
Tangan Mas Dipta mendekap erat tubuhku. Dia seperti sangat merindukanku, namun kali ini aku takkan tertipu. Dan saat tangan Mas Dipta sudah mulai bergerilya aku lansung menghentikan aksinya.
"Aku sedang datang bulan Mas." Kataku, padahal sungguh tak benar, datang bulanku sudah seminggu yg lalu bertepatan dengan dia berangkat ke Bali.
Mas Dipta mendesah, seperti kecewa. Namun setelahnya dia tersenyum lalu mengusap dengan lembut kepalaku.
"Berarti usahaku belum jadi? Kalo begitu setelah selesai datang bulanmu, aku akan berusaha lebih keras lagi." Ucapnya penuh kemantapan. Aku hanya bisa tercengang dengan apa yg ada di pikirannya saat ini.
"Sekarang ciuman saja." Dia sudah akan mencium bibirku, aku segera berpaling hingga bibirnya hanya menyentuh pipiku.
"Lebih baik Mas Dipta mandi dulu saja." Kelitku.
"Baiklah baiklah.. aku mandi, setelah mandi jangan menghindariku lagi, oke?!" Katanya sambil berjalan mundur ke arah kamar mandi.
Saat dia sudah di dalam kamar mandi, aku segera keluar dari kamar. Melakukan apa saja di luar, agar tak terkurung berdua saja dengan Mas Dipta.
Hari senin tiba, sesuai dengan yg di janjikan Mas Dipta aku di ijinkan pulang kampung tapi mengingat jadwal kuliah semester pendekku sudah akan di mulai, maka hanya beberapa hari saja aku di sana. Membayangkan berkumpul kembali dengan ibu dan adikku membuatku senang.
"Jangan matikan hp mu selama di sana?" Kata Mas Dipta saat panggilan penerbangan menuju Bali sudah terdengar. Aku hanya mengangguk.
Kemudian dia memelukku, aku dengan kaku membalas pelukannya.
"Setelah nanti sampai, hubungi aku segera. Salam buat ibu dan adikmu, maafkan aku tak bisa menemanimu kesana."
Setelah itu Mas Dipta mengusap rambutku dan melepaskan pelukannya. Dia mengecup keningku sesaat.
"Aku berangkat duluan ya." Ucapnya lagi, aku meraih tangannya lalu ku cium. Setelah itu dia pergi menjauh dariku.
Ku pandangi punggungnya yg membelakangiku. Betapa sebenarnya sangat ku rindukan dia, tapi kenyataan yg ku lihat kemarin sungguh membuatku terpukul. Aku ingin menangis, tapi sebisa mungkin ku tahan. Pada akhirnya air mataku keluar tanpa bisa ku bendung lagi.
Saat ku dengar panggilan untuk penerbanganku aku buru- buru menghapus air mataku. Dan segera berlalu dari sana.
__ADS_1
Aku sampai di kampung halamanku sudah menjelang siang. Di sambut oleh ibuku yg sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Suasana haru biru ketika kita saling memeluk melepas rindu.
"Piye kabarmu nduk? Kok mendadak pulang, ada apa? Kenapa gak sama nak Dipta?" Ibu beruntun bertanya setelah kita saling melepas rindu.
"Kabar saya baik bu. Karena kuliah masih belum mulai saya pulang sebentar, pas Mas Dipta juga lagi ada kerjaan di Bali. Rasanya kangen sekali Bu." Jawabku yg terbawa perasaan hingga air mataku merembes keluar.
"Oo.. ya wis, ayo masuk!" Ibu merangkul lenganku dan membawaku masuk rumah.
Aku langsung menuju kamarku, meletakkan koper kecilku di sudut ruangan dan menghirup udara dalam. Setelah beristirahat sejenak dan berganti baju, akupun keluar menghampiri ibuku.
Ku lihat ibu sedang memasak dengan di bantu Mbok Nah. Dari aromanya tercium bahwa ibu sedang masak sambal terasi dan ikan asin. Menu favoritku dari dulu.
"Ada yg bisa di bantu gak Bu?" Tanyaku yg menghentikan kegiatan mereka.
"Ini sudah mau selesai kok nduk." Jawab Ibu sambil memindahkan makanan ke meja makan.
"Gimana kabar semuanya di sana? Baik semua to?" Lanjutnya.
"Walaikumsalam.. Alhamdulillah kalo semuanya baik- baik."
Lalu obrolan berlanjut sampai kita bertiga makan siang bersama. Aku sampai lupa harus menelpon Mas Dipta dan memberikan kabar padanya.
Sampai sore itu waktu adikku pulang dari sekolahnya. Dia begitu gembira melihatku, hingga di pelukinya diriku.
"Hp Mbak Kania kenapa?" Tanyanya di tengah melepas rindu denganku.
"Hah? Ada di kamar. Memangnya kenapa?"
"Mas Dipta tuh.. tadi nelpon aku sampai 3 kali. Baru ku angkat pas jam istirahat siang, dia nanyain Mbak..katanya hp mbak gak bisa di hubungi." Jawabnya.
"Oh iya.. mbak lupa, saking asyiknya ngobrol sama Ibu dan Mbok Nah. Bentar ya, Mbak ke kamar dulu." Ucapku. Ku lihat Ibu geleng- geleng kepala.
__ADS_1
"Mbak Kania ini, masa' ngabarin suami sampai lupa. Jangan- jangan sudah punya suami juga lupa.." seloroh Tiara adikku yg masih sempat ku dengar. Aku bukannya lupa dek, tapi emang sengaja menghindar.
Ku lihat hp ku ternyata kehabisan daya. Saat sudah ku charge, dan menyalakan kembali. Ada beberapa panggilan dari Mas Dipta, ada juga pesan darinya. Ku baca pesan darinya, yg intinya menanyakan kenapa aku susah di hubungi.
"Apa terjadi sesuatu Nduk?" Tiba- tiba suara Ibu sudah berada di ambang pintu kamarku. Kemudian dia melangkah mendekatiku, ikut duduk di pinggir ranjang sebelahku.
Aku menggelengkan kepalaku perlahan, namun sepertinya Ibu tidak percaya begitu saja. Dia menyipitkan matanya seperti menelisik ke dalam mataku.
"Kamu tahu nduk? Meski bibirmu tersenyum dan bilang baik- baik saja, tapi matamu gak bisa bohong. Di sana ada kecemasan. Ada apa to nduk?" Desak Ibu sambil membelai lembut rambutku.
Merasakan perhatian dan kasih sayang dari Ibu, membuat mataku berkaca- kaca. Aku langsung bersimpuh di pangkuan Ibu. Menangis sejenak di sana dan saat mulai tenang aku menceritakan semuanya kepada Ibu. Bahwa aku menemukan kamar seorang wanita di apartemen Mas Dipta. Masih lengkap dengan baju- bajunya, peralatan- peralatannya, dan foto- fotonya bahkan belum di singkirkan. Padahal Mas Dipta sudah menikah denganku.
Aku kembali sesenggukan menumpahkan kesedihan hatiku yg selama ini ku tahan setelah menceritakan semuanya. Ibu dengan sabar menenangkanku, di belainya punggungku berulang- ulang. Setelah puas menangis, aku kembali tenang.
"Apa yg sebaiknya Nia lakukan Bu? Rasanya Nia tak ingin bertemu dengan Mas Dipta lagi..." kataku dengan sisa- sisa tangisku. Ibu menghela nafas dalam, mungkin beliau juga merasakan sakit yg ku alami. Namun dia tetap menunjukkan ketegaran dan kebijakannya.
"Apa Nak Dipta pernah membicarakan wanita lain di depanmu?" Tanyanya. Aku menggeleng, seingatku memang Mas Dipta tak pernah membicarakan wanita lain padaku. Dia bahkan selalu menghindar ketika ku tanya, apakah ada wanita yg di cintainya.
"Pernahkah Nak Dipta diam- diam menelpon ketika di rumah bersamamu atau pernahkah dia mencari- cari kesalahanmu dan uring- uringan tanpa sebab?"
"Dia tidak pernah Bu, tapi di awal pernikahan dia pernah bilang tak ingin aku ikut campur urusannya dan bahkan kita tidur di kamar terpisah."
Ibu terdiam, bahkan nampak terkejut saat ku ceritakan bahwa kita tidur terpisah. Dia mengusap bahuku.
"Lalu sekarang bagaimana? Apa kalian masih begitu? Saling tak ikut campur dan tidur di kamar terpisah?"
Aku menunduk, dan perlahan menggeleng. Kali ini ku dengar Ibu menghela nafas lagi tapi ada kelegaan di sana.
"Dengar nduk, kalian menikah memang bukan karena cinta, dan pasti pun kalian punya masa lalu masing- masing. Salah satunya yg kamu lihat itu, itu adalah masa lalu nya Nak Dipta, apalagi mungkin masa lalunya sudah terjalin sangat lama dan tiba- tiba kamu muncul. Bisa sudah selesai, bisa juga belum selesai. Tapi percayalah pada suamimu, dia pasti tahu yg baik dan yg bukan tentang pernikahan ini. Cinta memang tak bisa di paksakan, tapi hati bisa belajar. Saat ini kalian sering bersama, tahukah kamu nduk, cinta bisa tumbuh karena terbiasa? Ibu rasa Nak Dipta pun demikian, hatinya sekarang ini pasti sedang belajar, dia juga bisa belajar darimu. Terbukti dia tak pernah membahas apapun tentang wanita lain di depanmu, bahkan dia memperlakukanmu dengan baik. Sekarang ini lihatlah, saat kamu tak bisa di hubungi dia mencari cara agar bisa mendengar kabar darimu. Memang ini membutuhkan waktu yg tak sebentar tapi tunggulah, percayalah dia sedang membereskan masa lalunya itu. Jangan terus menghindarinya. Berpikirlah positif maka akan menciptakan energi yang baik juga. Ini adalah lembaran baru untuk kalian, jadi isilah dengan kisah romantis kalian."
Ibu menceramahiku panjang lebar. Aku hanya terdiam mendengarkan.
__ADS_1