Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Do'aku itu tulus lho


__ADS_3

Pada kenyataanya aku tak sekuat itu gaes... Gegayaan aja godain suami, tapi begitu di ladeni aku sudah lemes. Apalagi dia tak mau berhenti bahkan sudah melewati tengah malam.


Apa gak cepet hamil anak kembar 8 kalo kayak gini. Aku heran, dari mana dia dapet semua stamina itu. Kok ya gak ada capek- capeknya gitu. Tapi yo wis, misi sudah berhasil sukses. Sore setelah dia pulang kerja, dia akan mengajakku ke rumah mertua.


Pagi ini dia bahkan terbangun lebih dulu. Tidurku terusik ketika dia mengusap punggungku dan mengecupi bahu belakangku. Saat ku buka mataku, ku lihat dia sudah segar dengan rambut yg masih basah. Nampaknya dia baru selesai mandi.


"Bangunlah, ini sudah pagi." Katanya dengan menyingkirkan anak rambutku yg menutupi sebagian mukaku.


"Jam berapa sekarang Mas?" Tanyaku dengan suara serak.


"Jam 5, ayo bangun dan mandilah."


Mas Dipta menyibak selimut, akupun mulai beringsut turun. Duh gustiii... nih badan rasanya remuk. Aku berdiri dan berjalan terseok menuju kamar mandi.


"Apa mau di mandiin?" Tanya Mas Dipta sudah berdiri siap mengangkatku ke kamar mandi.


"Ish.. maumu. Aku bisa sendiri kok."


"Hehe.. aku terlalu bersemangat semalam. Kamu berbeda, aku sangat menyukainya." Selorohnya lagi sambil mesam- mesem.


Akupun jadi merona mengingat apa yg terjadi semalam. Di bolak- balik dengan berbagai gaya dan posisi yg berbeda membuat kamar sudah seperti terkena badai.


Jangan tanya baju semrawang yg ku pakai semalam. Baju itu tergeletak di lantai begitu saja. Tak mungkin lagi aku bisa memakainya, karena Mas Dipta sudah membuatnya terbelah jadi 2.


.


Pagi itu kita budal dari rumah dengan mobil masing- masing. Mas Dipta berangkat kerja dan aku tentu saja menuntut ilmu. Meski aku hanya tidur tak kurang dari 3 jam, tapi pagi itu aku mencoba menjalani hari dengan bersemangat.


Ada 2 mata kuliah hari ini, dan di mata kuliah terakhir aku sudah tak fokus dengan penjelasan dosen di depan. Mata berasa udah sepet, pengen merem aja bawaanya.


Aku setengah melamun dan mungkin setengahnya lagi tertidur saat Amel menyadarkanku dengan menowel bahuku dari belakang. Saat gelagapan, baru ku lihat kelas sudah bubar. Wow.. ternyata aku punya kemampuan tersembunyi yg lain yaitu tidur dengan mata terbuka.


"Kalem amat hari ini? Kenapa sih?" Amel menggeret kursi demi ingin duduk di dekatku.


"Heol.. sejak kapan kelas udah bubar?" Tanyaku sambil memberesi buku dan teman- temannya di depanku.


"Kamu tidur dari tadi?"

__ADS_1


"Entah, aku merasa sesaat tadi tak disini." Jawabku dengan mencangklong tas, bersiap mau keluar kelas.


"Semalam begadang? Dih.. gak musim ujian ini, begadang ngapain?" Amel mengembalikan lagi kursi yg di gesernya tadi ke tempat semula. Belum sempat dia duduki, karena aku sudah berdiri mau pergi.


"Bikin anak sampe pagi." Jawabku asal.


"Sialan.. kayak gitu di omongin ke aku!" Amel langsung mrengut gitu.


"Ya tadi kamu nanya..."


"Ck.. pake filter napa, yg kamu ajak ngomong nih masih perawan tauk!"


Aku cuma terkikik melihat reaksi Amel, lumayan menghibur.


"Kayaknya bentar lagi aku mau dapet keponakan nih. Gak pake kb kan? Jadi ngebayangin, kamu wisuda sambil gendong bayi." Sekarang Amel yg terkikik.


"Iya juga ya.. mana suami udah ngebet banget pengen punya anak lagi, gak tega kan kalo pake kb. Mauku sih, ya di tunda dulu. Paling gak sampai aku lulus kuliah." Ngomongku jadi ngelantur. Kayak jadi sesi curhat gitu.


"Udah pernah di omongin belum sama suami? Sapa tahu dia juga dukung." Saran Amel membuatku jadi berpikir. Sebenarnya masalah anak memang belum pernah benar- benar ku bahas dengan Mas Dipta.


Takut di tinggalin aku tuh.. Itulah kenapa aku penasaran banget dengan kasus Delia, hanya demi agar aku plong gitu bahwa Delia sudah bukan ancaman lagi untukku.


"Ini kamu mau langsung pulang? Masih siang, suami kamu juga pasti belum ada di rumah. Nugas dulu aja yuk, bareng- bareng kan deadline juga dah mepet." Ujar Amel yg alus banget modusnya pengen ngerjain bareng, padahal tujuan sebenarnya pengen nyontek.


"Aku pulang aja lah, ngantuk. Tidur bentar, persiapan buat ntar malem jadi penyidik." Jawabku yg membuat dia langsung mencebik.


"Halah gegayaan jadi penyidik, preeet lah.. mau begadang lagi sama suamimu itu palingan." Katanya yg tak lagi ku ladeni.


"Bye, aku pulang dulu. Yg rajin nugasnya ya.." aku mendahului langkahnya dan berbelok ke arah parkiran.


Aku sampai rumah jam 2 siang. Mas Dipta bilang hari ini dia akan pulang cepat, tapi entah di jam berapa. Mungkin jam 3 atau jam 4. Mumpung dia belun datang, aku menghempaskan begitu saja tubuhku di sofa tanpa berganti baju dulu.


Pengen tidur sebentar, lumayanlah dapat sejam dua jam.


Aku udah pw, udah berasa maklerr ngiler saat tiba- tiba pintu di ketuk. Aku jadi tergagap, dan jantung langsung berdetak lebih cepat. Kalian pernah ngerasa pas dapet tidur sebentar namun langsung kebangun gara- gara kaget? Linglung, gitu jadinya aku.


Aku duduk, menormalkan detak jantung sebentar. Kemudian berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Lebih kaget lagi setelah aku tahu siapa yg berada di balik pintu.


"Mbak Delia?!" Ucapku tak percaya dengan yg ku lihat, ini nyata kan? Atau jangan- jangan aku masih tidur dan mimpi saking pinginnya aku kepo soal Delia.


"Iya Kania, ini aku. Boleh aku masuk?" Katanya dengan wajah tenang dan sok cantik. Padahal emang dasarnya dia udah cantik sebenarnya.


Aku menyingkir dari depan pintu, agar dia punya ruang untuk melangkah memasuki rumah. Selagi dia jalan masuk, aku melihat kondisi di luar rumah. Mencari kira- kira dengan siapa Delia ini kemari. Tapi tak ada satupun orang yg nampak di luar rumah.


Aku berbalik ke arahnya, dan ku lihat dia sedang melihat- lihat kondisi rumah.


"Mbak Delia sendirian aja kesini?" Tanyaku.


"Iya. Aku duduk ya.." katanya sambil mengambil duduk di sofa. Dia menata bantal kecil- kecil di sofa untuk menyangga punggungnya.


"Oh iya, silahkan. Mbak Delia mau minum apa? Panas atau dingin?"


"Tak usah, aku hanya sebentar di sini. Duduklah!" Ucapnya.


Kok aku jadi merasa ada yg salah. Ini rumahku kan? Kenapa dia seperti yg tuan rumah sih? Ayo Nia, jangan seperti ini. Tunjukkan sikapmu yg bisa mengintimidasi.


Aku duduk dengan gaya elegan. Menyilangkan kaki dan menegakkan punggungku. Tak lupa senyum ku tampakkan di bibirku, menunjukkan bahwa aku tak merasa tertekan dengan kehadirannya.


"Mbak Delia, sudah baikan? Maaf kemarin tak sempat nengok ke rumah sakit, rencana baru nanti malam ke rumah nengokin. Malah keduluan Mbak Delia yg ke sini." Kataku berusaha ramah, siapa tahu dia datang dengan niat baik.


"Aku baik, jadi ku rasa tak perlu ke rumah kalo niatmu mau nengokin aku." Jawabnya masih dengan senyum yg terus tersungging di bibirnya, hingga aku tak bisa membaca niatan sebenarnya dia datang ke sini mau apa.


"Ah.. syukurlah kalo begitu. Mudah- mudahan tak terjadi apa- apa lagi sampai nanti melahirkan. Semua lancar." Ucapku tulus dan dia tak menanggapi do'aku itu. Mbok ya di amin-kan gitu lho..


"Aku kemari tak mengharapkan do'amu itu. Lancar atau tidak persalinanku nanti biar aku yg urus sendiri. Ada yg ingin ku tanyakan padamu. Barang- barangku di apartemen, kamu pindahkan kemana?"


"Hah?!"


Aku bukannya tak mendengar apa yg dia tanyakan, tapi aku lebih ke shock dengan pernyataannya. Ya ampuun.. aku tuh baik lho do'ain dia, kenapa sih dia tak bisa melihat ketulusanku ini. Aku kan jadi syediih, duh lebay deh..


"Kamu pasti yg meminta Dipta buat mindahin barang- barangku dari sana kan? Katakan, sekarang ada di mana semua barang- barangku itu?" Ulangnya lagi.


Aku memang tahu di apartemen Mas Dipta ada kamar yg sempat di pake Delia. Tapi memang barang- barangnya sudah tak di sana? Terakhir ku lihat masih ada di sana, kenapa dia datang dan tiba- tiba nuduh aku sih?

__ADS_1


__ADS_2