneriakkan namanya. Merasa tak ada jawaban, akhirnya aku memberanikan diri memutar kenop pintu. Ternyata tak terkunci, aku masuk dengan menajamkan pandangan. Pasalnya kamar itu gelap, lampu belum di nyalakan. Ku raba2 tembok sisi kiri untuk mencari saklar lampu, setelah ketemu aku memencetnya dan seketika ruangan itu terang menyilaukan mata.


"Mas...mas Dipta tidur?" Tanyaku pelan, namun tetap tak ada jawaban. Perlahan ku buka selimut itu. Dan nampaklah wajah mas Dipta yg memejamkan mata. Hmm...pantesan di panggil2 gak denger, headset menyumpal di.kedua telinganya. Tapi tunggu...kenapa wajah mas Dipta penuh dengan keringat gitu? Dan kalo di lihat lebih lama lagi, dia juga nampak pucat.


"Mas Dipta, mas Dipta sakitkah?" Namun percuma aku bertanya, mas Dipta tetap tak bergeming. Dengan ragu2, aku menyentuh dahinya dan ku rasakan begitu panas. Ku sibak seluruh selimut yg menutupi tubuhnya, ku lihat baju yg di pakai mas Dipta basah kena keringat dinginnya. Pergerakan2 yg ku buat ternyata membuat mas Dipta terusik, dia terbangun dan melepas headset yg di pakainya.


"Kamu sedang apa disini?" Tanyanya melempar asal headsetnya ke arah samping.


"Mas Dipta lagi sakit. Bangunlah, ganti bajumu mas. Ayo ke dokter!" Ajakku, tapi di acuhkan olehnya. Dia malah menarik selimut dan menutup tubuhnya lagi. Ya ampun...dia bahkan bersikap seperti anak kecil yg sedang ngambek. Ku sibak lagi selimutnya, dia terlihat terkejut dan nampak marah.

__ADS_1


"Pergilah, aku hanya butuh istirahat!" Ucapnya sedikit berteriak.


"Baik, aku akan pergi. Tapi ganti baju mu itu mas. Baju mu basah, akan semakin parah sakitmu kalo tidur dengan baju basah."


Akhirnya aku keluar, tidak untuk meninggalkannya. Aku bermaksud membuatkan bubur untuknya, beruntung aku tadi sempat belanja di mini market, dengan bahan seadanya aku membuat bubur sederhana.


Selesai bikin bubur, aku kembali ke kamarnya. Aku juga membawa obat penurun panas agar di minumnya nanti setelah makan.


"Mas Dipta, bangunlah dulu untuk makan." Ku letakkan bubur yg ku bawa di atas nakas samping ranjang. Ku lihat mas Dipta sudah berganti baju. Namun dia tak bergeming saat ku bangunkan.


"Mas Dipta, bangun dan makanlah! Setidaknya mas Dipta harus punya tenaga untuk menjalankan rumah-rumahan ini mas!" Ucapku memprovokasi nya. Dan berhasil, buktinya dia membuka matanya.


"Apa maksudmu main rumah-rumahan?" Tanyanya. Aku duduk di pinggir ranjang, kemudian meraih bubur di atas nakas.


"Berpura-pura menjadi suami istri juga perlu tenaga. Jadi makanlah, dan minum obatmu itu. Apa perlu aku suapi?" Ku angsurkan mangkuk bubur ke arahnya. Mas Dipta akhirnya bangun dan bersandar di sandaran ranjang. Di terimanya mangkuk yg ku ulurkan padanya.


"Habiskan makanannya mas, aku menaruh bumbu ketulusan di dalamnya." Candaku sambil beranjak berdiri." Itu obatmu, jangan lupa di minum." Ku ingatkan lagi mas Dipta sambil menunjuk nampan di atas nakas. Ada obat dan segelas air di sana. Aku keluar, membiarkannya makan sendiri. Mana tahu dia canggung saat makan aku perhatikan terus.


"Kita tidak berpura-pura, kita memang suami istri beneran. Pernikahan kita sah secara hukum dan agama. Kita hanya bersepakat untuk tak mencampuri hidup masing2." Ujar mas Dipta ketika aku sudah sampai di ambang pintu. Ku toleh sebentar ke arahnya, aku hanya menarik napas panjang dan ku tutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Seterahmu mas... kamu begitu keras menolak dan melarangku mendekat padamu, tapi keadaan membuatku tak bisa berpaling darimu. Dan apa tadi, sepakat? Kata siapa kita bersepakat? Bukankah itu hanya keinginan dia sendiri, tanpa bertanya bagaimana keinginanku.


__ADS_2