
Selesai melaksanakan sholat subuh, aku mencoba membangunkan mas Dipta. Seperti semalam, ku goyang perlahan bahunya.
"Mas, bangunlah! Sholat dulu." Ucapku, dia nampak menggeliat sebentar baru matanya terlihat terbuka sedikit. Di kucek2 nya kedua matanya agar mengusir rasa kantuknya.
"Ini jam berapa? Aku baru tidur jam 2 tadi." Kilahnya sembari mencoba duduk.
"Sholat dulu, nanti baru di sambung lagi tidurnya." Jawabku. Dan akhirnya masih dengan rasa kantuknya dia menyeret langkahnya ke kamar mandi untuk berwudhu.
Aku berinisiatif mengambilkan baju koko dan sarung untuk dipakainya saat sholat nanti.
Begitu selesai aku turun menuju dapur. Ku lihat di sana ada seorang asisten yg sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi bi, dengan bibi siapa?" Tanyaku menyapa.
"Mbak Kania, saya mbok Asih. Kok sudah bangun mbak?" Ucap mbok Asih, ku lihat dia sedang mengupas kentang.
"Iya, sudah biasa bangun pagi mbok. Ini mbok Asih mau bikin apa? Boleh bantuin gak?"
"Ya kan penganten baru mbak, biasanya bangun kesiangan. Sarapan aja mintanya di dalam kamar hihi..." canda mbok Asih, namun aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Ini mau bikin perkedel mbak, ada stock kentang lumayan banyak" lanjut mbok Asih. Aku mengangguk, ku buka isi kulkas mencoba melihat isinya. Ada beberapa bahan yg mendukung ideku untuk bikin sarapan.
"Gimana kalo bikin mashed potato aja mbok. Mbok Asih kupas semua kentangnya lalu di kukus ya mbok."
"Siap mbak!"
Mempunyai kesempatan aku jadi banyak bertanya ke mbok Asih tentang keluarga mas Dipta. Sebumnya mas Dipta jarang pulang ke rumah. Dia lebih sering tidur di apartemen nya. Pantas saja kamarnya terasa sedikit kosong, seperti barang2 nya memang sudah di situ dari lama. Dan tak lupa aku bertanya tentang Delia, si anak perempuan satu2 nya dalam keluarga ini.
"Mbak Delia tadinya juga kerja di kantor Bapak. Tapi gak tahu kenapa, tiba2 di suruh sama ibu ke luar negeri. Sebelumnya mereka nangis2 mbak, kayaknya mbak Delia gak mau ke luar negeri tapi di paksa sama ibu." Jawab mbok Asih dengan suara lirih, matanya terus muter kesana kemari takut ada yg nguping. Aku semakin di bikin penasaran atas jawaban dr mbok Asih. Tapi saat aku ingin bertanya lebih jauh lagi, ku dengar ada suara langkah mendekat ke dapur. Dan terlihat Dino yg masih memakai celana kolor berjalan ke arah kami.
__ADS_1
"Wah Kania...sepagi ini udah di dapur? Gak kecapekan kamu?" Tanyanya sambil tersenyum lebar. Dia membuka kulkas dan mengambil air mineral dari sana. Aku hanya diam, malas menanggapi.
"Hmm...wangi bener, bikin apa nih?" Lanjutnya mendekat ke arahku yg sedang memanaskan margarin di teflon.
"Menu sarapan yg akan membuat cacing di perutmu itu tidak merasa lapar lagi." Jawabku asal yg membuat Dino tertawa lepas.
"Ini jadi mbak Kania yg bikin sarapan lho, mbok Asih malah jadi kayak mandor" adu mbok Asih.
"Gak papa mbok... mbok Asih tahu, Kania ini seorang chef di sebuah restoran itali lho." Jawab Dino, sambil bersandar di wastafel melihatku memanggang sosis sambil sesekali mengaduk olahan kentang di teflon.
"Aku belum jadi chef di sana Dino, juru masak itu pekerjaanku. Ada perbedaan antara chef dan juru masak." Sanggahku, namun ku lihat Dino tak terlalu menggubrisnya. Saat aku sedang sibuk dengan adonan kentangku, dia jadi ikut memanggang sosis.
"Ini ada apa? Kok tumben pagi2 sudah rame banget di dapur?" Suara Mama membuat kami menoleh semua ke arah kedatangan Mama.
"Sepertinya saya tidak ada pekerjaan di dapur pagi ini bu. Mbak Kania dan Mas Dino yg mengerjakannya." Mbok Asih kembali mengadu pada Mama. Mama melirik ke arahku dan Dino.
"Sepertinya sudah mau selesai, biar mama dan mbok Asih yg menggantikan. Kania, bangunkan suamimu dan Dino bersiap-siap lah ini sudah jam stgh 7" ucap Mama menggantikan tempatku. Dan mbok Asih menggeser tempat Dino. Aku dan Dino akhirnya meninggalkan dapur pagi itu. Meski kami berjalan masih saling ngobrol dan bercanda karena letak kamar kami yg sama2 berada di lantai 2. Tanpa tahu bahwa interaksiku dengan Dino terus di awasi oleh Mama.
Tanpa ku bangunkan, ku lihat mata mas Dipta bergerak-gerak dan mulai terbuka. Sesaat mata kami bertemu, sebelum pandangan mata mas Dipta di alihkan. Dia selalu menghindari untuk menatapku lama2. Segitu tak enak di pandangkah diriku?
"Bangun dan mandilah mas, kemudian ke bawah, sarapan." Ujarku. Mas Dipta mulai bangkit dari tidurnya, dan berjalan pelan ke kamar mandi sambil memijat-mijat tengkuknya. Ku rasa dia sedang kelelahan.
"Perlu ku siapkan baju gantinya?" Tanyaku sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi. Dia berhenti sebentar.
"Tak perlu, turunlah duluan dan tunggu di sana" jawabnya kemudian menghilang masuk kamar mandi. Apa barusan dia sedang mengusirku? Tapi aku tak ambil pusing, ku rapikan dulu selimut dan sprei yg nampak kusut. Tak lupa ku buka jendela lebar2 agar menggantikan udara di dalam kamar. Selesai semua akupun keluar saat mas Dipta belum keluar dari kamar mandi.
Sebuah kebetulan, aku keluar ketika Dino juga sedang keluar dari kamarnya. Dia sudah rapi dengan kemeja dan celana panjangnya sedang tersenyum menghampiriku untuk turun bersama.
"Kenapa cepat sekali, apa kalian barusan mandi bersama?" Tanyanya sedikit usil. Aku mendelik menatapnya.
__ADS_1
"Hei..aku sudah mandi tadi sebelum sholat subuh ya!" Cebikku bersungut-sungut, membuat tawanya lepas.
"Ku kira kamu belum mandi, tak ada yg berubah darimu antara mandi dan belum" selorohnya lagi.
"Memangnya kamu setelah mandi berubah? Sebelum mandi Dino, sesudah mandi jadi Liam Hemsworth?" Debatku masih dengan mode cebikan. Tawa Dino semakin lebar.
"Jadi sekarang aku mirip aktor itu? Sekarang kamu mulai ngefans denganku?"
"Ngefans dalam mimpimu? Lagipula aku tak suka wajah barat, aku lebih suka wajah asia."
"Astaga...aku juga bisa jadi oppa-mu"
Kami saling berbalas sampai di meja makan. Di sana ku lihat sudah ada Papa Dhani, dan Mama.
"Kenapa malah turun sama Dino? Mana Dipta Nia?" Tanya Mama.
"Oh, mas Dipta baru mandi ma." Jawabku sambil duduk di kursi, di ikuti Dino yg memilih duduk di sebelahku.
"Kenapa duduk di situ Dino? Itu kursi buat mas mu nanti" mama menyuruh Dino pindah duduk dr kursi sebelahku. Dan dengan tak rela dia berdiri menuruti mamanya.
"Sejak kapan ada aturan duduk disini..." dumelnya sambil duduk di sebelah Mama.
Selesai sarapan, rumah nampak sepi dengan kepergian Dino dan Papa bekerja. Mas Dipta masih cuti, jadi dia belum berangkat kerja. Tapi sepertinya, dia tak menganggap keberadaanku di rumah itu. Sebenarnya aku ingin jalan2 di taman belakang rumah, yg ada kolam ikannya dan tanaman2 yg mungkin mama yg menanamnya. Tapi sebelum aku melangkah ke sana, Mama sudah lebih dulu mengajakku dan mas Dipta duduk di ruang tengah. Ruangan yg dulu pertama kali aku menemui Mama untuk meminjam uang.
"Dipta, mama rasa sebaiknya kamu segera membawa istrimu untuk pindah dari sini. Ke apartemen atau ke rumahmu itu. Maaf Kania, bukan maksud mama mengusir. Tapi memang sudah seharusnya begitu. Nanti kamu bisa sering2 main ke sini karena tempatnya tak terlalu jauh dari sini." Ujar mama.
"Iya ma...saya ikut mas Dipta aja baiknya gimana." Jawabku. Ku lihat mas Dipta hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita bisa pindah sore ini ma. Kita pindah ke rumah saja" jawab mas Dipta. Dan terlihat mama mengambil nafas lega. Aku tak terlalu memikirkan alasan kenapa Mama meminta kami buru-buru untuk pindah.
__ADS_1
Di kamar aku membantu mas Dipta membereskan baju dan barang2 yg akan di bawa ke rumah baru kami. Untuk bajuku sendiri sudah siap di dalam koper dari kemarin karena belum sempat ku bongkar sejak kedatangan dari kampung kemarin. Namun kegiatanku terhenti ketika tiba2 mas Dipta mengajakku ngobrol dengan serius. Aku sudah merasa deg2 an.
"Nia, nanti di rumah baru. Kita tak perlu tidur sekamar. Aku akan membebaskanmu meski kita berstatus suami istri. Kamu juga bisa berkuliah lagi kalau kamu mau. Aku akan membiayai semuanya." Perkataan mas Dipta siang itu membuat aku mematung selanjutnya tubuhku bergetar menahan luapan emosi. Apa yg membuat mas Dipta berkata begitu, apakah sebenarnya mas Dipta punya kekasih? Lalu kenapa dia menerima perjodohan ini?