Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Filosofi sepatu


__ADS_3

Kami sedang duduk- duduk di balkon kamar, setelah selesai sholat isya'. Karena kita berada di daerah perkebunan membuat udara malam itu begitu dingin, Mas Dipta yg tak membawakanku baju hangat jadi merelakan sweater nya ku pakai. Dia sendiri hanya mengenakan baju panjangnya yg tipis.


"Dingin Nia, sini duduk deketan!" Katanya yg duduk di kursi pantai terbuat dari rotan.


"Masuk saja saja yuk!" Ajakku bangkit dari kursi lainnya yg ku duduki. Namun Mas Dipta menarik tanganku, dan membuatku duduk di pangkuannya.


"Mas..!!" Pekikku kaget, dia malah melingkarkan tangannya di perutku.


"Begini jadi lebih hangat." Ucapnya, aku yg gak nyaman masih terus bergerak ingin bangkit dari sana.


"Nia, tolong diamlah! Nanti kamu bisa membangkitkan sesuatu yg masih tertidur." Katanya, aku memutar kepalaku untuk mencari sesuatu yg tertidur itu. Apa mungkin penjaga villa? Tapi apa mungkin dia sudah tidur di jam segini.


"Siapa yg tertidur?" Tanyaku yg tak menemukan siapa- siapa di sana selain kita.


"Emh.. ular mata satuku bisa bangun kalo kamu bergerak- gerak terus di atasnya." Jawabnya sambil mesem- mesem dan memainkan alisnya naik turun. Aku sungguh tak percaya dengan apa yg barusan ku dengar, membuatku malu dan mungkin sekarang wajahku sudah merona.


"Ish.. mas!!" Cebikku.


"Makanya duduknya yg tenang, yg nyaman gitu."


Aku menaikkan dua kakiku dan berselonjor di antara kedua kakinya. Mas Dipta menarikku lebih dekat hingga punggungku menyentuh dadanya. Dia mendekapku erat, untuk mengurangi rasa dinginnya.


"Kalian pernah tinggal bersama Mas?" Aku bertanya apa yg jadi ganjalan dalam hatiku sejak dulu.


"Hah? Dengan siapa?" Tanyanya sambil menyenderkan dagunya di atas puncak kepalaku.


"Di apartemenmu itu, bukankah itu kamarnya Delia."


"Jadi kamu sudah tahu? Sejak kapan kamu tahu?"

__ADS_1


"Aku pernah bantuin Mbok Pur bersih- bersih di sana. Karena penasaran, aku jadi masuk ke kamar itu." Jawabku.


"Hmm.. nakal! Bukankah sudah ku bilang jangan membuka kamar yg itu? Apa setelah itu, kamu jadi menghindariku waktu itu?" Tanyanya sambil menjawil hidungku.


"Saat kamu di kampung, mbok Pur mengadu pada Mama kalo ketika kamu di apartemen jadi murung dan menangis. Mama menelponku, menanyakan apa yg terjadi, padahal aku tak tahu menahu. Hingga akhirnya Mama sendiri memeriksa apartemenku, dan jadilah kita di suruh pisah dulu. Mereka pikir aku juga pernah serumah dengan Delia." Lanjutnya, menelusupkan tangannya yg terasa dingin ke dalam sweater yg ku pakai. Untung aku masih pakai baju di dalamnya.


"Lalu, pernah gak?"


"Kamar itu di pakai Delia saat kabur dari rumah ketika dia di suruh pergi ke luar negeri. Saat itu, aku sudah kembali ke rumah Papa. Jadi ku pikir dari pada dia kabur entah kemana, ku biarkan saja dia memakai kamar di sana." Jawabnya, sekarang dagunya, dia senderkan di atas bahuku. Hingga aku bisa merasakan nafas hangatnya menerpa sebelah pipiku.


"Sebentar lagi dia pulang, apa Mas Dipta akan kembali padanya dan bercerai denganku?" Tanyaku dan ada sedikit ketakutan dalam hatiku atas jawaban yg akan Mas Dipta berikan padaku.


"Astaghfirullah Nia.. tak ada sedikitpun pikiran aku akan menceraikanmu. Dari awal, meski waktu itu aku tak menginginkan pernikahan, namun aku tak pernah main- main."


Jawaban dari Mas Dipta langsung membuat hatiku nyeesss.. seperti di tetesi embun di pagi hari. Ada kesejukan di sana. Diam- diam aku menyunggingkan senyum.


"Jadi mulai sekarang jangan berpikir akan berpisah denganku, hilangkan itu! Kita itu sudah satu paket seperti sepatu, tak pernah kompak tapi memiliki tujuan yg sama. Kalo yg satu hilang, yg satu lagi tak memilili arti."


Tapi sebisa mungkin aku mengontrolnya. Tak ingin melebih- lebihkannya, karena pada dasarnya sesuatu yg berlebihan itu tak baik. Begitu pula barusan, aku seperti di terbangkan ke atas setinggi- tingginya, namun setelahnya aku takut jika terhempas ke dasar bumi. Naudzubillah, mudah- mudahan itu tidak akan terjadi.


"Percayalah padaku Nia, semua yg kulakukan untukmu tulus. Ini semua dari dasar hatiku." Ucapnya lagi. Aku sedikit terjengit kaget ketika tiba- tiba tangan Mas Dipta mulai menelusup ke dalam bajuku di balik sweater yg kupakai.


"Manis sekali kata- katamu Mas, membuatku meleleh. Tapi tolong tangannya di kontrol!" Kataku berusaha menghentikan tangannya yg mulai merayap naik.


"Hehe.. kangen Nia. Kamu gak kangen ya?" Dia nyengir aja gitu. Dan saat tangannya berhasil mengusap lembut salah satu dadaku, di tambah dengan gigitan pelan di telinga kiriku. Aku benar- benar terperanjat dan langsung berdiri.


"Oh Mas.. apa yg kamu lakukan? Sebaiknya kita masuk dan istirahat saja. Lihatlah lingkaran hitam di matamu itu.." aku merapikan baju dan sweaterku sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


Mas Dipta beringsut turun dari kursi dan mengikutiku masuk kamar.

__ADS_1


"Baiklah baiklah... ayo kita istirahat saja. Sepertinya aku bisa tidur nyenyak malam ini." Seloroh Mas Dipta sambil menutup pintu penghubung menuju balkon.


Dia lalu menyusulku ke ranjang dan menarikku ke dalam dekapannya. Tangannya melingkar posesif di pinggangku, dan tangan satunya ku jadikan bantal.


"Selamat tidur istriku, kita bertemu di mimpi ya." Ucapnya lalu mengecup keningku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.


Beberapa saat kemudian aku mendengar nafas teratur dari Mas Dipta. Sepertinya dia sudah tertidur, efek begadang 2 hari membuatnya tidur dengan cepat. Aku pun langsung memejamkan mataku berusaha menyusulnya ke alam mimpi.


Namun satu jam, dua jam kemudian aku tak juga mendapati rasa kantukku. Mataku berasa tak mau di ajak kompromi, aku yg mengajaknya cepat beristirahat malah masih terjaga hingga larut malam.


Apa karena lampunya yg terlalu terang? Aku berniat mematikannya dan menggantinya dengan yg lebih redup. Saat aku bangun, ku pindahkan tangan Mas Dipta yg masih setia di pinggangku dengan perlahan, berharap tak membangunkannya.


Tapi baru akan ku taruh kembali tangan itu, Mas Dipta sudah terusik dengan gerakanku. Dia langsung membuka matanya dan melihat ke arahku.


"Mau kemana, Nia? Kenapa tak tidur?" Tanyanya dengan kepala sedikit di tegakkannya.


"Aku membangunkanmu ya Mas? Maaf ya, aku mau ganti lampunya dengan yg lebih redup. Terlalu silau, aku gak bisa tidur." Jawabku lalu berjalan menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu yg terang.


Mas Dipta tak kembali tidur, dia memperhatikan apa yg sedang ku lakukan sampai aku kembali berbaring lagi di sebelahnya. Dia pun menarik lagi diriku dalam dekapannya.


"Tidurnya jangan jauh- jauh ya." Katanya, dan setelah itu hening untuk beberapa saat, ku pikir dia sudah kembali tidur. Namun saat aku bergerak untuk membenahkan selimut, dia belum tidur.


"Masih belum bisa tidur?" Tanyanya.


"Iya, maaf ya aku gerak- gerak mulu jadi ganggu tidurmu." Jawabku.


"Aku tahu caranya agar kamu cepat tertidur."


"Hah? Benarkah, apa itu?" Tanyaku polos, karena memang aku tak tahu apa maksudnya.

__ADS_1


Dan dalam gerakan cepat dia langsung mengungkungku. Manatapku dalam dan perlahan mengikis jarak di antara kami. Sebuah sentuhan hangat nan kenyal mendarat di bibirku.


Ciumannya sangat lembut dan membuatku terbuai, hingga seperti terhipnotis aku menikmati semua sentuhannya. Malam itu kita saling menghangatkan dengan penyatuan kami. Dan entah di jam berapa kami usai, seperti katanya, aktifitas itu membuatku merasa energiku terkuras habis. Hingga akhirnya membuatku tertidur.


__ADS_2