Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Cium aku sekarang


__ADS_3

Aku mengerjapkan mata saat mendengar suara adzan subuh berkumandang. Seperti baru tidur sekejap, mataku masih terasa lengket untuk terbuka. Aku menggeliat untuk meregangkan otot- ototku.


Saat melebarkan tanganku, aku tak sengaja menyenggol sesuatu di sebelah tempatku berbaring. Dengan segera aku menarik kembali tanganku dan menoleh ke arah samping.


Di sana ada mas Dipta yg dengan damainya masih terlelap dalam tidur. Aku jadi miring ke samping untuk menghadapnya, ku amati setiap lakukan wajahnya yg tampan.


Aku jadi teringat lagi kejadian semalam yg membuat wajah bangun tidurku merona, setelah itu mas Dipta memang tak mau kembali ke kamarnya. Dia tidur di sini, di sebelahku. Itu memang bukan kali pertama kita tidur seranjang, tapi semalam terasa berbeda. Sepanjang malam dadaku terasa bergemuruh, gerakan sedikit saja dari mas Dipta membuat jantungku terasa mau copot. Alhasil, aku baru bisa tertidur karena kelelahan dan mungkin sudah lewat tengah malam.


Ku pandangi bibir mas Dipta, bibir yg semalam membuatku bagai orang mabuk dan linglung. Tanpa terasa tanganku menyentuh bibir kenyal itu. Ku usap perlahan agar tak membangunkannya. Kemudian ku telusuri garis hidungnya yg mbangir, terus ke atas ingin ku usap alis tebalnya. Namun aksiku berhenti, kala mata itu entah sejak kapan menatapku intens. Aku tersentak, menarik tanganku dengan cepat. Dan berusaha bangkit menjauh darinya, namun belitan selimut di tubuhku membuat tubuhku limbung dan terjatuh menimpa mas Dipta.


"Kamu tak apa- apa? Apa kakimu sakit lagi?" Tanya mas Dipta. Ini sangat memalukan, tak berani aku menatap wajah mas Dipta, ingin rasanya aku cepat pergi dari sana.


"Jangan bergerak- gerak terus, itu membuatku tak nyaman." Ucap mas Dipta lagi, dia mendekap tubuhku agar aku tak banyak bergerak.


"Sejak kapan mas Dipta terbangun?" Tanyaku masih di atas tubuhnya.


"Hem.. entahlah. Aku bahkan tak tahu apa aku tidur atau tidak." Jawabnya. Padahal aku lihat sejak beberapa saat yg lalu dia masih terlelap. Apa dia hanya memejamkan matanya tapi tak tidur.


"Aku lihat mas Dipta masih merem saat aku bangun tadi, apanya yg tak tidur?" Sahutku.


"Merem bukan berarti aku tidur. Beberapa kali aku harus mengalihkan pikiranku ke hal lain, agar aku tak menjadi seperti hewan buas."


Jawaban mas Dipta semakin membuatku bingung, hewan buas? Apa mas Dipta ini sejenis Werewolf yg bisa mengubah dirinya menjadi serigala.


"Sudah, ayo bangun mas. Kita sholat subuh dulu" kataku menyudahi kebingunganku sambil beringsut turun dari atas tubuh mas Dipta.


Kali ini aku menyibakkan selimutku dan turun perlahan agar tak terjatuh lagi. Mas Dipta ku lihat menggeliat dan turun mengikutiku ke kamar mandi.


Pagi itu, untuk pertama kalinya kita sholat berjama'ah dengan mas Dipta sebagai imamku. Hatiku jadi menghangat, dan semakin mengagumi sosoknya.


Beberapa saat kemudian.


Mas Dipta sudah menungguku di dalam mobilnya yg menyala. Aku masih di ribetkan dengan memindahkan makanan ke kotak bekal. Karena terlalu lama dia menunggu, dia kembali masuk ke dalam untuk melihatku.


"Apa masih lama?" Tanyanya.

__ADS_1


"Tidak, ini sudah selesai. Ayo!" Jawabku meraih tas cangklongku.


"Kenapa seperti berat sekali, bawa apa saja kamu?." Tanyanya lagi saat melihatku membawa tas cangklongku yg berat.


"Ini hanya buku- buku dan laptop. Dan ini tas bekalku." Jawabku menunjukkan tas -tas itu ke mas Dipta.


"Berikan tas mu yg itu. Biar ku bawakan!" Titahnya menunjuk tas cangklongku.


"Tak apa mas, aku kan membawanya hanya sebentar. Di dalam mobil bahkan aku letakkan tas itu." Jawabku menolak, namun mas Dipta ternyata tak menerima penolakanku. Dia mengambil tas itu dari bahuku dan berjalan duluan keluar menuju mobil. Aku mengikutinya, dengan senyum tersungging di bibirku.


Mobil pun melaju meninggalkan komplek perumahan kita.


"Pulang kuliah biasanya naik apa?" Tanya mas Dipta, matanya fokus melihat ke arah depan. Jalanan padat pagi itu. Apalagi di beberapa tempat banyak genangan air sisa hujan semalam.


"Naik ojek." Jawabku yg heran karena dia bertanya seolah- olah tidak tahu.


"Jalanan macet dan banyak genangan air, kamu masih mau naik ojek hari ini? Apalagi barang yg kamu bawa berat gitu."


Apa mas Dipta sedang mengkhawatirkan aku? Aku menatapnya, namun dia terus fokus melihat depan.


"Tetap saja tak aman." Mas Dipta tetap tak mau menerima pendapatku.


Memang aku harus naik apa? Aku nyaman dengan ojek, sudah terbiasa memakai moda transportasi itu. Haruskah aku berganti memakai taksi saja.


"Kamu bisa bawa mobil?" Tanya mas Dipta setelah beberapa saat kami terdiam.


"Iya bisa"


"Bagus." Kata mas Dipta. Tak mungkinkan mas Dipta akan membelikanku mobil. Itu sungguh tak mungkin.


Sampai kita berhenti di depan sebuah gedung berlantai 4. Aku melihat sekitar, ada pak satpam di luar yg sepertinya akan menghampiri mobil kami.


"Kok berhenti di sini mas, gak di kampus. Ini dimana?" Tanyaku, setelah aku tak tahu kita dimana.


"Ini di depan kantor." Jawabnya.

__ADS_1


"Loh, kok malah ke kantor dulu. Trus aku ke kampus gimana?"


"Bawa mobil ini." Jawabnya, aku melongo.


"Trus nanti mas Dipta pulangnya gimana? Di anterin sama asisten mas Dipta itu? Gak aku gak mau" aku menolak sambil bersungut- sungut. Masa' aku memberikan kesempatan pada asisten mas Dipta itu, yg jelas- jelas aku yakin dia punya perasaan pada mas Dipta.


"Aku bisa pake mobil kantor nanti atau minta anter Dino" Jawab mas Dipta yg melegakan hatiku.


Aku ragu- ragu antara menerima usul mas Dipta atau tidak. Aku belum terbiasa nyetir di kota besar seperti ini, dulu pernah nyetir ketika di kampung dengan mobil katering milik Bibi ku. Tapi kan itu di kampung dengan mobil van aku lancar nyetir. Tapi di sini, lalu lintas rame dan dengan mobil mas Dipta yg harganya pasti gak kaleng- kaleng, aku sudah grogi duluan.


"Kita bisa test drive dulu. Ayo turun, kita gantian." Ajak mas Dipta yg seperti menjawab keragu- raguanku.


Mas Dipta segera keluar, dan di susul aku yg keluar dengan gamang. Pak satpam yg dari tadi berdiri dekat mobil menyapa mas Dipta, begitu juga dengan beberapa orang yg melintas. Mereka sedikit melirik- lirik ke arah kami, pengin tahu apa yg sedang kita lakukan.


Mas Dipta sudah duduk di kursi yg ku duduki tadi, akupun segera menyusul duduk di kursi belakang kemudi.


"Kita bisa muter dulu lewat jalan sana." Ucap mas Dipta menunjukkan jalan.


Dengan tangan yg sudah berkeringat dingin aku memasukkan persneling, kemudian ku injak gas pelan. Mobil pun mulai melaju perlahan. Awalnya aku memang tegang, tapi kemudian sudah mulai terbiasa. Sampai kita kembali ke depan gedung kantor tadi.


"Sudah bisa? Jalannya ati- ati ya, aku keluar dulu." Ucap mas Dipta. Aku mengangguk, ku raih tangan mas Dipta untuk menciumnya.


"Cium tangan sudah, sekarang cium aku!" Perkataanya itu membuatku senam jantung. Apa barusan mas Dipta sedang bercanda, ini di depan kantornya. Bahkan masih banyak orang melintas memasuki gedung itu.


"Kenapa? Kita semalam bahkan berciuman bibir. Mencium pipi sekarang tak masalah kan?" Ucapnya lagi. Ya ampun, dia bahkan mengungkit kejadian semalam dengan gamblang. Aku jadi malu sendiri di buatnya.


"Iya iya...sini!" Akhirnya aku mengalah, dari pada kelamaan dan berakhir aku telat ke kampus nanti ku turuti saja mau mas Dipta.


Aku mendekatkan wajah ke arah mas Dipta bersiap mencium pipinya. Namun betapa liciknya dia, saat sudah hampir bibirku menyentuh pipinya dia memalingkan wajahnya dan bibirku berakhir menyentih bibirnya.


Dan dengan gerakan cepat tangan mas Dipta menahan tengkuk leherku. Aku memekik tertahan kala mas Dipta dengan santainya melu*mati bibirku.


Ciuman pagi itupun berakhir, mas Dipta tersenyum penuh kemenangan. Aku merona menahan malu. Dan saat mau turunpun mas Dipta sempatkan mencium keningku.


"Hati- hati ya!" Katanya lalu keluar dari mobil.

__ADS_1


Oh Tuhan, benar- benar bikin kerja jantung jadi tak sehat.


__ADS_2