
Ku resapi kata per kata ucapan Ibu barusan. Hatiku sedikit merasa ringan. Terasa ada angin semilir masuk ke relung hati. Meski pikiran- pikiran buruk tak sepenuhnya hilang, namun setidaknya tak sebanyak sebelumnya.
Dan saat ke galauan pikiranku masih melanda, ku dengar hp ku bergetar. Mas Dipta memanggil.
"Tuh yg di omongin panjang umur, langsung nelpon." Celetuk Ibu dengan tersenyum. Aku menelan ludah dengan sedikit kesusahan.
"Angkatlah! Yg mesra sama suami gak usah malu- malu. Tunjukin rasa cintamu padanya. Dah Ibu mau ke depan dulu." Ibu langsung bangkit dan keluar kamar.
Aku masih terus menatap layar hp yg menampilkan nama Mas Dipta sedang memanggil. Dengan hati bergetar aku menggeser tanda hijau di layar.
"Assalamualaikum Mas.." ucapku, ku dengar suara berisik di sana. Seperti dia sedang berkendara.
"Walaikumsalam, ya ampun Kania... sebentar aku pinggirin mobil dulu." Katanya, dan terdiam sesaat. Berarti benar, dia sedang dalam perjalanan.
"Nia.." panggilnya, setelah sesaat terdiam.
"Iya mas?"
"Kenapa baru bisa di hubungi? Bukankah tadi ku bilang kalo sudah sampai segera hubungi aku? Tapi kenapa kamu tak menghubungiku? Bahkan saat aku berkali- kali menelponmu, hp mu tak aktif. Apa yg kamu lakukan Nia?" Tanyanya seperti orang panik. Aku bahkan terhenyak dengan pertanyaan- pertanyaan darinya barusan.
"Maafin aku Mas, bertemu dan ngobrol banyak dengan Ibu dan adikku membuatku lupa."
"Ah, syukurlah.. ku kira kamu masih terus menghindariku. Apa semuanya baik- baik saja di situ?"
"Iya Alhamdulillah semua baik- baik saja. Bagaimana dengan pekerjaan Mas Dipta? Apa semuanya lancar?"
"Hem.. do'akan saja agar semuanya lancar dan cepat selesai agar kita tak perlu terpisah lagi." Katanya yg membuat darahku berdesir. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum, Mas Dipta berharap kita tidak terpisah lagi. Apa ini artinya dia juga berharap bahwa kita akan bersama selamanya?
"Iya, semoga semuanya lancar." Jawabku.
"Kalo begitu, aku lanjut jalan dulu. Nanti malam aku akan menelponmu lagi."
__ADS_1
"Iya, akan aku tunggu jam berapapun itu meski itu tengah malam." Ucapku.
"Iya, ya sudah ya. Asalamualaikum..."
"Walaikumsalam, hati- hati ya mas"
"Iya Nia.."
Tut tut tut
Panggilan terputus. Aku masih termangu, dan tiba- tiba ku rasakan rindu yg teramat sangat pada dirinya. Tak cukup hanya mendengar suaranya, namun tak ada yg bisa ku lakukan untuk melepas rindu ini. Andai ada pintu kemana saja punya Doraemon, pasti aku akan langsung menemui Mas Dipta.
Selama di kampung, aku mengunjungi ke beberapa tempat. Selain ke rumah Bibi, yg pasti di sana selalu sibuk dengan bisnis katering nya, aku juga menyusuri jalanan kampung melihat- lihat betapa masih asrinya tempat kelahiranku itu. Di pinggiran desa, ku lihat pemandangan sawah membentang menyejukkan mata.
Tak lupa aku juga singgah ke tempat yg ku ingat dulu sewaktu kecil adalah taman tempatku sering bermain ayunan. Sekarang taman itu sudah tak ada, berganti menjadi bangunan sebuah mini mart yg buka sampai tengah malam.
Sepanjang perjalanan itu, aku baru mengetahui bahwa banyak desas desus berseliweran tentangku. Perihal pernikahanku tentunya dengan anak dari seorang yg terkenal dermawan dan kaya raya di tempat asalnya.
"Alaaah.. pasti peletnya manjur." Timpal teman satunya lagi.
"Iya, mana mungkin anak Bu Ratna mau sama dia kalo gak di ewes- ewes..."
"Tapi dia pulang sendirian, kemana suaminya?"
"Itu tuh.. kalo menikah hasil kayak gitu gak bakalan awet. Paling dia pulang karena suaminya udah mulai nyadar."
"Haduuuh... udah- udah pada ngapain sih? Gak baik ngomongin orang, dosa lho.." tegur satunya lagi yg sok bijak.
Aku langsung menatap mereka, setelah mendapat cilor yg ku pesan. Para emak- emak, yg ngomongin orang sudah menjadi hobi bagi mereka.
"Eh.. orangnya ngliatin tuh, kayaknya denger. Dah yuk, bubarr!!"
__ADS_1
Mereka pun membubarkan diri serempak. Aku pun pulang dengan dengan perasaan tak menentu. Apakah Ibu dan adikku juga pernah mendengar selentingan gosip yg unfaedah itu?
Sampai di rumah sudah hampir maghrib, ku lihat Ibu sedang membereskan beberapa baju pela*nggan yg sedang di laundry. Ibu memang memutuskan kembali membuka jasa laundry nya setelah merasa tubuhnya benar- benar sehat.
"Bu, ada yg bisa Nia bantu?" Tanyaku.
"Gak ada Nia, ini cuma dikit kok, bentar lagi selesai." Jawab Ibu. Aku mengangguk, melatakkan cilor yg ku beli tadi dia atas meja. Biasanya Tiara paling suka jajanan seperti ini, tapi aku belum melihatnya sejak tadi.
"Adek mana Bu?"
"Adekmu lagi nganterin laundry an yg udah kelar."
"Oo.. oh ya bu, tadi di jalan Nia denger beberapa selentingan gak enak tentang Nia. Mungkin selama ini Ibu atau adek juga denger terus jadi gak nyaman. Maafin Nia ya Bu..."
Ibu menghentikan kegiatannya, dia menatapku lalu menghela nafas dalam.
"Kenapa kamu yg minta maaf? Gak usah dengerin omongan orang yg belum tentu tahu kebenarannya. Kita juga gak bisa membungkam mulut mereka satu persatu, yg bisa kita lakukan hanya harus menuli-kan pendengaran kita tentang omongan- omongan yg gak bener. Kita yg menjalani, kenapa mereka yg repot mengurusi. Sudah gak usah di pikirkan. Sana mandi, bentar lagi maghrib!" Kata Ibu, membuat gerakan tangan mengusirku.
"Iya bu, Nia mandi dulu." Aku masuk ke kamar, ambil baju ganti untuk ku bawa ke kamar mandi. Ganti baju di kamar mandi sekalian, karena kamar mandi di rumahku ini hanya satu, itupun di dekat dapur. Jadi kalo mau mandi harus membawa baju ganti sekalian.
Malam jam 8, aku sudah masuk kamar. Melihat- lihat hp ku, mengharap Mas Dipta akan segera menghubungiku seperti malam- malam sebelumnya. Namun, panggilan itu belum juga datang. Aku bahkan baru sadar kalo pesan yg dia kirim terakhir kali adalah tadi siang. Sangat sibukkah dirinya. Mungkin karena ini mau akhir pekan, jadi dia menyelesaikan semua pekerjaannya dulu sebelum balik ke Jakarta besok. Rencana memang kita akan kembali ke Jakarta besok dari masing- masing tempat kita sekarang.
Karena tak kunjung ada telpon masuk, aku mencoba mengirim pesan padanya duluan.
Sibuk ya Mas?
Lama tak di balas, di baca pun tidak. Membuat mataku jadi mengantuk. Aku hampir terlelap saat ku rasakan hp di tanganku bergetar. Buru- buru ku buka, ada pesan balasan dari Mas Dipta.
Sibuk merindukanmu. Keluarlah, temui aku cepat!
Balasan darinya membuatku mengernyit. Apa maksudnya? Keluar kemana? Ku dengar ada suara gaduh- gaduh di luar.
__ADS_1
Ada apa itu? Kok kayaknya rame bener. Aku yg penasaran pun urung tidur dan melangkah keluar kamar.