
Ini jam 4.30 Nia, aku berangkat dulu agar sampai Bandung tepat ketika mereka sudah mulai bekerja. Aku tak ingin mengganggu tidurmu. Ku usahakan pulang tepat waktu, agar kita bisa membahas semuanya,jadi tunggu aku ya! Maafkan aku!
Memo itu ku baca berulang- ulang. Dia ingin membahas apalagi? Apakah tak cukup dia berkata -kata buruk tentangku semalam. Aku mengingat kembali pertengkaran kita semalam. Seperti sebuah rekaman yg di setel ulang dalam otakku. Tak ada tanda stop di sana, otakku akan terus mengingatnya.
Aku terduduk di kursi yg di pakai mas Dipta semalam. Aku termenung, apakah akan terus seperti ini? Aku akan terus mendapat perlakuan tak enak dari mas Dipta? Apalagi aku sudah tahu bahwa dia punya kekasih, bagaimana kalo kekasihnya itu datang padanya dan memintanya untuk meninggalkan aku? Sudah jelas siapa yg akan di pilih mas Dipta. Aku tak punya apa2, tak punya siapa2 di sini. Jadi setidaknya aku harus punya pekerjaan untuk kelanjutan hidupku sendiri.
Aku kembali ke kamar, ingin mandi dan keluar. Selesai mandi, ku poles wajahku dengan dandanan tipis. Ku lihat mataku bengkak, hasil aku menangis semalaman. Aku akan memgompresnya sebentar nanti di bawah.
Ku hubungi Amel, teman kampusku. Ku ajak dia bertemu sebelum kuliah. Kuliah baru ada nanti jam 10, jadi kita masih punya waktu untuk ngobrol. Rencana aku akan meminta tolong padanya untuk mencarikan pekerjaan. Orang tuanya punya toko roti, sedang kakaknya ku dengar punya toko online. Siapa tahu nanti aku bisa bekerja di salah satunya.
Jam 9, aku sudah berada di tempat kita janjian. Aku menunggunya di cafe dekat kampus. Agar nanti ke kampus kita tinggal jalan saja tak perlu jauh2.
Ku lihat kedatangannya, dia sudah melambaikan tangannya dari jauh sambil tersenyum lebar. Aku pun melambaikan tanganku untuk membalasnya. Amel, temanku ini jenis teman yg meramaikan suasana. Dia selalu ceria, easy going dan setia kawan banget. Umurku dengannya selisih 1 tahun, lebih muda dirinya.
"Sudah lama nunggu?" Tanyanya sambil duduk di depanku.
"Belum, aku juga belum pesen minum sengaja menunggu kamu." Jawabku "kamu mau pesen apa? Biar ku pesankan" lanjutku.
"Aku butuh cafein, aku semalam begadang liat video BTS. Tolong pesankan es caffe latte saja trimakasih." Jawabnya. Aku mengangguk tersenyum, kemudian pergi untuk memesan minum.
Temanku itu memang seorang army (julukan untuk fans BTS). Segala hal mengenai BTS dia pasti tahu. Beda denganku, apabila dia seorang k-pop, aku adalah penyuka drama dari negara tersebut. Hampir semua drama aku suka, dari drama yg tak berbayar sampai drama yg berbayar. Eh tak tahunya hidupku juga penuh dengan drama.
__ADS_1
"Mau curhat apa sih Kan? Matamu kok bengkak, habis nangis ya semalam?" Tanyanya menyelidik setelah pesanan minum kami datang. Dia menyeruput sedikit es nya.
"Aku nangis karena liat drakor semalem, gak tahunya malah jadi bengkak gini." Jawabku membuat alasan.
"Ya elaah Kan, belum punya suami sama udah punya suami kok sama aja, setiap malem liatnya drakor." Cebiknya.
"Suamiku baru keluar kota Mel. Ada kerjaan dia di sana."
"Pantes bisa nonton drama.."
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Mel, aku butuh pekerjaan nih. Kira2 tempat mamamu atau kakakmu ada lowongan gak? Kalo bisa secepatnya." Tanyaku langsung, minta tolong tapi juga maksa. Amel mengerutkan alisnya.
"Ya biar gak ngandelin suami terus Mel. Demi masa depan juga, kita gak pernah tahu ke depannya kayak gimana." Jawabku yg sepenuhnya aku berkata jujur. Meski tadinya Amel meragukan alasanku, namun akhirnya dia manggut- manggut.
"Nanti habis kuliah kita ke toko mama ya. Kayaknya sih di sana ada lowongan, cuma kalo di sana gajinya kecil Kan. Gimana dong? Secara, kerjaan kamu sebelumnya kan gajinya lumayan tuh."
Aku berpikir sebentar mendengar penjelasan dari Amel. Meski tak munafik aku menginginkan gaji yg lumayan besar tapi bekerja di sana ku anggap sebagai batu loncatan. Itu lebih baik dari pada aku menganggur di rumah dan pikiranku terkuras oleh mas Dipta. Benar- benar menyesakkan.
"Gak papa Mel. Aku akan coba dulu pekerjaan itu." Putusku. Amel menyetujui keputusanku.
__ADS_1
Akhirnya aku bekerja di toko roti orang tua Amel. Mereka memyambutku dengan ramah tanpa banyak bertanya. Bahkan besok aku sudah bisa mulai bekerja. Aku bekerja dari jam 3 sore sampai jam 9 malam ketika toko tutup.
Hari pertama bekerja, seperti biasa pengenalan dan masih banyak mengamati. Aku bahkan ikut mengasah kemampuanku membuat roti. Pulangnya pun tak terlalu malam.
Hari kedua aku sudah bisa sedikit beradaptasi. Tapi karena hari itu lumayan rame dan banyak pesanan jadi pulangnya pun aku kemalaman. Hampir setengah 11 malam aku baru sampai rumah.
Aku masuki rumahku yg nampak gelap dan sepi itu. Sudah lama tak bekerja membuat otot2 di tubuhku menjadi kaget dan sedikit kram. Apalagi aku harus berdiri terus saat bekerja. Aku jadi ingin segera mandi lalu berbaring di kasur.
Namun sebelum naik ke kamar, aku berjalan menuju dapur. Tenggorokan rasanya kering, ingin minum air dingin.
Ku letakkan tas selempangku dia atas meja kemudian ku nyalakan lampu dapur, dan tersentak saat melihat sosok yg sedang duduk di kursi meja makan, mataku mengerjap antara percaya dan tidak. Tatapan mata sosok itu mengarah padaku begitu tajam. Entah sudah berapa lama dia berada di situ. Rambutnya begitu acak- acakkan, kemejanya sudah tak terkancing rapi hingga memperlihatkan sebagian da danya. Lengan bajunya sudah tergulung asal sampai ke siku. Sosok itu adalah mas Dipta.
"Dari mana jam segini baru pulang?" Tanya mas Dipta dengan suara rendah, tapi justru membuat nyaliku ciut.
Tak ku hiraukan pertanyaanya, aku melanjutkan tujuanku untuk ke dapur. Ku ambil segelas air lalu meminumnya. Mata mas Dipta tak lepas dariku. Selesai minum, aku langsung berbalik hendak ke kamar.
"Apa kamu tak dengar? Aku bertanya, dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" Suara mas Dipta menggelegar di ruangan yg sepi. Aku terlonjak kaget sekaligus takut.
"Tak usah hiraukan aku mas. Seperti mau mas Dipta, aku juga tak akan ikut campur urusan mas Dipta lagi." Ucapku menantang tatapan tajamnya.
"Apa yg sedang kamu katakan?!" Mas Dipta menggebrak meja kemudian bangkit dan mencengkeram bahuku kencang. Aku mendongak menatap wajah mas Dipta, ada kerinduan terbersit dalam hatiku namun semua sudah tertutup oleh rasa sakit hatiku.
__ADS_1
"Apa begini kelakuanmu saat aku tak ada? Apa yg sedang kamu lakukan di luar sana sampai baru pulang jam segini? Hah?!" Mas Dipta kembali berteriak di depanku seiring dengan cengkeramannya yg semakin kuat di kedua bahuku. Aku menciut ketakutan, badanku gemetar dan air mataku sudah lolos dari salah satu sudut mataku.