
Bagas duduk di sebelahku, fokus menyetir tanpa banyak bertanya. Selama dalam perjalanan, aku terus mencoba menghubungi Mas Dipta namun tak ada satupun respon darinya. Dari telpon maupun pesan. Aku jadi merasa dejavu, dulu juga pernah seperti ini.
Sungguh dengan kecepatan super yg tak terasa, perjalanan yg harusnya 30 menit bisa di pangkas setengah nya oleh Bagas. Kayaknya kalo keburu- buru ke suatu tempat, dia bisa jadi rekomendasi untuk menyetir hehe...
Kita langsung menuju lobi hotel saat sampai di sana. Di sana aku memcoba mencari informasi lewat resepsionis. Namun belum sempat aku bertanya, ada suara menyapaku dari arah belakangku.
"Kania..?!" Suara itu sudah ku hafal betul punya Mas Dipta. Aku langsung mencari ke sumber suara.
"Mas..." ku lihat di sana, Mas Dipta berdiri dengan seorang perempuan di sampingnya.
"Kamu ngapain masih di sini larut malam?" Tanya Mas Dipta berjalan mendekat ke arahku. Perempuan yg di sampingnya mengikuti langkah Mas Dipta. Aku gagal fokus pada perempuan itu, yg ternyata saat mendekat baru ku tahu siapa dia.
Ya, dia adalah Delia. Entah, apakah aku melewatkan sesuatu atau memang aku tak di beritahu. Yg ku tahu, dia baru akan datang minggu depan. Tapi kenapa sekarang dia sudah ada di sini sama Mas Dipta dengan perut yg terlihat membuncit?
Apakah selama berada di luar negeri dia menderita busung lapar? Dia nampak kurus hanya di bagian tertentu terlihat membesar, terutama bagian perutnya itu.
"Oh hai.. kamu pasti Kania, ini pertemuan pertama kita kan? Aku Delia." Sapanya sambil tersenyum mengulurkan tangannya, aku pun menyambut tangannya itu meski nampak kaku.
Selesai berjabat tangan, dia dengan santainya melingkarkan tangannya di lengan Mas Dipta dan tangan satunya lagi mengelus perutnya yg membuncit itu. Aku seketika mendelik.
Seakan mereka bagai pasangan suami istri yg tengah bahagia menunggu kelahiran anak pertama mereka. Padahal akulah istri sah Mas Dipta.
"Nia, aku tanya, ngapain kamu di sini larut malam begini?" Mas Dipta mengulang lagi pertanyaanya sambil berusaha melepaskan tangan Delia yg terus menempel di lengannya.
__ADS_1
Saat berhasil melepaskannya dia melangkah ke arahku dan ingin meraih tanganku. Namun entah kenapa, aku reflek menghindarinya dan berlindung di balik tubuh Bagas.
Mas Dipta jelas kaget, ekspresinya terlihat kecewa sekaligus marah. Dia menatap tajam ke arahku, dan langsung beralih pada Bagas. Ada kilatan amarah yg membara di matanya. Rahangnya terlihat jelas ia rekatkan.
"Kania.. cepat kemari!!" Kata- katanya penuh penekanan. Aku bahkan takut sekali sekarang ini, namun hatiku yg kecewa membuat semuanya begitu kacau.
Mas Dipta sekali lagi ingin meraih tanganku, namun dengan cepat di cegah oleh Bagas.
"Mas.. sebaiknya jangan maksa gitu. Kania sepertinya gak mau." Ujar Bagas yg malah semakin mengobarkan kemarahan Mas Dipta. Dia bagaikan banteng yg siap menyeruduk saat di kibaskan kain merah.
"Kamu sebaiknya minggir, aku adalah suaminya!!" Mas Dipta meninggikan suaranya sambil menunjuk- nunjuk ke arah Bagas. Jantungku sudah seperti mau loncat keluar saja saat itu. Antara takut dan ngeri, Mas Dipta yg selama ini ku lihat begitu kalem dan sopan, ternyata kalo marah menyeramkan.
Suasana ribut- ribut kami ternyata menarik perhatian orang- orang. Hingga beberapa security hotel menghampiri dan menegur kami agar tak membuat keributan.
"Nia, cepat kamu kemari!" Kata Mas Dipta lagi, suaranya benar- benar di tekan, tangannya sudah mengepal erat. Apa kalo aku masih ngeyel juga dia akan melayangkan tinjunya padaku?
Dan mungkin saking keselnya, Mas Dipta menarik outer yg di pakai Bagas dan mencengkeram erat di bagian kerahnya. Aku memekik tertahan, takut akan terjadi baku hantam di sini.
"Kania itu istriku, apa hak kamu menghalangi kami, hah?!!" Kata Mas Dipta, wajahnya sudah seperti singa yg akan menerkam mangsanya.
"Mas.. Mas, lepaskan dia! Aku mohon.." ucapku terbata, air mataku sudah akan tumpah saat itu. Aku benar- benar takut, ku tarik lengan Mas Dipta agar dia mau melepaskan cengkeramannya dari Bagas.
"Aku mohon Mas.. dia hanya menemaniku untuk menyusulmu ke sini. Aku cemas karena kamu tak ada kabar sampai larut malam begini." Cicitku, air mataku sudah lolos dari ujung mataku. Dan nampaknya aku berhasil membuat Mas Dipta melepaskan Bagas.
__ADS_1
Dia melepaskan Bagas dengan dorongan kuat pada dada Bagas hingga membuat tubuh Bagas terhuyung ke belakang hampir terjatuh. Dan dengan cepat dia meraih tanganku.
"Sekarang ikut aku!" Mas Dipta menautkan jari jarinya denganku dengan erat di tangan kanannya. Dan menggandeng tangan Delia di tangan kirinya dan terkesan menarik tangan kurus Delia. Lalu membawa kami keluar dari loby hotel.
Aku menoleh ke belakang, ke arah Bagas yg masih berdiri mematung di sana menatap kepergian kami. Ya ampun, ada rasa sesal dalam hatiku, dia sudah begitu baik mau mengantarkanku ke sini padahal sudah larut malam dan sekarang malah ku tinggalkan begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Padahal tadi dia sudah berusaha melindungiku dari amukan Mas Dipta.
.
Sekarang kita sudah di dalam mobil. Aku duduk di sebelah Mas Dipta yg sedang mengendarai mobilnya. Delia duduk di kursi belakang.
Mobil melaju di jalanan lengang tengah malam. Mas Dipta akan mengantar Delia ke rumah Mama, yg ternyata Delia sudah nyolong start untuk pulang ke Indonesia dari jadwal yg sudah di tetapkan untuknya.
Aku melirik ke kursi belakang, ku lihat di sana Delia bersenandung lirih sambil mengusap- usap perutnya. Duh Tuhan, apa ini definisi ucapan adalah do'a? Aku dulu mengucap meski hanya dalam hati sebelum tahu yg sebenarnya, menduga kalo Delia keluar negeri untuk menutupi aib bahwa dia hamil di luar nikah. Sekarang lihat, Tuhan.. mohon ampuni khilafku..
Aku melihat bibir Delia terus menyunggingkan senyum. Apa dia sesenang itu sekarang, suasana hatinya sedang baik? Ah, entahlah.. semua ini terlalu random untukku.
Aku menatap Mas Dipta dan malah kaget, saat tahu Mas Dipta juga sedang menatapku. Apa dia terus mengawasiku dari tadi? Aku menghela nafas, dan mengalihkan pandanganku ke arah luar dari sisi jendela sampingku.
Tak lama, mobil pun sampai di rumah Mama. Ternyata di sana Mama dan Papa sudah berada di depan bersiap menyambut kami, atau mungkin hanya menyambut Delia karena keikutsertaanku tak terduga sebenarnya.
Mobil berhenti dan kami turun dari mobil. Mas Dipta membukakan pintu mobil di bagian belakang untuk Delia keluar. Dan dengan hati- hati Mas Dipta membantu Delia turun dari sana.
Setelah Delia turun, semua menyambut penuh dengan haru. Mama memeluknya sambil berurai air mata, tak ketinggalan juga Papa.
__ADS_1
"Maafkan kami Del.. maaf.." berkali- kali kalimat itu keluar dari mulut Mama.
Dan aku baru menyadari keberadaan Mbok Pur di sana. Tak biasanya, pekerja di sana ikut menyambut kedatangan anggota keluarga. Apalagi ini sudah larut malam. Dan yg tak kalah heran adalah Mbok Pur juga ikut menangis. Apa hubungan Delia dengannya begitu dekat, hingga membuat dia begitu haru larut dalam luapan emosi.