Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Kencan di rumah


__ADS_3

Aku hanya melirik malas pada mas Dipta setelah mendengar ajakannya itu. Mas Dipta ternyata paham kalo aku sedang kesal. Dia duduk di sebelahku dan menghela nafas sebentar.


"Maafkan aku Nia." Hanya kata itu yg ku dengar. Tak ada lagi yg lain. Aku menunggu sesaat tapi ternyata dia tak menjelaskan apapun.


Ah sudahlah, memang aku mengharapkan apa. Kencan menonton film berdua dan di lanjut makan malam romantis. Dalam mimpimu! Sejak awal aku bahkan sadar bahwa aku tak ada di hatinya, tak ada artinya apa- apa , bahkan mungkin tak penting baginya.


Sejenak terdiam dengan pikiran kita masing- masing. Aku akhirnya berdiri, melangkah menuju tangga dan ingin masuk kamar. Aku akan menyegarkan pikiranku dengan mandi dan sholat maghrib. Mas Dipta terlihat mengekoriku sampai ujung tangga.


"Kita masih bisa melakukan salah satunya Nia. Makan atau nonton." Ucapnya. Aku berhenti sejenak di anak tangga, melihat ke arahnya.


"Tak usah mas, istirahatlah." Jawabku kemudian melanjutkan menaiki tangga.


"Baiklah, mungkin lain kali ya?" Ujarnya lagi, namun aku sudah menjauh darinya dan akupun tak ingin menanggapinya.


Lain kali apanya, sudahlah. Aku takkan termakan harapan -harapan yg dia buat.


Benar saja, setelah selesai mandi dan sholat aku nampak segar. Pikiranku tak melulu soal mas Dipta. Aku akan menyibukkan diri dengan belajar saja, agar tak sempat diriku memikirkan mas Dipta.


Tok tok tok


Baru saja aku mau membuka laptop di atas kasur, namun bunyi ketukan di pintu membuatku mengurungkan niatku.


Tok tok tok


Lagi ketukan itu berbunyi, seperti sudah tak sabar.


"Iya, sebentar." Ujarku kemudian membuka pintu.


Ku lihat mas Dipta di depan pintu. Dia sudah berganti pakaian dengan celana kolornya dan kaos oblongnya. Sudah nampak segar juga, habis mandi mungkin.

__ADS_1


"Sudah mau tidur?" Tanyanya. Aku menggeleng.


"Belum. Ada apa?"


"Bagus, ayo sini!" Ucapnya, aku nampak ragu mengikutinya.


"Ayo cepat sini!" Mas Dipta meraih tanganku dan segera menariknya. Nampak tak sabar melihatku yg mulai lelet.


Dan tarikan tangannya berhenti ketika sampai di samping kamarku. Ruangan yg tadinya berisi sofa dan tv itu sudah berubah. Sofa masih di sana tapi di bawahnya ada karpet bulu yg tebal dan empuk. Tv di gantikan layar putih yg besar, di depannya ada meja berisi proyektor kecil dan beberapa makanan di sana. Aku mengerutkan alisku, bertanya- tanya apa yg sedang terjadi.


"Kita lakukan keduanya. Nonton dan makan. Tapi di rumah. Kita bisa nonton banyak film sampai pagi di sini." Kata mas Dipta menjawab kebingunganku.


"Ayo sini!" Mas Dipta lagi- lagi seenaknya dia sendiri menarik tanganku untuk duduk di atas karpet.


"Pertama- tama kita makan dulu. Aku yakin kamu juga belum makan." Mas Dipta memberikanku satu piring berisi gulungan telur yg di atasnya ada olesan saus yg di bentuk menjadi kata 'SORRY'.


"Ini omelete bikinanku sendiri. Mungkin rasanya masih kalah jauh dengan yg kamu bikin tapi ini juga layak di makan." Ucapnya sambil menyendok omelete dan di arahkan ke mulutku.


"Ya, kau bisa melakukannya nanti. Tapi biarkan suapan pertama aku yg menyuapi." Dia kembali menyodorkan sendok berisi telur dan nasi itu ke depan mulutku. Mau tak mau aku pun akhirnya membuka mulut.


"Gimana rasanya? Apakah enak?" Tanyanya sambil terus menatapku. Aku hanya menganggukkan kepala karena mulut masih penuh. Mas Dipta tersenyum puas melihatku. Oh Tuhan, gimana aku mau kesel lama sama dia, dia aja memperlakukanku dengan manis begini.


Selesai makan, mas Dipta mulai menyalakan proyektor kecil itu ke arah layar putih di tembok.


"Mau nonton film apa dulu? Horor, romantis atau action?" Tanyanya tanpa melihatku.


"Horor." Jawabku. Mas Dipta mengangguk menyetujui.


Sebelum film mulai, mas Dipta sempat mematikan lampu ruangan, menyisakan lampu proyektor yg menyinari layar putih itu.

__ADS_1


Adegan demi adegan di putar di layar. Awal2 memang belum terlihat horornya, namun semakin kesini adegan nampak mengejutkan dan membuatku menutup mata serta telinga. Berlagak berani namun setelah melihat filmnya nyali jadi ciut juga. Ku lihat mas Dipta nampak tenang- tenang saja. Dia bahkan menenangkanku untuk tak takut dengan menepuk- nepuk punggungku pelan.


Selesai film horor, mas Dipta memutar komedi romantis untuk mengendurkan saraf- saraf yg tegang akibat ketakutan.


Sesekali kita tertawa melihat adegan yg lucu di film tersebut. Mas Dipta nampak melihatku saat aku tertawa, seakan memastikan bahwa memang aku senang melihat film itu. Kita lupa bahwa film- film seperti itu pasti ada adegan yg bikin hot. Dan benar saja, suasana berubah jadi panas dan tak nyaman ketika adegan di film menayangkan sebuah adegan ciuman yg hot dan berakhir di ranjang. Aku tak lagi berani melrik mas Dipta, dan ku dengar mas Dipta beberapa kali berdehem untuk mengusir rasa salting nya.


Saat mengambil camilan, tanpa sengaja tangan kita bersentuhan. Saat itu mas Dipta juga ingin mengambil camilan tersebut. Seperti tersengat listrik, kita langsung menarik tangan kita masing- masing dan saling pandang. Kerja jantung jadi benar- benar tak sehat kalo seperti ini terus. Mas Dipta akhirnya memgambil minuman soda di sebelahnya dan menyeruputnya.


Akhirnya film itupun berakhir seiring dengan adegan di ranjang itu selesai. Hari sudah hampir tengah malam, ku rasa acara nontonnya sudah berakhir. Namun saat aku beranjak dari sana, mas Dipta menahanku.


"Hei mau kemana?" Tanyanya.


"Mau tidur, ini sudah malam." Jawabku


"Nanti saja tidurnya, belum tengah malam ini. Sini lanjutin lagi marathon filmnya!" Ujarnya menepuk tempatku duduk tadi. Ya ampun, apa sebenarnya mas Dipta hobi nonton film?


Aku menurutinya, dan duduk lagi di sebelahnya. Film yg ke 3 ini adalah film action. Memang seru, apalagi ada efek CGI yg memukau. Namun, entah kenapa mataku tak kuasa menahan rasa ngantuk. Adegan tembak- tembakan yg menegangkan pun tak membuat mataku melek, malah sebaliknya semakin menyipit dan terpejam sempurna.


Aku tertidur dengan nyamannya. Suasana hangat dan temaram membuatku semakin terlelap tidur. Apalagi aku sedang memeluk entah boneka, entah guling yg suaranya membuatku tenang.


"Hm..ini hangat aku suka."gumamku masih dengan mata terpejam sambil menduselkan wajahku ke dalam dekapannya.


Namun suara dari guling itu terus mengusikku.


Deg deg deg


Bunyi itu seperti detak jantung. Aku mengerjapkan mata. Penglihatan pertama yg ku lihat hanya putih, namun benda itu bergerak naik turun seiring dengan bunyi nya yg berdegup. Ku raba, itu sesuatu yg keras tapi kenyal. Ini jelas bukan boneka ataupun guling.


"Kamu sangat menyukainya?" Suara serak itu mengejutkanku. Aku mendongak ke atas, dan dengan jelas aku melihat wajah mas Dipta di sana.

__ADS_1


Belum habis rasa bingungku, aku sudah di kejutkan lagi dengan tangan mas Dipta yg melingkar di pinggangku. Bahkan aku tidur dengan berbantal lengan kirinya. Jadi yg ku dekap dari semalam yg ku kira guling itu adalah mas Dipta. Dan suara yg menenangkanku itu adalah degup jantungnya.


Kesadaranku langsung terkumpul, aku bangkit dari tidurku dan berlari menuju kamarku.


__ADS_2