Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Hamil anakku


__ADS_3

Kita sholat subuh bersama dengan Mas Dipta sebagai imam. Selesai sholat ku raih tangannya, lalu ku cium. Mas Dipta segera meraih wajahku, di ciuminya keningku dan kedua pipiku.


Aku melepas mukena dan melipat sajadah, niat hati ingin segera turun lalu ke dapur. Mas Dipta malah memelukku dari belakang dan menggiringku ke kasur.


"Kita rebahan sebentar." Katanya. Aku tersenyum tak menolak.


"Apa masih terasa sakit?" Tanyanya.


"Tidak, sudah lebih baik." Jawabku malu- malu.


"Bagus, selanjutnya takkan merasa sakit lagi." Ucapnya tersenyum penuh arti. Aku menatapnya curiga.


Dan saat tangan Mas Dipta mulai menjalar di perutku, menelusup ke dalam bajuku ke atas meremas pelan kedua da daku. Aku tersentak, aku memegang tangannya agar dia menghentikan aksinya. Ini sudah pagi, bukankah dia akan ke kantor hari ini.


"Apa Mas Dipta tidak capek?" Tanyaku.


"Tidak, sekarang aku sedang bersemangat." Jawabnya menyingkirkan tanganku dan melanjutkan aksinya.


"Maaaass..." desahku sudah tak kuasa saat dia memilin ujungnya. Mas Dipta tersenyum, dengan gerakan cepat dia melepaskan semua baju- baju ku.


"Mari kita lakukan lagi Nia." Katanya, sekarang dia melucuti pakaiannya sendiri.


"Bagaimana kalo nanti aku hamil?" Tanyaku sebelum Mas Dipta menindih tubuhku.


"Apa kamu keberatan kalo kamu hamil anakku?" Dia bertanya sudah dengan menjilati leherku. Lalu turun ke gundukan yg di da daku.


"Tidak." Jawabku, Mas Dipta tersenyum dan beralih meraup bibirku.


Lalu pagi itu kami melakukannya lagi. Bahkan sampai matahari sudah menelusup ke sela- sela tirai jendela, kita masih melenguh bersahutan di dalam kamar.


Alhasil, badanku serasa remuk. Aku benar- benar tak ada tenaga untuk sekedar bangun.


"Ayo kita mandi!" Ajak Mas Dipta yg seperti tak ada lelahnya. Aku tergolek lemas di atas kasur.


"Mas Dipta mandi dulu saja, aku sebentar lagi." Jawabku, tapi ternyata tak di pedulikan oleh Mas Dipta.

__ADS_1


Dia malah menyibak selimut yg menutupi tubuh polosku. Aku memekik kala dia tiba- tiba mengangkat tubuhku.


"Mas.. turunkan aku. Mas Dipta mau apa?" Tanyaku panik saat ku lihat dia membawaku ke kamar mandi.


"Diamlah, aku hanya akan memandikanmu." Jawabnya


"Apa? Aku bisa mandi sendiri, turunkan aku Mas." Tolakku, namun Mas Dipta tak bergeming. Dia mendudukkan aku di kloset duduk, dan dengan segera mengguyur tubuhku dengan air hangat dari shower.


"Aku bisa melakukannya sendiri Mas. Berikan itu padaku." Kataku berusaha meraih gagang shower yg di tangan Mas Dipta.


"Biarkan aku yg melakukannya. Kalo tidak, kita akan mengulang lagi seperti tadi di sini." Ucapan Mas Dipta sukses membungkam bibirku yg dari tadi protes. Ya ampun, apa dia ini punya kekuatan super atau semacamnya hingga batre nya selalu full.


Beberapa saat kemudian, kita keluar dari kamar mandi. Aku memilih berjalan sendiri, meski awalnya Mas Dipta seperti tak tega melihatku berjalan tertatih. Dia memapahku dengan sangat hati- hati seperti aku akan ambruk di tengah jalan.


"Aku akan turun sebentar, kamu di sini saja ya!" Dia menuntunku untuk duduk di ranjang. Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Dipta keluar kamar hanya dengan mengenakan handuk di pinggangnya.


Melihat sprei yg ternoda dan suasana kamar yg temaram. Aku bangkit lagi untuk mengganti sprei dan membuka jendela kamar. Aku menghirup dalam udara pagi itu dari jendela kamar yg terbuka.


Aku mendengar suara hp bergetar, saat ku cari ternyata bunyi itu berasal dari dalam tas yg ku pakai semalam. Saat ku lihat, Amel menelpon.


"Ampuuun Kan.. dari semalam aku telponin. Kamu kemana aja sih? Pesanku pun gak kamu baca!" Suara Amel tinggi, aku sampai menjauhkan hp ku dari telinga.


"Aku di rumah Mel, kenapa?"


"Aku kepikiran aja. Lagian kamu di hubungi susah banget, ku kira ada apa- apa. Syukur kalo kamu gak apa- apa. Gimana, suamimu jadi pulang hari ini kan?"


"Emh.. itu sebenarnya, dia udah pulang semalam Mel."


"Apa? Pantesan telpon dan pesanku kamu abaikan. Kamu nya lagi enak- enak sama suami. Beruntung aku tak jadi tidur di rumahmu. Kalo kemarin aku jadi tidur di situ, yg ada kalian akan mengotori pikiran dan otakku yg suci ini." Cerocos Amel, wajahku merona mendengar ucapan Amel. Meski begitu aku tertawa menanggapinya.


"Ya sudah kalo gitu. Aku tutup telponnya ya"


"Iya, makasih ya Mel. Jadi gak enak, udah bikin kamu khawatir semalam."


"Huh.. nyatanya elo enak- enak aja tuh semalam, ya sudah bye..." Amel langsung memutuskan telponnya. Aku tersenyum dan ku lihat memang ada beberapa panggilan tak terjawab darinya dan juga pesannya.

__ADS_1


Mas Dipta masuk saat aku membaca beberapa pesan dari Amel. Dia membawa nampan berisi makanan dan air putih.


"Tadi terima telpon dari siapa?" Tanya Mas Dipta meletakkan nampan yg dia bawa di atas kasur.


"Dari Amel, ternyata dari semalam dia nelponin." Jawabku, ku lihat Mas Dipta sudah rapi memakai kemeja biru dan celana hitam.


"Hem.. kamu sudah tidak apa- apa?" Tanyamya lagi, aku mengangguk.


"Makanlah, biar bertenaga lagi. Aku akan ke kantor sebentar. Nanti sebelum makan siang aku akan pulang. Sorenya kita akan ke rumah mama" Katanya menggeser nampan itu mendekat ke arahku, hingga aku bisa melihat isinya. Bubur ayam.


"Apa kita akan menginap di sana?"


"Ya, bisa saja kalo kita kemalaman di sana. Tak perlu membawa baju ganti, karena kemungkinan malamnya kamu tak akan memakai baju apapun." Mas Dipta mengucapkan kata- kata mesum itu bahkan dengan raut muka yg datar. Padahal wajahku sudah memerah karenanya.


"Ya ampun, kenapa Mas Dipta sangat mesum?" Kataku lirih.


"Aku mesum dengan istriku jadi tak apa." Jawabnya. Mukaku bertambah merah seperti tomat.


"Apa Mas Dipta yg membuatnya?" Tanyaku menunjuk ke mangkok untuk mengalihkan topik.


"Tentu tidak, aku mana sempat. Tadi ada tukang bubur lewat depan jadi ku beli saja. "


"Mas Dipta tidak sarapan?"


"Aku di kantor saja nanti. Ini sudah siang jadi gak sempat juga kalo harus sarapan." Jawabnya, aku hanya mengangguk.


"Aku berangkat sekarang. Setelah makan, kamu bisa kembali istirahat."


Mas Dipta mengecup keningku lalu mengecup bibirku sejenak. Aku pun segera meraih tangannya untuk ku cium.


"Hati- hati ya mas." Ucapku, Mas Dipta mengangguk sambil mengusap kepalaku lembut.


Dia lalu berjalan keluar dari kamar. Hatiku sedang berbunga- bunga merasakan cinta yg begitu indah. Aku bahkan lupa, kalo cinta itu bisa saja semu dan tak nyata untukku.


Harapanku begitu melambung mendapatkan perlakuan yg begitu hangat dari Mas Dipta. Tanpa pernah ku tahu, bisa saja aku hanya dia jadikan sebagai pelampiasan. Sebagai pemuas nafsunya saja. Bukankah laki- laki kalo ada maunya akan bermulut manis.

__ADS_1


__ADS_2