
Aku pulang dengan setengah melamun, mohon jangan di tiru, tapi Alhamdulillah aku sampai rumah dengan selamat. Jam sudah menunjukkan pukul stgh 5 sore, untung Mas Dipta belum pulang. Padahal tadi pagi aku sudah yakin kalo jam 4 aku bakalan sudah ada di rumah. Tapi ternyata sesi curhat dan tanya jawab sama Amel berlangsung lama hingga lupa waktu.
Agak gak percaya aja dengan pernyataan Amel yg lebay menurutku. Masa' iya Bagas sampai depresi, cupet banget pikirannya. Apa mungkin dia sudah cinta mati sama aku, sampai segitunya. Memang sih, aku bukan tergolong cewek idola di kampus, tapi mungkin dia menyukaiku yg sederhana, supel, tidak sombong, cantik alami dari dalam hati dan yg penting sikapku juga terpuji hehe..
Haish... sudah- sudah, aku harus segera beberes rumah agar terlihat hangat dan nyaman. Pertama- tama aku merapikan kamar Mas Dipta yg semrawut karena barang- barangku sudah di pindahkan ke sana tanpa se-ijinku. Tapi tak apa, aku akan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Selama hampir 1 jam aku berjibaku, aku keluar setelah bagian kamar beres. Sudah bersih, sudah rapi dan sudah wangi.
Langkah kedua, aku menuju dapur dan area meja makan. Ku buka kulkas, dan menghela nafas dalam. Hanya ada roti yg aku tak tahu masih layak makan atau tidak dan beberapa botol air mineral.
Aku mengambil air mineral dan ku tenggak sampai habis setengahnya. Ku tatap sekeliling, apa besok lagi aja ya aku beberesnya. Sekarang udah lengket banget nih badan pengen segera mandi.
Yo wis lah, berhubung sudah mau maghrib juga. Aku masuk kamar dan mandi. Gak urus lah nanti malam mau makan apa.
Karena cuaca hari ini cukup panas, selesai mandi aku mengenakan baju yg menurutku bikin adem. Sebuah terusan selutut berbahan kaos dengan lengan pendek.
Aku keluar dari kamar ketika ku dengar ada suara salam menyapa. Suara yg begitu familiar di telingaku, siapa lagi kalo bukan suara Mas Dipta.
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam.." jawabku, aku sudah menyusun kata- kata untuk melayangkan protesku karena seenaknya sendiri memindahkan barang- barangku. Apalagi ada kemungkinan yg memindahkan adalah Leni.
"Capek Mas?" Tanyaku dengan menghampirinya untuk mencium tangannya.
"Gak juga..." jawabnya.
Setelah ku cium tangannya, dia melepas sepatunya kemudian menaruhnya di dalam rak.
Ku tangkap wajahnya yg tampan itu. Dia seperti sedang memendam rasa kesal dan penat. Duh, gagal deh rencanaku untuk protes. Kalo tetep nekat, bisa jadi nanti bendera perang kembali berkibar.
Sebagai istri yg baik, aku segera memasang senyum paling manisku agar bisa menentramkan hatinya yg mungkin sedang gundah gulana entah karena apa.
__ADS_1
"Mau minum Mas?" Tanyaku lagi.
"Hem.. boleh." Jawabnya tak bersemangat.
"Mau yg anget apa dingin?" Aku sudah berjalan ke dapur untuk mengambilkannya minum. Ternyata dia mengikuti di belakangku. Sementara aku ke area dapur, dia duduk di kursi meja makan.
"Air putih saja, yg dingin biar seger."
Aku mengangguk. Segera ku tuang air di botol yg berada dalam kulkas ke dalam gelas. Aku meletakkannya gelas isi air putih itu di depannya. Dan tak berapa lama, air putih itu telah tandas di tenggaknya.
Dia beralih duduknya jadi menghadap ke arahku yg berdiri di sampingnya. Tangannya melingkar ke pinggangku dan kepalanya bersandar di dadaku, dia mendekapku seperti anak kecil yg sedang merajuk pada ibunya.
"Mas.. Mas Dipta lagi mode manja ya?" Tanyaku sambil terkikik, agar memperbaiki moodnya. Gawat kan kalo dia masih mrengut aja, mana aku harus minta ijin buat jenguk Bagas besok. Jangankan keluar tuh ijin, mau buka suara aja gak berani aku.
Dia melirik jam tangannya, dan tetiba dia bangkit dari duduknya menarik tanganku. Mengajakku ke kamar.
"Hem.. sebentar lagi maghrib jadi yg cepat aja, buat mood booster."
Masih dalam keadaan bingung, ketika sampai kamar aku hanya berdiri mematung melihatnya menutup pintu.
"Ayo mandi!" Ajaknya dan mengangkat tubuhku begitu saja memasuki kamar mandi.
"Hah? Tapi aku sudah mandi Mas.." ucapku mulai konek apa maunya, tapi sepertinya dia sudah kadung on fire jadi percuma saja aku berkilah.
Dia menurunkanku dan langsung menyibak begitu saja baju bagian bawahku. Kok ya aku tadi pake baju yg dengan mudahnya dia buka dari bawah. Menyentuhku tanpa pemanasan dan menyatukan diri. Rasanya itu.. oh God, merinding dari ubun- ubun sampai kaki. Pueeriiih tiada terkira.
Namun sejurus kemudian dia memainkannya dengan lembut hingga aku lupa bagaimana sakitnya tadi di awal.
Benar- benar hanya sebentar dan cepat, karena 15 menit kemudian kita keluar dengan rambut yg telah basah. Fiuuh.. benar- benar tak terduga.
__ADS_1
Malam itu akhirnya kita makan lewat makanan pesan antar. Aku sedang menyiapkan semua jenis makanan pesanan kita di atas meja makan. Ku lihat Mas Dipta wajahnya sudah kembali normal, tak lagi mrengut. Bahkan sumringah dan terlihat lebih glowing, apa kira- kira dia juga melakukan perawatan pada wajahnya itu?
Ketika makanan sudah di atas piring semua, aku duduk di sebelahnya dan bersiap menyantap makanan karena perut sudah terasa lapar. Aku heran, kenapa jadi sering banget laper yak? Mungkin efek energi sering terkuras karena olahraga ***- ***.
"Mas.. kok gak bilang kalo mindahin barang- barangku?" Aku bertanya di sela- sela kunyahan makananku. Mulai berani protes, karena mood nya sudah membaik.
"Iya, surprise kan?" jawabnya malah cengengesan.
"Hah? Kok surprise? tadi pagi aku sempet nyari- nyari tauk. Emh.. apa asistemu lagi yg mindah- mindahin itu?"
"Gak dong, aku yg mindahin semuanya. Kita kan harus satu kamar, Nia. Masa' pisah terus, gak enak dong.."
Ya ya.. kita emang sudah suami istri secara lahir dan bathin jadi memang kudu satu kamar. Tapi 'gak enak' maksud dia apa ya? Tapi gak papa lah, istri yg waras ngalah asal suami senang.
"Mas, besok hanya ada 1 mata kuliah aja itupun pagi.." Ucapku masih merangkai kata- kata agar dia bisa langsung mengijinkan menjenguk Bagas tanpa banyak tanya. Ku lihat dia masih asik menikmati makan malamnya.
"Anu.. habis itu aku sama Amel mau belanja. Ku lihat di kulkas gak ada apa- apa. Stok sayur juga gak ada, biar kalo mau masak gak repot. Habis itu kita mau jenguk teman yg sakit. Trus, setelah pulang, Mas Dipta mau di masakin apa?" Terangku sambil menyamarkan permintaan ijinku. Mas Dipta nampak hanya mengangguk saja, dan hatiku sudah plong rasanya. Yess... ijin sudah ada di kantong. Batinku.
"Siapa yg sakit?" Jeder.. pertanyaannya itu lho, meski datar aja tapi udah kayak di sambar petir. Ternyata oh ternyata, penyamaran ijinku langsung terbongkar.
"Itu, teman satu angkatan yg selama semester kemarin kita satu kelompok. Jadi gak enak kalo tahu dia sakit tapi gak jenguk." Jawabku ketar ketir. Berharap dia tak bertanya lagi dan langsung memberi ijin. Kalo tahu yg sakit Bagas, apa mungkin dia akan memberikan ijin?
"Hem, baiklah." Jawabnya.
Yess!! Sorakku dalam hati. Aku langsung lega dong.
"Besok masak kerang saus lada hitam deh. Biar stamina on terus." Lanjutnya lagi. Aku langsung membayangkan yg on terus itu. Stamina kan ya yg dia bilang? Tapi kok otakku udah ngeres duluan ya..
"Nanti lagi yak! Gak usah cepet- cepet, kita punya waktu semalaman sampai subuh." Matanya sambil mengerling gitu, sampai aku jadi merinding. Untung makanan udah habis, kalo gak pasti aku udah keselek.
__ADS_1
Huh.. gak makan kerang aja udah on terus, gimana kalo udah makan kerang. Gak bisa bangun mungkin aku dari kasur.