Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Sarapan dengan morning kiss


__ADS_3

Pagi menjelang, karena terbiasa bangun pagi meski kurasa baru tidur 2 sampai 3 jam saja, akupun kali ini terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Saat akan beringsut turun, lengan kokoh Mas Dipta mengahalangiku untuk segera bangkit dari ranjang. Akhirnya ku bangunkan saja dia sekalian.


"Mas, ayo bangun!" Ku guncang pelan bahunya. Dia menggeliat dan meraup wajahnya untuk mengusir rasa kantuknya yg masih bergelayut di matanya.


"Aku mandi duluan ya Mas.. Mas Dipta jangan tidur lagi lho!" Ucapku sedikit memberi tekanan padanya. Karena aku tak yakin dia akan terus terjaga selama aku mandi.


"Bareng saja mandinya yuk!" Dia menyibak selimut dan mendekatiku yg sudah beranjak ke depan kamar mandi.


"Ih mas, gantian aja. Kalo barengan aku gak yakin cuma mandi doang deh.." Aku menghentikan langkahku dan berbalik ke arahnya.


"Ayolah Nia, biar aku nya semangat bangun paginya. Janji deh, ini cuma mandi doang, ya sedikit pegang sama elus- elus gak papa kan?" Dia langsung menarik tanganku masuk kamar mandi.


Akhirnya kita memang benar- benar cuma mandi saja meski di bumbui dengan godaan- godaan. Tapi untung saja imanku kuat, jadi acara mandi selesai tepat pada waktunya dan tak terjadi hal- hal yg di inginkan. Eh..


Kami berdua sholat subuh berjama'ah dengan khusyu'. Dan setelahnya berdo'a, ku aminkan do'a- do'a suamiku. Ya Allah semoga Engkau mengabulkan do'a suami hamba. Aamiin.


Selesai sholat, Mas Dipta mengajakku ke balkon tempat kita semalam berbincang. Karena balkon menghadap ke arah matahari terbit, jadi kita bisa melihat semburat keemasan dari arah danau dan perkebunan yg berbukit- bukit.


Semakin lama matahari semakin muncul dan Masya' Allah indahnya. Dari danau itu sinarnya memantul berkilauan, di tambah tetesan- tetesan embun yg berada di pucuk dedaunan menambah pesona yg begitu memukau. Fabi ayyi aalaa’i Rabbikuma Tukadziban. Nikmat Tuhan manalagi yg kamu dustakan.


Aku berdiri di tepian pembatas balkon itu, ketika mengagumi pemandangan yg di suguhkan pagi itu. Mas Dipta berdiri di belakangku dengan tangannya melingkar di pinggangku.


"Kamu senang?" Tanyanya, aku tak mampu berkata- kata dan hanya berkali- kali menganggukkan kepala.


"Sekarang beri aku hadiah!" Katanya lagi. Aku memutar kedua bola mataku, berpikir.


"Hadiah? Hadiah untuk apa?"


"Karena aku, kamu bisa melihat pemandangan yg indah ini." Jawabnya dengan memutar tubuhku untuk menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Astaga.. gak ikhlas banget sih.." cebikku sambil mrengut.


"Untuk melengkapi pagi yg indah, Nia. Bangun lebih awal, terhubung dengan alam, dan sarapan dengan morning kiss."


Aku terperangah, mulutku sampai melongo. Mas Dipta malah sudah memposisikan diri, dia sedikit membungkuk, agar wajahnya sejajar denganku. Tangan kanan dan kirinya bersandar pada tralis pembatas balkon agar tak jungkel ke bawah, seperti sedang mengunci ku agar aku tak bergeser.


"Let's start it.." karena aku tak segera memulai, Mas Dipta jadi yg bergerak duluan.


Dia merengkuh pinggangku dan langsung mengecup bibirku. Tak lupa memberikan *******- ******* di atas dan bawah. Saat bibirku mulai terbuka, tanpa menunggu dia langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulutku. Membawaku menari- nari dan melayang. Kami hampir terbuai, dan melanjutkan semuanya di dalam kamar ketika sebuah teriakan memanggil nama Mas Dipta menyadarkan kami.


Aku merasa lega namun juga sedikit kecewa. Lega karena kita tak berakhir di kasur, terus terang badan masih lemes akibat di gempur semalam. Kecewa karena hasrat sudah kadung tinggi. Jadi maunya gimana dong..


"Permisi Mas.. Mas Dipta!!" Suara itu dari arah luar, mungkin di bawah balkon kami. Kami melepas pagutan kami, dan melongok ke arah bawah balkon sambil mengatur nafas. Di sana terlihat ada bapak penjaga villa sedang mendongak ke arah kami. Duh, dia lihat apa yg kita lakukan barusan gak ya? Bisa malu semalu malunya aku, kalo dia lihat.


"Oh iya pak, ada apa ya?" Tanya Mas Dipta sedikit berteriak.


"Maaf mengganggu, itu sarapannya sudah siap. Nanti keburu dingin. Tadi saya berkali- kali mengetuk pintu kamar, tapi mungkin gak kedengeran ya?"


"Turun yuk!" Ajaknya kemudian menggandeng tanganku.


"Mas, habis sarapan kita pulang kan?" Tanyaku saat kita menuruni tangga.


"Kita bisa perpanjang sewanya. Habis ini mau jalan- jalan ke perkebunan yg di sana itu?"


"Tapi Mas, hari ini aku ada kuliah. Masa ' iya aku bolos kuliah semester pendek.."


"Baiklah, setelah sarapan kita pulang. Aku juga ada yg ingin ku bicarakan dengan Papa dan Mama. Jadi nanti ku antar kamu ke rumah dulu, kamu bisa berangkat kuliah sendiri dari rumah, mobilmu sudah ada di sana. " Katanya menerangkan, aku mengerutkan dahi.


"Loh, barang- barang dan buku ku sebagian ada di rumah Papa. Jadi kenapa gak sekalian saja aku ke sana?"

__ADS_1


"Barang- barangmu sudah di pindahkan semalam. Aku meminta Leni untuk mengambilnya dari sana. Makanya aku akan mengantarmu ke rumah kita, lagipula kalo kamu ikut ke rumah Papa, Mama mungkin bisa menahanmu di sana lagi." Terangnya lagi. Leni lagi? Kenapa sekarang Mas Dipta jadi sering banget melibatkan Leni? Lagian itu barang- barang pribadiku, kenapa Mas Dipta membiarkan orang lain menyentuhnya.


"Kenapa kok jadi mrengut gitu?"


Kami sudah duduk di meja makan, jadi Mas Dipta langsung tahu perubahan raut wajahku yg sedikit sewot.


"Bisa tidak, tak menyuruh Leni melakukan yg di luar pekerjaannya? Mengambil mobilku dan memindahkan barang- barangku, itu kan sudah bukan pekerjaanya Mas." Pintaku.


"Leni itu asistenku, menurutmu apa tugas seorang asisten? Membantuku dalam pekerjaan kantor maupun pribadi. Apa yg salah dengan hanya mengambil mobilmu dan memindahkan barang- barangmu?" Kelit Mas Dipta. Aku jadi berpikir, benarkah memang seperti itu?


"Tapi kan itu barang- barangku Mas, bukan barang- barangmu.."


"Sama saja, toh aku yg menyuruhnya. Akan di potong gajinya kalo dia tak menuruti perintahku, bisa juga dia akan di gantikan orang lain." Potongnya cepat sebelum aku menyelesaikan protesku. Aku jadi kehilangan kata- kataku selanjutnya, tapi yo wis lah. Dari pada nantinya malah menghilangkan rejeki orang lain.


"Cepat makan sarapanmu, kamu kuliah jam berapa? Biar gak buru- buru nanti di jalan." Tanyanya lagi sambil menyeruput sedikit teh panasnya yg tampak masih mengepul asapnya dari dalam cangkir.


"Jam 10, mungkin akan pas nanti waktunya kalo kita berangkat setelah sarapan ini." Jawabku sambil menyendok nasi goreng di piringku. Mas Dipta nampak manggut- manggut menyetujui omonganku.


"Bisakah nanti sepulang kuliah aku makan sebentar dengan Amel? Dari kemarin dia ingin sekali mengajakku makan, sepertinya dia juga ingin curhat." Tanyaku mengingat aku kemarin menjanjikan Amel yg ingin ngobrol mengenai si Bagas.


"Hem.. selesai jam berapa kuliahmu?"


"Hari ini hanya ada 2 mata kuliah, jadi jam 3 sudah selesai. Aku akan pulang duluan sebelum Mas Dipta sampai rumah." Ucapku meyakinkan agar dia tak menarik kembali ijin yg sudah dia berikan.


"Okay!" Jawabnya singkat.


"Emh..anu Mas, kalo boleh tahu, memangnya Mas Dipta mau membicarakan apa sama Papa dan Mama? Kok kayak penting banget." Tanyaku kepo sambil menyuapkan sesendok besar nasi goreng ke dalam mulut.


"Aku ingin bilang ke mereka agar tak memisahkan kita lagi, karena sebenarnya kita sudah menyatu."

__ADS_1


Aku langsung terbatuk- batuk mendengar jawaban darinya. Nasi goreng yg ingin ku telan, menyembur ke mana- mana bahkan sempat mengenai muka Mas Dipta.


Menyatu? Kok konotasinya jadi aneh gitu ya?


__ADS_2