
Hari bergulir, dan hati masih meratapi keadaan. Sampai aku benar- benar ingin sendiri, ingin mengetahui yg sebenarnya hatiku inginkan. Aku tahu bahwa Delia dalam beberapa hari lagi akan tiba di rumah. Sebelumnya aku harus sudah tahu akan bagaimana hubungan ini.
Beberapa kali ku lihat Mas Dipta mengirim pesan namun tak ada satupun yg ku buka. Ada juga panggilan darinya, itupun juga tak ku angkat.
Sampai di pagi saat aku sudah kembali kuliah. Aku memarkirkan mobilku di parkiran kampus, saat aku baru menyadari bahwa Mas Dipta sudah menungguku di sana. Dengan penampilan yg tak biasa dia menghampiriku.
Rambutnya yg biasanya klimis, tapi hari ini seperti orang bangun tidur. Dan matanya tertutup dengan kacamata hitam, apakah wajar masih pagi begini memakai kacamata hitam?
"Kania.." panggilnya, nafasnya bahkan tercium bau rokok. Sejak kapan dia mulai merokok?
Dalam 2 hari tak bertemu, penampilannya sudah seperti orang lain. Bajunya acak- acakkan, apa sebelum dia kesini bahkan sudah mandi tadi?
"Mas?" Aku benar- benar tercengang sampai tak sempat menghindar.
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Tak bisakah kamu ikut aku saja?"
"Tapi Mas, apa gak sebaiknya kita..." belum selesai aku bicara, Mas Dipta sudah menarikku ke dalam pelukkannya. Dia mendekapku erat, bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya yg begitu cepat bertalu- talu dalam dada nya.
Apa yg membuatnya sampai seperti ini. Hatiku mulai berdenyut, tumbuh rasa iba dan sedih bercampur jadi satu.
"Ku mohon Nia, mungkin aku akan gila jika seperti ini terus.." ucapnya sambil mengurai pelukannya. Kedua tangannya di bahuku. Dan entah sejak kapan kacamata yg menutupi matanya tadi sudah di lepasnya.
Kini mata itu menatapku lekat. Mata yg kemerah- merahan, terlihat sekali kalo sedang lelah. Dan sejak kapan dia jadi memiliki kantung mata? Jadi ini yg dia tutupi tadi dengan kacamata hitamnya. Jelas sekali kalo dia kurang tidur, entah apa saja yg dia lakukan selama 2 hari kemarin.
"Aku akan menjemputmu nanti pulang kuliah, oke?" Ujarnya, dan seperti terhipnotis aku menganggukkan kepalaku tanpa sadar.
Ku dengar dia menghela nafas, seperti ada kelegaan di sana. Dan tertangkap di mataku, sudut bibirnya naik beberapa senti sebelum dia kembali merengkuhku ke dalam dekapannya. Dia tersenyum. Aku jadi benar- benar goyah. Benarkah Mas Dipta tak mencintaiku, seperti keyakinanku selama ini?
"Berikan aku kunci mobilmu, agar kamu tak pergi sebelum aku datang nanti." Katanya sesaat setelah aku akan pergi ke kelas. Karena waktu sudah mepet, tanpa banyak kata akupun menyerahkan kunci mobilku.
__ADS_1
Aku berjalan menuju kelasku dengan sedikit terburu- buru. Ku harap dosennya belum masuk kelas. Dan saat sampai kelas, betapa leganya. Dosen belum ada, dan ku lihat Amel melambai- lambaikan tangannya padaku.
"Duh, ku pikir bakal telat." Ucapku sambil duduk di meja depannya.
"Aman bestie. Ku pikir tadi kamu gak jadi masuk kelas." Jawab Amel, aku memutar tubuhku agar bisa melihat ke arahnya.
"Masuk dong.. kenapa emang?" Tanyaku. Amel menyeringai.
"Pagi- pagi dah bikin polusi mata. Lengket bener, gak mau pisah yak?" Ujarnya sambil mengedip- ngedipkan matanya. Mataku membola, jadi dia tadi melihatku dengan Mas Dipta di parkiran kampus.
"Apa sih Mel, bukan seperti itu kok.." aku ngeles dengan wajah yg sudah merona. Untung setelah itu seorang dosen masuk membuatku terhindar dari segala ledekannya.
Jam kuliah berakhir, Amel sudah menarik tanganku untuk di ajaknya entah kemana. Katanya ada yg mau di bicarakannya, penting mengenai si Bagas yg kayaknya dia bakal ambil cuti kuliah. Lha emang kenapa kalo Bagas ambil cuti, kok heboh bener dia.
"Dia dalam masa hidup segan, mati tak mau, Kan. Kamu masa' cuek bener sama temen!" Katanya sambil terus menyeretku menuju gerbang samping kampus. Di sana, tepatnya di seberang jalan ada sebuah cafe kecil tempat biasa nongkrong anak- anak.
Belum sampai di gerbang, hp yg sejak tadi ku bawa bergetar. Menampilkan sebuah nama di sana.
Mas Dipta is calling..
"Huh, siapa tuh?" Tanya Amel melepaskan tanganku.
"Suami, kayaknya dia dah dateng deh." Jawabku. Amel mendelik dan menampilkan wajah bingung.
"Kamu di jemput? Bukannya kamu bawa mobil sendiri ya?" Tanyanya lagi.
"Sori, kayaknya aku harus balik sekarang deh. Besok aja ceritanya ya.." aku berbalik melangkah menjauhi Amel sambil menggeser icon hijau di layar hp ku untuk menerima telpon dari Mas Dipta.
"Duileeh..posesif bener. Baru juga pisah beberapa jam." Celetuk Amel yg masih sempat ku dengar. Namun aku tak menanggapinya. Dia gak tahu apa yg sudah aku dan Mas Dipta alami beberapa hari ini.
"Halo Mas..." ucapku ketika telpon sudah ku angkat.
__ADS_1
"Sudah selesai kuliahnya?" Tanyanya.
"Sudah, ini aku jalan ke situ." Jawabku sambil sedikit berlari kecil.
"Hem, gak usah buru- buru. Aku akan tetap di sini sampai kamu muncul." Ucapan Mas Dipta seakan tahu bahwa aku tengah berlari menuju parkiran, di mana tempatnya berada.
"Iya, aku hampir sampai." Aku sudah hampir sampai di parkiran, saat Mas Dipta memutuskan panggilannya.
Sampai di sana aku sudah bisa melihat mobil Mas Dipta yg berada tepat di samping mobilku. Aku segera menghampirinya, namun saat aku hampir sampai Mas Dipta malah keluar dari dalam mobil.
Sesaat aku tertegun, penampilannya sudah berbeda dari tadi pagi, meski kacamata hitam masih bertengger di atas hidungnya. Rambutnya sudah klimis tersisir rapi, bahkan bajunya ku rasa itu baru karena aku belum pernah melihatnya. Apa dia mau ngajakin kondangan, tapi kenapa bajunya tak formal meski rapi.
Dengan senyum yg begitu menawan dia menyambutku.
"Ayo naik!" Ucapnya dan melangkah membukakan pintu mobil untukku. Aku yg belum habis rasa heranku, hanya bisa menurut saja dan memasuki mobil. Tak lama dia pun menyusul masuk ke mobil.
"Mobil aku gak papa ya Mas di tinggal di sini?" Tanyaku ketika mobil Mas Dipta sudah mulai jalan meninggalkan area parkir kampus.
"Nanti Leni yg akan mengambilnya." Jawab Mas Dipta.
"Leni asistenmu itu?" Aku sedikit tak yakin dengan pendengaranku, karena aku pernah berpikir kalo asistennya itu menaruh hati pada Mas Dipta.
"Iya, Leni yg ku kenal hanya dia." Jawabnya dengan senyum kepadaku.
"Kita mau kemana? Pulang bukan?"
Mas Dipta yg ku tanya hanya tersenyum, dia meraih tanganku dan mengecupnya di punggung tanganku. Aku jadi tercengang dan merona di buatnya. Buru- buru ku tarik tanganku, tapi Mas Dipta tak melepaskannya.
"Aku sedang menculik dirimu, bagaimana bisa pulang?"
"Apa? Bagaimana dengan Papa dan Mama, mereka pasti akan mencariku."
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan pesan pada mereka, kalo kamu bersamaku."
Aku menatap curiga padanya, namun bibir Mas Dipta tak pernah berhenti menyunggingkan senyumnya. Ku tatap jalanan, untuk mencari tahu kira- kira kemana mobil ini melaju. Apa kita akan ke puncak? Karena mobil sepertinya menjauhi pusat ibukota dan terus melaju sampai pinggir ibukota.