Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Drama sebelum keluar kota


__ADS_3

Aku menghadapi minggu tenang sebelum ujian dengan kesibukan yg padat. Ada beberapa tugas dari dosen yg harus segera di kumpulkan dan kuliah tambahan. Aku bahkan tak punya waktu untuk fokus belajar.


Bila malam tiba, waktu yg harusnya ku pakai buat belajar malah berakhir dengan segala keisengan Mas Dipta.


Seperti malam ini juga, saat aku fokus dengan laptop dan banyak buku- buku di atas kasur. Dia tiba- tiba datang, dan langsung berbaring di atas kasur.


"Eh mas.. kapan masuk? Sudah makan?" Tanyaku mengalihkan pandanganku ke arahnya sebentar, lalu berkutat lagi di depan layar yg menyala.


"Hem, sudah tadi. Ini kenapa ngerjainnya di atas kasur gini?" Tanyanya lagi, dia berbaring miring dengan tangan satu menopang kepalanya.


"Menurut mas kenapa? Masa' aku ngerjain ini di lantai? Meja di sini cuma ada meja kecil itu, itupun tak muat untuk laptop dan semua buku- buku ini." Aku menunjuk meja kecil di dekat cermin yg menempel di tembok. Meja itu memang hanya muat untuk alat- alat make up ku yg minimalis.


"Di kamar bawah ada meja belajar, jadi kamu belajarnya di bawah saja." Usul mas Dipta yg langsung ku tolak.


"Gak mau, masa' aku wara wiri naik turun. Gak praktis."


"Apa mejanya taruh di atas saja?" Kembali mas Dipta bertanya.


"Meja itu di pakai Mas Dipta juga kan buat kerja? Gak usah, aku bisa belajar di mana saja Mas." Jawabku yg tak menoleh padanya.


"Beli saja berarti. Kamu pilih saja modelnya yg seperti apa, nanti biar aku yg bayarin."


"Gak papa mas, uang yg dari Mas Dipta masih ada sisa banyak. Nanti aku beli dengan uang itu saja." Uang bulanan yg di transfer Mas Dipta memang tak semuanya habis. Uang itu masih di atm tak kuambil, anggap saja sebagai tabungan.


"Udah ya mas.. aku harus fokus nyelesein ini nih." Ucapku lagi. Mas Dipta hanya menghela nafas.


"Baik cepat selsesaikan. Biar aku temani." Jawabnya, lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan hp nya dari sana. Sesaat dia seperti sibuk melihat- lihat hp nya.


Namun itu tak berlangsung lama. Dia meletakkan hp nya asal di atas kasur dan kembali melihat ke arahku.


"Ini sudah malam, sebaiknya di lanjutkan besok." Ujarnya. Aku tak begitu menanggapi perkataan mas Dipta.


"Kania.." panggilnya. Aku menoleh sebentar.


"Bereskan itu lalu matikan lampunya. Kita istirahat, ini sudah malam." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku melirik jam dari layar hp ku. Jam setengah 10 malam, ini belum terlalu malam. Kadang Mas Dipta kalo sedang lembur malah jam 11 malam baru pulang.


"Tunggu sebentar ya Mas, ini tinggal sedikit lagi." Jawabku.


Mas Dipta bangkit dari tidurannya. Dia mencoba merapikan kertas- kertas yg beberapa tercecer di lantai. Dan menumpuknya menjadi satu. Kemudian mulai memberesi buku- buku yg kelihatannya tak ku pakai.


Tinggal laptop dan 2 buku sekarang yg masih ada di depanku. Aku terus saja tak menghiraukan apa yg di lakukan Mas Dipta.


"Nia, sudahi sekarang apa yg kamu kerjakan itu. Kita istirahat sekarang." Kembali mas Dipta menyuruhku segera istirahat.


Dengan kesal aku menutup laptop yg belum sempat ku matikan. Mas Dipta ini kenapa? Seperti tak ingin aku dapet nilai bagus. Padahal kalo ipk ku bagus, pertama kali yg ingin ku beritahu siapa lagi kalo bukan dia.


"Mas, tugas ini harus ku kumpulkan sebelum ujian. Padahal masih ada lagi tugas yg musti ku kerjakan. Belum lagi ada kuliah tambahan. Aku bahkan sama sekali belum belajar." Ucapku sedikit ngegas pada Mas Dipta.


"Besok lagi Nia, kamu masih bisa mengerjakannya. Sekarang kita istirahat ya?!"


Aku mengambil nafas panjang, untuk mengurai rasa kesal yg hinggap di dada. Kemudian aku beringsut turun dari ranjang. Mengambil laptop dan semua buku- buku ku termasuk yg tadi di beresin sama Mas Dipta.


"Baik, Mas Dipta bisa istirahat sekarang. Aku akan mengerjakan ini di luar." Jawabku kemudian melangkah menghampiri pintu kamar.


"Kania.. bukan itu maksudku. Sudahlah, aku saja yg keluar." Mas Dipta lebih memilih mengalah kali ini. Dia mengambil hp nya di atas kasur dan berjalan keluar dari kamarku dengan wajah masam.


Aku lebih ke heran saja, biasanya kalo aku sedang tak sibuk, kita kadang malah ngobrol sampai larut malam dan tanpa sadar tertidur.


Malam itu, Mas Dipta tak kembali ke kamarku. Ku rasa dia tidur di kamarnya yg sudah lama tak di tidurinya itu.


Pagi hari, aku bangun agak siang. Setelah sholat subuh tadi aku ketiduran di atas sajadah dan masih lengkap mengenakan mukena. Efek semalam begadang sampai menjelang dini hari, jadi tanpa terasa tertidur.


Aku turun dan melihat Mas Dipta sudah rapi. Dia duduk di meja makan, tangan kanannya memegang cangkir, sedang tangan satunya memegang hp.


Ku lihat di atas meja sudah ada nasi goreng sosis yg selalu jadi andalan Mas Dipta kalo masak sendiri.


"Pagi mas.." sapaku sambil berjalan ke arah meja dapur untuk bikin teh anget.


"Pagi, sudah bangun? Sampai jam berapa semalam?" Tanyanya, dia meletakkan hp nya di atas meja makan.

__ADS_1


"Emh.. entahlah. Tapi kurasa sampai menjelang pagi." Jawabku


"Jangan terlalu banyak begadang. Istirahat yg cukup itu penting." Kata Mas Dipta tegas.


"Iya iya.. maafin aku semalam ya Mas. Aku hanya tak mau membuat Mas Dipta kecewa kalo nilai- nilaiku nanti jelek." Ucapku menyesal, ku tundukkan pandanganku, takut sekaligus malu untuk menatap Mas Dipta.


"Kemarilah!" Mas Dipta menggeser kursi dari kolong meja agar aku duduk di situ.


Aku pun menurut, sebelum duduk ku letakkan cangkir teh yg ku bikin tadi di meja perlahan.


"Aku takkan kecewa apapun nanti hasilnya. Mempunyai nilai yg bagus memang membanggakan, tapi aku akan tetap bangga kalo ternyata nanti nilaimu jelek. Yg ku hargai adalah kerja kerasmu. Kamu mengerti?" Perkataan Mas Dipta sukses membuat aku terharu. Dan tanpa ku minta, air mata sudah ada di pelupuk mata.


"Iya akan ku ingat kata- kata Mas Dipta." Jawabku menunduk, takut air mata jatuh di depan Mas Dipta.


"Aku ke Surabaya pagi ini." Kata Mas Dipta.


Aku langsung menatapnya, air mata yg sejak tadi ku tahan malah tiba- tiba bergulir di pipiku. Mas Dipta yg melihat lelehan air mataku malah jadi panik dan langsung menyentuh pipiku untuk menghapus air mataku.


"Hanya 4 hari, ku harap tender berjalan lancar jadi tak sampai 4 hari aku sudah balik." Dia bergegas menjelaskan, mengira air mataku yg keluar karena dia akan pergi meninggalkanku.


"Dengan siapa Mas Dipta ke sana?" Tanyaku.


"Sama Leni." Jawabnya. Aku mendengus sambil membuang muka.


"Kita profesional Nia, tak ada apa- apa aku dan Leni." Terangnya lagi.


"Jangan begitu, aku mau pergi jangan ngambek lagi. Oke?" Ucapnya.


"Semalam bahkan aku ingin berdua-an denganmu saja, kamu lebih memilih mengerjakan tugas- tugasmu." Gumamnya lirih.


"Harusnya semalam Mas Dipta mengatakan dengan jelas padaku. Aku tak tahu kalo Mas Dipta pagi ini akan pergi." Air mataku sudah kembali memenuhi pelupuk mataku.


"Oke oke.. lain kali akan ku katakan dengan jelas. Jangan menangis lagi ya. Sekarang peluk aku!"


Aku berhambur ke pelukan hangatnya. Ah.. wangi ini, pasti akan ku rindukan selama 4 hari ke depan.

__ADS_1


"Berjanjilah Mas, jangan abaikan pesanku. Meskipun telat tolong balas saja. Aku takkan menelpon Mas Dipta selama di sana, tapi kalo Mas Dipta menelpon, akan ku pastikan aku mengangkatnya tak peduli jam berapa itu." Ucapku dalam dekapannya.


"Hem.. aku pasti akan sering menelponmu." Jawabnya sambil menciumi puncak kepalaku.


__ADS_2