
Aku menatap setiap detik ponselku, berharap mas Dipta segera menghubunguki. Dan ketika ku dengar ada notif yg masuk, aku buru2 melihat. Bukan dari mas Dipta tapi dari pak Ardi.
Maaf, apa bu Dipta sudah makan? Ini saya mau pesan makanan online, siapa tahu ibu berminat jadi bisa sekalian saja..
Tanyanya melalui pesan yg dia kirim.
Tidak pak, saya sudah makan tadi sore bareng Rania. Jawabku, dan detik berikutnya langsung di balas oleh pak Ardi.
Waduh, jd gak enak. Rania merepotkan bu Dipta.
Saya sama sekali tak repot pak. Oya, mas Dipta nanti pulang sekitar jam 8 ya pak. Balasku, dan tak lama langsung ada balasan dari pak Ardi.
Baik bu, saya akan ke sana kalo pak Dipta sudah di rumah.
Namun beberapa waktu menunggu, aku tak juga mendapat telpon dari mas Dipta. Aku bahkan kembali mengirim pesan padanya, yg isinya masih sama, menanyakan kapan dia akan pulang. Tapi tetap tak ada balasan darinya. Hatiku benar2 di buat kalut olehnya, memang apa sih yg di kerjakannya sampai tak melihat hp sama sekali. Atau jangan2 dia sebenarnya sudah melihatnya melalu notif masuk namun dia sengaja tak membukanya dan bahkan mengabaikannya. Prasangka2 buruk mulai hinggap di dadaku yg membuat semakin sesak. Mungkin begini rasanya, mencintai tapi di abaikan. Tanpa terasa air mataku sampai terjatuh dan di detik beikutnya aku mulai menangis sesenggukan untuk mengurangi sesak di dadaku. Kadang menangis memang perlu hanya agar membuat lega di dada.
Ketika waktu sudah menunjukkan jam setengah 9, dan tak ada tanda2 kepulangan mas Dipta. Aku memutuskan untuk membiarkan pak Ardi menjemput Rania. Saat pak Ardi mulai masuk rumah, pintu ku biarkan terbuka lebar2. Pak Ardi sempat terhenyak melihat kedua mataku yg sembab karena terlalu lama menangis tadi. Tapi aku sengaja tak menanggapinya dan malah berpaling menghindari tatapannya.
"Rania di atas pak, dia tidur di sana." Ujarku, lalu melangkah menaiki tangga di ikuti pak Ardi. Saat ku buka pintu kamarku, pak Ardi masuk dan sempat memindai isi kamar. Tak tahu apa yg di pikirkannya, tapi tatapan matanya membuatku ingin mengkonfirmasi.
"Ini kamar untuk saya pake belajar pak. Pak Ardi tahu, saya masih kuliah kan?!" Ujarku, agar pak Ardi tak beranggapan macam2. Meski kamar ini banyak barang2 ku yg sekali lihat sudah tahu bahwa kamar ini ku tempati untuk tidur. Pak Ardi hanya diam saja, dia hanya langsung menggendong Rania dan membawanya turun. Aku mengikutinya turun.
Dan ketika di undakan tangga terakhir, ku lihat di sana, di ruang tamu ada sosok mas Dipta mematung menatap kami yg sedang menuruni tangga bersama. Matanya bergantian menatapku dan kemudian menatap pak Ardi. Pandangan matanya terkejut bercampur heran dan alisnya berkerut. Aku sendiri tak bisa menebak apa yg di pikirkannya. Tanganku tiba2 dingin, dan seperti salah tingkah. Seperti seseorang yg kedapatan memasukkan seorang laki2 ke dalam kamar.
__ADS_1
"Selamat malam pak Dipta. Maaf mengganggu, ini saya jemput anak saya yg tadi main di sini malah sampe ketiduran." Sapa pak Ardi sembari menjelaskan. Mas Dipta hanya diam saja, dia malah melihat ke arahku.
"Kalo begitu kami pulang dulu. Sekali lagi maaf merepotkan dan terima kasih." Pamit pak Ardi.
"Iya pak sama2.." jawabku mengikuti pak Ardi untuk membukakan pintu yg mungkin tadi di tutup oleh mas Dipta ketika dia masuk. Saat pak Ardi sudah keluar, aku kembali menutup pintu. Ku lihat mas Dipta masih berdiri di tempatnya tadi.
"Baru pulang mas?" Sapaku sambil terus melewatinya. Aku tak bermaksud menjelaskan apa2 karena tadi pun aku sudah memberitahunya lewat telpon. Meski orang lain yg menerima, pasti sudah di sampaikan bukan pesanku tadi.
"Nia..!" Suara mas Dipta menghentikanku ketika aku ingin menaiki tangga. Aku memutar tubuhku menghadapnya.
"Apa itu tadi? Apa tak ada penjelasan darimu?" Tanya mas Dipta dengan tatapan yg tajam padaku. Dia melangkah mendekat padaku.
"Bukankah wanita itu sudah menyampaikan pada mas Dipta?" Jawabku. Mas Dipta mengerutkan alisnya, dia seakan tak paham apa yg sedang ku bicarakan.
"Wanita? Wanita siapa? Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, barusan kamu memasukkan seorang pria saat suamimu tak ada di rumah dan tak menjelaskan apa2." Ucapnya lagi sedikit berteriak. Ku kepalkan tanganku kencang, aku tak ingin meluapkan amarahku yg begitu menyesakkan dada sesaat yg lalu.
"Aku...aku sedang sibuk tadi.." mas Dipta berkata, matanya sudah tak fokus seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Kembali dadaku merasa sesak.
"Kalo mas Dipta sesibuk itu lebih baik jangan hiraukan diriku seperti yg sudah mas Dipta lakukan padaku selama ini"
Aku mengakhiri pembicaraan dengan mas Dipta malam itu. Ku naiki tangga kembali ke kamar dan ketika aku mau masuk kamar, ku lirik mas Dipta masih mematung di tempatnya tadi. Kira2 apa yg sedang dia pikirkan. Namun sungguh aku tak ingin tahu, bukankah dia bilang kita akan menjalani hidup masing2 walaupun status kita suami istri. Dia bahkan terang2an menolakku dan menyuruhku menjauh waktu itu.
Perdebatan itu membuat hubungan kita pagi itu menjadi semakin canggung. Biasanya saat aku sudah selesai membuat sarapan dia akan keluar atau aku akan mengetuk pintunya. Lalu kita sarapan bareng di meja makan. Tapi sekarang tak ku lakukan itu, diapun tak juga kunjung keluar. Karena hari ini aku ada kuliah pagi, aku tak sempat makan sarapan di rumah. Ku bawa saja dalam kotak bekal, nanti biar bisa ku makan saat di kampus. Ketika hendak berangkat, aku sempatkan berpamitan pada mas Dipta yg masih belum keluar dari kamar.
__ADS_1
"Mas, aku berangkat kuliah dulu!" Ku ucapkan itu di depan pintu kamarnya, kemudian keluar rumah tanpa menunggu jawaban dari mas Dipta. Saat di luar, aku mencoba kembali memesan ojek online, yg sebenarnya dari tadi aku sudah mencoba pesan namun entah kenapa pagi ini susah banget nyantolnya.
"Tante Nia..." panggilan itu membuat mataku beralih dari layar hp pada anak berseragam sekolah lengkap dengan tas gendongnya.
"Lho.. Rania, kok masih di rumah? Masuk sekolah jam berapa sih?" Tanyaku, anak kecil itu berjalan menghampiriku dengan senyum cerianya.
"Hari ini, aku berangkat siang. Jadi aku berangkat barengan pas papa mau kerja." Jawabnya ketika sudah ada di depanku. Aku hanya ber-o ria sambil memganggukkan kepala.
"Papaaa!!!" Teriak Rania, ketika melihat pak Ardi menoleh kanan kiri mencarinya.
"Ayo berangkat!" Ajak pak Ardi pada Rania.
"Tante...tante bareng kita ajha yah..." tiba2 Rania menggandeng tanganku dan menarikku mendekati pak Ardi.
"Hah? Eh tapi...." belum sempat aku bicara, Rania sudah semangat bilang ke pak Ardi.
"Papa... boleh tidak tante Kania ikut kita? Kan tante juga mau pergi" Kania berbicara dengan manja pada pak Ardi. Pak Ardi menatapku kemudian menoleh ke arah rumahku. Rania semakin merengek meminta papanya mengajakku.
"Iya..iya Rania, tapi tante Kania mau ikut tidak?" Ujar pak Ardi menenangkan anaknya. Rania menoleh ke arahku dengan berbinar.
"Ayok tante... nanti biar papa yg nganterin tante." Rania menarik tanganku mendekati mobil pak Ardi. Oke baiklah...ngikut sajalah. Dari tadi nyari ojek online juga tak dapat.
Akhirnya pagi itu aku memutuskan untuk ikut mobilnya pak Ardi. Pak Ardi tersenyum padaku ketika masuk dan duduk di belakang setir mobilnya.
__ADS_1
"Maaf ya bu Dipta, kalo Rania jadi bikin gak nyaman bu Dipta" ujar pak Ardi.
"Ah tidak kok pak... saya jadi merasa tertolong ini." Jawabku. Pak Ardi mengangguk, terlihat senyum di bibirnya. Mobil pun akhirnya jalan meninggalkan komplek perumahan itu.