
Pagi itu turun hujan rintik- rintik. Selesai sholat subuh aku berencana untuk tiduran sebentar karena aku merasa masih sedikit mengantuk. Tapi belum jadi aku berbaring, aku ingat mas Dipta yg masih tidur di atas karpet tanpa selimut. Aku kembali keluar dengan membawa selimutku.
Sampai di sana, ku lihat mas Dipta masih terlelap. Namun saat aku mulai menyelimutinya, dia malah terbangun.
"Di sini dingin Nia." Ucapnya sambil bangun menyibakkan selimut yg ku selimutkan padanya tadi.
"Iya, ini ku bawakan selimut." Sahutku mengambil selimut.
Mas Dipta malah bangkit berdiri dan melangkah memasuki kamarku. Aku mengikutinya di belakang, mungkin mau ke kamar mandi. Pikirku.
Tapi tak seperti yg ku pikirkan, mas Dipta malah menjatuhkan tubuhnya di atas kasurku. Dan mulai akan kembali terlelap.
"Mas.. mas Dipta mau tidur di sini?" Tanyaku di pinggir kasur.
"Hem, kamu mau ikut tidur? Kemarilah!" Jawabnya menegakkan kepalanya dan sedikit menggeser tubuhnya.
"Mas Dipta gak sholat dulu? Aku akan turun saja bikin sarapan." Kataku mulai berbalik. Hilang sudah niatku yg ingin berbaring sebentar tadi.
"Hei, mau bikin sarapan? Ya ampun Nia, ini masih gelap dan bahkan ini hari minggu." Sahut mas Dipta, dia sudah terduduk di atas kasur. Kemudian dia mulai turun, menghampiri pintu.
"Oke, aku akan turun saja kembali ke kamarku. Kamu tak perlu bikin sarapan sepagi ini." Ujar mas Dipta keluar dari kamarku.
Selepas kepergian mas Dipta aku memang kemudian berbaring lagi. Niat awal cuma sebentar, namun aku terbangun saat matahari sudah terlihat. Hujan sudah berhenti rupanya.
Selesai mandi, aku keluar kamar dan hendak turun ke bawah. Ku lihat ruangan samping kamarku sudah kembali seperti semula, berarti mas Dipta sudah bangun atau dia memang tidak tidur lagi tadi.
Sampai di lantai bawah, keadaan sepi tak ku lihat keberadaan mas Dipta. Dia di kamar mungkin. Aku langsung menuju dapur. Karena hari sudah agak siang, aku berencana bikin sandwich saja biar tak terlalu kenyang, sebentar lagi juga masak buat makan siang.
Sarapan sudah selesai ku buat, saat ku dengar suara ribut di luar. Dan tak lama ku dengar seseorang mengetuk pintu rumah.
Sebelum ku buka aku mendengar suara yg tak asing dari luar. Semakin ku percepat langkahku untuk membuka pintu. Itu suara mama Ratna dan papa Dhani.
"Mama, papa..." sapaku ketika pintu ku buka. Nampak wanita dan pria setengah baya itu mengenakan baju training dan terlihat 2 sepeda sudah terparkir di samping mobil mas Dipta.
"Nia..." pekik mama menghampiriku dan memelukku. Aku mempersilahkan mereka masuk setelah menyalami dan mencium tangan mereka.
"Silahkan duduk ma, pa." Kataku setelah mereka di dalam. Papa dan mama nampak melongok- longok keadaan rumah. Aku berjalan ke dapur ingin membuatkan mereka teh, namun mama malah mengekoriku di belakang.
__ADS_1
"Kemana Dipta, Nia? Kok gak keliatan?" Tanya mama.
"Oh.. ada di kamar ma, masih tidur." Aku menjawab, padahal sebenarnya aku tak begitu yakin mas Dipta benar di kamar atau tidak.
"Ini sudah jam 9 dan dia masih tidur?"
"Emh.. tadi pagi sudah bangun ma, tapi selesai sholat mas Dipta kembali tidur." Jawabku sok tahu. Padahal aku yg kembali tidur tadi.
"Ya sudah, sini biar mama yg terusin bikin teh nya. Kamu bangunin dia dulu sana." Mama mengambil alih gelas yg ingin ku tuangkan teh. Aku mengangguk dan berlalu ke depan kamar mas Dipta.
Duh, mas Dipta beneran di kamar gak ya. Aku melirik papa yg melihatku berdiri tak jelas di depan pintu kamar. Sambil berdo'a dalam hati, berharap mas Dipta di dalam, perlahan ku buka pintu kamar. Dan betapa leganya diriku ketika mendapati mas Dipta tidur di atas kasurnya.
"Mas, mas Dipta.. bangun!" Aku mendorong pelan bahunya agar dia segera terbangun. Mas Dipta nampak menggeliat, matanya mengerjap sebelum akhirnya terbuka sedikit untuk melihatku.
"Ini jam berapa Nia? bangunkan saja saat makan siang nanti." Ucap mas Dipta sambil membenarkan letak bantalnya.
"Bangun dulu mas, mama sama papa di luar. Mereka di sini!" Kataku yg sukses membuat matanya langsung terbuka 100 persen. Dia bangkit, mengusap wajahnya dengan cepat.
"Kok bisa mereka di sini?" Tanyanya menuju lemari.
Mas Dipta menarik baju asal dari dalam lemari, dan tanpa aba- aba dia langsung membuka baju dan berganti baju di depanku. Aku memekik tertahan kala ku lihat da da bidang mas Dipta. Aku langsung berpaling, tak ingin pikiranku kemana- mana. Padahal da da itu yg semalam ku dekap erat. Aku jadi merona di buatnya.
"Ayo keluar! Oya, jangan sampai mama atau papa ke lantai 2. Mereka bakal tahu kalo kita tidur terpisah. " ucap mas Dipta. Aku mengangguk.
Saat kita keluar, ku lihat 4 gelas teh sudah di atas meja. Mama dan papa nampak duduk di sofa melihat kita keluar dari dalam kamar.
"Pa, ma.." mas Dipta menghampiri kemudian mencium tangan mereka.
"Baru bangun jam segini? Keterlaluan kamu Dipta." Sewot mama.
"Iya ma, semalam kita begadang nonton film sampai pagi." Jawab mas Dipta. Aku mengangguk membenarkan ucapan mas Dipta. Dan mama nampak percaya. Papa no komen.
"Bukannya bikin film sendiri malah nonton film.." seloroh mama lirih tapi masih terdengar oleh kita. Aku dan mas Dipta pura- pura tak mendengar.
"Sudah sarapan ma, pa? Kalo belum, kebetulan Nia bikin sandwich."
"Ah iya, pas sekali. Ini juga udah laper." Sahut papa yg kemudian berdiri di susul kami semua.
__ADS_1
Kita duduk mengitari meja makan.
"Lantai 2 buat apa? Mama bisa liat kesana gak?" Tanya mama yg praktis membuat mas Dipta keselek sampai batuk- batuk. Aku mengambil minum dan ku berikan padanya.
"Makannya yg pelan aja, ngapain buru- buru jadi keselek kan?" Mama mengira mas Dipta keselek karena terburu- buru makan.
"Iya ma,"
"Jadi mama bisa liat lantai atas gak?" Desak mama kembali.
"Lantai atas cuma buat gudang ma, kami jarang membersihkannya. Jadi pasti banyak debu dan kotor di sana." Jawabku yg entah kenapa jadi lancar berbohong.
"Kalian bahkan tak punya waktu buat bersih- bersih? Besok mbok Pur suruh kesini saja ya pa, bantuin mereka bersih- bersih?" Mama meminta persetujuan papa buat menyuruh salah satu asisten rumah tangganya ke sini. Aku jelas menolak, bisa2 kita ketahuan kalo memang tidur terpisah.
"Gak usah ma, nanti habis ini biar saya yg bersihkan." Tolakku.
"Gak papa Nia, 2 hari sekali saja mbok Pur ke sini, bantu- bantu kalian. Toh di rumah juga sudah ada mbok Asih." Mama tak mau menerima penolakanku.
Aku menatap mas Dipta, berharap dia mengatakan sesuatu untuk menolak ide mama itu.
"Gak usah ma, rumah kita juga gak besar. Biar nanti Dipta yg bantuin bersihin rumahnya." Mas Dipta pun menolak. Namun mama tetap tak mau kalah.
"Kamu saja baru bangun jam segini, gimana mau bantuin istrimu?!" Sentak mama. Aku sudah panik, dan mas Dipta nampak tak tahu lagi harus bilang apa.
Perdebatan kami terjeda kala mendengar hp mas Dipta berbunyi. Mas Dipta nampak hanya melihat nama si pemanggil kemudian menolak panggilannya. Begitu terus sampai ku lihat mama jadi kasak kusuk dengan papa.
"Siapa mas? Kenapa tak di angkat saja?" Ujarku. Mas Dipta menatapku kemudian berganti menatap mama dan papa.
Ponselnya kembali berbunyi, mas Dipta akhirnya menggeser tanda hijau di layar hpnya.
"Halo, iya ini aku...." mas Dipta memerimanya namun dia berjalan menjauh dari kami menuju pintu keluar.
Mama dan papa hanya melihat ke arah mas Dipta yg sedang menerima telpon di luar. Aku sendiri tak tahu itu dari siapa, dan apa yg mereka obrolkan. Mendadak suasana jadi tegang, mama dan papa terdiam sambil terus menatap mas Dipta.
Saat mas Dipta terlihat telah selesai bertelpon, mama dan papa buru- buru keluar menghampiri mas Dipta. Pintu di tutup, aku tak tahu mereka akan membicarakan apa. Sedang aku tak enak jika menguping.
Telpon dari siapa barusan? Kenapa bisa segitu nya merubah suasana yg tadinya hangat jadi tegang?
__ADS_1