
Selama dalam perjalanan Mas Dipta terus mencoba menghubungi nomor Papa maupun Mama. Namun dari 2 nomor tersebut tak ada satupun yg menjawab.
Sampai mobil yg kita tumpangi masuk ke halaman rumah Mama. Di sana Pak Satpam langsung ngasih tahu ke kita kalo semua ke rumah sakit. Lebih detail, pak Satpam tidak tahu apa yg terjadi. Yg jelas Delia yg di bawa ke rumah sakit.
Mas Dipta langsung putar mobil, kembali ke jalanan menuju rumah sakit. Ya ampuun.. ada apa sih? Masa' udah mau lahiran? Kan kemarin dia bilang baru mau jalan 7 bulan tuh usia kandungannya.
Kita berdua jadi tegang gitu di dalam mobil. Beruntug di tengah perjalanan ke rumah sakit, Papa angkat telponnya. Kita jadi sedikit tahu apa yg sedang terjadi.
Jadi, Delia tuh rembes gitu air ketubannya. Gara- garanya dia tanpa sengaja jatuh di kamar mandi. Haduuuh gawat gak tuh? Yg jelas aku juga jadi ikut ketar ketir. Sudah membayangkan hal buruk terjadi, mudah- mudahan semua aman, ibu dan bayinya. Terlepas dari dia yg pengen rebut Mas Dipta, tapi aku tulus mendo'akannya.
Sampai di rumah sakit, kami langsung menuju tempat Delia di periksa. Yg berada di luar ruangan ada Papa dan Mbok Pur, sedangkan Mama menemani Delia yg sedang di periksa dokter di dalam ruangan.
Sesaat menunggu, akhirnya dokter keluar juga.
"Untuk saat ini bu Delia sudah tidak apa- apa. Rembesan air ketubannya juga sudah berhenti. Setelah ini bu Delia sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan." Ucap bu dokter yg membuat ketegangan pada kami langsung berubah jadi kelegaan.
"Ada suami dari ibu Delia?" Tanya dokter wanita itu lagi.
"Saya orang tuanya dok." Jawab Papa, dan dokter tadi nampak bingung beberapa saat. Namun akhirnya dia mengangguk.
"Mari ikut ke ruangan saya Pak!"
Sementara Papa mengikuti dokter ke ruangannya, kami masuk melihat keadaan Delia. Dia terlihat begitu lemah dengan wajah yg pucat. Aku jadi bersedih dan tak tega melihatnya.
Tapi bibirnya tersenyum melihat kedatangan Mas Dipta di antara kami. Wajahnya langsung berseri dan ada rona bahagia terlihat jelas di sana. Namun begitu dia melihatku yg berada di balik tubuh Mas Dipta, senyumnya perlahan surut. Apa aku terlihat seperti hantu yg menampakkan diri baginya? Wajahnya jadi begitu masam.
Aku serius ikut prihatin dengan keadaannya. Tapi kalo reaksinya seperti itu, mau tak mau aku juga jadi males kan?
"Kalian datang?" Sapa Mama setelah melihat kami masuk. Kami hanya menggangguk menjawab sapaan Mama tadi.
Tak berapa lama, beberapa perawat masuk dan membawa Delia menuju ruang perawatan. Kami berbondong- bondong mengikutinya di belakang.
Setelah sampai, perawat menyampaikan pada kami bahwa keluarga yg menunggu pasien tidak boleh lebih dari 2 orang dan itupun harus memakai kartu tunggu.
Saat itu di putuskan Mama dan Mbok Pur yg akan menunggu. Namun dengan cepat Delia menginterupsi.
"Tidak Ma, aku ingin di tunggu Mama dan Mas Dipta malam ini." Ucapnya.
__ADS_1
Kami hening seketika. Mama dan Mbok Pur memandang ke arahku dan Mas Dipta.
Ampuuun deh... orang sakit ini, masih aja sempet- sempetnya nyari kesempatan. Aku menghela nafas, menetralisir hati yg kacau. Inget Nia, dia sakit kamu waras, jadi yg waras ngalah dulu ya.
"Gak papa Mas, malam ini kamu nunggu Mbak Delia aja. Aku nanti pulang bareng Papa." Ujarku dengan bijak.
Mas Dipta mengelus puncak kepalaku dan menatapku sendu.
"Tidur di sana saja ya malam ini, besok pagi aku akan menjemputmu ke sana." Ucapnya, aku pun menganggukkan kepala.
Saat itu Papa muncul. Dan meminta kita keluar sebentar karena ada hal yg harus di bicarakan. Mungkin tentang keadaan Delia.
"Keadaan Delia saat ini sudah bagus, tapi dia masih harus bedrest. Sebisa mungkin jaga suasana hatinya selalu baik. Dia jatuh bukan sepenuhnya penyebab keadaannya seperti tadi, tapi sebagian besar di picu karena dia merasa stress dan tertekan." Terang Papa.
Aku menggaruk kepalaku yg tak gatal sama sekali. Jadi apakah maksudnya kita harus menuruti apa maunya? Kalo dia mau meminta Mas Dipta apakah aku juga harus memberikannya?
"Berat badannya juga di bawah rata- rata ibu hamil di umur kandungannya yg sudah segitu. Dokter meminta untuk menciptakan suasana yg ceria di sekitarnya agar nafsu makannya juga meningkat. Dan menjauhkan dulu hal- hal yg membuat suasana hatinya buruk." Lanjut Papa lagi.
Hal yg membuat suasana hatinya buruk? Okey... berarti aku harus menjauh darinya. Dan membuat suasana di sekitarnya ceria, itu berarti Mas Dipta harus selalu di dekatnya.
Fix.. ini definisi musibah membawa berkah yg sesungguhnya bagi dia. Mau tak mau semua orang harus menuruti apa maunya, termasuk merelakan suami sendiri untuk memberikan perhatian berlebih kepada wanita lain selain istrinya. Hatiku sakit tapi tak berdarah.
.
Pagi harinya, aku tak berselera makan karena pujaan hatiku belum datang. Padahal Mbok Pur sudah berangkat dari jam 7 pagi tadi untuk menggantikan jagain Delia.
Aku menanti kedatangannya di teras rumah dengan di temani seorang bapak- bapak tukang kebun. Papa sarapan sendirian di dalam rumah, maafkan menantumu ini ya Pa tak menemanimu sarapan. Habis gimana dong, gak ketelen gitu kalo belum lihat pak suami.
Hingga akhirnya Papa berangkat kerja pun, Mas Dipta belum pulang juga. Apa jangan- jangan Delia tidak mau di tinggal? Kalo nekat pulang juga dia akan kembali stress?
Aku melamun memikirkan segala sesuatu yg mungkin terjadi kenapa Mas Dipta belum pulang juga sampai jam segini. Hingga sebuah suara mengagetkanku.
"Mbak.. Mbak Kania...!" Ternyata Pak satpam.
"Eh..iya, kenapa Pak?" Tanyaku tergagap.
"Maaf Mbak, itu ada yg nyari Mbak Delia. Sebaiknya saya bilang gak ada lalu suruh pergi atau saya biarkan masuk Mbak?"
__ADS_1
"Hah? Mana orangnya Pak?" Tanyaku sambil melihat ke arah gerbang yg menjulang tinggi di depan. Tak terlihat tentu saja, di gerbang itu hanya ada beberapa celah untuk bisa melihat siapa saja yg datang dari arah pos satpam.
"Tadi ibu- ibu gitu Mbak, saya ragu untuk membiarkannya masuk apalagi Mbak Delia memang tidak ada di rumah." Jawab Pak satpam yg masih setia menunggu keputusan dariku.
"Duh.. gimana ya Pak? Biarin masuk aja deh Pak, saya akan menemuinya di sini. Nanti Bapak ikut nemenin saya ya, takutnya ibu- ibu itu cuma ngaku- ngaku saja dan mau berbuat yg gak baik." Putusku akhirnya.
"Shaap Mbak!" Jawab Pak satpam yg langsung berlalu untuk membukakan gerbang.
Meskipun was- was, aku memutuskan untuk menemui ibu- ibu itu. Aku penasaran tentang yg berbau Delia, jadi aku harus ambil resiko tersebut.
Sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah. Dan setelah terparkir, pintu belakang mobil pun terbuka. Dan terlihatlah , ibu- ibu? Eh bukan, tante- tante? Atau malah kakak- kakak? Yg jelas dari penampilannya dia adalah wanita sosialita.
Berjalan penuh dengan percaya diri wanita itu menghampiriku. Pakaian yg dia kenakan menunjukkan kelasnya, begitu elegan dan modis. Memakai rok midi bermotif dengan tema monokrom dan high heels, simple tapi berkelas.
"Selamat pagi!" Sapanya padaku yg masih takjub dengan penampilannya. Gustiii... itu muka, bening banget. Laler kalo menclok pasti kepleset tuh..
"Ah iya, selamat pagi. Ada yg bisa saya bantu?" Tanyaku sopan, duh.. kok berasa aku kayak pembantunya ya.
Dia melihatku dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas lagi. Memindai penampilanku yg begitu njomplang dengannya.
"Anda Delia?"
"Bukan, saya kakak iparnya. Ada perlu apa dengan Delia?"
Wanita itu melipat tangan di depan dada. Ada tas kecil yg menggantung di salah satu tangannya. Pasti tas itupun branded mahal
"Lalu dimana ****** itu berada sekarang?!" Tanyanya frontal, aku menelan ludah mendengar apa yg barusan dia katakan.
"Maksud anda Delia? Kenapa anda menyebutnya dengan kata tak pantas seperti itu. Tolong, lebih sopanlah sedikit!" Kataku bernada tinggi. Meski hatiku telah di sakiti oleh Delia, tapi aku juga tak mau kalo dia di kata- katai dengan tak pantas seperti tadi.
"Aku tahu harus bersikap sopan dengan siapa saja. Tapi dengan ****** itu, sopan tak berlaku padanya. Cepat suruh dia keluar!!" Katanya ketus dan merangsek maju ingin melewatiku.
Aku hampir kewalahan menahannya kalo Pak satpam tak ikut menahan wanita itu. Namun dari dalam mobil wanita tadi keluar laki- laki bertubuh tinggi besar mendekati kami yg sedang bersitegang.
Alih- alih melerai, laki- laki tadi malah membela wanita tadi yg mungkin majikannya. Jadilah dorong mendorong pagi itu di depan rumah. Dengan posisi yg tak seimbang.
Bapak tukang kebun pun datang tergopoh- gopoh dari jauh berusaha untuk melerai kami. Namun karena tangan wanita tadi entah sengaja atau tidak mencakar si bapak tukang kebun, jadilah sekarang 3 orang versus 2 orang yg sedang kalap.
__ADS_1
Haduuuh, pagi- pagi belum sarapan. Di teras bermaksud menunggu yg tersayang malah di ajak ribut begini.